Baby Girl

Baby Girl
S2~18



Max menemui Arsen di kantornya dengan membawa map yang berisi informasi tentang prusahaan orang tua Brian.


Setelah tidak bekerja lagi dengan Arsen, Max memutuskan kembali tinggal di mansionnya yang ada di tengah hutan sembari menikmati hidupnya bersama istri serta putranya.


Brakkk....


Max membuka pintu ruangan Arsen dengan kasar.


Arsen terlonjak kaget dari kursi kerjanya, ia menatap nyalang ke arah Max yang kurang ajar.


"Apa? mau marah? silahkan" ucap Max menjengkelkan sambil duduk di kursi yang ada di hadapan meja Arsen.


"Kau itu bisa ketuk dulu tidak sih, masih pagi sudah membuat orang emosi saja" omel Arsen.


"Yang seharusnya emosi itu aku, menjaga Reva saja tidak bisa, apa aku perlu membawanya tinggal bersamaku hah" sahut Max tak terima ketika tahu Reva yang ia jaga sejak kecil kini mengalami kecelakaan, karena keputusan orang tuanya yang kurang bijak menurut Max.


Menurut Max tidak ada kebohongan demi kebaikan, Bohong demi kebaikan tetap saja namanya bohong, sebuah sifat yang mesti di hindari karena merugikan, tidak hanya diri sendiri, tapi juga banyak orang.


Setiap kebohongan pada satu titik, nantinya akan terungkap dan menemukan kebenarannya. Seperti pepatah bijak, bangkai yang di sembunyikan nanti akan tercium juga baunya.


Menutupi sebuah kebenaran sama saja membohongi orang tersebut, daripada menutupinya lebih baik jujur, yang penting bagaimana cara kita menyampaikannya.


Arsen menghela nafas sabar, ia tahu kalau Max sesayang itu kepada putrinya, tak bisa di pungkiri karena sejak kecil Max lah yang selalu menjaganya dan memastikan keamannanya.


"Ok, kita memang salah, tapi kita bisa apa..semuanya sudah terjadi, andai kita tahu akan menjadi seperti ini, tentu akau akan memilih jujur kepadanya." sahut Arsen mengakui kesalahannya, supaya tak membuat Max emosi.


"Lalu untuk apa kamu memintaku mencari informasi tentang perusahaan itu? bukankah ini tentang perasaan bukan tentang perusahaan?" ucap Max.


Ia tak ingin Arsen terlalu gegabah, jika yang bersalah hanya Brian, habisi saja Briannya jangan orang tuanya pikir Max.


"Ck, kau selalu saja bertindak lamban" decak Max.


Plakkkk.....


Arsen memukul kepala Max kesal.


"Apa aku harus membunuh Brian begitu?" kata Arsen.


"Bunuh saja jika itu perlu" sahut Max dengan santainya.


"Atau kau ingin aku yang membunuhnya? dengan senang hati aku akan membunuhnya, dan akan aku jadikan makanan Dexter" imbuhnya.


"Dasar manusia tak punya hati" kata Arsen.


"Kau terlalu menggunakan hati Ar, kau harus menggunakan sisi kejam mu untuk menghancurkan musuhmu, kalau begitu terus yang ada kamu sendiri yang hancur karena musuhmu" sahut Max.


"Apa aku harus kejam sepertimu hingga membuat satu keluarga mati bunuh diri hah" balas Arsen.


"Itu kan sudah menjadi pilihannya, bahkan aku tak menyiksanya sama sekali, tapi merekalah yang memilih untuk bunuh diri" sahut Max tak ingim di salahkan.


Nessa dan orang tuanya lebih memilih mengakhiri hidupnya setelah setahun tinggal dihutan, karena mereka tidak sanggup hidup susah, dimana tiap malam mereka akan todur beralaskan karpet saja, dan tiap pagi mereka akan mengumpulkan kayu bakar untuk memasak, kehidupan mereka benar-benar memprihatinkan dan bertolak belakang dengan kehidupan mereka sebelumnya.


Mereka benar-benar mengandalkan alam untuk bertahan hidup. Mereka yang terbiasa hidup mewah dan serba di layani tentu membuat mereka akhirnya putus asa, dan lebih memilih mengakhiri hidupnya.


Bersambung


Happy reading guys 🙏