Baby Girl

Baby Girl
144



"Rey..kamu sudah datang" pekik Reva heboh ketika melihat Reynand masuk ke rumahnya bersama kedua orang tuanya.


"Aku sudah di sini berarti aku sudah datang" ketus Reynand.


"Begitu saja marah" kesal Reva.


"Kalian ini baru juga ketemu sudah bertengkar" lerai Alisya .


Reagan memboyong semua keluarga kecilnya ke rumah Arsen, kapan lagi mereka bisa berkumpul seperti ini.


Erik dan Viona beserta keluarga Dinata yang lain termasuk Rani dan Gilang juga tampak sudah tiba di kediaman Arsen.


"Maaf Al, kita baru datang...soalnya tadi sedikit macet" ucap Viona mewakili keluarganya.


"Tidak apa, Reagan juga baru saja datang" balas Alisya dengan senyum ramahnya.


Viona dan yang lainnya pun masuk kedalam rumah Arsen, Alisya membawa mereka ke ruang tamu.


"Papi Erikkk..." pekik Reva berlari kecil menghampiri Erik dan keluarganya.


Hap


Erik menangkap tubuh putrinya dan membawanya kedalam gendongannya.


"Putri cantik papa apa kabar hmm" tanya Erik sambil berjalan ke arah sofa. Putra Erik di gendong sama Viona.


"Kabar Reva baik papi. Dan Reva sekarang udah bisa bilang huru "R" jawab Reva.


"Oh ya?, anak papi memang hebat" puji Erik. "Terus anak papi sudah bisa apa aja?" tanya Erik.


Memang akhir-akhir ini Erik tengah sibuk jadi membuat dia jarang bertemu dengan putrinya.


"Sudah pecat tante badut" jawab Reva sambil memamerkan giginya.


"Maksudnya gimana" tanya Erik bingung.


"Papi tanya saja sama papa" suruh Reva.


Erik mengalihkan pandangannya ke wajah Arsen, dia seperti minta jawaban darinya.


"Dia baru saja memecat sekretarisku di kantor Rik" ucap Arsen santai.


"Seriusan?" tanya Erik tak percaya.


"Buat apa aku bohong" jawab Arsen.


Erik kembali menatap wajah putrinya, dia menatap dengan intens kedua mata putrinya, sungguh dia tak percaya putrinya bisa berlaku seperti itu.


"Papi kenapa lihatin Reva terus, Reva tahu kalau Reva keren" tanya Reva lalu menyombongkan diri.


"Anak papi memang pemberani, " puji Erik sambil menciumi pipi putrinya gemas, membuat Reva tertawa terbahak bahak.


Alisya hanya bisa menggelengkan kepalanya, suaminya dan Erik ternyata sama saja, mereka malah mendukung tindakan putrinya itu.


"Oh jadi kamu sudah usir tante pelakor itu Reva?" tanya Reynand yang sejak tadi mendengarkannya


"Iya Rey, tadi Reva sudah usir dia dari pelusahaan papa, sekarang di kantor papa sudah tidak ada pelakor lagi, jadi Reva sudah tidak mendapat tugas lagi untuk menjaga papa, iya kan ma" jawab Reva lalu bertanya kepada mamanya.


"Iya" jawab Alisya singkat, dia malu ketahuan menyuruh putrinya untuk menjaga suaminya itu, apa lagi di depan banyak orang.


Semua tertawa seraya menatap wajah malu Alisya yang sudah ngumpet di balik punggung suaminya.


"Ayo kita ke taman belakang, kita mulai bakar-bakarnya" ajak Arsen mengalihkan tatapan mereka, supaya istrinya tidak malu.


Semua mengangguk, lalu mereka semua beranjak dari ruang tamu dan berjalan menuju ke taman belakang.


Para suami di minta oleh para istri untuk membakar daging dan yang lain, sedangkan sang istri pada sibuk ngerumpi sambil mengawasi anak-anaknya yang tengah sibuk bermain.


"Hai Bala-Bala, kamu lagi ngapain" tanya Reva yang sengaja menggoda Bara anak Rani dan Gilang.


"Nama atu butan Bala ata' "protes Bara sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


Dia memang senang menggoda Bara, karena adiknya belum bisa berbicara lancara sehingga belum bisa di ajak becanda.


"Bala ata', pakai L" jawab Bara menyebutkan namanya, namun karena dirinya cadel jadi dia salah menyebutkan namanya.


"Terus salahnya kak Reva dimana?, tadi kan kak Reva sudah benar kalau nama kamu itu Bala-bala" kekeuh Reva.


"Butan, nama atu butan Bala" pekik Bara yang sudah kesal.


Reva tertawa cekikikan sambil menatap mata Bara yang sudah berkaca-kaca.


"Huaaaa.....mama, ata' Leva natal" tangis Bara akhirnya pecah, Reva ingin kabur namun tubuhnya keburu di tangkap Erik.


"Eitss...mau kemana kamu, setelah membuat adiknya mennagis lantas kamu mau pergi begitu sajaa nona muda," ucap Erik seraya memegangi tubuh Reva yang mau kabur.


"Reva nda mau kabur pi, Reva cuma mau ke kamar mandi, Reva kebelet pipis" jawab Reva bohong.


"Alasan, sekarang minta maaf sama adiknya" tegas Erik. "Kamu ini suka sekali menggoda adiknya, dan kamu tidak akan berhenti sebelum melihat adiknya menangis" omel Erik.


"Habisnya dia lucu, makanya Reva suka menggodanya" balas Reva cengengesan.


"Sana dekatin Bara, lalu minta maaf lah sama dia. Kalau Reva salah harus minta maaf, bukan malah kabur" ucap Erik memberi tahu putrinya itu.


"Baiklah, Reva akan meminta maaf sama Bala-Bala itu" ucap Reva.


Erik hanya menghela nafas sabar, padahal putrinya sudah bisa bilang huruf "R", tapi masih saja dia memanggil Bara dengan sebutan Bala.


Reva memang suka menggoda Bara yang memang sedikit cengeng.


Reva akhirnya mendekati Bara yang sedang sesegukan di pangkuan Rani.


"Bara, kak Reva minta maaf ya, kak Reva janji deh nda akan panggil Bala lagi" ucap Reva sambil mengulurkan tangannya kepada Bara.


Akan tetapi Bara melengoskan wajahnya menatap ke belakang.


"Sayang, kak Reva nya sudah minta maaf tuh," ucap Rani.


"Nda mau, pasti ta' Leva nya bohong, nanti panggil Bala lagi" rajuk Bara.


"Tapi kan kak Reva sudah janji tidak mau panggil Bara lagi, Bara harus maafin kak Revanya ya" ucap Rani memberi tahu kepada putranya itu.


Bara akhirnya membalikkan wajahnya, dia menatap wajah Reva dengan hidung yang merang karena tangis nya tadi.


"Benal nda ata' Leva nda panggil Bala-Bala lagi" tanya Bara.


"Kak Reva janji, tapi Bara maafin kak Reva ya" pinta Reva.


"Iya Bara maafin ata' "ucap Bara.


"Tapi bohong..." pekik Reva lalu melarikan diri dari hadapan Rani.


"Revaaaa....astaga anak itu" teriak Alisya mengelus dadanya sabar.


"Huaaa....mama, ata' Leva nya bohong" Bara menangis karena di bohongi Reva.


Alisya menepuk keningnya frustasi, putrinya itu benar-benar membuat darah tinggi orang naik.


"Ran maafin Reva ya, dia emang agak lain, aku saja suka di buat pusing olehnya" ucap Alisya.


"Hahaha...anak mu memang nakal Al. Bahkan putraku yang laki-laki saja malah cengeng, tidak seperti Reva" sahut Rani.


Sedangkan di sudut lain Erik tak habis pikir dengan kelakuan putrinya itu, kirain dia putrinya itu bakal nurut, eh ternyata kebalikannya.


"Jangan aneh Rik, keu seperti tak tahu aja kelakuan Reva" ucap Arsen sambil memukul bahu Erik pelan.


"Entahlah Ar, kenapa dia mesti menuruni sifatku. Coba saja dia menuruni sifat Alisya, pasti dia akan terlihat manis dan kalem" sahut Arsen sambil memanggang sossis untuk Reva.


Bersambung


Happy reading guys🙏