Baby Girl

Baby Girl
S2~44



Keesokan harinya Reva mendapat kabar dari sang kakek kalau neneknya sudah siuman, Reva mengajak Reynand untuk menemaninya pergi kerumah sakit untuk menjenguk sang nenek.


"Kita ngapain kerumah sakit jiwa sayang, memangnya siapa yang sakit" tanya Reynand bingung ketika sudah berada di depan rumah sakit tersebut, pasalnya Reva hanya bilang minta di temani ke rumah sakit itu saja.


"Nenek ku honey" sahut Reva.


"Nenek siapa, oma kan sedang berada di eropa bukan di sini, dan tak mungkin juga oma gila" ucap Reynand yang langsung mendapatkan pukulan dari kekasihnya.


"Bukan oma Belinda tapi nenek Siska mommy nya papi Erik hoeny, kamu masih ingat tidak sama nenek lampir yang dulu menarik rambutku terus kamu membalasnya dengan menginjak roknya hingga jatuh" ucap Reva yang masih mengingat kejadian itu. Seperti sebuah memori buruk yang terus melekat di ingatan Reva.


"Jangan ngaco sayang, mana ada seorang nenek yang tega menyakiti cucunya sendiri" sahut Reynand yang tak setuju dengan ucapan Reva.


Meskipun Reyanand sudah tahu kalau Reva putri kandung Erik, akan tetapi Reynand tidak mengetahui tentang keberadaan sosok nenek Reva ini.


Sepertinya keluarga Dinata benar-benar menyembunyikan masalah Siska dari publik.


"Ceritanya panjang hoeny, lebih baik kita turun sekarang, nanti kalau ada waktu baru aku akan menceritakan semuanya sama kamu" ucap Reva.


Reynand pun mengangguk setuju, dia keluar dari mobil dan di susul oleh Reva.


Mereka berdua masuk kedalam rumah sakit dengan saling bergandengan menuju ke ruang rawat Siska.


Ceklek...


"Assalamualikum... " sapa Reva ketika memasuki ruang rawat Siska.


"Waalaikumsalam, masuk sayang" sahut David lalu menyuruh cucunya masuk.


Reva dan Reynand pun masuk kedalam ruangan tersebut.


"Bagaimana kabar nenek, kek?" tanya Reva.


"Alhamdulillah sayang kondisi nenek sudah mulai pulih, nenek juga tak lagi mengamuk seperti dulu, biasanya nenek akan ngamuk tiap kali di temui seseorang" sahut David menjelaskan keadaan mantan istrinya di balas anggukan oleh Reva.


Meskipun mereka sudah cerai namun David tetap mensupport kesembuhan mantan istrinya, bagaimana pun dulu dia dan Siska pernah hidup bersama dan saling menyayangi hingga mempunyai dua anak.


Sebenarnya David ingin kembali sama Siska, namun karena kondisi Siska yang belum memungkinkan David pun mengurungkannya, dia ingin menunggu Siska sembuh dulu barulah dia akan mengajak mantan istrinya rujuk.


Reva mendekati ranjang Siska, ia duduk di kursi yang ada di dekatnya. Di belainya wajah Siska dengan penuh kasih.


"Nenek sedang tidur sayang, karena baru saja dokter memberinya obat" ucap David.


"Tak apa kek, Reva akan menunggu nenek disini hingga nenek bangun" sahut Reva.


David mengangguk lalu mengelus rambut cucunya. David sudah menyesali semuanya dan kini David sangat menyayangi cucunya.


Reynand dengan setia menemani kekasih nya menunggu Siska.


Setelah hampir satu jam lebih akhirnya Siska mulai mengerjabkan matanya, Siska menoleh ketika merasakan ada seseorang yang sedang memegangi tangannya.


"Kamu siapa?" tanya Siska dengan suara lirih.


Reva yang mendengar suara seseorang pun menoleh.


"Nenek sudah bangun, nenek ini Reva cucu nenek" ucap Reva sangat antusias melihat sang nenek bangun.


Namun Siska tak membalas ucapan Reva, Reva pun mengerti dengan keadaan neneknya, meskipun neneknya sudah tak lagi mengamuk namun neneknya belum sepenuhnya sembuh.


"Kakek, nenek sudah bangun" panggil Reva kepada sang kakek.


David pun berjalan menghampiri mereka. Sedangkan Reynand sejak tadi hanya diam saja memperhatikan mereka.


"Sayang, ini Reva cucu kita" ucap David kepada Siska.


"Iya, kita sudah mempunyai cucu" jelas David membuat Siska bersorak sambil bertepuk tangan.


"Aku punya cucu, hihihihihihi" racau Siska. Sedetik kemudian Siska menangis.


"Hikss... hikss... aku jahat, cucu...hikss" ucap Siska tak jelas.


"Jangan nangis, kamu tidak jahat sayang. Lihatlah cucumu sangat menyayangimu" ucap David memenangkan Siska.


Reva mendekati Siska lalu memeluknya.


"Nenek tidak jahat, Reva sudah memaafkan nenek" ucap Reva di telinga Siska sambil mengelus bahu Siska yang terasa kurus.


Siska melepaskan pelukan Reva dan melihat wajah Reva sambil mengangguk-ngangguk, seperti anak kecil yang sedang di nasihatin ibunya.


Entahlah Reva bingung melihat tingkah neneknya, ingin rasanya Reva menertawakan Siska yang bertingkah seperti anak kecil, tapi dali lubuk hatinya Reva merasa miris sekaligus kasihan melihat keadaan neneknya


"Kek bagaimana kalau nenek di rawat di rumah saja, mungkin dengan tinggal bersama kelaurga akan membuat nenek cepat sembuh, dan sekarang papi juga sudah kaya lagi bukan, mungkin saja dengan kekayaan yang papi miliki bisa mengembalikan nenek seperti dulu.


"Maaf, bukan maksud Reva mau menyinggung perasaan kakek, tapi ini pendapat Reva saja kek." imbuh Reva takut meyingung perasaan kakeknya.


Bukan mau menghina Siska, Reva hanya berfikir dulu neneknya gila karena kehilangan harta, siapa tahu dengan kondisi keluarga Dinata yang kembali kaya seperti dulu bisa membuat sang nenek cepat sembuh.


David tersenyum sambil menepuk bahu cucunya.


"Kakek ngerti maksudmu sayang, nanti kakek akan mencoba bicara terlebih dahulu dengan dokter" ucap David.


"Baiklah kek" sahut Reva.


Setelah cukup lama menjenguk Siska, akhirnya Reva mengajak Reynand untuk pulang, sebenarnya Reva masih ingin menemani neneknya namun Reva merasa kasihan dengan kekasihnya yang terlihat sudah jenuh berada di ruangan Siska.


"Jangan terlalu di pikirkan, pasti nenek mu akan sembuh baby" ucap Reynand sambil mengelus kepala kekasihnya.


Sejak tadi Reva di dalam mobil hanya diam saja tak bersuara.


"Kasihan sekali dia hoeny, coba hitunglah sudah berapa lama nenek di rawat di rumah sakit jiwa, dari kita kecil hingga kita dewasa seperti sekarang nenek masih juga belum sembuh" ucap Reva sambil menyandarkan kepalanya di bahu Reynand.


Reynand menyetir sambil sesekali mencium puncak kepala kekasihnya.


"Do'akan saja supaya nenek cepat sembuh" ucap Reynand. Reva pun mengangguk.


Tak berapa lama tak terdengar lagi suara dari Reva, Reynand curiga akhirnya menepikan mobilnya terlebih dahulu setelah itu melihat Reva.


"Sudah ku duga, ternyata dia tertidur pantas saja tak ada suaranya" ucap Reynand terkekeh dengan tingkah kekasihnya.


Reynand merubah posisi Reva hingga bersandar di kursi mobil, Reynand memasangkan seatbelt di tubuhnya setelah itu menurunkan kursinya hingga posisi Reva seperti orang rebahan.


"Tidur yang nyenyak sayang" ucap Reynand sambil mengusap pipi Reva.


Setelah melihat kekasihnya nyama barulah Reynand melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.


Hanya butuh waktu satu jam mobil yang Reynand kemudikan sampai di depan mansion Arsen.


Reynand turun dari mobil lalu mengangkat tubuh Reva dan membawanya masuk kedalam rumah.


"Reva kenapa Rey" tanya Alisya.


"Tidak apa Aunty, dia hanya tertidur" sahut Reynand.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏