
Pagi-pagi sekali Brian dan Nadin sudah bersiap-siap untuk kembali kekota S.
"Daddy beneran tidak mau ikut Brian" tanya Brian memastikan
"Tidak, nanti saja kalau kamu menikah daddy kesana" tolak Reno.
"Apa daddy tidak mau menemui putramu dad," tanya Brian lagi.
Reno hanya mengendikkan bahunya acuh, dia masih tidak peduli dengan Listy atau putranya itu.
Padahal perselingkuhan mereka bukan murni kesalahan Listy saja, namun Reno juga salah.
Tapi dengan teganya Reno mengabaikan Listy dan juga putranya. Harusnya Reno bersyukur masih ada yang mau dengannya, meskipun Reno cacat namun Listy mau menerimanya dengan tulus.
Ingin sekali othor membenturkan kepala Reno ke tiang listrik, sudah cacat tapi masih tidak sadar diri. Tahu gitu othor buat meninggal aja bareng Debora.
Brian tak lagi membujuk daddy nya, daddy nya sudah tua tentu dia yang lebih tahu mana yang baik untuk dirinya dan tidak.
Brian dan Nadin langsung ke bandara karena sebentar lagi pesawat yang akan mereka tumpangi segera take off.
๐น๐น๐น
"Hufff... lelah sekali" keluh Nadin dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang ada di apartemen Brian.
"Minumlah" ucap Brian sambil menyodorkan gelas yang berisi air putih kepada Nadin.
"Terima kasih" ucap Nadin sambil menerima gelas tersebut.
Nadin langsung meminum minumannya hingga tandas, lalu ia meletakkan gelas Tersebut di atas meja.
"Kapan aku bisa menemui orang tuamu baby" tanya Brian kepada Nadin.
"Terserah kamu mau ketemu orang tuaku kapan sayang" sahut Nadin sambil merebahkan kepalanya di atas paha Brian.
"Bagaimana kalau nanti sore saja, sekalian aku ingin memperkanalkanmu adik baruku" ucap Brian.
"Boleh, tapi aku mau tidur dulu sayang aku ngantuk" ucap Nadin sambil menduselkan wajahnya ke perut Brian.
Brian tersenyum melihat wanitanya yang lagi manja dengannya. ia mengusap usap kepala Nadin dan membuat wanita itu terlelap.
Diangkatnya tubuh Nadin dan Brian pindahkan ke kamarnya.
Brian merebahkan tubuh Nadin di atas ranjang empuk miliknya, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh wanitanya.
Sebelum keluar dari kamarnya Brian menyempatkan diri untuk mengecup kening Nadin terlebih dahulu.
๐น๐น๐น
Dirumah Listy dia sedang panik karena Fathan terus merengek menangis. Sudah di kasih susu namun bayi laki-laki itu tidak mau berhenti.
"Astagfirullah Lis, tubuh Fathan panas sekali" pekik Niken terkejut saat menempelkan tangannya ke dahi Fathan.
Listy langsung menghentikan pekerjaannya, dia menghampiri putranya dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Fathan, dan ternyata benar tubuh putranya begitu panas.
"Bagiamana ini Ken" tanya Listy cemas.
"Lebih baik kita bawa Fathan ke rumah sakit Lis" sahut Niken.
Listy mengangguk, dia mengambil jaket putranya serta selimut milik Fathan dan memakaikannya. Listy menggendong tubuh anaknya.
Mereka berdua menuju ke rumah sakit dengan menggunakan mobil dan Niken yang mengemudikannya.
Dari tadi Listy terus menatao wajah putranya cemas, ia menenangkan putranya yang terus merengek, bayi itu seperti merasakan sesuatu yang tidak nyaman di tubuhnya.
"Sabarlah sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" ucap Listy khawatir.
"Cepat ken" ucap Listy tak sabaran.
"Sabar Lis, sebentar lagi kita sampai" sahut Niken sambil fokus mengemudikan mobilnya.
Sampai di rumah sakit mereka berdua langsung masuk, membawa Fathan ke ruang dokter.
"Tolong putra saya dok" pinta Listy ketika sudha berada di ruangan dokter.
"Tenanglah nyonya, silahkan nyonya tidurkan dulu putranya di atas ranjang" ucap dokter.
Listy berjalan ke arah brankar dan merebahkan putranya di atas ranjang itu.
Dokter mulai memeriksa Fathan, Listy terus berdoa ia berharap tidak terjadi sesuatu yang membahayakan kepada putranya.
"Bagaimana dengan putra saya dok" tanya Listy saat melihat dokter selesai memeriksa putranya.
"Jadi putra saya tidak perlu di rawat dok" tanya Listy.
"Tidak perlu, saya akan meresepkan obat turun panas dan vitamin, nanti anda bisa menebusnya di apotek" ucap dokter sambil menulis resep untuk baby Fathan.
Usai mendapatkan resep dari dokter untuk putranya Listy dan juga Niken keluar dari ruangan dokter, dia menuju ke apotek yang ada di rumah sakit untuk menebus obat.
"Fathan" panggil asisten apoteker.
Listy pun bangun dan menghampiri asisten apoteker tersebut.
Asisten apoteker memberikan obat sesuai yang di resepkan dokter untuk putranya.
๐น๐น๐น
"Kau mau membeli sesuatu dulu tidak Lis,? mumpung kita belum sampai rumah" tanya Niken ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kita langsung pulang aja Ken, kasihan Fathan" sahut Listy, ia ingin putranya segera beristirahat.
Saat sampai di depan rumahnya Listy melihat mobil seseorang terparkir di depan rumahnya.
"Itu mobil siapa Lis" tanya Niken menunjuk sebuah mobil yang ada di hadapannya.
"Aku tidak tahu, tapi bisa jadi itu mobil Brian" jawab Listy.
Mereka berdua keluar dari mobil, dan benar saja ternyata Brian yang sudah menunggu di depan rumahnya.
Listy mengeryitkan dahinya ketika melihat Brian bersama dengan seorang gadis di sebelahnya.
"Kalian dari mana" tanya Brian.
"Kita baru saja dari rumah sakit" jawab Listy sambil menggendong Fathan.
"Memangnya siapa yang sakit? Fathan?" tanya Brian khawatir.
"Iya, lebih baik kita masuk dulu" sahut Listy.
Mereka berempat pun masuk kedalam, Listy membawa Fathan ke kamarnya terlebih dahulu.
"Fathan sakit apa" tanya Brian kepada Niken.
"Dia hanya demam, tidak usah khawatir kata dokter Fathan baik-baik saja." jawab Niken tersenyum.
"Ada apa kamu datang kesini? dan siapa wanita ini" tanya Niken sambil melihat ke arah Nadin.
"Ini Nadin, calon istriku maksud kedatangan ku kemari aku ingin mengenalkan Nadin dengan Fathan dan juga Listy, agar kedepannya tidak ada salah paham lagi di antara kita" ucap Brian.
Deg.
Listy pun langsung menghentikan langkahnya saat mendengar Brian membawa calon istrinya, munafik kalau dia bilang tidak cemburu, tapi Listy sadar diri dia yang lebih dulu menghianati kekasihnya itu dengan calon mertuanya.
ia harus bisa menerima keputusan Brian yang akan menikahi wanita lain. Dia juga tidak mau menjadi penghalang untuk kebahagiaan mantan kekasihnya itu.
"Kapan kalian akan menikah" tanya Listy saat mampu menguasai perasaannya, ia keluar sambil membawa minum dan memberikannya kepada Brian dan juga Nadin.
"Mungkin tiga bulan lagi" jawab Brian.
"Kenalin, aku Nadin" ucap Nadin memperkenalkan diri kepada Listy.
"Aku Listy" ucap Listy tersenyum.
Mereka saling berjabat tangan, tak lama Listy pun menarik uluran tangganya.
"Dimana kamu akan melangsungkan pernikahanmu Bri" tanya Listy.
"Kita akan merayakannya di kota ini" jawab Brian.
"Itu artinya daddy mu juga akan kesini" tanya Listy ragu.
Brian menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya.
Bersambung
Menuju tamat.
Jangan lupa like, koment, vote, gift๐
Happy reading๐