
"Silahkan tuan, ada yang bisa saya bantu" sapa Dewi sopan dengan suara lembut.
Deg
"Lembut sekali suaranya, apa dia ya yang di maksud Reva" batin Nino sambil membaca name tag yang ada di baju Dewi.
"Reservasi atas nama Nino" jawab Nino sambil memperhatikan raut wajah Dewi.
"Sebentar saya cek dulu tuan" ucap Dewi, Nino mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.
Dewi membuka buku untuk mengecek reservasi atas nama Nino. Dewi merasa ada yang memperhatikan dirinya, dia mengangkat wajahnya. Dia liat kalau ternyata Nino lah memperhatikan dirinya.
"Ada apa tuan? Kenapa dari tadi tuan menatap saya" tanya Dewi.
"Tidak ada, saya hanya merasa familiar saja dengan wajah anda" kilah Nino.
"Memang wajah saya cukup pasaran tuan" sahut Dewi membuat Nino tersenyum tipis. "Mari ikut saya tuan" ajak Dewi.
"Ikut kemana? Kencan kah?" goda Nino.
"Hah, kencan?, bukan tuan, saya hanya ingin menunjukkan ruang privat untuk anda" ucap Dewi.
Nino menahan tawa melihat wajah polos Dewi.
"Sepertinya aku harus minta tolong sama Reva supaya bisa dekat dengannya" pikir Nino.
Nino mengikuti langkah Dewi dari belakang hingga sampai ke ruangan tersebut.
Nino masuk langsung duduk di sofa, Dewi memberikan buku menu kepada Nino.
Nino memesan beberapa makanan yang tertera di buku menu, Dewi pun mencatat semua pesanan Nino.
"Di tunggu sebentar tuan" ucap Dewi setelah itu pamit pergi dari ruangan tersebut.
*
Sedangkan Reva setelah pulang sekolah dia memilih pulang ke rumah Rani ketimbang ke rumah sakit, dia ingin bermain dengan Bara putra semata wayang Rani. Reva pulang sekolah di jemput oleh Max sang bodyguard setianya.
"Assalamualaikum....Leva cantik sudah pulang sekolah ini" teriak Reva sambil masuk ke dalam Rumah Rani. Teriakan seperti itu sudah menjadi ciri khas Reva. Dia selalu menyebut dirinya cantik, bagai sebuah password.
"Waalaikumsalam...sayang" sahut Rani yang tengah menyuapi Bara.
"Onty lagi ngapain?" tanya Reva mendekati Rani.
"Lagi menyuapi Bara sayang. Reva cuci tangan dulu sama ganti baju, baru setelah itu boleh main sama Bara" perintah Rani.
Bukan Rani melarang Reva untuk bermain sama Bara, akan tetapi Reva dari luar jadi Rani menyuruh dia untuk bersih-bersih terlebih dahulu sebelum bermain dengan putranya yang belum genap satu tahun.
Mencuci tangan merupakan cara terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit.
Bayi di bawah usia enam bulan memerlukan banyak waktu untuk membentuk sistem kekebalan tubuh yang kuat, sehingga bisa membuatnya terhindar dari penyakit.
"Bi, tolong bantu Reva menggantikan bajunya" pinta Rani kepada pelayannya.
"Baik Nyonya" ucap Bibi.
Bibi membawa Reva ke kamarnya yang di tempati semalam bersama Erik dan Viona, Bibi membantu Reva mencuci tangan Serta menggantikan bajunya dengan yang baru dari dalam lemari.
"Sudah nona" ucap Bibi sambil merapihkan rambut Reva.
"Telima kasih bi" balas Reva.
Reva beranjak dari kamarnya, ia keluar kamar menemui Rani dan juga Bara yang berada di ruang tamu, kebetulan Gilang dan David masih di kantor belum pada pulang, jadi rumah sepi hanya ada Rani dan juga putranya dan beberapa pelayan.
"Onty, Leva sudah belsih ini" ucap Reva yang kini sudha berada di hadapan Rani.
"Iya sayang, dan kamu tambah cantik sekarang" puji Rani membuat Reva senang.
Rani dan pelayan yang mendengarnya tercengang, nama anaknya sudah benar Bara, tapi karena keponakannya itu cadel makanya berubah jadi Bala, dan sekarang dia malah mempertanyakan hal itu. Sungguh Rani tak bisa berkata-kata.
"Sembarangan, nama anak Onty di samakan dengan gorengan" sahut Rani tak terima.
"Benal onty, itu lho golengan yang dali sayul, itu kan namanya Bala-Bala sama sepelti anak Onty" kekeuh Reva.
"Ya tuhan...Bara Reva Bara, bukan Bala-bala" ucap Rani sambil meijit pelipisnya yang berdenyut. Reva hanya mengendikan bahunya acuh, dia menggoda Bara sampai membuat Bara tertawa cekikikan.
"Adik Bala ompong, jangan banyak teltawa jelek" goda Reva sambil tersenyum mengejek.
"Ekhhh Ekhhh" gumam Bara tak jelas
"Onty, adik bala na ngomong apa? Leva nda ngelti" tanya Reva.
"Dia minta Reva untuk menggodanya lagi" jawab Rani asal. Pasalnya dia juga tidak tahu bayinya itu sedang ngomong apa.
Reva pun menurut kembali menggoda Bara.
*
*
Malam Hari setelah pulang dari kantor, Nino kebetulan melewati Restoran milik Alisya, dia melihat seorang perempuan sedang berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taksi.
"Sepertinya aku tak asing dengan mukanya" gumam Nino. Nino menajamkan matanya melihat perempuan tersebut.
Karena penasaran akhirnya Nino mendekati Dewi, Nino menurunkan kaca jendelanya dan menawarkan tumpangan kepadanya.
"Masuklah, bahaya malam-malam seperti ini seorang perempuan masih berdiri di pinggir jalan seorang diri" pinta Nino.
"Tidak tuan, pasti sebentar lagi taksinya datang" tolak Dewi lembut.
Bukan tak mau, pasalnya Dewi tidak kenal dengan Nino, lalu apa bedanya jika ikut dengannya, sama-sama bahaya bukan, pikir Dewi.
"Tak perlu takut, saya Nino asisten tuan Arsen, jam segini biasanya sudah jarang ada taksi yang lewat sini" ucap Nino.
"Dia kan yang tadi siang ke Restoran, ternyata dia asisten tuan Arsen" batin Dewi.
Dewi berpikir sejenak, dia tak menyangka ternyata customer yang tadi siang ia layani itu asisten dari suami bosnya sendiri.
"Baiklah, saya akan ikut dengan anda. Tapi maaf sebelumnya saya jadi merepotkan anda" ucap Dewi merasa tak enak hati.
"Tak apa, masuklah" pinta Nino sambil membuka pintu mobilnya.
Dewi masuk ke dalam mobi. Nino menginjak pedal gas mobilnya, perlahan mobil pun mulai berjalan, tidak ada obrolan sama sekali di dalam mobil yang ada hanya keheningan. Mereka masih sama-sama canggung untuk memulai obrolan.
Sebenarnya, biasanya Dewi menggunakan mobil, namu hari ini dia tidak membawanya karena mobilnya sedang masuk ke bengkel.
Bekerja di Restoran membuat ekonomi Dewi cukup baik, sehingga dia bisa membeli sebuah mobil dari hasil kerjanya selama ini.
"Rumah mu dimana" tanya Nino memecah keheningan.
"Di jalan XX tuan" jawab Dewi singkat.
"Sudah lama kamu bekerja dengan Alisya" tanya Nino mencoba mengakrabkan diri.
"Kerja di restoran Alisya belum lama, tapi kalau kenal Alisya sudah lama dari jaman dia masih sekolah SMA." jawab Dewi.
"Lama juga ternyata" ucap Nino bingung mau nanya apa lagi.
Sepertinya Nino mesti berguru dengan bos nya itu cara untuk mendekati perempuan, pasalnya sebelumnya Nino belum pernah mendekati seorang perempuan, bahkan dia juga belum pernah pacaran hingga saat ini.
Bersambung.
Happy reading guys🙏