Baby Girl

Baby Girl
BAB 150



Keesokan harinya di sebuah ruangan, setelah Arsen mendapat amarah dari bundanya ia segera menghubungi Max, dan mengajaknya berdiskusi di sebuah ruang Vip di sebuah restoran, sambil menikmati makan siang.


Jika Arsen selalu mengandalkan Nino dalam urusan bisnisnya, maka berbeda dengan Max, Arsen selalu mengandalkannya dalam hal membasmi musuh-musuhnya.


Informasi yang Nino dapat selama ini selalu ia dapatkan dari Max, namun untuk masalah Nessa, Arsen akan mengurusnya sendiri dengan Max. Dia tak mau kena semprot lagi sama bundanya.


Bersyukur masalah kemarin tidak mempengaruhi perusahaan Global Group dan juga perusahaan Hendrawan. para rekan bisnisnya tidak ada yang terpengaruh dengan isu yang beredar di dunia maya tersebut.


"Bagaimana Max?" tanya Arsen.


"Saya sudah mengetahui pemilik akun fake tersebut tuan, pemiliknya yang tak lain adalah Nessa sepupu nyonya Alisya sendiri tuan." jawab Max sambil memberikan semua bukti itu kepada Arsen.


"Sialan...perempuan itu memang tak ada takutnya bermain denganku" umpat Arsen.


"Terus apa yang harus saya lakukan tuan?" tanya Max.


"Kau bawa mereka ke pedalaman, dan tempatkan orangmu untuk mengawasinya, supaya mereka tak bisa lagi kembali ke kota ini" perintah Arsen.


"Terus ngapain tuan menyuruh saya mengumpulkan bukti kejahatan mereka kalau ujungnya mau di buang ke pedalaman bukan ke penjara, buang-buang waktu saja" batin Max kesal.


"Dan satu lagi Max, kamu harus menghapus semua video yang berkaitan dengan nyonya dan juga Reva dari media" titah Arsen.


"Saya sudah melakukannya sebelum anda suruh tuan" balas Max.


"Bagus, kau memang selalu bisa saya andalkan Max" puji Arsen merasa puas dengan kinerja Max.


"Cepat bergerak dan segera culik mereka Max, aku tak mau mereka mengusik keluargaku lagi" tanya Arsen.


"Malam ini saya akan melakukannya tuan" jawab Max.


"Baiklah, aku berharap kau bisa memberikan kabar baik untukku Max" ucap Arsen.


"Kau tidak apa niatan untuk menikah Max? Bukankah tahun ini umurmu sudah 27th, Nino saja sebentar lagi mau menikah" tanya Arsen iseng kepada bodyguard putrinya itu.


Max merotasi bola matanya jengah mendengar pertanyaan tak berbobot tuannya itu.


"Memangnya kalau saya nikah, siapa nanti yang akan menjaga nona Reva" jawab Max beralasan.


"Ck, alasan saja kau ini Max, kau kan punya anak buah banyak, kau bisa alihkan tugasmu ke anak buahmu yang lain bukan" ujar Arsen.


"Yang jadi pertanyaan, apa kau sudah mempunyai calonnya Max?" tanya Arsen semakin gencar menggoda Max.


"Hmmmm" gumam Max malas meladeni kekepoan Arsen.


Arsen tak pernah membatasi diri dengan semua anak buahnya, tapi hal itu tidak membuat mereka kurang ajar, mereka tetap menjalankan tugasnya secara profesional.


"Kamu ini kenapa hmm hmm doang Max" kesal Arsen.


"Terus aku harus menjawab apa tuan" balas Max jengkel.


"Bagaimana kamu bisa merayu perempuan, jika kau kaku begitu" gerutu Arsen.


"Ck, padahal dirinya lebih kaku, sadar diri tuan...Nyonya Alisya itu menerima mu karena kebaikannmu bukan karena rayuannmu, bahkan tuan tak pernah bisa merayu nyonya Alisya" jerit batin Max memaki bos nya,


Tentu saja dia hanya berani memaki bos nya dalam hati saja, kalau secara lagsung Max mana berani, bisa-bisa dia langsung di buang ke kutub utara.


Setelah makanan yang mereka pesan sudah habis, Max mengantar Arsen kembali ke kantornya.


Begitu juga dirinya yang akan kembali ke markas menemui anak buahnya untuk membicarakan rencananya nanti malam yang akan menculik Nessa dan kedua orang tuanya.


...----------------...


Sedangkan di rumah Arsen.


kebetulan Reva baru saja sembuh dari sakitnya, Alisya melarang putrinya untuk tidak berangkat sekolah terlebih dahulu.


Setelah pulang sekolah Reynand meminta sopirnya untuk mengantarnya ke rumah Arsen, ia ingin menjenguk Reva sekaligus bertemu dengan sang oma yabg baru saja pulang.


"Waalaikum salam den Reynand" sahut Bibi berlari tergopoh gopoh.


"Reva sama triplet kemana Bi, kenapa Rey tidak melihat mereka di ruangan ini" tanya Rey sopan.


"Oh, non Reva ada di atas den, sedang menonton tv sama adiknya" jawab Bibi.


"Kalau begitu Rey langsung ke atas aja Bi, tolong bikinkan Rey jus melon ya bi, nanti tolong bibi bawakan ke atas" pinta Reynand.


"Baik den" sahut bibi.


Setelah itu Reynand satu persatu kaki kecilnya menaiki anak tangga hingga ke lantai dua, di sana terlihat Reva yang sedang duduk di sofa sedangkan ketiga adiknya ada di karpet sambil makan buah yang sudah di potong kecil-kecil.


"Rey kamu kesini" tanya Reva ketika melihat Rey baru saja sampai di lantai atas.


"Aku kesini karena ingin menjengukmu, kenapa kamu belum masuk sekolah? apa sakitmu parah? aku lihat kamu biasa saja" tanya Reynand.


"Reva masih lemas Rey, makanya mama melarang Reva untuk berangkat sekolah" jawab Reva.


"Alasan saja, itu mah akal-akalan kamu saja kan, kalau masih lemas tuh tidur bukan malah di sini nonton tv" gerutu Reynand.


Reynand sudah hafal akal bulus Reva yang suka drama.


"Kalau kamu ngga percaya kenapa kamu kemari hah" ucap Reva galak dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Tuh kan, katanya tadi kamu lemas, tapi sekarang malah teriak-teriak. dasar ratu drama" sindir Reynand.


"Kamu bisa diam tidak sih Rey, nanti mama dengar kalau Reva bohong" kesal Reva yang akhirnya mengaku.


Reynand hanya mengendikkan bahunya acuh seraya bermain mobil-mobilan bersama Revan.


Tak lama Alisya datang menghampiri mereka sambil membawa cemilan untuk buah hatinya.


"Reynand kamu kesini sama siapa? " tanya Alisya yang melihat keberadaan Reynand di tengah-tengah anaknya.


"Barusan aunty, tadi Rey di antar sama sopir Rey" jawab Reynand sambil menampilkan deretan giginya.


"Kamu sudah makan belum sayang" tanya Alisya lembut sambil mengusap kepala Reynand.


"Belum aunty," jawab Reynand.


"Mau makan sekarang atau nanti" tanya nya lagi.


"Sekarang boleh ngga aunty, Rey sudah lapar" pinta Reynand dengan wajah memohon.


"Kalau begitu Aunty ambilkam dulu makan untukmu, Rey tunggu di sini ya, bantu jagain mereka" ucap Alisya. Reynand pun mengangguk, setelah itu Alisya melenggang pergi menuju ke dapur yang ada di lantai bawah.


"Jadi kamu datang ke rumah Reva cuma mau numpang makan ya" ejek Reva.


"Rey kan di tawarin sama aunty Alisya, bukan Rey yang minta, kata mommy tidak baik menolak rejeki" kilah Reynand.


"Sama saja" cebik Reva.


Rey tak lagi mendengarkan ucapan Reva. kini dia memilih menggoda Rachel.


"Rachel yang cantik, nanti kalau sudah besar jangan menjadi tukang bohong seperti kak Reva "ucap Reynand.


Rachel pun mengangguk, seolah mengerti ucapan Reynand.


"Kamu memang pintar" ucap Reynand tertawa sambil mengajak tos Rachel.


Rachel pun tertawa girang barsama Reynand.


"Awas kalian berdua" gerutu Reva sambil melirik Reynand tajam.


Bersambung