
Sementara Alisya bingung dengan perubahan nafsu makan suaminya yang meningkat.
Berbeda dengan Perusahaan yang sedang mengalami guncangan karena ada pemilik saham terbaru yang lebih besar, mereka berencana untuk melakukan rapat pemegang saham guna untuk mengetahui siapa pemilik saham tersebut.
Keesokan paginya di perusahaan Dinata semua para pemegang saham sudah berkumpul di ruang meeting. Kecuali pemegang saham tertinggi yang belum menampakan batang hidungnya.
"Sekarang ada dua orang pemegang saham terbesar di perusahaan Dinata, dengan presentase 35% telah di miliki Alisya Alghifari dari kota B, setahuku tidak ada pembisnis yang berasal dari kota B dengan marga Alghifari"
ucap salah satu pemegang saham yang mencoba mencari tahu identitas Alisya.
"Apa mungkin dia memiliki suami orang kaya, sehingga bisa membeli saham kita segitu besarnya. Bahkan dia membeli nya dengan harga tinggi" sahut pemegang saham yang lain.
"Bisa jadi sih, apa lagi jaman sekarang banyak wanita muda yang rela menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya hanya karena ingin hidup enak" sahut yang lainnya.
Mereka semua sudah menunggu di ruang rapat, termasuk Erik dan juga Aldrik.
Erik dan keluarga Dinata yang lain hanya diam saja, Erik tidak terlalu yakin kalau itu Alisya yang dia kenal, mana mungkin Alisya mampu membeli saham dengan harga yang melebihi dari harga pasar.pikir Erik.
Nino memang membeli saham Dinata dengan harga tinggi, karena waktu itu pemilik saham tidak mau menjualnya. Akhirnya mau tidak mau Nino menawarkan harga yang lebih tinggi dari harga pasar.
Hingga tak lama terdengar suara langkah seseorang dan ketukan pintu.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Terlihat wanita cantik datang dengan di ikuti seorang pria di belakangnya. Arsen sengaja hari ini tidak hadir dalam rapat pemegang saham di perusahaan Dinata, ia menyuruh pengacara untuk mendampingi istrinya.
"Maaf, kami datang terlambat" ucap Alisya, semua orang bingung dengan kedatangan Alisya, kecuali Erik, David dan juga opanya yang memang sudah mengenal Alisya.
Deg
"Alisya, ngapain dia datang kesini, apa jangan-jangan dugaanku benar, kalau dialah pemegang saham itu, tapi dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli saham itu" batin Erik.
"Anda siapa" tanya salah satu pemegang saham. Belum juga Alisya menjawabnya David sudah menyelanya.
"Untuk apa kamu kesini hah? ada kepentingan apa kamu di perusahaan saya? Keluar kamu dari ruangan ini" sela David. Dia takut kalau Alisya akan membeberkan tentang masalahnya dengan Erik.
Pengacara sekaligus anak buah Arsen pun geram melihat istri bos nya di bentak seperti itu.
"Saya atau anda yang akan keluar dari ruangan ini tuan?, jelas saya mempunyai kepentingan di sini,karena saya Alisya Alghifari pemilik saham mayoritas di perusahaan ini" ucap Alisya dengan nada angkuh.
"Shitt..ternyata dugaanku benar, tapi uang dari mana" kesal Erik dalam hati.
"Sial, ternyata dia bukan gadis miskin yang seperti Erik katakan, dasar cucu tak berguna" umpat Aldrik.
"Dasar Erik bodoh, mencari informasi tentangnya saja tidak becus" umpat David
"Saham mu hanya 35%, saham kami masih lebih besar dari saham yang kamu punya" cibir David dengan begitu sombong
Alisya tersenyum sinis melihat David yang begitu arogan.
"Tolong berikan dokumen itu kepadanya pak" titah Alisya kepada pengacara Arsen.
"Perkenalkan saya pengacara tuan Arsen yang di tugaskan kesini untuk memberikan surat kuasa atas kepemilikan saham 20% yang di serahkan kepada nyonya Alisya untuk mengelolanya. Silahkan bapak boleh memeriksa surat ini" ucap pengacara Arsen. Menyodorkan surat kuasa itu kepada David.
(Ada revisi jumlah saham Arsen ya guys, yang sebelumnya 15% menjadi 20%).
"Sebenarnya siapa Alisya, kenapa bisa tuan Arsen mempercayakan sahamnya pada Alisya. Shitt...kalau seperti ini dia bisa menendangku dari perusahaan ini" umpat David dalam hati.
"Bagaimana tuan David, saya sekarang pemegang saham mayoritas di perusahaan Dinata sebesar 55%" ucap Alisya penuh penekanan.
Semua orang pada berbisik, mereka tidak setuju jika Alisya nanti akan mengambil alih perusahaan Dinata. Pasalnya mereka belum tahu sepak terjang Alisya di dunia bisnis.
"Tapi kau tak bisa mengambil alih perusahaan ini, karena saya lah yang mendirikannya" sahut Aldrik.
"Saya kesini bukan untuk mengambil alih perusahaan Dinata. Saya akan tetap membiarkan kalian yang mengelolanya, dan kalian harus melaporkan berkembangan perusahaan ini kepada saya, jika ada yang tidak sesuai maka aku akan mengambil alih perusahaan ini"
"Dan satu lagi, saya dengar ada proyek yang sedang mangkrak. Saya ingin masalah itu di tangani dengan segera" tegas Alisya.
Setelah itu Alisya pamit kepada mereka semua untuk meninggalkan ruangan itu, di ikuti oleh pengacara Arsen.
Alisya belum mau mengambil alih perusahaan Dinata, dia hanya ingin menunjukkan identitasnya kepada keluarga Dinata, kalau dirinya bukanlah gadis miskin yang seperti mereka bilang. Mereka harus tau kalau yang di anggap gadis miskin ini sewaktu waktu bisa membuat mereka menjadi gembel.
"Kita harus mencari cara untuk menyingkirkan wanita rubah itu" ucap David marah.
"Iya, jangan sampai dia mengambil alih perusahaan ini karena aku tidak yakin dengan kepemimpinannya" sahut salah satu pemegang saham.
Semua pemegang saham setuju untuk menyingkirkan Alisya dari jajaran pemegang saham.
"Kenapa kamu ngga bilang Rik kalau wanita itu ternyata kaya, kamu mencari identitasnya saja tidak bisa." kesal Aldrik setelah semuanya sudah keluar, kini di ruangan itu tinggal mereka bertiga.
"Setahu Erik dia memang miskin opa, dulu dia hanya pelayan cafe" sahut Erik yang tak mau di salahkan.
"Dekati dia, dengan begitu kamu bisa merayu dia supaya memberikan sahamnya kepadamu. Kamu bisa beralasan anak untuk mendekatinya" saran Davit tak tahu malu.
"Baik Dad" jawab Erik patuh.
*
*
*
"Bagaimana baby" tanya Arsen langsung menarik tangan Alisya hingga jatuh di atas pangkuannya.
"Lancar honey, tapi aku belum mau mengambil perusahaan itu" ucap Alisya membuat Arsen mengeryit tak mengerti.
"Kenapa baby" tanya Alisya
"Nanti saja honey, biarkan mereka menjual asetnya dulu untuk menutupi proyek yang mangkrak. Aku gak mau kalau aku yang harus menggantinya" ucap Alisya mencebikan bibirnya.
"Kamu ini perhitungan sekali baby" ucap Arsen terkekeh.
"Bukankah di dunia bisnis harus penuh perhitungan tuan, biarin saja mereka menstabilkan perusahaan itu dulu, setelah itu baru aku akan mengambil alih" ucap Alisya manja sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Arsen.
"Kau licik sekali nyonya" Ujarnya seraya menarik hidung mancung Alisya.
"Aku belajar darimu tuan" sahut Alisya.
Arsen terkekeh sambil menduselkan wajahnya di dada Alisya.
"Baby aku ingin makan bakso yang ada di pertigaan depan kantor" ucap Arsen tiba-ba menginginkan bakso gerobak dekat kantor.
Bersambung
Happy reading🙏