Baby Girl

Baby Girl
BAB 74



"Baby aku ingin makan bakso yang ada di pertigaan depan kantor" ucap Arsen tiba-ba menginginkan bakso gerobak dekat kantor.


Alisya menunduk melihat wajah suaminya itu, dia merasa akhir-akhir ini suaminya aneh, suka tiba-tiba menginginkan sesuatu.


"Apa kamu yakin honey makan bakso pinggir jalan itu" tanya Alisya ragu.


"Iya baby, suruh saja si Nino untuk membelinya" sahut Arsen.


Mau tak mau Alisya memanggil Nino untuk membeli pesanan suaminya. Tak selang berapa lama Nino masuk kedalam ruangan Arsen.


"Ada apa tuan" tanya Nino ketika sudah berada di dalam ruangan Arsen.


"Belikan bakso di pertigaan depan, dan sekalian belikan saya rujak" perintah Arsen.


Nino melongo mendengar perintah Arsen, sejak kapan tuan nya ini mau makan bakso pinggir jalan, apa lagi rujak....mana pernah tuannya itu makan begituan.


"Dia seperti orang ngidam" batin Nino.


"Kamu dengar saya gak sih Nino" kesal Arsen.


"Iya tuan, saya akan membelikannya" Sahut Nino gagap.


"Beli 5 bungkus sekalian buat kamu" titah Arsen seraya memberikan beberapa lembar uang warna merah.


Nino keluar dari ruangan Arsen untuk mmembeli keinginan bosa nya itu. Nino jalan kaki menuju ke tempat abang bakso.


"Huff...panas banget, kenapa selera bos jadi turun ya, dia menginginkan makanan pinggir jalan, pdahal dulu mana pernah dia mau makan di pinggir jalan" dumal Nino di sepanjang perjalanan menuju ke tukang bakso.


"Mang bakso lima bungkus" ucap Nino kepada penjual.


"Baik tuan, sebentar di tunggu" sahut tukang bakso


Nino mengedarkan pandangan nya dia melihat ada tukang rujak yang sedang mangkal, akhirnya dia memilih membeli rujak dulu setelah itu akan mengambil pesanan baksonya.


Akhirnya semua selesai di beli Nino, kini dia kembali ke kantor nya menuju ruang atasan nya.


Ceklek...Nino membuka pintu tanpa mengetuj pintu dulu ke ruangan bos nya. Dia lupa kalau di dalam sedang ada Alisya.


Gluk


"Eh"


Nino mematung menelan salivanya. Dia melihat Tuannya sedang berciuman dengan begitu liar.


Arsen menengok ketika mendengar langkah seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


"Nino..." pekik Arsen. Dia kesal kenapa asistennya itu masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Sedangkan Alisya yang masih di pangkuan Arsen pun langsung menduselkan wajahnya ke dada suaminya, Alisya malu sudah ke cyduk oleh asisten suaminya.


"Maaf tuan," ucap Nio gagap


"Keluar..." usir Arsen.


Nino meletakkan makanan itu di meja yang ada di ruangan Arsen setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan Arsen.


"Kamu sih selalu saja tak tahu tempat" rajuk Alisya menyalahkan suaminya yang mesum, setelah itu dia turun dari pangkuan suaminya.


"Dia nya saja yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu." kesal Arsen.


"Sudah sini makan" titah Alisya sambil menuangkan bakso kedalam mangkok. Arsen pun patuh mengikuti Alisya.


Arsen duduk lalu langsung memakan bakso itu dengan begitu lahap, dia makan dengan begitu cepat, tak butuh waktu lama Arsen sudah menghabiskan 3 bungkus bakso, setelah itu ia beralih ke rujak yang tadi juga di beli Nino.


"Honey, kamu tidak kenyang" tanya Alisya meringis.


"Tidak, ini enak sayang" jawab Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari makananya.


Brakkk


Reva sama Reynand tiba-tiba datang dengan masih menggunakan seragam sekolahnya.


Membuat Arsen dan Alisya terlonjak kaget, hampir saja Arsen keselek makanannya.


"Hei, kaliam ini masuk ke ruangan papa kenapa tidak mengucap salam dulu" tegur Arsen kesal, sedangkan dua bocil itu justru cengengesan tanpa rasa bersalah.


"Papa makan kenapa tidak ajak Leva" sahut Reva.


"Sudah jangan berdebat, sekarang sini makan baksonya" sela Alisya, beruntung dia masih punya dua bungkus bakso sisa Arsen makan, karena Alisya tidak memakannya.


*


*


*


Malam hari di rumah keluarga Dinata.


"Dad, kenpa Dady belum juga mengembalikan kartu-kartu mommy" protes Siska.


"Maaf Mom, daddy belum bisa...bahkan sekarang saham mayoritas di perusahaan kita itu milik Alisya, kita bisa sewaktu waktu bisa di tendang oleh dia dari perusahaan. Makanya Daddy minta mommy lebih bijak lagi dalam menggunakan uang kita harus antisipasi kemungkinan yang akan terjadi" jawab David. Siska tercengang mendengar kalau ternyata Alisya tak semiskin yang dia tahu.


"Bagaimana mungkin, kamu jangan bercanda Dad" ucap Siska tak percaya.


"Pada kenyataanya seperti itu, makanya kamu harus bisa berhenti dari kebiasaanmu itu" sahut Aldrik.


"Tidak bisa, Erik kamu datangi Alisya secepatnya dan bilang kalau kamu mau bertanggung jawab dengan menikahi dia" titah Siska.


"Terus bagaimana dengan Viona mom" tanya Erik.


"Tidak usah perdulikan Viona, mommy sendiri yang akan memutuskan pertunangan kalian" jawab Siska tak punya hati.


"Tidak bisa!!"


Tiba-tiba Viona masuk kedalam rumah Dinata tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


"Kalian tidak bisa memutuskan pertunangan itu secara sepihak" ucap Viona dengan nada tinggi.


"Kenapa tidak bisa, itu hak kita mau memutuskan atau tidak pertunangan kalian" sahut Siska dengan tak kalah tinggi. David dan Aldrik hanya memijat pelipisnya pusing.


"Karena aku hamil anak Erik" ucap Viona.


Dhuarrrr.


Semua terkejut dengan pengakuan Viona


"Jangan ngada-ngada kamu, gak mungkin anak saya menghamili kamu" sentak Siska tak terima.


Plak...Viona melempar hasil pemeriksaan nya ke atas meja di hadapan mereka.


"Baca !!" titah Viona.


David mengambil kertas itu, kemudian membacanya, ia tak habis pikir dengan ulah putranya itu, yang tak ada kapoknya menghamili anak orang.


"Erik..." Bentak David meminta jawaban dari putranya.


"Tidak Dad, aku selalu memakai pengaman jika melakukannya dengan dia" kilah Erik.


"Kau melupakan kejadian di restoran waktu itu Erik" sela Viona.


Deg


Erik langsung diam mendengar ucapan Viona, dia mencoba memutar memorinya ke jadian pada waktu itu.


"Itu kamu yang memaksaku untuk melakukannya" Erik mencoba mencari alasan untuk berlari dari masalah itu.


"Jangan menjadi pengecut kamu Erik. Nikahi aku secepatnya atau aku sebar permasalahan ini ke media" ancam Viona.


"Aku tidak sudi menikahkan putraku dengan wanita Jal*ng sepertimu" tolak Siska.


Viona tersenyum sinis melihat reaksi Siska yang menghina dirinya.


"Terserah kalian, saya hanya akan memberikan waktu dua hari untuk kalian berpikir. Jika dalam waktu yang saya tentukan tidak ada jawaban maka saya akan menarik uang investasi saya di perusahaan Dinata dan akan mempublikasikan masalah ini ke publik" ucap Viona angkuh.


"Silahkan, kalian tinggal pilih mau yang mana, jika kalian memilih untuk memutuskan pertunangan kita, maka dengan senang hati saya akan mewujudkan impian kalian menjadi seorang gembel" lanjutnya.


Setelah itu Viona keluar dari rumah Dinata seraya membawa kembali hasil tes kehamilannya.


Bersambung.


Maaf up nya gak seperti yang sebelumnya. Maaf sudah tiga hari ini mental author lagi down guys🙏 jangankan untuk membuat cerita, makan aja rasanya gak enak.


Happy reading guys🙏