Baby Girl

Baby Girl
S2~57



"Sayang...Sayang..." Teriak Arsen menggelegar memanggil manggil istrinya.


Para pelayan menggelangkan kepalanya mendengar suara tuannya yang memenuhi seisi rumah.


"Bibi...dimana istriku bi" teriaknya kepada pelayan rumahnya.


"Nyonya sedang berkebun di taman belakang tuan" sahut bibi berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur.


Arsen mengerti, dia langsung lari ke taman belakang mencari istrinya.


"Sayang, aku mencarimu sejak tadi tapi kamu malah bersembunyi di sini" ucap Arsen dengan nada kesal.


Alisya menoleh lalu mengeryitkan dahinya menatap suaminya, pikir Alisya siapa yang bersembunyi sejak tadi dia memang sedang berkebun.


"Siapa yang bersembunyi honey, dari tadi aku memang ada di sini" sahut Alisya.


"Kamu beli apa lagi sayang, kenapa jumlahnya sangat banyak sekali" ucap Arsen tiba-tiba menuduh istrinya berbelanja.


Membuat Alisya kesal, suaminya ini apa-apaan tadi mengatai dirinya bersembunyi sekarang menuduhnya berbelanja.


"Kamu ini kenapa pa, dari tadi aku di sini sedang berkebun, bahkan aku tak pergi kemana pun pegang ponsel saja tidak, tapi kenapa kamu malah menuduhku berbelanja hah" sahut Alisya yang masih mencoba menahan emosinya.


"Tapi ada notifikasi dari kartuku sebesar 3,7 milliar ma, siapa lagi coba kalau bukan kamu" ucap Arsen masih terus menuduh istrinya yang memakai kartunya.


"Kenapa kau menuduhku yang memakainya hah? bisa saja itu selingkuhanmu, kamu pikir aku tak punya uang? Kalau hanya uang segitu aku pun masih bisa membayarnya sendiri menggunakan kartuku" ucapan Arsen menyuluy emosi Alisya, karena dari tadi suaminya terus menuduhnya, Alisya menatap tajam kearah suaminya dengan nafas yang masih terlihat menderu karena emosi.


"kenapa seram sekali, sepertinya aku sudah salah menuduhnya" batin Arsen bergidik ngeri melihat tatapan tajam istrinya.


Arsen salah tingkah sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Lalu siapa yang memakai kartuku" tanya Arsen merubah nada bicaranya menjadi selembut mungkin agar tidak membuat istrinya semakin murka.


"Mana aku tahu, memangnya kamu taruh dimana dompetmu" ketus Alisya.


Arsen mencoba mengingat ingatnya, tiba-tiba dia langsung berlari meninggalkan istrinya begitu saja.


"Sudah salah bukannya minta maaf malah lari begitu saja, dasar suami ngga punya akhlak" Alisya sambil memasukkan tanah kedalam pot dengan terus mendumal.


*


Arsen bergegas menuju ke ruang kerjanya, ia baru ingat menaruh dompetnya di dalam laci meja kerjanya.


Di dalam ruang kerjanya Arsen langsung membuka laci mejanya.


Diambilnya dompet tersebut dan membukanya, ia menghitung jumlah kartu yang ada di dalam dompetnya yang erkurang satu, dan ternyata blackcardnya yang tidak ada di dalam dompetnya.


Kemudian dia mengecek uang yang ada di dalam dompetnya, ternyata uang di dompetnya masih utuh ada lima ratus ribu, Arsen memang tidak suka terlalu banyak memegang uang cash. Dia lebih suka pakai kartu-kartunya.


"Bukankah tadi Gavin bilang mau minta uang, kenapa uangnya masih utuh, atau jangan-jangan....GAVIN" gumam Arsen dan dia berteriak menyebut nama putra bungsunya.


"Pasti anak itu yang sudah menggunakan kartuku" lanjutnya dengan nada jengkel.


Dia kembali kebawah menemui istrinya di belakang.


"Sayang kamu tahu Gavin pergi kemana ngga" tanya Arsen.


"Dia pergi sama Reva" sahut Alisya tanpa mengalihkan tatapannya tanamannya, dia masih merasa kesal dengan tuduhan suaminya tadi.


"Habis dehhh...." gumam Arsen lirih lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi.


...****************...


Setelah selesai makan siang Reva menatap kedua mata adiknya penuh selidik.


"Kenapa kak Leva melihat Gavin sepelti itu" tanya Gavin yang di tatap oleh kakaknya.


"Kamu ngambil kartu siapa itu" tanya Reva langsung.


"Kartu papa, tadi Gavin sudah bilang sama papa kata papa boleh makana Gavin bawa" sahut Gavin.


Reva mengelus dadanya lega, untung bukan kartu mamanya kalau milik mamanya yang ada abis di ceramahin tujuh hari tujuh malam.


"Kalau begitu ayo kita gunakan kartu papa untuk shopping, kamu perlu baju baru Gav biar Si Dhe sama yang satunya semakin klepek-klepek sama kamu" ucap Reva mengompori adiknya, mumpung kartu papanya ada di tangan adiknya jadi dia bisa shopping sepuasnya menggunakan kartu papanya.


"Aluna kak Leva Aluna, lupa telus. Kalau begitu ayo sekalang kita shopping Gavin mau beli baju sama sepatu balu bial makin kelen" ucap Gavin dengan begitu antusias.


"*Sepertinya mulai dari sekarang aku harus bekerja keras, aku takut akan cepat bangkrut kalau nanti anakku menuru*ni sifat Reva, apalagi kalau mereka berdua sekutu seperti saat ini dengan Gavin." batin Reynand meringis membayangkan om nya yang sedang mencak-mencak di rumah.


Reynand mengikuti mereka berdua yang terus keluar masuk toko yang berbeda dengan membeli banyak barang.


Hingga tak lama ponsel Reva berbunyi.


Dia terlihat panik ketika melihat nama papanya yang tertera di layar ponselnya.


"Gimana ini Gav, papa telpon" ucap Reva panik.


"Angkatlah kak, kan papa yang telpon"sahut Gavin yang belum tahu ada tanda bahaya yang sedang mengintainya.


"Kamu ini kenapa polos sekali, ini papa telpon pasti akan memarahi kita" ucap Reva kesal.


"Kalau begitu nda usah di angkat aja, kita pulang kelumah papi Elik atau pulang ke lumah kak Ley" ucap Gavin yang akhirnya merasa takut juga.


Reynand sejak tadi menahan tawa melihat wajah mereka berdua yang berubah menjadi pias, tadi padahal wajah keduanya terlihat cerah dan begitu semangat menghabiskan saldo papanya, namun sekarang langsung berbeda.


Ting


Satu pesan dari Arsen masuk kedalam ponsel Reva.


From papa.


"PULANG SEKARANG JUGA ATAU PAPA AKAN MENYURUH ANAK BUAH PAPA UNTUK MENYERET KALIAN BERDUA".


Reva langsung pucat melihat pesan dari papanya. Dia menatap ke arah Reynand seolah minta bantuan kekasihnya untuk mencari jalan keluar.


"Berani berbuat harus berani tanggung jawab sayang, tidak boleh lari dari kesalahan kamu harus berani menghadapinya" ucap Reynand bijak sambil tersenyum manis mengusap kepala calon istrinya.


Membuat Reva dan Gavin lesu karena tidak mendapat pembelaan dari Reynand.


"Gimana ini Gav" tanya Reva.


"Kata mama anak laki-laki halus beltanggung jawab dengan apa yang di pelbuatna kak Leva, jadi Gavin halus belani hadapi papa" jawab Gavin yang selalu mengingat nasihat mamanya.


"Yasudah ayo kita pulang" ajak Reynand tersenyum bangga melihat keduanya yang akhirnya mau mempertanggung jawabkan kesalahannya.


*


*


"Sayang, banyak sekali transaksi yang masuk ke ponselku, ini pasti kelakuan Gavin sama Reva, bagaimana ini sayang" rengek Arsen yang terus mengganggu acara berkebun Alisya.


Alisya pun menghela nafas panjang lalu menghentikan acara berkebunnya, di bukanya sarung tangan yang ia pakai dan mencuci tangannya.


Dia menghampiri suaminya yang sedang duduk sambil menatap ponselnya frustasi.


Alisya yang penasaran akhirnya merebut ponsel suaminya, matanya langsung terbelalak kala melihat banyak notifikasi pengeluaran dari kartu milik suaminya.


"Anak dua itu benar-benar selalu membuat ulah" marah Alisya langsung menghubungi ponsel putrinya namun tak di angkatnya.


"Di angkat ngga ma" tanya Arsen.


"Tidak pa" jawab Alisya sambil kembali menyerahkan ponsel milik suaminya.


Arsen pun mengirimi pesan kepada sang putri dan memberinya ancaman.


Hampir satu jam berlalu tiba-tiba Rachel mendatangi orang tuanya yang sedang duduk di teras belakang.


"Papa beli mobil banyak sekali, memangnya buat siapa" tanya Rachel kepada papanya.


"Papa tidak beli mobil sayang" jawab Arsen.


"Tapi itu di depan ada orang dari showroom yang sedang mengantar mobil pa, bahkan ada tiga mobil yang di antarnya.


Arsen langsung shock mendengar ucapan putrinya. Beruntung dia tidak terkena serangan jantung.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏