
Malam berganti pagi, Alisya mengerjab mulai membuka matanya yang masih terasa lengket. Alisya dengan wajah cantiknya menatap wajah tampan suaminya yang masih memeluk dirinya.
Dengan wajah merona, Alisya mengingat betapa liarnya dirinya bergoyang di atas tubuh suaminya tadi malam.
Alisya memberanikan diri membelai wajah suaminya yang masih terlelap, Alisya mengusap mata hingga bibir suaminya. Alisya terkekeh melihat suaminya mengerutkan dahinya karena tidurnya merasa terusik.
"Diam baby, aku masih ngantuk akibat melayanimu semalam." ucap Arsen dengan suara serak dan ngantuk.
Alisya mencubit bibir suaminya gemas.
"Bukan kamu yang melayaniku, tapi aku yang melayanimu, honey" gerutu Alisya.
Tanpa Alisya sadari, Arsen tersenyum menyeringai dengan mata yang masih terpejam.
Arsen langsung saja menggulingkan istrinya di bawah kukungannya. Arsen membuka matanya sambil tersenyum menatap wajah polos istrinya tanpa make up.
"Apa kamu menginginkan ku melayani mu hmmm" tanya Arsen dengan senyum jenaka.
Alisya bergidik ngeri mendengar ucapan serta wajah mesum suaminya yang kini menatapnya.
"Akhhhh....honey, ini sudah siang...nanti anak-anak mencari kita" pekik Alisya jengkel mencoba menghentikan tangan nakal Arsen yang sudah bergerilya di dalam piyamanya. Alisya sudah memakai piyamanya. Tapi Di balik piyamanya itu tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun.
"Apa kamu lupa baby, kalau hari ini hari minggu... Jadi anak-anak pasti akan bangun siang." ucap Arsen tersenyum licik, dengan tangan yang masih bekerja di atas dada istrinya. "kita kan melakukan morning s*x baby, triplet perlu di pupuk supaya cepat besar, aku akan melakukannya dengan cepat" lanjutnya.
Blesshh
Arsen langsung memasukan adik kecilnya ke dalam mi lik Alisya. Arsen menggerakan pinggulnya secara perlahan. Namun yang tadinya pelan Arsen malah mempercepat gerakanya.
"Akkhhhhh......." De sah Alisya membuat Arsen semakin bersemangat untuk memompa istrinya.
Sedangkan di luar kamar dua bocil sudah berisik menggedor gedor pintu kamar Arsen seperti orang mau demo.
Dorrrr.....dorrr....dorrr..
"Mama...papa bangun, Leva sama Ley sudah lapal ini" teriak Reva dari luar kamar.
Alisya yang mendengar keributan pun langsung menahan suaminya. "Honey, berhenti dulu....kasihan mereka sudah lapar menunggu kita" pinta Alisya dengan nafas terengah engah.
"Bentar lagi baby, lagian ada bibi kan" jawab Arsen sambil terus menghentak hentakan pinggulnya.
Arsen yang melihat mulut istrinya seperti mau ngomong pun langsung menyumpalnya dengan bibirnya, sambil mengangkat tangan istrinya ke atas.
Sedangkan kedua bocil makin kesal karena tidak ada yang menyahut.
"Yang kencang lagi teliaknya Leva, mungkin Onty Alisya lagi tidul" saran Reynand.
"Kamu saja, tenggolokan Leva sudah sakit teliak telus" sahut Reva lemas.
Dorrrr....dorrrr..dorrr
"Om Alsen bangun" teriak Reynand. Namun masih belum ada sahutan juga dari dalam kamar.
Reynand dan Reva memutuskan duduk di depan pintu sambil menunggu mereka terbangun.
Lima belas menit kemudian akhirnya pintu kamar pun terbuka.
Ceklek....bunyi pintu kamar di buka oleh Arsen.
"Eh" kaget Arsen.
Kedua bocah itu menoleh dengan tatapan nyalang menatap Arsen yang masih menggunakan celana boxer dan rambut yang berantakan.
"Enak ya tidul telus, nda tau apa kalau kita kelapalan" sindir Reynand.
"Kenapa kalian tidak makan terlebih dahulu" tanya Arsen.
"Leva mau makan sama mama" jawab Reva.
Arsen memeluk mereka dengan perasaan bersalah karena mengabaikan teriakan mereka.
"Mama lagi mandi sayang, sama papa dulu ya ke bawah nanti mama nyusul" ucap Arsen melepaskan pelukannya. Kedua bocah itu mengangguk patuh.
Arsen masuk ke kamarnya sebentar untuk memakai kaos serta celana pendek.
Arsen menggandeng kedua bocah itu di kedua sisinya menuruni tangga dan menuju ke ruang makan.
"Reva sama Rey mau makan sama apa sayang" tanya Arsen ketika sudah berada di meja makan.
"kita mau makan telul mata sapi papa" jawab Reva.
"Rey juga om" sahut Rey.
Arsen menggaruk kepalanya yang tak gatal, di menatap masakan di atas meja tapi tidak ada telur mata sapi sesuai permintaan mereka. Biasa Alisya yang akan membuatnya untuk Reva, karena putrinya tidak mau orang lain yang membuat selain mamanya, kecuali Alisya tidak ada baru dia mau di buatkan oleh orang lain.
"Tunggu bibi ya sayang, biar bibi buatkan untuk kalian" ucap Arsen.
Reva sama Rey saling tatap seolah merencanakan sesuatu.
"Tidak, kita mau papa/om Alsen yang buat" jawab mereka berdua kompak.
Arsen kaget mendengarnya, dia mana pernah masuk dapur, "bibi saja sayang ya, papa ngga bisa masak" ucap Arsen dengan tatapan memelas.
"Tidak !!" tolak Reva sambil bersedekap di dada seperti Reynand.
Dengan langkah lunglai akhirnya Arsen menuruti permintaan mereka berdua , kedua bocil itu juga mengikuti Arsen ke dapur.
"Bi, cara membuat telur mata sapi gimana" tanya Arsen kepada pelayan.
"Panasin pen lalu masukan oleskan sedikit margarin di atasnya, ceplok telur di atas pen tuan, lalu masak dengan api kecil hingga bawah telur berwarna sedikit kecoklatan, setelah itu kasih garam dia atas telurnya, kemudian tunggu hingga telur matang" jawab bibi.
Arsen manggut-manggut seolah mengerti, tapi kedua bocil itu menatap Arsen ragu.
"Papa bisa nda?" Tanya Reva.
"Tentu saja papa bisa" sombong Arsen.
"Sombong, ntal kalau gosong Ley nda mau makan" cibir Rey.
"Sudah, kalian duduk anteng sambil liatin papa" titah Arsen.
Arsen mulai menaruh pen di atas kompor, setelah itu mengoleskan margarin, setelah itu Arsen memecahkan telor dia atas pen dengan hati-hati. Namun ternyata gagal...telur berantakan hingga cangkang nya ikut masuk ke dalam pen.
"Om Alsen kenapa cangkang nya ikut di masukan" protes Reyanand.
"Iya papa, Leva nda mau makan kalau begitu" timpal Reva.
"Ini tuh gara-gara kalian ngga bisa diam" Arsen menyalahkan mereka berdua.
"Pelasaan dali tadi Leva sama Ley kan diam, ya kan Ley" ucap Reva meminta dukungan sama Rey.
"Iya benar, om Alsen nya aja yang nda bisa masak" cibir Reynand.
Arsen mendengus kesal., akhirnya Arsen membuang telur tersebut ke dalam tong sampah.
Dia mengulang lagi dari awal, cobaan dua berhasil ia memecahkan telur di atas pen hampir sempurna. Namu Arsen lupa mengecilkan apinya sehingga telur itu gosong.
"Ini gosong papa, nanti Leva sakit pelut." Protes Reva lagi sambil menjauhkan piringnya dari hadapannya.
"Sebenalnya om Alsen bisa masak nda sih" tanya Reynand dengan tatapan mengejek.
"Papa ngga bisa, kalian makan seadanya saja ya" ucap Arsen.
Kedua bocah itu hanya ingin mengerjai Arsen saja, padahal mereka berdua sudah makan tadi di bantu sama pelayan.
"Nda mau, kalena kita sudah kenyang "ceplos Reva sambil menutupi mulutnya keceplosan.
Arsen melotot menatap mereka berdua, dia baru sadar kalau sedari tadi hanya di kerjai oleh kedua perusuh itu.
"Cepat, kita kabul Leva....sebelum singa itu menelkam kita" pekik Rey.
Bersambung.
Happy reading guys🙏