
Rista menghela nafas nya saat melihat mobil sang dosen kini terparkir di area rumah nya. Apa pria itu tidak bosan pikir nya.
Rista baru saja pulang setelah mengerjakan tugas, dia menyempatkan diri untuk bertemu dengan Jeremy.
Dan sang kekasih lah yang mengatarkan nya untuk pulang ke rumah. Namun Rista menyuruh Jeremy untuk menurunkan nya di depan kompleks memasuki rumah nya saja.
Karena dia tau ada Eve di rumah dan hubungan antara Eve dan juga Jeremy belum baik bemar.
Rista ingin agar nanti nya Mommy nya itu bisa akrab dengan Jeremy. Seperti nya sudah cukup untuk mereka bersembunyi sembunyi dengan hubungan mereka.
Rista akan segera membicarakan hal ini dengan Eve secepatnya.
Rista akhirnya memasuki rumah nya dan benar saja jika mobil yang ada di depan rumah nya adalah milik Melviano karena terdapat sepatu lelaki di depan pintu sekarang.
"Rista," panggil Melviano dengan suara berat nya.
Pria itu langsung meletakkan iPad nya dan langsung menghampiri orang yang dirindukan nya.
"Sore pak," ucap Rista.
"Sore," balas Melviano dengan tersenyum tipis.
"Em bapak ada apa mau kesini, seperti nya tugas saya gak ada yang gak dikumpulkan kan pak?" tanya Rista.
"Jangan membahas tentang hal itu sekarang karena saya tidak sedang ingin membahas Masalah itu,"
"Loh, terus apa dong pak. Masa dosen ke rumah mahasiswa nya bukan bahas ilmu pak," ucap Rista.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Rista, tolong jangan menghindar dari saya lagi," ucap Melviano to the point.
Sangat menyesakkan rasa nya saat Rista membuat jarak diantara mereka
Rista bukan nya tidak peka selama ini, dia tau jika Melviano tertarik dengan diri nya.
Tapi tetap saja Melviano suka sekali menganggu nya bahkan saat pria itu Ray jika Rista sudah memiliki kekasih.
"Pak, saya tau selama ini maksud bapak apa. Tapi ... saya sudah memiliki kekasih. Pak Melviano tau jelas kan tentang hal itu,"
Melviano terdiam saat Rista mengatakan hal itu. Ternyata gadis itu begitu peka.
"Saya tidak perduli kau memiliki kekasih atau bukan, Lagi pula hanya pacar kan bukan suami," ucap Melviano yang tak mau kalah.
Perjuangan nya belum berakhir sebelum gadis itu memang sudah menikah.
"Pak, yang benar saja. Anda ini adalah seorang dosen pasti banyak sekali wanita di luar sana yang begitu mengangumi bapak dan mencintai bapak," ucap Rista yang tak habis pikir dengan Melviano.
"Aku tidak perduli Rista, sudah saya katakan jika saya hanya menginginkan mu saja ,aku tak ingin yang lain. Persetan dengan semua orang itu," kekeh Melviano tetap dalam pendirian nya.
"Bapak mau jadi pebinor?" tanya Rista dengan tidak percaya.
Sudah jelas-jelas sekali Rista menolak Melviano tapi mengapa pria itu tetap keras kepala sekali.
Sungguh Melviano sangat tampan, dia pasti bisa mendapatkan yang lebih dari diri nya.
"Maaf pak, tapi sayang nya saya tidak bisa bersama dan membalas perasaan bapak. Saya tekan kan sekali lagi jika saya ini sudah memiliki pacar dan saya sangat mencintai nya," ucap Rista.
"Aya tidak papa jika menjadi yang kedua jiak begitu," ucap Melviano.
TBC