
Pagi hari di rumah Arsen, Alisya terbangun dari tidurnya saat cahaya matahari yang masuk dalam jendela kamarnya mengusik kedua matanya. Alisya telat bangun karena ulah suaminya semalam.
Tak lama terlihat kemudian terlihat, Arsen keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan menetes di tubuh kekarnya, Arsen juga masih menggunakan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya. Membuat otot-otot perut Arsen terpampang nyata di depan mata Alisya.
Membuat wajah Alisya bersemu, meskipun sudah mempunyai anak, Alisya masih suka canggunh dan malu melihat tubuh polos suaminya.
"Baby, kamu sudah bangun" Sapa Arsen.
"Maaf, aku kesiangan honey...jadi aku tak bisa menyiapkan kebutuhanmu" sahut Alisya.
"Tak masalah, kan semalam kamu sudah melayani kebutuhanku yang lain bukan" goda Arsen sambil menaik turunkan alisnya.
Wajah Alisya memerah mengingat kegiatan panasnya semalam, suaminya itu terlalu perkasa, sehingga membuatnya bangun ke siangan.
Alisya menutupi seluruh tubuhnya menggunkaan selimut hingga ke ujung kepala.
Arsen terkekeh melihat tingkah ibu empat anak itu.
"Masih saja menggemaskan" gumam Arsen geleng-geleng kepala.
Arsen mendekati istrinya yang masih setia terbaring di ranjang sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan menggunakan selimut.
Arsen duduk di tepi ranjang.
"Hai, nyonya sampai kapan kau akan menutupi seluruh tubuhmu hmm" goda Arsen sambil menusuk nusuk tubuh Alisya dengan menggunakan jarinya.
"Diam honey, aku malu" sahut Alisya dari dalam selimut, membuat Arsen tertawa terbahak.
"Malu sih malu, tapi kenapa semalam kamu liar banget, baby" Arsen semakin suka menghoda istrinya.
"Honey... " rengek Alisya supaya suaminya itu mau berhenti menggodanya.
"Iya baby, kalau gitu sekarang kamu bangun, lihat mataharinya sudah mulai meninggi" ucap Arsen seraya menarik selimut istrinya, hingga wajah Alisya yang sedang macebik pun terlihat oleh Arsen.
Arsen yang gemes pun langsung mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, ia memagut bibir manyun istrinya, panggutan yang begitu lembut dan mesra.
Ciuman itu terlepas ketika mereka berdua kehabisan pasokan oksigen, nafas keduanha menderu, Arsen menempelkan keningnya ke kening istrinya.
Setelah itu ia mencium kening istrinya, lalu kembali menegakkan posisi duduknya.
"Bangun baby, jangan sampai anak-anak merusuh di bawah" peringatnya.
"Gendong honey, kau membuat itu ku sakit" pinta Alisya sambil merentangkan kedua tanganya.
"Oh my, kenapa istriku ini manja sekali hmm" ucap Arsen seraya menyibak selimut yang di kenakan Alisya.
Alisya langsung saja menutupi bagian dada dan juga bagian intinya menggunakan tanganya.
Arsen mengangkat tubuh polos istrinya sambil menahan gejolak has rat yang ada dalam tubuhnya.
"Tak usah di tutupi baby, bukankah suamimu ini sudah sering melihatnya hmm, bahkan sering menikmatinha juga" goda Arsen sambil membawa istrinya masuk ke kamar mandi.
Alisya mencubit dada suaminya kesal.
"Auwww....Sakit baby, jangan sampai aku mengulagi kejadian seperti semalam di kamar mandi ini" ucap Arsen.
"Habisnya kamu ngeselin, suka sekali menggodaku" kesal Alisya.
"Karena istriku ini sangat lucu dan menggemaakan jika sedang malu-malu seperti ini" ucap Arsen seraya menurukan tubuh Alisya di bawah shower.
"Mandilah, aku tunggu kamu di bawah bersama anak-anak" ucap Arsen seraya mencium singkat bibir istrinya.
Setelah itu Arsen berlalu keluar dari kamar mandi, ia menunu ke walkin closet untuk memakai pakaiannya.
Usai selesai semua, Arsen turun ke bawah menuju ke ruang makan.
Terlihat Reva sedang kesal dengan Ravin yang terus mengganggunya.
"Diam Ravin, jangan tarik-tarik rambut kak Reva, kamu ini kenapa usil sekali sih" omel Reva seraya menyingkirkan tangan Ravin dari rambut panjangnya.
Bukannya berhenti, Ravin malah kembali menganggu Reva dengan menusuk-nusuk pipi chubby Reva dengan menggunakan jari telunjuknya.
"Ravinnn...bisa diam tidak sih" teriak Reva.
Bukannya takut, bayi bertubuh gempal itu malah tertawa girang sambil bertepuk tangan.
Reva mengalihkan pandangan ke tempat lain, terlihat Rachel sedang mencoret-coret buku Reva yang ia ambil dari tas sekolah Reva.
"Rachelll.... itu buku kak Reva kenapa kamu coret-coret" pekik Reva seraya turun dari kursi makan lalu menghampiri adik bungsunya itu.
Reva mencoba mengambil buku di tangan adiknya dengan perlahan, karena ia takut melukai adiknya.
"Mama sama papa kemana sih, kenapa anaknya nda di urusin" gerutu Reva.
"Lis ta'lis" ucap Rachel tak jelas.
"Kamu ngomongnya jangan pakai bahasa planet, kak Reva nda ngerti" sahut Reva.
"Lis ata' " jerit Rachel kesal karena kakaknya tak kunjungi menuruti permintaannya.
Reva secara spontan langsung menutup kedua telinganya.
"Ya ampun, bisa ngga sih kamu kalem dikit, lihat tuh kak Revan dari tadi anteng, tidak seperti kamu sama Ravin" omel Reva.
Dari kejauhan Arsen menggelengkan kepalanya melihat tingkah usil putranya itu, apa lagi putri bungsunya juga ikut-ikutan.
Hap
Arsen mengangkat putrinya, sebelum Rachel kembali berulah.
"Kamu kenapa nakal sekali girl, jadi kena omel kan sama kak Reva" ucap Arsen sambil menciumi pipi bakpau putrinya.
...****************...
Sedangkan di hutan Bondan memberanikan diri keluar dari gubuknya.
Bondan mengintip dari celah dinding yang memang pada berlubang, dia melihat Tiga orang yang sedang berbincang di depan gubuk.
"Sebenarnya siapa mereka, kenapa mereka menculik ku dan juga keluargaku" batin Bondan.
Kriettt
Suara pintu yang di buka oleh Bondan.
Gerakan Bondan membuat perhatian ketiga orang anak buah Max pun menoleh.
"Akhirnya bangun juga kamu, cepat keluar dan cari makan untuk sarapan kita" perintah dengan sedikit membentak.
"Tunggu, sebenarnya kalian siapa? kenapa kalian menculik kami" tanya Bondan dengan tubuh gemetar.
Melihat tubuh kekar orang yang ada di depannya membuat nyalinya mendadak menciut.
"Tak usah banyak tanya kamu, cepat panggil anak dan juga istrimu itu, suruh dia nyari kayu bakar dan juga ikan di sungai" perintahnya tanpa mau menjawab pertanyaan Bondan sedikit pun.
"Saya tidak mau, memangnya kalian siapa hah? kalian tidak bisa seenaknya menyuruh nyuruh kami, kalian yang menculik kami sudah seharusnya kalian yang memberi kami makan" tolak Bondan mencoba memberanikan diri melawan mereka.
Bugh
Bugh
Bugh
Salah satu anak buah Max memukul wajah sombong Bondan.
"Papa" teriak Nessa dan juga Hera sambil dari dalam rumah.
Nessa dan Hera mendekati Bondan yang terjatuh ke tanah dengan luka sobek di bibirnya.
"Kenapa kamu memukul suamiku hah, sebenarnya kalian ini siapa" ucap Hera marah.
"Jangn pernah sekalipun kalian meninggikan suara kalian kepada kami, atau kami akan membuang kalian dan membiarkannya menjadi santapan harimau liar yang ada di hutan ini" ancam anak buah Max.
Max sama Arsen sama saja, mereka akan berubah kejam jika sudah menyangkut keluarganya, apa lagi menyangkut Reva yang selama ini Max jaga dengan segenap hati dan jiwanya, dia tidak akan membiarkan gadis kecil yang ia jaga terluka sedikit pun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Apa lagi selama ini dia tahu penderitaan yang gadis kecil itu alami.
Bersambung
Happy reading guys 🙏