Baby Girl

Baby Girl
BAB 130



Di sekolahan, Reva sedang fokus belajar mengenal warna, sang guru memberikan pertanyaan sambil menunjuk salah satu warna.


"Ini warna apa anak-anak? Ada yang bisa jawab tidak" tanya sang guru sambil menunjuk warna biru.


"Saya bu gulu" ucap Reva sambil angkat tangan. "Itu walna bilu" jawab Reva.


"Biru sayang, bukan bilu" ucap sang guru membenarkan ucapan Reva.


"Iya itu maksut Leva" sahut Reva.


Karena jawaban Reva benar, sang guru menyuruh semuanya untuk bertepuk tangan.


"Telima kasih, telima kasih" ucap Reva sambil berdiri lalu membungkukan badannya ke arah teman-temannya.


Reynand berdecak kesal melihat kelakuan saudaranya itu.


Tak lama bel istirahat berbunyi, Reva dan Aqila keluar dari kelasnya. Mereka mencari tempat duduk untuk memakan bekalnya, akan tetapi Reva tidak membawa bekal. Karena memang sudah kebiasan Reva tidak pernah mau membawa bekal dari rumah.


"Leva mau nda"? Tawar Aqila sambil membuka kota bekalnya yang berisi sosis dan nuget yang di bentuk semenarik mungkin oleh orang tuanya.


"Leva minta satu ya" ucap Reva, Aqila mengangguk lalu memberikan sepotong sosis kepada Reva.


"Telima kasih" ucap reva.


Setelah makan Reva bingung tak punya air minum. Reva clingukan mencari seseorang.


"Kamu kenapa? Kamu haus ya?" tanya Aqila.


"Iya Leva haus" jawab Reva.


"Ini minum punya ku saja" tawar Aqila sambil menyodorkan botol minumnya.


"Jangan, nanti punya kamu habis, kamu tunggu di sini dulu ya, Leva nyali Ley dulu" ucap Reva. Aqila mengangguk tanda mengerti.


Setelah itu Reva menghampiri Reynand yang sedang main bersama teman-temannya. Reva berjalan mendekati Reynand.


"Ley, sini" panggil Reva ketika sudah cukup dekat dengan Reynand. Reynand yang merasa ada yang manggil pun menoleh.


"Ada apa" tanya Reynand sambil mendekati Reva.


"Ley, kamu puna uang nda" tanya Reva sambil merangkul lengan Reynand manja.


"Memangnya kenapa" tanya Reynand balik.


"Leva mau ngutang, nanti kalau Leva puna uang Leva balikin. Leva mau beli minum, tapi tadi lupa nda minta uang sama papa" ujarnya.


"Rey ngga punya uang" ucap Reynand bohong.


Reagan selalu memberi uang saku untuk anaknya itu sebesar lima puluh ribu setiap hari.


"Jangan bohong, nanti Leva aduin sama mommy Lenata kamu ya" ancam Reva.


"Dasar menyusahkan, nanti balikin" kesal Reynand sambil menyodorkan uang dua puluh ribu kepada Reva.


Reva menerimanya dengan senyum penuh kemenangan.


"Telima kasih Ley, Ley memang telbaik" ucap Reva dengan wajah di buat seimut mungkin.


"Sudah sana pergi, jangan ganggu Rey lagi" usir Reyanand.


Reva berjalan sambil melompat lompat kembali ke tempat duduknya tadi bersama Aqila.


"Ayo Aqila antal Leva beli minum, Leva sudah dapat pinjam uang dali Ley ini" ajak Reva sambil menunjukkan uangnya itu kepada temannya.


Reva dan Aqila berjalan berdua menuju ke kantin untuk membeli minuman.


"Kamu mau nda?" tanya Reva pada Aqila.


Reva tahu kalau temannya itu dari tadi memperhatikan aneka macam minuman yang berderet di etalase.


"Aqila nda puna uang Leva" jawab Aqila.


"Tenang, kan tadi Leva sudah dapat uang dali Ley, bial Leva saja yang belikan minuman untuk Aqila ya" ujarnya.


Reva sama Aqila saling berbagi, Reva yang tak pernah bawa bekal akan mendapatkannya dari Aqila, sedangkan Aqila yang hanya membawa air putih juga terkadang ingin minum minuman yang lain, dan ia selalu mendapatkannya dari Reva.


"Telima kasih Leva" ucap Aqila sambil menerima minuman yang di sodorkan Reva untuknya.


"Sama-sama, kita kan bestie" ucap Reva sambil tersenyum.


*


*


Selesai dengan kunjungannya Arsen langsung mengajak Nino kembali ke jakarta. Beruntung mereka membawa sopir. Perjalanan dari kota B ke kota jakarta memakan waktu kurang lebih dua jam. Jadi Arsen gunakan untuk istirahat tidur di dalam mobil sambil menyandarkan tubuhnya ke jok mobil.


Menjelang sore hari Arsen tiba di kantornya.


"Ini sudah jam 5 sore tuan, anda mau langsung pulang atau di kantor?" tanya Nino ketika sudah keluar dari dalam mobil.


Nino menghela nafas panjang, Nino seperti pekerja serabutan di kantor Arsen, di suruh beli mainan, nyari baby sitter, terkadang di suruh jemput Reva sekolah. Akan tetapi Nino tidak pernah berani membantah perintah Arsen, selama ini dia hanya berani mengumpat dalam hati saja.


Setelah Nino berlalu dari hadapannya, Arsen langsung berjalan menuju ke ruangannya. Sampai di ruangannya Arsen langsung duduk di kursi kebesarannya, Arsen kembali larut dalam pekerjaannya, hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam.


Arsen merenggangkan ototnya yang terasa pegal. Usai itu Arsen mematikan laptopnya lalu merapihkan berkas yang berkas yang berserakan di atas mejanya.


"Anda sudah mau pulang tuan" tanya Nino yang baru saja memasuki ruangan Arsen seraya membawa mainan untuk Reva.


"Iya No, saya takut Alisya menunggu saya di rumah" sahut Arsen. "apa kamu sudah mendapatkan mainan yang saya minta No" tanya nya.


"Sudah tuan, ini mainannya" jawab Nino sambil memberikan mainan yang ia bawa.


Untung Arsen tadi ingat mainan yang ia janjikan untuk putrinya itu, sehingga ia bisa menyuruh Nino untuk membelinya. Arsen tak bisa bayangkan jika dia pulang kerumah tidak membawa apa-apa untuk putrinya, yang ada nanti putrinya itu akan mengajaknya berdebat selama satu hari satu malam.


"Terima kasih, kamu bisa pulang sekarang, kita lanjut besok lagi" ucap Arsen sambil bangkit dari kursi kebesarannya.


Arsen pulang ke rumah dengan menyetir mobilnya sendiri. Arsen memarkirkan langsung mobilnya kedalam garasi rumahnya.


Setelah keluar dari dalam mobil, Arsen masuk kedalam rumah sambil menenteng mainan untuk putrinya.


Arsen masuk ke rumah langsung di sugguhkan dengan pemandangan yang begitu lucu baginya, ia melihat Reva sedang menjaga ketiga andiknya yang sedang tidur di bouncer sambil menonton ipadnya. Sesekali Reva mengayunkannya suapaya adiknya tidak merengek, namun matanya masih tetap fokus ke layar ipandnya.


Arsen tersenyum haru sekaligus tertawa kecil melihat tingkah Reva. Ternyata putri sulungnya itu sudah bisa menjaga ketiga adiknya.


Arsen berjalan mendekati mereka.


"Stop" cegah Reva yang melihat papanya ingin mendekatinya.


"Kenapa sayang" tanya Arsen bingung sambil menghentikan langkahnya.


"Jangan mendekati kembal dulu, papa halus belsih-belsih dulu, balu nanti boleh dekat-dekat dengan meleka" ucap Reva mengingatkan.


"Maaf, Papa lupa sayang" ucap Arsen tersenyum malu."Mama kemana sayang? kenapa kamu sendirian menjaga mereka" tanya Arsen.


"Mama lagi buat susu untuk meleka di dapul" jawab Reva.


Sebelum mendapatkan baby sitter terpaksa untuk sementara Alisya mengasuh anak kembarnya sendiri, kalau tidak ada sang mertua, maka Alisya akan meminta tolong kepada putrinya itu. Alisya terkadang memeras susunya lalu di bekukan, jadi kalau kembar menangis secara bersamaan Alisya bisa langsung memberinya lewat dot susu.


"Yasudah kalau gitu papa bersih-bersih dulu, ini mainan yang papa janjikan untuk kamu sayang" ucap Arsen sambil memberikan mainan yang ia bawa ke Reva.


"Makasih papa. Oh iya pa..tadi Leva utang Ley di sekolah dua puluh libu buat beli minum, Besok papa halus kasih uang Leva untuk mengembalikan uang Ley, tapi nanti papa jangan bilang sama mama kalau Leva minta uang" ucap Reva.


"Maaf, tadi papa lupa sayang, baiklah besok papa akan memberi uang saku untukmu" ucap Arsen terkekeh.


"Telima kasih papa, tapi papa jangan sampai lupa, nanti Leva di malahin Ley" peringatnya. Arsen mengangguk.


Setelah itu Arsen naik ke lantai atas masuk ke kamarnya. Arsen dengan cepat membersihkan tubuhnya, ia ingin segera bermain dengan buah hatinya.


Sedagkan di bawah.


"Cup...cup...cup...Jangan nangis, sebental lagi susu kalian pasti datang" ucap Reva menenangkan adiknya yang nangis karena haus.


Alisya yang baru datang tersenyum bangga kepada putrinya, ternyata putrinya itu bertanggung jawab dengan tugas yang di berikan Alisya untuk menjaga adik-adiknya, dia setia menjaga adiknya tidak meninggalkannya, bahkan ia mengesampingkan mainannya terlebih dahulu.


"Mainan dari siapa sayang" tanya Alisya yang melihat kotak mainan yang ada di dekat putrinya.


"Dari papa ma, tapi sekalang papanya lagi belsih-belsih di kamal atas" jawab Reva.


Biasanya kalau Arsen memberi mainan kepada Reva, gadis kecil itu akan langsung membongkarnya dan memainkannya. Tapi sekarang dia memilih menjaga adiknya terlebih dahulu.


"Makasih sayang, sekarang Reva boleh main" ucap Alisya.


"Baik ma" sahut Reva langsung turun dari atas sofa, dan beralih duduk di lantai sambil unboxing mainan yang barusan di beri oleh papanya.


Terlihat Arsen menuruni tangga, dengan pakaian yang sudah ganti dengan pakaian casual yang biasa ia pakai di rumah.


"Kamu sudah pulang honey? Maaf, tadi aku tak menyambutmu" tanya Alisya lalu meminta maaf.


"Tidak apa baby, tadi aku sudah di sambut oleh mereka berempat" ucap Arsen tersenyum lembut.


"Kamu sudah makan belum? Kalau belum akan aku siapkan terlebih dahulu" tanya Alisya perhatian.


Ini lah yang arsen suka dari Alisya, meskipun dia repot menjaga ketiga bayinya, tapi dia tak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang istri, ia tetap memperhatikan suaminya.


"Nanti saja baby, aku ingin bermain dengan mereka dulu" ucap Arsen. "Apa seharian ini mereka menyusahkanmu baby" tanya Arsen.


"Ya begitulah honey, namanya bayi pasti dia akan nangis ketika merasa lapar, bersyukur ada bunda dan Reva yang membantu menjaga serta menenangkannya" ujar Alisya.


"Ya, karena mereka mempunyai kakak yang hebat, yang sudah bisa menjaga adik-adiknya" ucap Arsen tersenyum bangga sambil mengambil Rachel lalu menggendongnya.


"Bahkan mereka selalu anteng kalau di jaga sama kakaknya. Kalaupun nangis mereka akan cepat berhenti jika Reva yang menenangkannya" adu Alisya.


"Sepertinya mereka akan menjadi pasukan Reva baby" ucap Arsen terkekeh sambil melihat Reva yang sedang asik bermain dengan mainan barunya.


Bersambung


Happy reading guys🙏