
Satu minggu berlalu, kini di kediaman Dinata sedang melakukan sarapan pagi bersama keluarganya termasuk Aldrik dan juga sang istri.
Hari yang di tunggu keluarga Dinata pun tiba, tepat pada hari ini hasil tes DNA antara Erik dan Reva akan keluar.
"Setelah makan David dan Siska akan langsung ke rumah sakit Dad, David sudah sangat penasaran dengan tes DNA tersebut" ucap David.
"Pergilah, dan jangan lupa kasih tahu Daddy hasilnya." balas Aldrik.
"Erik ikut Dad, Erik juga ingin tahu dia anak Erik atau bukan" pinta Erik. Setidaknya Erik mengetahui kalau anak yang di kandung Alisya dulu masih hidup.pikir Erik
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang mom" ajak David kepada Siska.
Mereka bertiga pergi ke rumah sakit dengan menggunakan satu mobil, Erik yang menyetir mobil itu hingga ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit mereka bertiga langsung berjalan masuk menuju ruangan dokter.
"Bagaimana dok, hasil yang kita minta kemarin" tanya David tak sabaran ketika sudah berada di dalam ruangan dokter.
"Dan hasilnya sesuai kalau ternyata kedua sample itu cocok" ucap Dokter memberi tahu hasilnya penelitiannya.
"Ini tuan, hasil yang anda minta" dokter memberikan amplop berisi hasil tes DNA dari dalam lacinya.
Siska menganga tak percaya, sedangkan Erik diam terpaku mendengar ucapan dokter tersebut.
"Jadi benar, kalau Alisya mempertahankan kandungan itu" batin Erik.
"Apa ini benar" tanya David ragu ketika melihat hasil tes DNA itu.
"99,9% benar tuan" jawab dokter dengan sangat yakin.
Muka David sudah merah padam, ia sangat kecewa dengan kelakuan putranya yang mencoreng nama baik keluarga.
"Baik terima kasih" pamit David dengan nada dingin.
David keluar dari ruangan dokter sembil membawa hasil tes itu di tanganya, Erik dan Siska mengikuti langkah David hingga ke mobil. Siska tahu kalau suaminya itu sedang kecewa dengan putranya.
"Pulang" titah David ketika sudah di dalam mobil. Erik hanya mengangguk patuh.
Di dalam mobil hening tidak ada obrolan sama sekali, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Terlebih Erik, lain di mulut lain juga di hati. Dia bisa bilang tak akan pernah bertanggung jawab atas Alisya dan anaknya, namun hati kecilnya berbeda bagaimanapun juga anak yang di lahirkan Alisya adalah darah daginganya. Cuma Erik tak tahu bagaimana cara mengekpresikan perasaanya.
Mungkin karena didikan orang tuanya yang salah, makanya Erik menjadi pria arogan dan juga sombong.
Satu jam berlalu kini mobil yang di tumpangi mereka tiba di plataran mansion Dinata.
Kedatangan mereka sudah di sambut oleh Aldrik dan juga istrinya yang sudah tak sabar ingin mengetahui hasil tes tersebut.
Bugh
Tiba di dalam David langsung memukul wajah Erik.
"Daddy kecewa sama kamu Erik, selama ini Daddy telah membebaskanmu tapi bukan begini hasilnya, terlebih kau menghamili gadis miskin yang tak sederajat dengan kita" hardik David kepada putranya membuat Aldrik dan istrinya bingung, pasalnya putranya tiba di rumah langsung marah-marah.
"Bukan Erik yang salah Dad, tapi gadis itu yang sudah menggoda Erik" ucap Erik bohong, ia tak terima di salahkam oleh orang tuanya. Erik mengusap bibirnya yang terluka karena pukulan dari Daddy nya.
"Apapun alasanmu yang jelas kau sudah mencoreng nama baik keluarga Dinata" tegas David.
Siska mencoba menenangkan suaminya, ia takut terjadi apa-apa dengan David. David menyandarkan tubuhnya di sofa seraya memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Duduk dulu Dad," ucap Sisak sambil menggiring David duduk di sofa.
"Ada apa ini Siska" tanya Aldrik yang sudah jengah dengan mereka. Siska yang di tanya pun berusaha menekan kegugupannya.
"Emmmm....Gadis kecil itu anak biologis Erik Dad" jawab Siska dengan terbata. Aldrik meraup wajahnya kasar.
"Oh jadi benar, kalau ternyata gadis yang kita temui waktu itu anak kandung kak Erik" ucap Rani yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah orang tuanya dengan di dampingi Gilang.
"Sayang" ucap Siska tak menyangka putrinya tiba di waktu yang tak tepat.
"Duduk sayang, kau harus bisa mengontrol emosimu, ingat ada baby di perutmu" Gilang memberikan peringatan untuk istrinya. Rani pun menurut lalu duduk di sebelah mommy nya yang kosong.
"Kakak harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kakak perbuat, jangan menjadi lelaki yang pengecut kak" ucap Rani kepada kakak nya.
"Tidak, opa tidak setuju kalau Erik menikahi wanita itu" sela Aldri menginterupsi ucapan Rani.
"Terus apa yang akan kalian lakukan" sahut Rani yang masih mencoba menahan emosinya.
"Opa akan menemui mereka, dan akan memberikan sejumlah uang sebagai kompensasi." tegas Aldrik. Rani tertawa kecil seolah meremehkan ucapan kakeknya.
"Apa Rani tak salah dengar opa, bahkan wanita itu sama sekali tak pernah datang kesini untuk meminta pertanggung jawaban. Terus kakek datang-datang ingin menawarkan sejumlah uang" balas Rani sambil menggeleng kepalanya, ia geli dengan pemikiran kakeknya.
Sebenarnya ucapan Rani ada benarnya juga, kalau Aldrik nekat mendatangi Alisya yang ada dia akan malu, karena selama ini Alisya hanya diam dan tak mengganggu keluarga Dinata sama sekali.
"Opa akan membuat perjanjian dengan dengan perempuan itu, agar suatu saat perempuan itu tak datang kemari dan mengacaukan semuanya." kekeh Aldrik.
"Silahkan opa datangi wanita itu, Rani pastikan bukan dia yang malu, tapi kakek sendirilah yang akan malu di depan wanita itu" tegas Rani.
Setelah itu ia mengajak Gilang untuk pulang ke rumahnya, ia pusing dengan keangkuhan keluarganya.
......................
Sedangkan di kantor Arsen mendapat laporan dari Nino, kalau keluarga Dinata sudah mendapat hasil dari tes DNA itu.
"Bagus, pantau terus pergerakan dia No" titah Arsen dengan senyum misterius.
"Baik tuan" ucap Nino.
"Istirahatlah, ini sudah masuk jam makan siang. Saya akan makan siang bersama Alisya" ucap Arsen. Ia sudah berjanji akan menghampiri istrinya di restoran sekalian makan siang bersama.
Arsen langsung meluncur menggunakan mobilnya pergi meninggalkan perusahaannya.
Sedangkan di restoran Alisya dan Reva sudah menunggu kedatangan Arsen di ruangannya.
"Papa mana ma, lama cekali ....Leva cudah lapal" keluh Reva sambil memanyunkan bibirnya.
"Sebentar lagi sayang, papa sedang di jalan" jawab Alisya sambil mengecek laporan keuangan restorannya.
Ceklek Arsen membuka pintu ruangan Alisya.
"Papa..." pekik Reva langsung berlari menubruk tubuh Arsen, Arsen langsung mengangkat tubuh kecil Reva ke dalam gendongannya.
"Uhh...anak papa makin berat sekarang" Kata Arsen.
Arsen menghampiri Alisya yang masih sibuk dengan pekerjaanya.
"Kita makan siang dulu baby" ajak Arsen lalu mencium puncak kepala Alisya.
"Kita makan siang di sini saja ya honey, aku malas keluar" ucap Alisya sambil menengadahkan wajahnya melihat Arsen. Arsen mengelus pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Tak masalah, kita makan di sini saja" sahut Arsen lalu duduk di sebelah Alisya. Alisya menyandarkan kepalanya di bahu Arsen.
"Kenapa hmm? Lelah?" tanya Arsen.
"Tidak, hanya mengantuk saja" jawab Alisya sambil menduselkan wajahnya ke dada Arsen. Arsen terkekeh tentu saja itu semua karena ulahnya semalam, makanya Alisya mengantuk
Reva diam saja sambil memainkan kancing kemeja Arsen
**Bersambung
Happy reading guys🙏**