Baby Girl

Baby Girl
BAB 141



Di meja makan Reva dengan ketiga adiknya sedang sarapan dengan di bantu oleh sang bibi.


Setelah selesai sarapan Reva memberikan ultimatum kepada ketiga adiknya sebelum dia berangkat ke sekolah.


"Kak Reva mau berangkat ke sekolah dulu, kalian jangan nakal dan jangan menyusahkan bibi" ucap Reva tegas dengan menatap ketiga adiknya.


Revan,Ravin,Rachel hanya diam saja tak ada yang menganggukkan kepalanya sama sekali.


"Kenapa kalian diam saja, ngerti tidak?" tanya nya.


Seolah mengerti mereka bertiga kompak meganggukan kepalanya.


"Bagus kalau begitu, awas saja jika kalian menyusahkan mama atau bibi di rumah" ancamnya lagi.


Reva akhirnya pamit pergi dengan sang bibi.


"Bi, Reva pergi sekolah dulu ya, nanti kalau mama nanya bilang saja Reva sudah berangkat sama om Max" ucap Reva.


"Baik Non, nanti bibi sampaikan kepada Nyonya Alisya. Nona hati-hati di jalan" sahut sang bibi.


Reva berjalan keluar, terlihat Max sang bodyguard nya sudah menunggunya sambil bersandar di badan mobil.


"Ayo kita belangkat om" ajak Reva.


"Ayo," sahut Max sambil membukakan pintu untuk Reva.


Max sangat senang menjaga Reva. Selain absurd Reva juga gampang di kasih tahu.


Mobil yang di kendarai Max perlahan melaju meninggalkan pekarangan rumah Arsen.


Sedangkan di dalam rumah.


Arsen dan Alisya baru saja menuruni anak tangga dengan tangan Arsen yang merangkul pinggang istrinya. Mereka berjalan menuju ke ruang makan, terlihat triplet yang baru saja selesai makan.


"Pagi tuan, nyonya" sapa sang bibi kepada majikannya.


"Pagi bi" balas Alisya sambil tersenyum.


Tak sengaja mata bibi melihat tanda merah yang ada di leher Alisya.


"Pantas saja nyonya kesiangan, ternyata semalam mereka habis lembur" batin bibi sambil terkikik lucu.


"Mana Reva bi" tanya Arsen sambil menarik kursi untuk istrinya duduk.


"Non Reva baru saja berangkat sama tuan Max tuan" jawab bibi.


Arsen mengangguk mengerti, kemudian dia duduk di samping istrinya.


"Sarapan dulu bi, biar mereka di sini sama saya" ucap Alisya.


"Terima kasih nyonya, saya pamit ke belakang dulu" pamit sang bibi, kemudian meninggalkan ruang tamu.


Alisya melayani suaminya, dia mengambilkan makan serta lauk pauk ke piring suaminya itu.


"Terima kasih baby" ucap Arsen sambil menerima piring dari istrinya yang sudah terisi penuh.


Kemudian Alisya mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


Mereka berdua mulai menyantap makanan nya. beberapa menit kemudian mereka selesai makan.


Alisya merasa heran dengan ketiga bayinya yang anteng tak lasak kemana-mana.


"Tumben mereka anteng Mam" ucap Arsen.


"Aku juga tidak tahu pa, biasanya setelah makan mereka akan merangkak mencari mainannya. Ini kenapa mereka anteng ya" sahut Alisya heran.


"Coba kamu cek dahinya, takutnya mereka sakit atau apa gitu" saran Arsen.


Alisya pun bangkit dari kursinya dan mendekati ketiga anaknya, dia menempelkan punggung tangannya di kening anaknya bergiliran.


Lalu Alisya menoleh menatap suaminya.


"Bagaimana" tanya Arsen penasaran.


"Mereka tidak demam pa" jawab Alisya sambil menggelengkan kepalanya.


Tak lama bibi keluar dari ruang belakang, dia ingin membereskan bekas makan tuan dan nyonyanya.


"Bi, kenapa dia diam anteng begini ya? Apa tadi terjadi sesuatu? Tak biasayang mereka anteng" tanya Alisya kepada yang bibi yang tadi mengasuhnya.


Arsen dan Alisya di buat melongo, dia tak menyangka bayinya pada anteng setelah mendengar ancaman dari putri sulungnya itu.


Padahal sama mamanya sendiri ketiga bayi itu tidak ada yang mau menurut, meskipun Alisya sudah ngereog tetap saja mereka kabur-kaburan.


"Sungguh putriku luar biasa mam, dia bisa menghandle ketiganya" puji Arsen terkekeh.


"Mereka bukannya takut sama mamanya malah takut sama kakaknya," dengus Alisya.


"Harus nya kamu berterima kasih sama Reva mam, karena dia kamu hari ini bisa sedikit santai" sahut Arsen.


Ucapan Arsen semakin membuat Alisya kesal, dia tak terima ketiga bayinya lebih menurut sama putri sulungnya ketimbang sama dirinya yang tengah melahirkannya.


"Yasudah, aku berangkat ke kantor dulu mam, nanti siang kamu ke kantor aku ya sambil bawakan makan siang untukku sekalian ajak mereka" pamit Arsen sekalian mengutarakan keinginanya.


"Iya honey, kamu hati-hati" ucap Alisya mencium punggung tangan suaminya.


Begitupun Arsen mencium kening istrinya dan juga mencium bibir istrinya singkat.


...****************...


Sedangkan di kantor.


Nessa yang penasaran akan sesuatu akhirnya menanyakannya kepada Nino.


"Tuan, hari ini tuan Arsen masuk kantor atau tidak" tanya Nessa pada Nino.


Nino menaikkan satu alisya menatap Nessa.


"Ngapain kamu menanyakan tuan Arsen? Bukankah kamu tahu kalau tuan Arsen jarang ke akntor" tanya Nino curiga.


"Tidak, saya hanya ada butuh tanda tangan tuan Arsen tuan, ada berkas yang mesti tuan Arsen tanda tangani" kilah Nessa.


"Bukankah semua berkas harusnya di serahkan ke saya terlebih dahulu, setelah saya cek ulang barulah saya yang akan menyerahkannya ke tuan Arsen" ucap Nino semakin membuat Nessa terpojok.


"Emmm...maaf tuan, saya lupa" gugup Nessa, karena ucapan Nino membuat dirinya tersudut.


Bukan tidak tahu, selama ini Nino sudah curiga dengan Nessa, namun selagi dia tidak berbuat yang aneh-aneh Nino hanya membiarkan nya saja, begitu pun Arsen.


Seperti pagi ini, sebenarnya pagi tadi Arsen sudah menghubungi Nino kalau dirinya akan ke kantor tapi telat. akan tetapi Nino tidak mau memberitahukannya kepada Nessa.


...----------------...


Mobil yang di tumpangi Arsen baru saja sampai di depan kantor.


Dia turun dari mobil langsung saja masuk kedalam kantor dan masuk kedalam lift menuju ke ruangannya.


Beberapa kali Arsen membalas senyum sapaan dari karyawannya membuat karyawan bertanya tanya, tak biasanya bos nya itu akan tersenyum dan membalas sapaan karyawannya.


Biasanya Arsen memasang wajah datang tanpa Ekspresi, tapi berbeda denagn hari ini, wajah Arsen terlihat berseri-seri. Mungkin terjadi sesuatu semalam dengan istrinya itu, pikir Karyawan.


Tring


pintu lift terbuka, di lihatnya sang asisten sudah berdiri di depan lift menyambut kedatangan bos nya itu.


Arsen melangkah keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruangannya dengan di ikuti Nino di belakangnya.


Klek


Nino menekan handle pintu dan mempersilahkan tuanya masuk ke dalam ruanganya.


Arsen langsung duduk di kursi kebesarannya sambil mendengarkan Nino yang sedang membacakam jadwalnya.


"Apa kau sudah menemukan info yang saya minta No" tanya Arsen setelah Nino selesai membacakan jadwalnya.


"Sudah tuan, semua ada di berkas itu" jawab Nino sambil menyodorkan satu map yang berwana biru kepada Arsen.


"Bagus, silahkan lanjutkan pekerjaanmu" titah Arsen.


"Baik tuan" balas Nino.


"Tolong kosongkan jadwalku setelah makan siang nanti No, karena saat jam istirahat istriku akan kesini" pinta Arsen.


Nino pun mengangguk patuh, setelah itu doa keluar dari ruangan tuannya.


Bersambung


Happy reading guys🙏