Baby Girl

Baby Girl
BAB 75



*Flasback ON*


Sudah tiga hari ini Viona merasa ada perubahan pada tubuhnya. Dia yang merasa janggal pun akhirnya melihat jadwal haidnya pada kalender yang terletak di nakas kamarnya.


Betapa kagetnya Viona, ternyata sudah seminggu ini dia telat haid.


"Apa aku hamil? semoga benar kau hadir di perut mama nak. Dengan begitu aku bisa menikah dengan Erik." ucap Viona dengan senyum lebar seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Viona memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan nya, ia berharapa kalau dugaannya benar. Dengan begitu ia merasa tak sia-sia selama ini sudah mengorbankan banyak hal buat Erik.


Dokter pun mendiagnosa kalau Viona hamil 2 minggu, Viona begitu bahagia mendengar kabar kehamilannya, setelah dari rumah sakit Viona langsung ke rumah Erik, namun siapa sangka ketika di sana dia malah mendengar ucapan yang gak enak di dengar di telinganya.


*Flasback Off*


"Bagaimana ini Dad" tanya Erik.


"Kau harus bertanggung jawab Erik, untuk kali ini kamu sudah keterlaluan Erik, kemarin Daddy mendukungmu untuk menelantarkan putrimu dari Alisya, tapi tidak untuk Viona Daddy mau kamu menikahi Viona" ucap David. Erik menunduk meremat jemarinya.


Keluarga Dinata bagai makan buah simalakama, mereka terancam dari dua sisi, dari Viona dan juga Alisya, jadi mau tidak mau mereka harus bisa mendekati salah satu dari mereka untuk mengamankan posisinya.


"Tidak Dad, lebih baik Erik menikahi Alisya dengan begitu ancaman Viona tak begitu berpengaruh untuk kita, karena Alisya memiliki saham 55% di perusahaan kita" saran Siska.


"Mom, Alisya tak terlalu berbahaya seperti Viona, Viona orang yang nekat dia bisa melakukan apa saja demi tujuannya, beda Alisya kita hanya perlu merubah sikap dengannya, dia pasti mau memaafkan kita" David mengungkapkan analisis nya.


"Tapi Erik tak mau menikahi Viona Dad" sela Erik.


"Jangan terus menjadi pengecut Rik, dulu kau bilang tak mau bertanggung jawab sama Alisya karena alasan miskin, lantas sekarang kamu mau beralasan apa lgi ha? Kau akan beralasan tidak cinta?, terus siapa yang kau cintai" hardik David. Sudah cukup muak dengan kelakuan putranya.


Kalau tidak siap menjadi ayah ya jangan membuat ulah. Sudah dua wanita ia hamili tapi tak mau menikahi.


"Erik mencintai Alisya Dad" cicit Erik. David mendelik dengan pengakuan putranya.


"Telat Rik, dari dulu kamu kemana saja. Bahkan dulu ketika Daddy dan opa melarangmu menikahi Alisya kau sama sekali tak menentangnya, dan sekarang kau bicara cinta?" cibir David dengan tersenyum sinis menatap putranya. Erik hanya bisa menunduk.


Aldrik diam saja, dia tak mau ikut campur masalah cucunya, biarkan cucunya itu belajar bertanggung jawab. Sudah cukup kemarin mereka kehilangan Alisya yang ternyata kaya, sekarang mereka tak mau kehilangan Viona ya sudah jelas asal usulnya.


"Mama besok akan temui Alisya, dan membujuk dia supaya mau menikah dengan Erik agar putrinya itu memiliki seorang ayah" sela Siska.


"Silahkan lakukan semau kalian, tapi jika semua itu berimbas pada perusahaan maka aku tak segan-segan menceraikanmu" ancam David, setelah itu dia pergi ke kamar meninggalkan istri serta anaknya di ruang tamu, Aldrik dan istrinya juga ikut pergi untuk istirahat.


David tak mau jika terus membela putranya, maka kemungkinan akan muncul Viona dan Alisya yang lain.


*


*


*


Uwekkkk


Uwekkk


Uwekk


Arsen terbangun dari tidurnya karena mendengar orang yang sedang muntah, dia meraba raba sisi tempat tidur nya ternyata Alisya sudah tidak ada di sebelahnya.


"Baby" Arsen langsung lari ke kamar mandi, setelah menyadari kalau istrinya lah yang muntah.


"Baby kamu kenapa" tanya Arsen seraya memijat tengkuk Alisya.


Uwekkk


Uwekk


"Baby, kita ke rumah sakit ya" ajak Arsen yang tak tega melihat istrinya yang terus memuntahkan isi perutnya.


Tanpa jijik Arsen membersihkan bekas muntahan Alisya yang ada di bibirnya.


"Jangan honey, biarkan aku membersihkannya sendiri" tolak Alisya ketika Arsen mau membersihkan bibirnya yang terkena bekas muntahan.


"Diamlah baby" tegas Arsen, setelah selesai membersihkan sisa muntahan Alisya, Arsen langsung menggendong tubuh Alisya setelah itu dia membaringkannya di atas ranjang.


"Tunggu di sini, aku akan mengambil teh hangat untukmu" ucap Arsen sambil mengecup kening istrinya.


Setelah itu dia turun ke bawah menuju dapur, untuk membuat teh hangat untuk istrinya.


"Kamu sedang membuat apa nak" tanya Belinda yang baru saja tiba di dapur untuk membuat sarapan.


"Arsen sedang membuat teh hangat untuk Alisya bund, Alisya tadi muntah-muntah" jawab Arsen sembari ngaduk teh yang sudah ia campur gula.


"Hah, menantu bunda sakit, kamu ini kenapa tidak memberitahukan bunda dari tadi, awas saja kamu kalau terjadi apa-apa dengan menantu kesayangan bunda" omel Belinda langsung bergegas ke kamar Alisya meninggalkan Arsen yang maish terbengong di dapur.


"Sebenarnya siapa sih yang anaknya, kenapa mendengar Alisya sakit saja bunda langsung heboh gt, bahkan sampai mengancam putranya sendiri. Sungguh malang sekali nasibku" gumam Arsen mendramatisir.


Dia menyusul bundanya ke kamar sambil mebawa teh yang sudah dia buat untuk istrinya.


"Sayang kamu tidak apa? Apa ada yang sakit hmm? Bagian mana yang sakit nanti bunda akan memijitmu" cecar Belinda ketika sudah di kamar Alisya.


Arsen menggeleng kepalanya, dia senang bundanya mengkhawatirkan istrinya tandanya bunda nya itu menyayangi Alisya, tapi Arsen tak menyangka reaksi bunda nya sampai begitu ketika melihat Alisya sakit.


"Tidak bunda, mungkin Alisya hanya masuk angin" lirih Alisya.


"Kalau tidak sembuh nanti bunda akan panggil dokter kesini" ujarnya.


"Iya bunda" jawab Alisya.


"Minum dulu teh nya sayang" titah Arsen seraya membantu Alisya untuk duduk.


Tak lama Reva masuk kedalam kamarnya sambil berteriak memanggil mamanya.


"Mama...Leva mau cekolah ini" teriak Reva lansung saja masuk ke kamar mamanya karena pintu kamarnya tak tertutup.


"Shuttttt....Berisik girl, mama nya sedang sakit" tegur Arsen.


Reva langsung berlari naik ke atas ranjang mamanya, setelah mendengar ucapan Arsen.


Dengan sok tahunya Reva menempelkan punggung tangannya ke dahi Alisya.


"Nda panas" ucap Reva.


"Mama satit apa, tenapa badan mama nda panas" tanya Reva.


Sebelum Alisya menjawab Reva langsung saja melihat Arsen lalu melototkan matanya.


"Ini pasti kalena papa tan yang cudah bikin mama Leva satit" omel Reva dengan muka galaknya.


"Kenapa kamu menyalahkan papa girl" tanya Arsen mengerutkan dahinya.


"Kan dali kemalin mama cama papa telus, ayo jawab papa apakan mama na Leva" Reva galak sambil berkacak pinggang.


Arsen menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia hanya menggempur istrinya tadi malam.


Arsen merasa heran kenapa bunda dan putrinya malah menyalahkan dirinya, padahal dia juga tak tahu kenapa tiba-tiba istrinya sakit.


**Bersambung


Happy reading guys🙏**