
Sedangkan di tempat lain. Sudah tiga bulan ini Brian belum sadar dari komanya, Reva pernah sekali menjeguk Brian bersama Reynand kerumah sakit tanpa sepengetahuan Reno.
Sedangkan hubungan Reno dan Listy justru semakin dekat, setelah di nyatakan sembuh oleh dokter, Reno di perbolehkan pulang ke rumahnya.
Namun setibanya di rumah Reno kaget ketika tahu perusahaan yang ia bangun selama ini dinyatakan bangkrut, beberapa aset yang Reno miliki tengah di sita oleh bank.
Bersyukur Reno masih memiliki beberapa aset lagi yang bisa ia jual untuk modal mendirikan usaha dengan di bantu Listy, Entah Listy tulus membantu Reno atau karena ada sesuatu yang ia incar dari Reno.
Bahkan sudah tiga bulan ini Listy tinggal bersama Reno, dan selalu menyiapkan kebutuhan Reno dengan di bantu pelayan yang ada di rumahnya.
Seperti sekarang, Listy tengah menyiapkan makan siang untuk Reno.
"Om mau makan pakai apa" tanya Listy melayani Reno selayaknya istri melayani suaminya.
"Sayur saja sama ikan goreng" sahut Reno.
Listy pun mengisi piring Reno dengan Nasi dan lauk sesuai permintaan Reno.
"Terima kasih" ucap Reno sambil menerima piring dari tangan Listy.
"Sama-sama om" Sahut Listy sambil duduk di sofa sebelah Reno, kebetulan mereka berdua sedang berada di kantornya.
Keberadaan Listy di sampingnya mampu membuat Reno sedikit melupakan mendiang istrinya.
Mereka berdua akan menjenguk Brian di rumah sakit setiap tiga hari sekali. Karena Brian dan Listy harus fokus dengan usaha yang baru di rintisnya.
Setelah makan siang, Reno dan Listy kembali melanjutkan pekerjaannya, mereka mendirikan usaha di bidang properti.
"Apa kamu tidak lelah terus menerus membantu om, Lis" tanya Reno.
"Tidak, Listy suka membantu om, kalau Listy pergi nanti siapa yang akan merawat om" sahut Listy sambil tersenyum manis menatap Reno.
"Terima kasih, kamu memnag gadis baik" ucap Reno memuji Listy.
"Andai Brian sudah bangun, om akan secepatnya menikahkanmu dengannya" kata Reno.
"Sabar om, Listy yakin pasti suatu saat Brian akan bangun" sahut Listy.
"Emm...ini om, kenapa om bisa mengalami kecelakaan?" Lanjutnya, ia penasaran dengan kronologi kecelakaan yang menimpa mereka.
"Pada waktu om sama Brian dan mamanya baru saja pulang dari rumah Reva untuk mengajak mereka bernegosiasi, namun mereka menolaknya, Reva malah memberikan ancaman dengan memperlihatkan bukti kecurangan perusahaan om. Om tidak tahu Reva bisa mendapatkan bukti itu dari mana.
*Flasback On"
Ketika sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba mobil yang Reno kemudikan di pepet oleh dua mobil dari arah kanan dan kirinya.
"Mobil siapa itu dad, kenapa kedua mobil itu terus memepet mobil kita" tanya Brian.
"Daddu juga tidak tahu son, lebih baik kamu dan mama kencangkan seatbeltnya. " perintah Reno dengan masih fokus mengemudikan mobilnya.
Brian dan Mommy nya patuh, mereka langsung mengencangkan seatbeltnya.
Mobil itu terus memepet mobil Reno, dan sesekali mereka membenturkan mobilnya dari samping kanan kirinya.
Reno menancap gas kembali menambah kecepatananya, agar bisa lolos dari kedua mobil tersebut.
Namun usaha Reno sia-sia, mobil itu mampu mengimbangi kecepatan mobil Reno.
Hingha tiba di lampu merah, mobil Reno di tabrak dari belakang hingga membuat mobil Reno menerobos lampu merah.
Dan pada saat itu juga ada truk yang melintas dari samping, dan akhirnya terjadilah kecelakaan.
*Flasback Off*
"Sepertinya ada yang sengaja menargetkan om Reno" tebak Listy.
"Mungkin saja, karena kejadian itu seperti di sengaja" sahut Reno.
"Apa om Reno tahu siapa orang itu, atau apa om Reno punya musuh lain selain tuan Arsen" tanya Listy.
Reno mencoba mengingat-ingat, dia juga tidak tahu siapa yang menargetkan dirinya, berkecimpung di dunia bisnis sudah pasti ada yang suka juga ada yang tidak suka dengan dirinya.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan tuan Arsen? tidak mungkin semuanya terjadi secara bersamaan kalu tidak di sengaja om"
"Om juga tidak yakin kalau ini ulah tuan Arsen, pasalnya dia bukan tipikal orang seperti itu, dia lebih banyak memenjarakan orang ketimbang membunuh orang" kata Reno.
Arsen memang terkenal angkuh dan kejam, tapi dia tidak suka membunuh orang, dia lebih suka menghukum orang dengan cara memenjarakannya. Berbeda denagan Max yang lebih suka membunuhkan ketimbang memenjarakannya, karena setelah lepas kemungkinan orang itu bisa membalas dendam kepadanya.
...****************...
"Sebenarnya apa yang sedang kamu cari sayang" tanya Reynand yang sejak tadi mengikuti wanitanya kesana kemari.
"Apa ya Rey, aku juga bingung mau beli apa lagi" sahut Reva tidak tahu.
Reynand menekan kepala kekasihnya gemas, sedari tadi mereka berdua keluar masuk toko tapi sampai sekarang mereka belum mendapatkan satu barang pun.
"Kan katanya tadi kamu mau membeli sepatu bola untuk Gavin" ucap Rey
Reva menepuk keningnya lupa.
"Aku lupa honey, aku kita ke toko sepatu" ucap Reva sambil menarik tangan Reynand tak sabaran.
"Pelan-pelan, nanti kaki kamu sakit lagi" peringat Rey kepada wanitanya.
Akhirnya Reva memelankan langkahnya dari pada teus kena omel kekasihnya.
Mereka masuk ke sebuah toko sepatu yang ada di mall tersebut, Reva langsung memilihkan sepatu yang menurutnya bagus, ia tak peduli adiknya itu suka atau tidak, yang terpenting dia sudah membelikannya.
"Ini bagus tidak Rey" tanya Reva sambil menunjukkan sepatu pilihnnya.
"Bagus, ambil aja yang itu" ucap Reynand.
Reva mengangguk, lalu dia mencari spg dan meminta size sesuai ukuran kaki adiknya.
Tak lama Spg datang sambil membawa sepatu sesuai yang Reva inginkan.
Reynand pergi ke kasir untuk membayar sepatu tersebut.
"Jangan Rey, biar aku aja yang membayarnya" cegah Reva ketika melihat Reynand mengeluarkan dompetnya untuk membayar sepatu Gavin.
"Kenapa? " tanya Reynand heran.
"Biar aku aja yang bayar, kan itu sepatu buat Gavin," ujar Reva.
"Lalu apa bedanya, dia kan adik kamu, biar aku yang membayarnya" kekeuh Reynand.
Akhirnya Reynand mengeluarkan kartunya untuk membayar sepatu tersebut.
Setelah selesai kasir mengembalikan kartu itu ke Reynand.
"Terima kasih tuan," ucap Sang kasir sambil tersenyum ramah.
Reva yang tak suka melihat senyuman kasir itu kepada Reynand, akhirnya ia menarik tangan Reynand dan membawanya keluar dari toko.
"Dasar ganjen, sudah tahu ada kekasihnya malah di ajak senyum" dumal Reva.
"Kamu kenapa sayang" tanya Reynand sambil mengerutkan dahinya.
"Tau ah, bikin kesal saja" ketus Reva.
"Jangan cemberut, ayo mau beli apa lagi" ajak Reynand sambil merangkul bahu kekasihnya.
"Dengan senang hati aku akan menghabiskan uangmu itu tuan" goda Reva sambil menaik turunkan alisnya.
Bersambung
Maaf kalau banyak typo.
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏