
Prak
Rachel memukul kepala Brian dari belakang, menggunakan gelas yang ia ambil dari meja orang lain. Dia sudah tak bisa menahan emosinya ketika melihat Brian yang tengah mencium pipi Listy.
"Akhhhhh.... "Pekik Brian kesakitan, sambil tertunduk di meja memegangi kepalanya yang berdarah.
Rachel menarik kerah kemeja Brian.
"Kakak ku sedang berjuang antara hidup dan mati, lalu kamu dengan tak tahu malunya malah berselingkuh dengan wanita lain. Dimana hati nuranimu hah" Sentak Rachel yang sudah tak bisa lagi membendung emosinya.
Bugh
Bugh
Bugh
Rachel tak sedikitpun memberikan kesempatan Brian untuk berbicara, ia menghajar Brian dengan membabi buta.
"Lepaskan kekasihku. kamu ini siapa kenapa datang-datang malah memukuli kekasihku" bentak Listy sambil menarik tubuh Rachel yang sedang memukuli Brian.
"Diam kau Bit*h, aku tak punya urusan denganmu" sentak Rachel sambil menghempaskan tubuh Listy yang memeganginya, hingga membuat Listy mundur beberapa langkah, bersyukur dia masih bisa menyeimbangkan kakinya, jadi tidak membuat dia tersungkur.
Rachel beralih melihat ke arah Brian yang sudah terkapar tak berdaya.
"Aku peringatkan sama kamu, jangan pernah sekalipun kau mendekati kakak ku lagi, karena aku tak akan membiarkan itu terjadi" perigat Rachel sambil meludah ke samping, lalu Rachel berbalik meninggakan mereka.
"Hai berhenti kamu, aku akan melaporkanmu ke kantor polis" teriak Listy ketika melihat punggung Rachel semakin menjauh.
Rachel hanya mengacungkan jari tengah nya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Listy.
Ia tak takut dengan ancaman Listy yang akan melaporkannya ke kantor polisi, yang penting dia sudah melampiaskan emosinya dengan membuat Brian babak belur.
Semua putra-putri Arsen di wajibkan untuk berlatih bela diri untuk menjaga keselamatannya.
"Ada apa?" tanya Ravin sambil menoleh kebelakang, ia mengerutkan dahinya ketika melihat Brian babak belur.
Rachel tak menjawab, ia berlalu masuk kedalam mobilnya.
Ravin menghela nafas panjang, ketika tidak mendengar jawaban dari kembarannya tersebut. ia akhirnya menyusul Rachel masuk kedalam mobilnya.
Ravin melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, selama di perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil Ravin, Rachel masih engga berbicara dengannya, sepertinya adiknya itu masih di liputi emosi.
Mereka menjadi pusat perhatian pengunjung di restoran tersebut, tapi tak ada satu pun dari mereka yang mau menolongnya.
Mereka malah berbisik-bisik mencemoh Brian dan Listy.
"Dia siapa Bri? kenapa dia bilang kamu berselingkuh dengan kakaknya?" tanya Listy.
Listy juga tidak tahu kalau Brian punya kekasih lain selain dirinya.
"Kakaknya dia itu mantankau, tapi kakaknya dari dulu tak pernah terima aku putuskan" bohong Brian sambil meringis menahan sakit di wajah serta kepalanya.
"Cih, dasar tak tahu malu, sudah tahu di putuskan malah tak terima," gerutu Listy, saking cintanya sama Brian membuat dia percaya begitu saja
Listy mengalihkan pandangannya ke pengunjung restoran yang masih membicarakan dirinya.
"Diam kalian semua, kalian dengar bukan apa yang di katakan kekasihku" marah Listy.
"Ck, dasar bodoh, cowok kek gitu masih di percaya, dari mukanya saja sudah kelihatan kalau dia berbohong" kata salah satu pengunjung.
"Dia kekasihku, tentu aku yang lebih tahu dari pada kalian" ucap Listy membela Brian.
Brian tersenyum tipis melihat Listy yang membela dirinya, bahkan Listy tak curiga sedikitpun dengannya.
"Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit sayang" ajak Listy.
Brian mengangguk lemah, ia bangun di bantu sama Listy dan penjaga keamanan di restoran.lalu mereka memapah Brian hingga ke mobilnya.
*
*
Sedangkan situasi di rumah sakit begitu tegang, mereka masih menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan Reva.
"Bagimana ini pa, mama takut terjadi sesuatu dengan Reva" ucap Alisya cemas sambil memeluk tubuh Gavin.
"Kita berdoa saja ya ma, kita tunggu sampai dokter selesai memeriksa keadaa Reva, semoga semuanya akan baik-baik saja" Arsen menenangkan istrinya yang begitu khawatir dengan keadaan putrinya.
Reynand pun juga di buat cemas dengan keadaan Reva, terlebih dia orang terakhir yang bersama Reva.
Selang lama menunggu akhirnya dokter keluar dari ruangan Reva.
"Bagaimana keadaan putri saya dok" tanya Arsen tak sabaran.
"Ini suatu keajaiban dari tuhan tuan, karenanya pasien bisa melewati masa kritisnya secepat ini"
"Sebentar lagi pasien akan di pindahakan ke ruang rawat, mungkin tak lama lagi pasien akan segera sadar" ucap dokter sambil tersenyum.
Kebahagiaan tersendiri buat dokter ketika pasien yang ia rawat berangsur membaik.
Arsen, Alisya, serta Reynand juga ikut tersenyum lega mendengar kabar baik dari dokter, mereka bersyukur kalau Reva mampu melewati masa kritisnya, itu artinya Reva akan segera sembuh.
Setelah di hubungi Arsen, Erik langsung kembali ke rumah sakit, ia khawatir dengan keadaan putrinya.
"Bagimana Ar? kenapa dia bisa kejang" tanya Erik ketika melihat Arsen sedang berada di lobby rumah sakit.
"Jangan khawatir Rik, Reva sudah melewati masa kritisnya" jawab Arsen.
Erik lansung bersujud syukur di lantai. Erik tak peduli semua orang memandang dirinya aneh.
"Terima kasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doa kami" kata Erik.
"Ayo kita lihat Reva ke kamarnya, dia sudah di pindahkan ke kamar rawat" ajak Arsen.
Erik mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya, kekhawatirannya seolah menguap begitu saja.
Mereka berdua naik ke atas, karena ruang rawat Reva berada di lantai 5 rumah sakit.
*
*
Cklek
Pintu ruang rawat Reva terbuka, Erik dan Arsen masuk kedalam.
Erik mencium kening putrinya terlebih dahulu, sebelum akhirnya mendudukan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Apa dia masih belum sadar Al" tanya Erik kepada Alisya.
"Belum Rik, kata dokter sih 1-2jam lagi kemungkinan Reva akan sadar." jawab Alisya.
Erik mengangguk mengerti.
"Bukankah Reva punya kekasih Ar,? apa kalian sudah menghubungi kekasihnya itu" tanya Erik baru ingat dengan kekasih putrinya.
"Belum, aku sampai lupa mengabarinya, sebentar aku akan mengabarinya terlebih dahulu" kata Arsen lalu mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Papa mau telpon siapa?" tanya Rachel yang baru saya masuk ke ruangan kakaknya.
"Papa mau kasih kabar sama kak Brian sayang, dari semalam papa lupa mengabarinya" jawab Arsen.
"Tidak perlu, jangan ada yang mengabari kak Brian, Rachel tidak akan mengijinkan penghianat itu menjenguk kak Reva" tegas Rachel, Dia tak akan mengijinkan Brian datang menemui kakaknya.
Arsen bingung dengan perubahan putrinya, selama ini Rachel tak ada masalah dengan Brian, dia juga terkadang suka ikut ngobrol ketika Brian main ke rumah.
"Ada apa?" tanya Arsen lembut.
"Dia laki-laki berengsek pa, dia selingkuh di belakang kak Reva pa, Rachel lihat sendiri barusan di restoran" jawab Rachel.
Rachel pikir orang tuanya juga perlu tahu, agar orang tuanya mendukung keputusannya menjauhkan Reva dengan Brian.
"Jangan asal bicara kamu sayang, kamu sudah selidiki dulu belum," ucap Arsen.
"Telat, Rachel sudah menghajarnya hingga babak belur pa" timpal Ravin.
Ravin tahu kalau Brian di hajar adiknya tapi dia belum tahu masalah yang sebenarnya, dan kini ia baru tahu setelah adiknya cerita ke orang tuanya.
Bersambung
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Gift
Happy reading guys🙏