
Jika Erik tengah sibuk merayakan acara pertunangannya dengan Viona. Berbeda dengan Arsen yang tengah sibuk membujuk Reva yang dari kemarin tak mau pulang ke rumah, ia memilih ngbucin sama Reynand di rumah Reagan.
Sedangkan Alisya sedang sibuk bersama bundanya untuk menyiapkan pernikahannya besok dengan Arsen.
Arsen memasuki rumah Reagan, dia mencari keberadaan Reva di ruang Tv. Arsen melihat Reva sedang duduk berdua memakan cemilan di toples seraya menonton kartun dua botak kesukaan mereka.
Reva melihat papa nya berjalan ke arahnya, lalu ia bertanya.
"Papa napain te cini" tanya Reva sambil menatap Arsen yangs kesal mendengar pertanyaan Reva.
"Tentu saja papa ingin menjemputmu nona muda" ketus Arsen.
"Tan Leva nda minta di jemput cama papa" sahut Reva.
"Memangnya Reva mau tidur di sini lagi" tanya Arsen mengeryit, kenapa putrinya betah sekali tidur di rumah Reagan.
"Memangna boleh" tanya Reva dengan wajah polosnya.
"Ngga boleh, mama kamu sendirian di rumah, mau kamu kalau nanti mama mu di culik" ucap Arsen menakuti Reva.
"Mama cudah besal papa, mana muntin ada yang mau nulik mama na Leva, iya tan Ley" sahut Reva tak percaya dengan ucapan Arsen.
"Betul itu, mana muntin ada yang mau culik onty Alica, tan onty Alica cudah tua" ceplos Reynand sambil matanya terus menatap ke layar tv.
"Mana ada onty Alisya tua, orang masih muda begitu" sahut Arsen tak terima.
"Memangna onty Alica cama Ley tua mana" tanya Reynand. Arsen tercengang mendengar pertanyaan bodoh dari Reynand.
"Ini bocah memang ngga ada otakna. Nenek-nenek pulang sekolah pun kalau di tanya pasti akan jawab tuaan Alisya, orang dia masih piyik gitu" Lirih Arsen frustasi
Dari arah tangga terlihat Reagan dan Renata turun menghampiri mereka, Reagan melihat wajah kesal Arsen. Sudah bisa di tebak jika sepupunya itu pasti habis berdebat dengan kedua bocil itu.
"Kamu kenapa Ar" ledek Reagan cengengesan.
"Nggak usah banyak tanya. Ingin rasanya aku membuang anakmu ke sungai amazon. Masih bocah saja ngeselin apa lagi udah gedhe. Awas saja jika sudah gedhe berani deketin Reva, aku tak akan mengijinkanya" cerocos Arsen yang tak jelas seraya duduk di sofa.
Reagan memukul kepala Arsen.
"Enak saja kau ingin membuang anakku, sudah susah-susah aku memupuknya tiap malam, malah mau di buang ke sungai amazon" sahut Reagan tak terima.
"Kau ini serius sekali, mana mungkin aku berani membuangnya, bisa-bisa aku di coret dari kk sama bunda" dengus Arsen.
Begitulah Arsen kalau lagi bersama keluarganya. Beda kalau sedang di luar dia akan berubah jadi kulkas empat pintu. Arsen seperti mempunyai dua kepribadian.
"Bagaimana acara pernikahanmu besok Ar? Apa kamu yakin tidak ingin mengadakan pesta resepsi hmm" Tanya Reagan.
"Bukan tidak mau, tapi belum saatnya Re kamu tahu sendiri masalah Alisya saja belum selesai. kau juga tahu bukan kalau dunia bisnis itu sangat kejam, sudah pasti kalau musuhku tahu nanti mereka akan menargetkan Alisya atau Reva untuk menghancurkanku" jawab Arsen.
Arsen bukan tak mau membuat pesta resepsi untuk Alisya, namun semua yang ia lakukan sudah bagian dari permainan Arsen. Arsen tidak mau keluarga Dinata mengetahui kalau dia lah orang yang ada di belakang Alisya selama ini.
Biarkan keluarga Dinata mengira kalau Alisya hanya gadis biasa seperti yang mereka ketahui.
Dan supaya Alisya tidak akan menjadi target kejahatan dari rival bisnis Arsen nantinya.
"Iya aku mengerti, kau juga tetap harus waspada" balas Reagan. Arsen mengangguk.
Arsen berusaha untuk membujuk Reva kembali.
"Sayang ayo pulang , besok juga kamu bisa ketemu Rey lagi" bujuk Arsen kepada Reva. Reva mencebikkan bibirnya.
"Ya cudah talau bedhitu" pasrah Reva.
"Ley, Leva pulang dulu ya, becok talau papa cibuk tita main lagi, cupaya nda ada yang dandu" sindir Reva.
"Iya, om Alsen memang nda selu" sahut Reynand.
Sebelum pulang kedua bocil itu saling berpelukan sebagai tanda perpisahan.
"Kau itu suka sekali peluk-peluk anak om" ketus Arsen seraya memisahkan mereka berdua.
"Janan lindu ya Ley, belat, bial Leva caja.... Hihihi" ucap Reva menggombali Reynand sambil cekikikan.
"Berasa liat dilan versi piyik" seloroh Reagan tertawa kecil.
"Tidak bisa di biarkan ,aku tak mau putriku terlalu bucin sama Reynand" ucap Arsen. Akhirnya sifat posesif Arsen keluar.
"Itu namanya bucin sejak dini. Sudah terbukti bukan jika pesona Reynand tak main-main" sahut Renata tertawa cekikikan melihat wajah masam Arsen.
Arsen langsung menggendong Reva, ia jengkel dengan tingkah absurd kedua bocil itu.
*
*
*
Sampai rumah Arsen Reva tetap cemberut, ia tak Rela di pisahkan dengan Reynand. Dia terkadang bosan kalau di rumah soalnya tidak ada teman main yang sebaya dengannya. Sebab itu dia betah kalau sedang main sama Reynand.
Belinda yang melihat wajah manyun Reva pun akhirnya menegurnya.
"Cucu oma kenapa manyun begitu" tanya Belinda seraya mengambil Reva dari gendongan Arsen.
"Papa nda Selu oma, Leva tan macih inin main cama Ley" keluh Reva.
"Tapi kan dari kemarin Reva belum pulang sayang, memangnya Reva nggak kangen sama mama" ucap Belinda mencoba memberi pengertian kepada Reva.
"Tanen oma, tapi tan Leva bica telpon mama nda halus pulang ke lumah" kekeh Reva.
"Besok selama seminggu Reva bebas main di tempat Rey, papa tidak akan ganggu waktu main kalian" sahut Arsen tersenyum licik.
"Acikkkk.....awas caja talau papa bohong" ucap Reva dengan mata berbinar.
"Tidak akan" tegas Arsen.
Jelas saja Arsen membiarkan Reva di rumah Reagan selama seminggu, ia tak mau acara malam pertamanya terganggu dengan adanya Reva. Secara dia besok sudah mau ijab qabul.
"Aku tahu akal bulus mu itu Ar, kau sengaja kan membiarkan Reva menginap di rumah kak Reagan" bisik Alisya di telinga Arsen yang sedang duduk di sebelahnya. Arsen cengengesan kalau ternyata calon istrinya mengetahui isi otaknya.
"Kau tahu saja baby, jadi makin cinta" ucap Arsen seraya memeluk Alisya, lalu menciumi pipi Alisya gemas.
"Bagaimana persiapan untuk besok baby? Apa semuanya sudah siap?" tanya Arsen seraya melerai pelukannya.
"Sudah, tadi aku sudah mengecek semuanya sama bunda" jawab Alisya.
"Apa kamu mengundang teman atau karyawanmu baby" tanya Arsen sambil mengusap kepala Alisya.
"Tidak, aku hanya mengundang mbak Dewi saja. Tak apa kan jika pernikahan kita jangan di publis dulu, aku belum siap menjadi sorotan jika ketahuan menikahi CEO Global Group " sahut Alisya sambil menyindir Arsen, pasalnya Arsen belum ngasih tahu kalau dirinya adalah seorang CEO.
Arsen kaget kalau Alisya sudah mengetahui identitas asli dirinya.
"nggak usah kaget, aku tahu semua ini dari bunda" ketus Alisya.
Arsen menggaruk kepalanya yang tak gatal, sebenarnya Arsen mau memberi tahu Alisya, namun dia selalu lupa jika sudah bertemu dengan Reva.
**Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Follow🙏💕**
"Tak masalah