Baby Girl

Baby Girl
BAB 89



Erik juga mengedarkan pandangannya. "Erik tidak tahu mom, mungkin mereka keluar dari area sekolah" jawab Erik.


Siska yang panik langsung saja berlari keluar mencari keberadaan Reva dan juga Reynand. Erik berlari menyusul mommy nya.


Di luar sekolah Siska menoleh kesana kemari namun tak melihat keberadaan Reva, Erik berdiri mensejajarkan tubuhnya di sebelah sang momny. "Bagaimana ini mom, kemana larinya Reva" tanya Erik.


Siska menatap wajah anaknya jengkel. "Ini semua salahmu, andai saja kamu tidak mengajak mommy berdebat, pasti kita tidak akan kehilangan mereka" sahut Siska dengan


nada kesal. "jika terjadi sesuatu dengan putrinya pasti Alisya akan menyalahkan kita" lanjut Siska.


Erik yang sudah malas meladeni kegilaan mommy nya, dia memilih pergi meninggalkan mommy nya. "kamu mau kemana Erik" tanya Siska dengan nada tinggi.


"Erik ingin mencari putri Erik mom" jawab Erik tanpa menoleh sedikit pun ke arah Siska.


Dari dalam mobil Viona melihat kedua ibu dan anaknya itu sedang bersitegang. Viona tadi mengikuti Siska dari rumah menggunakan mobilnya.


*Flasback ON*


Hari ini Viona tidak masuk kantor, karena tadi pagi dia kembali muntah-muntah, jadi di memutuskan untuk tetap tinggal di rumah, dia hanya menyuruh asistennya untuk membawakan berkas penting ke rumahnya.


Siang hari Viona melihat Siska yang sudah rapih dengan tergesa-gesa menuruni tangga. Viona memicingkan matanya penasaran. "Mau kemana mom" tanya Viona.


Sejenak Siska menghentikan langkahnya. "Momy mau makan siang bersama Erik, kamu di rumah saja jangan kemana-mana" sahut Siska.


Setelah itu Siska langsung pergi begitu saja meninggalkan Viona.


"Tumben sekali mommy ingin makan siang bersama Erik, sepertinya dari kemarin ada yang aneh dari keluarga ini.....Aku harus mengikutinya" batin Viona.


Diam-diam tanpa sepengetahuan Siska Viona mengikuti taksi yang di tumpangi Siska dari belakang.


"Kenapa arahnya kesini, sebenarnya mommy mau kemana, bukankah Erik ada di kantornya" guman Viona


Taksi yang di tumpangi Siska mulai menepi di depan sekolahan Pelita Harapan, di sana Viona juga melihat mobil Erik yang sudah lebih dulu tiba.


"Ngapain mereka ke sekolah ini? Aku semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan" lirih Viona.


Viona melihat Siska menarik lengan Erik masuk kedalam sekolah.


Tak lama mereka masuk ke dalam sekolah Viona melihat Reva dan Reynand keluar dari sekolah lalu masuk ke sebuah mobil hitam yang di kendarai oleh seseorang seperti bodyguard. "Bukankah itu anak nya Alisya" ucap Viona sambil mempertajam penglihatnya. "Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dariku".


*Flasback Off*


Viona mengambil ponselnya dari dalam tas nya, dia memencet ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Hallo, ada pekerjaan untukmu" ucap Viona setelah panggilannya terhubung.


"....."


"Cari tahu masa lalu Erik Dinata dengan Alisya Davidson istri dari Arsen Davidson, segera laporkan jika kamu sudah mendapatkan informasinya" ucap Viona. Setelah itu dia memutuskan panggilannya secara sepihak.


*


Di Rumah Arsen pulang dari sekolah Reva hanya diam saja, dia masuk ke dalam rumah bersama Reynand dan juga Max


Reva yang melihat Alisya yang sedang duduk bersama suaminya pun langsung memeluk mamanya. Kebetulan hari ini Arsen cuma bekerja setengah hari, karena dia khawatir dengan keadaan istrinya.


Alisya merasakan tubuh putrinya bergetar. "Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Alisya dengan alis mengkerut.


Reva tidak menjawab, dia masih menangis sambil memeluk mamanya. "Sayang nya mama, lihat mata mama Sayang" pinta Alisya sambil menjauhkan wajah putrinya dari dadanya.


Arsen yang merasa ada sesuatu yang terjadi pun langsung mengambil alih tubuh putrinya lalu mendudukan nya di atas kedua pahanya. "Cerita sama papa sayang, biar nanti papa pukul orang yang sudah berani menjahati putri cantik papa ini" pinta Arsen lembut dengan penuh kasih sayang sambil merapihkam rambut putrinya.


Reva melihat wajah ayahnya. "Setelah adik kelual dali pelut mama, papa nda akan buang Leva kan?" Cicit Reva sambil sesegukan.


Arsen dan Alisya kaget dengan pertanyaan putrinya, Arsen melihat ke arah Max mencari jawaban, namun Max menggelengkan kepalanya tak ngerti.


Arsen mengecup puncak kepala Reva sambil memejamkan matanya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan perkataan putrinya yang tiba-tiba. "Tatap mata papa sayang, tidak ada yang mau buang Reva...Reva tetap akan jadi putri papa, putri kesayangan papa, putri kebanggaan papa....Reva jangan mendengarkan ucapan orang di luar sana, Ok" ucap Arsen tegas, setelah itu dia memeluk tubuh ringkih Reva.


Reva membalas memeluk Arsen sambil menduselkan wajahnya ke dada papanya. "tapi kata nenek itu papa nda sayang Leva lagi, kalena sebental lagi papa mau puna anak balu" lirih Reva dalam dekapan Arsen.


Arsen menoleh ke arah Reynand. "Tadi siapa yang kalian temui di sekolah Rey" tanya Arsen.


Reynand membalas menatap Arsen."Nenek lampil yang waktu itu di pesta om, dia yang bilang sepelti itu kepada Leva, Telus Ley langsung bawa Leva kabul dalina" adu Reynand.


Arsen memejamkan matanya sambil mengetatkan rahangnya, dia menahan emosinya...dia tak ingin emosinya meledak di hadapan keluarga kecilnya.


Arsen melerai pelukannya."Reva sama mama dulu ya, papa ada urusan sama om Max" ucap Arsen lembut.


Reva pun turun dari pangkuan papanya. Dia duduk di sisi mamanya yang masih kosong.


Alisya tahu kalau saat ini suaminya sedang menahan emosi. "Honey..."panggil Alisya.


Arsen mengelus pipi istrinya. "Untuk kali ini aku harus bertindak baby, aku tak mau mereka kembali meracuni otak Reva" sahut Arsen. Alisya menghela nafas dalam-dalam lalu mengangguk


Alisya merasa keluarga Dinata sudah kurang ajar, karena sudah berani melibatkan putrinya.


Arsen memberi kode ke Max, Max yang mengerti pun langsung mengekori Arsen dari belakang yang membawanya ke dalam ruanh kerja.


Arsen menghubungi ponsel milik Nino.


"Hallo Nino" sapa Arsen.


"......"


"Hancurkan perusahaan Dinata sekarang juga, tutup semua akses yang bisa mereka ambil untuk meminta bantuan, aku ingin kali ini perusahaan Dinata benar-benar hancur. Dan tak ada satupun orang yang bisa membantu mereka." perintah Arsen langsung mematikan panggilannya.


Arsen berbicara dengan nada dingin, sorot mata tajam yang menyiratkan kemarahan dan juga kebencian kepada keluarga Dinata. Sudah cukup selama ini Arsen membiarkan keluarga itu berlaku semena mena kepada istri serta anaknya.


"Max "panggil Arsen.


"Iya tuan" jawab Max gugup.


Max takut melihat kemarahan Arsen, Max sudah lama ikut dengan Arsen, tapi selama ini dia belum pernah melihat kemarahan Arsen.


"Perketat penjagaan untuk Alisya dan juga Reva, aku tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Dan kamu suruh anak buahmu untuk memantau pergerakan keluarga Dinata" perintah Arsen


"Baik tuan" jawab Max.


"Keluarlah, tinggalkan aku sendiri" usir Arsen.


Arsen akan mengurung dirinya terlebih dahulu sambil menetralkan emosinya.


Bersambung.


Happy reading guys🙏