
Listy masuk kedalam ruang rawat Brian, ia ingin memastikan keadaan kekasihnya itu, bagaimana pun Brian aset bagi Listy, jadi dia harus tahu keadaan Brian yang sebenarnya.
Listy masuk melihat Brian yang masih terlelap di atas brankarnya dengan beberapa luka yang ada di bagian tubuhnya.
Lalu Listy menyibak selimut yang Brian kenakan, dia ingin memastika ucapan dokter yang tadi ia dengar.
Secara perlahan Listy mendekati brankar Brian, sedikit demi sedikit Listy membuka selimut Brian.
Listy merasa lega ketika melihat kaki Brian yang masih utuh dua-duanya.
"Kalau kaki Brian utuh berarti... " Ucapan Listy terhenti, lantas ia keluar dari ruangan Brian dan menuju ke ruangan Reno ayah Brian.
Ceklek.
Litsy masuk kedalam ruangan Reno, dengan tangan bergetar Listy mencoba menyibak selimut yang di gunakan untuk menutupi tubuh Reno.
Dengan perlahan Listy mulai menyingkap selimut tersebut.
Ia kaget ketika melihat kaki kiri Reno di amputasi hingga sampai lutut.
Listy segera menutup kembali dan membenarkan letak selimut Reno.
Ia memundurkan tubuhnya ke belakang sambil menggeleng gelengkan kepalanya, ia masih berasa mimpi melihat nasib tragis yang menimpa kedua orang tua kekasihnya tersebut.
"Eughhhh" Reno melenguh pertanda kalau dia mulai sadarkan diri.
Reno mengerjabkan matanya, ia mengedarkan pandanganya ke ruangan serba putih tersebut.
"Om Reno sudah sadar" ucap Listy mendekati ayah kekasihnya tersebut.
"Ini dimana" tanya Reno lirih.
"Om di rumah sakit, mobil om mengalami kecelakaan tadi malam" jelas Listy.
Reno mencoba mengingat ingat kejadian semalam, ia memegang kepalanya yang merasa berdenyut.
"Kalau masih sakit jangan terlalu di paksa om" tutur Listy ketika melihat Reno sedikit meringis sambil memegang kepalanya.
"Dimana Brian dan istri om nak" tanya Re nj o dengan suara lemah.
"Brian belum sadar om, kalau tante Debora... " Listy menghentikan ucapannya, ia tak tega memberi kabar kematian istrinya.
"Ada apa dengan istri saya Listy" desak Listy.
"Emmmm... anu om, tante Debora meninggal di tempat kejadian kecelakaan om" jawab Listy sambil menundukkan kepalanya.
Reno memejamkan matanya, ia tak menyangka secepat itu istrinya pergi meninggalkannya. padahal sebelumnya mereka masih bersama-sama.
"Apa kamu sudah memakamkannya?" tanya Reno sambil menoleh ke arah Listy.
"Belum om, jenazah tante Debora masih berada di kamar jenazah" kata Listy.
Reno mengangguk kecil, setelah itu mencoba mendudukan tubuhnya.
Dia mengeryitkan keningnya ketika merasa ada aneh dengan kakinya.
Dengan perasaan campur aduk Reno menyingkap selimut yang ia kenakan, hingga kakinya yang sudah di amputasi terlihat jelas di depan matanya.
"Akkkhhhh....." Teriak Reno ketika melihat kakinya yang sebelah kiri tinggal setengah.
"Tidak, ini tidak mungkin, ini pasti hanya mimpi, tidak mungkin kakiku.... " racau Reno sambil memukuli kepalanya.
Listy mendekati Reno dan mencoba menenangkannya.
"Sabar om, jangan begini... kasihan Brian nanti" ucap Listy.
"Tidak, aku tidak mungkin cacat, ini pasti mimpi.... " racau Reno tak menggubris ucapan Listy.
Listy yang sudah kuwalahan menenangkan Reno akhirnya keluar dan memanggil dokter.
Dokter masuk ke ruangan Reno, ia melihat Reno yang terus meracau seperti orang gila, akhirnya dokter menyuntikkan Reno obat penenang.
Tak lama tubuh Reno mulai melemah, kemudian terlelap.
"Dia kenapa dok" tanya Listy penasaran.
"Apa itu akan mempengaruhi mentalnya dok" tanyanya lagi.
"Tentu, setelah pasien sadar nanti sebaikknya beliau diperiksa langsung oleh dokter psikiater" saran dokter.
"Kalau begitu terima kasih dok" sahut Listy.
Setelah dokter keluar Listy mengumpat kesal.
"Menyusahkan saja"
...****************...
Menjelang sore hari Reynand membawa Reva pulang kerumahnya. Reynand takut kondisi Reva drop, karena seharian ini Reva sudah terlalu lama beraktivitas di luar rumah.
"Kenapa kita pulang sih Rey, aku masih ingin bermain di taman bunga itu" kesal Reva.
"Hey nona muda, kamu harus istirahat, ingat..kamu itu baru keluar dari rumah sakit" sahut Reynand.
"Aelah, lagian ini sakit kapan sembuhnya sih, bikin susah gerak aja" gerutu Reva.
"Sabar, makanya banyak istirahat biar cepat sembuh" ucap Reynand.
"Makasih ya Rey sudah ngajakin jalan-jalan" ucap Reva sambil mendogakkan wajahnya ke atas menatap wajah Reva.
"Apapun untukmu" sahut Reynand tulus sambil membalas tatapan Reva, membuat kedua mata mereka saling bertaut.
Hingga Reva menarik tatapannya dari kedua mata Reyanand pandangannya terlebih dahulu.
"Ganteng juga" batin Reva.
Sepanjang perjalanan pulang Reva terus tersenyum, hari ini merasa bahagia karena di ajak jalan-jalan keluar oleh Reynand, namun berbeda dengan adiknya yang sejak tadi terus saja cemberut.
"Kamu kenapa Gav" tanya Reynand sambil melihat Gavin yang ada di kursi belakang dari spionnya.
"Kamu nanya, kamu beltanya tanya" sahut Gavin meniru di tok-tok.
"Di tanya itu jawabnya yang bener, jangan malah begitu, nanti kak Reva tarik bibirnya baru tahu rasa" timpal Reva.
Bukannya takut Gavin justru menirukan ucapan kakaknya.
"Kamu ini mau minta apa? bilang mumpung kita belum sampai rumah, dari tadi mukanya cemberut terus membuat kak Reva malas melihatnya" kesal Reva.
"Mau ke kebun binatang Gavin tuh. malah di ajak ke taman bunga. Gavin ini laki-laki kak Leva bukan pelempuan yang suka bunga" ucap Gavin mengutarakan keinginanya.
"Memangnya kamu mau melihat apa di kebun binatang" tanya Reva.
"Tentu saja melihat hewan, sudah tahu ke kebun binatang, ya tentu saja lihat hewan, masak lihat pelempuan" ketus Gavin.
Reva di buat gregetan dengan tingkah adiknya, ingin rasanya ia melempar adiknya keluar dari mobil.
"Maksud kak Reva itu kamu mau lihat binatang apa jamil" tanya Reva mulai kesal.
Reynand tertawa kecil melihat perdebatan kakak beradik itu.
"Banyak, Gavin mau lihat panda, mau lihat kelinci, mau lihat bulung, mau lihat ulal" Sahut Gavin menyebutkan semuanya.
"Yang kamu sebut itu ada semua di rumah, ngapain ke kebun binatang kalau di rumah juga ada, buang-buang duit saja" kata Reva.
Reva selalu menyayangkan uangnya untuk sesuatu yang tak berguna.
"Hufff.... gini nih, susahnya jadi olang kaya, semuana ada di lumah, telus kapan Gavin kelual kalau semuana ada di lumah. Kulung aja sekalian Gavin na bial nda bisa kelual" keluh Gavin.
Entahlah Reva dan Reynand tidak tahu lag dengan pemikiran Gavin, harusnya senang dia jadi orang kaya, ini dia malah mengeluh karena serba ada di rumahnya.
"Jadi kamu mau jadi orang miskin begitu?" tanya Reva.
"Ya nda miskin juga kak Leva. nanti Gavin tidak bisa jajan kalau Gavin jadi olang miskin" protes Gavin.
"Terserah kamu lah, kak Reva pusing... nanti Kak Reva suruh mama naruh kamu di panti asuhan aja gimana? " tawar Reva.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏