
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Arsen menyuruh semua anak-anaknya masuk ke kamarnya masing-masing dan menyuruhnya tidur.
Reva tidur di kamarnya sendiri, sedangkan triplet tidur satu kamar dengan kasur yang terpisah. Karena masih terlalu kecil Arsen belum memisahkan ketiganya.
Alisya memberikan susu kepada ketiga bayinya supaya cepat terlelap. Tak butuh waktu lama terdengar dengkuran halus dari ketiganya.
"Tidur yang nyenyak anak-anak mama" bisik Alisya sambil mencium satu persatu kening putra putrinya.
Alisya beranjak dari ranjang yang tadi ia duduki, dan keluar dari kamar triplet.
Kini Alisya menyusul suaminya yang berada di kamar Reva, menemani putrinya itu tidur.
Arsen dan Alisya sengaja membagi tugas supaya Reva tidak merasa terabaikan dengan adanya triplet.
Ceklek
Dengan perlahan Alisya membuka pintu kamar Reva, agar putrinya itu tidak terganggu dengan suara deritan pintu yang terbuka.
"Honey" panggil Alisya yang baru saja masuk ke dalam kamar Reva.
"Kecilkan suaramu baby, dia baru saja memejamkan matanya." tegur Arsen.
Alisya mendekati suaminya yang masih berbaring di sebelah putrinya dengan posisi Reva yang memeluknya.
"Apa mereka sudah tidur?" tanya Arsen.
"Sudah honey, karena lelah bermain membuat mereka cepat tertidur" jawab Alisya.
Secara perlahan Arsen menyingkirkan lengan putrinya yang melingkar di tubuhnya, Arsen begitu hati-hati karena dia tak mau putrinya itu terbangun karena pergerakannya.
Setelah berhasil lolos dari rengkuhan sang putri, Arsen bangkit lalu mendudukan tubuhnya sambil bersandar di headboard ranjang.
Alisya berjalan mendekati ranjang. Arsen yang tahu istrinya mendekat ia pun langsung merentangkan kedua tangannya.
Alisya menyambut itu, dan duduk di pangkuan suaminya. Arsen langsung memeluk tubuh istrinya yang membelakanginya.
Sejenak Alisya menatap wajah putrinya, dia tersenyum tipis ketika mengingat kerusuhan yang di buat putrinya itu.
"Dia semakin besar baby, sekarang dia sudah masuk sekolah dasar, nanti masuk sekolah menengah pertama, lalu sekolah menengah atas. Sungguh aku tak rela melihat dia yang terus tumbuh" keluh Arsen seraya menaruh dagunya di bahu istrinya menatap wajah damai putrinya yang sedang terlelap begitu nyenyaknya sambil memeluk bantal guling.
"Kamu ini kenapa, biarkan saja dia tumbuh dewasa, masak iya di suruh kecil terus." decak Alisya.
"Aku tak bisa membayangkan dia di apelin pria kerumah, baby." ucap Arsen posesif.
"Lah memangnya kenapa?, lambat laun Reva juga akan menikah dan mempunyai keluarga sendiri nantinya" ujar Alisya.
"Jika itu terjadi, aku sendiri yang akan menyeleksinya untuk menjadi suaminya nanti. Karena aku tak akan membiarkan pria sembarangan mendekati putriku apa lagi menyakitinya." ucap Arsen menggebu.
Ntahlah mempunyai seorang putri membuat hidupnya tidak tenang.
Arsen tahu betul isi otak semua pria, apa lagi dia seorang pembisnis yang sering bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Karena hal itu membuat hidup Arsen semakin was-was.
"Ayo kita kembali ke kamar, biarkan Reva tidur" ajak Alisya seraya bangkit dari pangkuan suaminya.
Arsen menundukkan wajahnya lalu mencium kening putri sambungnya dengan menghela nafas penuh beban.
"Good night sayang" bisik Arsen lalu membenarkan selimutnya.
Setelah itu Arsen turun dari atas ranjang, dia merangkul bahu istrinya dan membawanya keluar dari kamar Reva.
"Baby, besok katanya kak Reagan mau kesini, nanti kamu suruh bibi menyiapkan makan malam untuknya ya" ucap Arsen sambil berjalan menuju kamarnya.
"Iya honey" sahut Alisya.
Klek
Arsen membuka pintu kamarnya, lantas membiarkan Alisya masuk ke dalam.
"Kenapa honey" tanya Alisya gugup ketika melihat wajah suaminya sudah di penuhi kabut ga i rah.
"Sekarang giliran suami menidurimu mam" jawab Arsen dengan suara beratnya.
Arsen langusung saja meraup habis bibir istrinya. Arsen menciun bibir istrinya seraya melepaskan semua pakaiannya satu persatu. Sambil terus menautkan bibirnya dan terus menye sap nya.
"Eummmmhh" de sah Alisya di sela-sela ciumanya.
Setelah berhasil melepas seluruh pakaiannya, termasuk cela pendek yang biasa ia kenakan saat di rumah, kini Arsen menyingkap piyama yang di kenakan Alisya.
Tangan Arsen langsung menelusup dan menyentuh bagian inti milik Alisya. Lalu mengelusnya secara perlahan.
"Eughhh..." Alisya me le nguh nikmat
Tubuh Alisya serasa tersentrum listrik akibat tangan suaminya yang terus bergerak di bawah sana.
Di usapnya mi lik Alisya hingga Arsen menurunkan kain segitiga mi lik Alisya yang berwarna hitam. Tangan Arsen langsung menyentuh bagian inti Alisya yang sudah polos tanpa kain segitigannya.
Sejenak Arsen melepaskan tautannya dari bibir Alisya, Arsen menikmati wajah sayu istrinya yang sudah di penuhi has*at yang menggebu.
"Honey" panggil Alisya dengan tatapan memohon.
"Apa baby" tanya Arsen pura-pura tidak tahu, seraya melesatkan jarinya ke li yang Alisya, dan langsung menggerakan jarinya di dalam sana.
"Ahh...honey" de sah Alisya.
Arsen tersenyum licik melihat istrinya yang terus men de sah.
Dia langsung membungkam bibir istrinya dengan bibirnya, ia tak membiarkan istrinya terus men de sah.
Arsen menggerakan jemarinya keluar masuk dengan tempo semakin cepat.
Arsen selalu berhasil membuat istrinya terbang melayang di udara hanya dengan permainan jemarinya saja. Apa lagi menggunakan tongkat saktinya sudah pasti istrinya itu kelonjotan dan merem melek di buatnya.
"Mi lik mu sudah sangat bejek sayang" ucap Arsen dengan senyum menyeringai.
Dengan reflek Alisya melebarkan kedua pahanya, memberikan akses untuk Arsen.
"Kau menyukainya baby" bisik Arsen seraya menggigit kecil daun telinga istrinya.
"Mainkan sesukamu honey, malam ini aku milikmu" jawab Alisya manja.
Arsen yang gemas semakin ingin membuat istri cantiknya itu terus men de sah dan menjerit karena permainan jemarinya. Arsen menambah satu lagi jarinya masuk ke dalam Li yang Alisya.
"Akhhh...kau mempermiankanku hoeny"ucap Alisya sambil men de sah. Saat Alisya merasakan bagian bawahnya di mainkan oleh suaminya.
"Malam ini aku ingin kau men de sah dan menjerit memenuhi kamar ink baby" goda Arsen.
Jari itu semakin keluar masuk di bawah sana, membuat tubuh Alisya lemas karena ulah suaminya itu.
Alisya merasakan pelepasan dari bagian bawah tubuhnya. Dia merasakan sesuatu yang keluar dari sana.
Arsen menopang tubuh istrinya dengan memeluk pinggangnya, agar istrinya tidak terjatuh ke bawah.
Arsen jongkok dengan posisi muka tepat di depan bagian inti istrinya, sedangkan kedua tangannya bertengger di pinggang Alisya samping memegangi piyamanya.
Arsen mendekatkan wajahnya ke inti istrinya, lalu menye sap cairan yang keluar dari li yang istrinya itu.
Tangan Alisya mer*mas rambut kepala Arsen yang ada di bawahnya, sambil menegadahkan wajah ya ke atas.
Bersambung.
Selamat malam mingguan guys🙏