
"Apa pesananku sudah jadi" tanya seorang pria secara tiba-tiba.
"Sudah tuan, ini cincin pesanan anda" jawab penjual sambil memberikan cincin yang tadi di inginkan Viona kepada pria tersebut.
"Terima kasih" ucap pria itu sambil menyodorkan blackcard nya.
"Sial, sepertinya dia bukan pria sembarangan" gerutu seseorang.
Selesai membayar Arsen langsung pergi dari toko perhiasan itu. Viona dari tadi memperhatikan pergerakan Arsen.
Orang yang membeli cincin itu adalah Arsen, ia sengaja menyiapkan sebuah cincin untuk melamar Alisya nanti, Arsen sedang menunggu moment yang tepat untuk melamar nya.
*Flasback On*
Pada saat Arsen pamit untuk membeli minuman, sebenarnya Arsen tidak benar-benar pergi ke stand minuman, ia menyuruh anak buah nya untuk membeli minuman itu, sedangkan ia pergi ke toko perhiasan yang ada di lantai dasar. Makanya Arsen agak terlambat datang ketika Erik menghampiri Alisya, tapi bersyukur Arsen datang di waktu yang tepat.
Tiba di toko Perhiasan Arsen langsung menanyakan cincin pernikahan model terbaru dan limited adition.
"Ada yang bisa saya bantu tuan" pelayan toko.
"Saya sedang mencari cincin pernikahan keluaran terbaru" jawab Arsen.
"ini tuan," pelayan toko memperlihatkan salah satu koleksinya.
"Ini ada koleksi limited adition dari toko kami tuan" pelayan toko menunjukan koleksi yang lain nya.
Arsen langsung jatuh cinta pada cincin yang ke dua, ia suka detail yang ada di cincin itu.
"Saya ambil yang kedua, simpan dulu ini kartu nama saya, nanti saya akan kembali kesini lagi" ucap Arsen. Dia terburu-buru karena takut Alisya curiga.
Dan setelah tiba di restoran Arsen pura-pura ijin ke toilet untuk mengambil cincin nya, kebetulan juga di situ ada Erik dan juga Viona.
*Flasback Off*
"Aku harus selidiki pria itu" batin Erik.
Lain di hati Erik, lain juga di hati Viona. Kalau Erik sangat kesal dengan Arsen, sedangkan Viona justru terpesona dengan ketampanan Arsen.
"Siapa pria itu, dia terlalu tampan. Sayang sekali jika harus di lewatkan bahkan Erik saja tidak ada apa-apa nya di banding pria tadi" batin Viona.
"Eh mbak, siapa pria tadi" tanya Viona kepada pemilik toko.
"Maaf nona, kami tidak bisa memberikan data customer kami." jawab pemilik toko.
"Memangnya berapa harga cincin tadi," tanya nya lagi.
"Sekitar 2M nona" jawab pemilik toko itu.
"Shitt, beruntung sekali perempuan itu, bisa mendapatkan pria kaya plus tampan sekaligus" umpat Viona
"Untung saja cincin itu sudah ada yang membelinya, kalau belum aku tak akan sudi membayar cincin itu seharga 2M untuk Viona" batin Erik.
"Sudah belum Viona, tinggal pilih saja kau lama sekali" gerutu Erik. Erik paling malas menemani wanita belanja, karena pasti membutuhkan waktu berjam-jam.
"Sebentar, menurutmu bagus yang mana sayang" tanya Viona meminta pendapat kepada Erik.
"Bagus yang pertama" jawab Erik cepat. supaya cepat selesai, Erik sudah capek seharian ini menemai Viona dari, ke salon dan sekarang membeli cincin.
"Ya sudah mbak, saya mau yang ini" ucap Viona menyodorkan cincin pilihanya.
Akhirnya Viona memilih cincin yang ini guys
"Berapa mbak" tanya Erik sambil menyodorkan kartu gold nya.
"300juta tuan" jawab pemilik toko sambil menerima kartu dari tangan Erik.
"Habis ini kita ke butik ya, kita harus fitting baju buat tunangan nanti" ajak Viona. Membuat Erik mendengus kesal.
"Besok saja, aku sudah lelah menemanimu seharian di mall" sahut Erik. Viona mencebikkan bibir nya.
Mau tak mau akhirnya Viona mengikuti Erik yang membawa dirinya pulang ke rumah.
*
*
*
Sedangkan di restoran Reva dan Rey sudah kesal menunggu Arsen.
"Om Alsen temana saja cih? tita tuh cudah lapal kenapa om Alsen balu balik" omel Reva dengan wajah jutek nya, sambil melihat Arsen yanh duduk di kursi kosong sebelah Alisya.
"Maaf sayang, om Arsen tadi kebelet" jawab Arsen.
"Duduk yang benar sayang, setelah itu makan makanan yang ada di piringmu" sela sebelum terjadi perdebatan. Mereka mulai menyantap makanan yang ada di piring nya masing-masing.
Berbeda dengan Alisya yang dari tadi hanya diam sambil melihat Arsen lalu melihat Reva, Dia seolah memikirkan sesuatu.
Jika Erik sudah tau keberadaan dirinya, tak menutup kemungkinan Erik akan mengorek informasi tentang bayi yang ia kandung dulu.
Alisya harus memikirkan semua keputusan yang akan dia ambil nantinya, dia harus benar-benar berpikir dengan matang terlebih dahulu supaya tidak menyesal di kemudian hari.
"Kau tidak makan baby" ucap Arsen yang melihat Alisya terbengong.
"Makanlah, jangan terlalu di pikirkan nanti kamu sakit, kalau sampai kamu sakit nanti Reva akan menyalahkanku" imbuhnya. Alisya tersenyum geli mengingat putrinya itu pernah mengomeli Arsen.
Alisya patuh dengan perintah Arsen, ia mulai menyantap makanan nya.
Hingga tak terasa semua makanan yang ada di piring sudah ludes tanpa sisa.
"Kenyangna" ceplos dua bocil secara bersamaan, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil mengelus perut buncit nya. Membuat Arsen dan Alisya terkekeh melihat kelakuan kedua perusuh itu.
"Arsen besok aku nitip Reva ya, aku harus ke bogor untuk survey tempat, untuk membangun cabang restoran baru di sana." pinta Alisya.
"Kamu pergi kesana sama siapa baby" tanya Arsen yang terlihat khawatir, jangan bilang calon istrinya itu pergi kesana sendiri.
"Aku pergi sama mbak Dewi, tapi kami membawa sopir kok" jawab Alisya yang seolah mengerti ke khawatiran Arsen. Arsen menghela nafas panjang.
Kalau besok dirinya tidak ada urusan penting di kantor, dia pasti akan mengantarkan Alisya, dia tak tenang membiarkan Alisya pergi tanpa dirinya.
"Ok, tapi kamu bawa pengawal ya, aku tak mau terjadi sesuatu dengan mu baby" sahut Arsen sambil mencium punggung tangan Alisya.
"Kenapa harus bawa pengawal sih, kan aku hanya ke bogor saja, itupun bersama mbak Dewi tidak pergi seorang diri" protes Alisya.
"Iya, atau tidak sama sekali" tegas Arsen yang tak mau di bantah. Alisya menghela nafas sabar menghadapi sifat posesif Arsen.
"Baby, kok tumben kedua perusuh itu diam saja dari tadi" ucap Arsen heran.
"Iya, tumben mereka tidak berceloteh" sahut Alisya. Arsen dan Alisya terus mengobrol dengan saling berhadapan tanpa melihat ke arah dua perusuh itu.
Akhirnya mereka berdua menengok melihat ke arah Reva dan Reynand. Arsen dan Alisya menepuk keningnya.
"Pantas saja mereka tak ada suaranya, ternyata mereka berdua tertidur karena kekenyangan, kebiasaan." ucap Alisya tertawa kecil bersama Arsen melihat klakuan mereka.
"Putrimu baby, sangat menggemaskan jika sedang tidur, beda kalau dia melek, pasti ada aja tingkahnya." tutur Arsen.
"Terpaksa kita angkat mereka sampai ke mobil baby, kasihan kalau di bangunkan." ucap arsen setelah selesai membayar tagihan makan mereka.
Arsen menggendong Reynand, sedangkan Reva di gendong oleh Alisya.
Bersambung
Bantu follow author ya guys🙏
Happy reading 🙏