
Tiba-tiba ada seorang wanita baruh baya yang menghampiri Belinda, ia juga termasuk geng sosialita Belinda.
"Hai Reva" sapa wanita paruh baya itu yang mengenal Reva.
"Tamu capa" tanya Reva sambil memiringkan kepala nya mengamati wajah wanita baruh baya itu.
"Apa Reva sudah lupa dengan oma sayang" orang itu yang tak lain adalah Siska orang tuanya Erik.
"Maap Nyonya, Leva lupa" jawab Reva sambil memegang tangan Belinda. Belinda mengeryit bingung menatap Siska.
"Kau mengenal cucuku Jeng" tanya Belinda.
"Aku pernah bertemu di restoran. Kenapa Jeng Belinda mengakui dia sebagai cucumu, setahuku bukankah putra jeng Belinda belum menikah" sinis Siska, Siska memang tidak terlalu suka dengan Belinda, karena dia merasa tersaingi dengan bergabungnya Belinda ke geng sosialitanya.
"Kau benar, memang putraku belum menikah, tapi putraku akan segera menikah" jawab Belinda santai
"Apa mamanya Reva yang akan menjadi istri dari putra Belinda, tapi kenapa wajah Reva mirip Erik, sebenarnya siapa ayah kandung Reva" batin Siska.
"Memangnya perempuan mana yang mau menikah dengan putramu itu, apa perempuan itu lebih hebat dari calon menantuku" cibir Siska yang seolah memuji status Viona di perusahaan Hendrawan. Padahal dia belum tau siapa putra Belinda.
"Saya tak butuh perempuan yang hebat karena putra saya sudah hebat, saya hanya butuh wanita yang baik yang mampu membuat putra saya bahagia hidup bersamanya" jawab Belinda telak, Siska melengoskan wajahnya karena malu. Lalu di ngeluyur pergi meninggalkan Belinda.
Berlinda mengendikan bahu acuh, ia milih mengajak kedua cucunya duduk sambil menikmati makanan yang sudah tersedia di meja.
"tadi capa oma" tanya Reva seperti biasa rasa ingin tahunya kumat.
"Tadi mak lampir" jawab Belinda Asal. Membuat Reva dan Reynand bingung, yang ia tahu dari cerita-cerita teman nya mak lampir itu serem.
"Ley, memangna nyonya yang tadi noblol cama oma selem ya, tok oma bilangna mak lampil cih" bisik Reva di telinga Reynand yang masih terdengar Belinda.
"Ley nda tau, tapi mata olang tadi memang celem Leva, matana melotot sepelti ini" jawab Reynand sambil menirukan mata melotot Siska.
Reva merapatkan tubuhnya ke Belinda begitupun juga dengan Reynand.
"Hei, kalian kenapa sayang" tanya Belinda yang pura-pura tidak tahu.
"Tita tatut cama mak lampil oma, selem mukana" jawab Reva bergidik ngeri sambil memeluk lengan Belinda.
"Tita pulang caja oma, Ley tatut nanti mak lampilna tecini ladhi, ntal talau mak lampilna matan Ley cama Leva badaimana oma" ucap Reynanda sambil clingak clinguk memastikan keberadaan Siska. Belinda mati-matian menahan tawanya, ingin rasanya Belinda menertawakan ucapan cucunya itu.
Sedangkan di meja lain Siska masih memikirkan tentang jati diri Reva.
"Sepertinya aku harus mengambil sample rambut gadis kecil itu, untuk memastikannya" gumam Siska. Siska mengedarkan pandangan ke meja satunya tempat berkumpul teman nya yang lain, mereka memang sengaja membagi mejanya menjadi dua bagian. Karena ada beberapa yang julid dan gak mau gabung dengan yang lain.
"Ternyata mereka masih di sana" lirih Siska lalu bangkit dari tempat duduknya. Siska berjalan menghampiri meja Belinda.
Sedangkan Rey melihat pergerakan Siska yang seperti akan mendekat ke arah nya.
"Leva mak lampilna mau tecini" pekik Reynand sambil menunjuk ke arah Siska, Belinda dan teman akrabnya menegok ke arah Rey.
"Oma mak lampilna mau tecini, cepat tita pulang Leva cama Ley tatut nanti di matan mak lampilna" lirih Reva sambil berebut duduk di pangkuan Belinda. Belinda terkikik dengan tingkah mereka berdua.
"Cucumu kenapa Bel" tanya teman dekat Belinda.
"Dia takut mak lampir noh" jawab Belinda sambil menunjuk ke arah Siska yang semakin mendekat. Belinda kena pukul teman nya, bisa-sanya Belinda bilang sama cucunya kalau Siskan seperti mak lampir.
"Gak salah kan kalau aku bilang dia mak lampir" sahut Belinda.
"Salah lah, kamu gak lihat tuh cucumu jadi takut" balas Teman Belinda menunjuk Reva dan Rey sudah memeluk tubuh Belinda.
"Sayang, Reva ikut oma yuk kesana," ajak Siska sambil mengelus rambut Reva yang sedang memeluk tubuh Belinda begitu erat.
"Huaaaaa omaa.....Mak lampilna tecini" tangis Reva histeris sama Rey sambil berusaha menepis tangan Siska yang ada di kepala Reva. Siska tercengang ketika Reva menyebut dirinya mak lampir. Muka Siska sudah memerah menahan amarah dia lupa tujuan awalnya yang ingin mengambil sample rambut Reva.
"Pergi kamu dari sini, kamu gak lihat kalau kedua cucuku takut melihat mukamu" ketus Belinda sambil menenangkan Reva dan juga Rey.
"Kurang ajar kamu Belinda, apa yang sudah kamu katakan pada kedua bocah itu ha" Siska meraung marah menatap tajam Belinda.
"Tentu saja aku bilang kalau kau seperti mak lampir" jujur Belinda.
"Leva mau pulang oma, Leva tatut hiks" pinta Reva yang masih nangis di pelukan Belinda.
"Ok, sekarang kita pulang ya, turun dari pangkuan oma sayang, oma tidak kuat kalau harus menggendong kalian berdua" pinta Belinda lembut. Reva dan Rey pun turun dari pangkuan Belinda.
Belinda beranjak dari tempat duduknya, ia sudah berjalan menjauh dari Siska karena Rey dan Reva sudah menarik tanganya agar cepat menjauh dari Siska.
Setelah melihat Belinda yang sudah menjauh, Siska baru teringat tujuannya tadi mendekati Reva.
Mereka hampir tiba di pintu keluar namun tiba-tiba Siska dari arah belakang berlari menjambak rambut Reva.
"Huaaaaa oma, lambut Leva satit di jambak mak lampil itu" teriak Reva histeris sambil memegang kepalanya yang sempat mendongak akibat jambakan dari Siska, Belinda langsung menggendong Reva.
Belinda memberikan Reva dan juga Reynand ke sopirnya yang sudah berada di depan restoran.
Belinda berbalik menatap ke arah Siska dengan wajah bengisnya.
Plakkkk
"Itu tamparan karaena kau sudah berani menyakiti cucuku, sekali lagi kau menyakitinya aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu" ancam Belinda dengan tatapan tajam seperti pedang yang siap menghunus jantung Siska.
"Aku tak pernah takut ancamanmu Belinda, memangnya kau pikir kau siapa ha" tantang Siska yang tak tahu kekuasaan Belinda yang sebenarnya.
"Kalau begitu, sekali lagi kau membuat ulah maka kau akan mengerti siapa aku yang sebenarnya" tegas Belinda kemudian pergi meninggalkan Siska yang masih berdiri mematung di depan Restoran.
"Yess,, akhirnya aku mendapatkan rambutnya, tak apa aku mendapatkan tamparan dari Belinda sialan itu, yang penting aku mendapatkan sample rambut ini" lirih Siska sambil melihat telapak tangannya yang ada beberapa helai rambut Reva yang ia jambak tadi.
Bersambung
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Follow
Happy reading guys🙏