Baby Girl

Baby Girl
BAB 83



Tiga hari berlalu, kini setelah menikah dengan Erik, Viona memilih tinggal di rumah keluarga Dinata. Pagi hari di dalam kamar mandi terdengar suara perempuan yang sedang muntah-muntah, Viona mengalami morning sickness gejala kehamilan di trisemester pertama.


Huwekkk


Huweek


Viona terus memuntahkan semua isi perutnya hingga dia lemas terduduk di lantai kamar mandi sambil bersandar di dinding.


Tak ada yang menolong Viona, bahkan Erik yang suaminya saja seolah tak terusik dengan suara Viona, tak ada rasa iba sedikit pun di hati Erik untuk menolong Viona, dia lebih memilih menutup kupingnya dengan menggunakan bantal lalu kembali memejamkan matanya.


Erik benar-benar tidak peduli dengan keadaan istri serta calon buah hatinya yang ada di dalam perut Viona.


Viona berusaha berdiri dengan memegang dinding sebagai tumpuannya. Dengan langkah perlahan dia berusaha keluar dari kamar mandi, dia merasa kakinya begitu lemas untuk berjalan.


Setelah keluar dari kamar mandi, Viona melihat Erik yang sedang terlelap dengan posisi meringkuk dan kepalanya tertutup oleh bantal. Rasanya Viona ingin marah namun dia sudah tidak punya energi lagi untuk memarahi Erik.


Dia lebih memilih merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Erik, dia mencoba memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya.


Viona menangis tertahan, dia tak ingin terlihat lemah di depan Erik, entah mungkin karena hormon kehamilannya...akhir-akhir ini Viona menjadi lebih sensitif.


Sedangkan di rumah Arsen sedang terjadi kehebohan antara anak dan juga ayahnya yang memperebutkan telur mata sapi kesukaan Reva.


"Mama....telul Leva mana? Kok hilang...tadi kan ada di piling Leva, Leva tinggal cuci tangan kok sudah nda ada" ucap Reva dengan wajah sedih sambil memperlihatkan piringnya kepada Alisya.


Sedangkan Arsen si tersangka pura-pura tidak dengar, dia malah asik makan tanpa memperdulikan putrinya yang sedang kehilangan telurnya.


Alisya hanya menghela nafas sabar sambil melirik ke arah suaminya yang sedang asik makan telur yang tadi ia buat untuk putrinya.


Reva yang peka pun langsung melihat ke arah tatapan Alisya.


Dia mendelik melihat telurnya tinggal setengah di piring sang papa.


"Papa....culi telul na Leva ya" pekik Reva.


"Telur apa?" tanya Arsen dengan wajah tanpa dosa menatap putrinya.


"Itu yang di piling papa telul Leva tan, papa nda boleh bohong nanti dosa masuk nelaka" Ketus Reva dengan wajah jutek.


"Jadi orang gak boleh pelit sayang, kita harus shering" sahut Arsen santai.


Belinda geleng-geleng kepala, kenapa tingkah putranya makin hari makin aneh, padahal sebelumnya putranya itu tak begitu suka telur, apa lagi telur mata sapi.


"Papa kan nda bilang minta, tapi papa culi dali piling na Leva" Kekeuh Reva tak mau kalah.


"Papa tadi sudah bilang, kamunya saja yang tidak dengar" cuek Arsen sambil tetap memakan makanannya.


"Telus sekalang Leva makan sama apa mama" ucap Reva lemas.


"Itu kan ada sayur girl, anak kecil itu harus banyak-banyak makan sayur supaya cepat besar" sahut Arsen. Reva mencebik kesal.


Alisya mulai jengah melihat perdebatan mereka.


"Nda usah mama, Leva makan Ayam goleng aja sama sayul" jawab Reva. Dia tak ingin menunggu lagi, takut nanti telat berangkat ke sekolahnya.


"Reva kan gak suka sayur sayang" ucap Alisya mengerutkan dahinya.


"Sedikit saja ma, Leva ayam nya mau yang sayap ma bial Leva bisa telbang" ucap Reva sambil cengegesan.


Arsen melirik ke arah putrinya. "Mau terbang kemana kamu, nanti ngga bisa turun baru tau rasa" ledek Arsen.


"Diam pa, papa itu nda di ajak" balas Reva sinis membuat Arsen kesal.


Alisya mengambilkan sayur serta ayam goreng untuk putrinya.


Usai selesai makan Arsen dan Reva pamit, Arsen akan mengantarkan Reva ke sekolahnya terlebih dulu, setelah itu baru dia akan berangkat ke kantor.


Tiba Di kantor Arsen langsung berkoordinasi dengan Nino untuk acara ulang tahun perusahaan nya besok malam. Arsen akan mengundang semua rekan bisnisnya dari luar dan juga dalam negeri.


"Bagaimana persiapannya No?" tanya Arsen.


"Sudah hampir selesai tuan" jawab Nino yang sedang duduk berhadapan dengan Arsen


Arsen mengangguk sambil mengetuk ngetuk meja "Kamu pastikan semua keluarga Dinata menghadiri acara itu dan panggil awak media untuk meliput acara besok malam. Aku ingin semua orang tahu siapa istri serta anakku, aku juga akan mengumumkan istriku yang sedang mengandung calon pewaris Global Group" jelas Arsen.


"Baik tuan" sahut Nino.


"Kalau begitu mari kita ke hotel, aku ingin mengecek langsung persiapan untuk acara besok malam" ajak Arsen.


Arsen dan Nino pergi meninggalkan ruangannya dan menuju ke hotel pribadi milik Arsen yang di gunakan untuk acara besok malam.


*


*


*


Di perusahaan Dinata kebetulan mereka baru saja selesai meeting, Aldrik, David, dan juga Erik sedang berkumpul di ruangan David, mereka sedang membicarakan acara ulang tahun perusahaan Global Group.


"Apa kita akan datang ke acara ulang tahun perusahaan Global Group Dad? Erik dengar acara tersebut akan di rayakan semeriah mungkin dan juga mengundang banyak pembisnis dari luar dan dalam negeri" tanya Erik.


"Tentu saja, kita harus datang ke acara itu... Ini sangat bagus untuk kita mencari relasi baru, jika kita bisa mendapatkan relasi baru kemungkinan besar perusahaan kita akan terselematkan dari krisis keuangan dan juga kebangkrutan" jelas David.


"Opa juga penasaran dengan sosok pemimpin perusahaan tersebut, dan papa dengar dia akan muncul ke publik untuk memperkenalkan istrinya. Bahkan dia menikah saja tidak ada satu media pun yang berhasil meliputnya. Opa tak menyangka dia bisa secerdas itu menutupi identitasnya hingga sekarang" sahut Aldrik.


Mereka penasaran dengan sosok Arsen, jadi mereka tidak akan melewatkan acara besok malam, apa lagi ini kesempatan mas untuk perusahaannya.


Bersambung


Happy reading guys🙏