
Keesokan harinya di mansion mewah Arsen. Alisya sudah mengenakan gaun putih yang menjuntai hingga ke bawah, dan memperlihatkan tulang selangka nya dan leher jenjang Alisya juga terekspos, karena Alisya hanya menguncir rambutnya simple dan mengenakan hiasan bandana di kepalanya.
Alisya terlihat sangat cantik dengan riasan tipis di wajahnya. Perias memoles make up di wajah Alisya dengan sederhana namun terlihat sangat elegan.
Pipinya yang merona dengan bentuk alis yang di lukis dengan begitu rapi. Begitupun dengan kelopak matanya yang di pertegas dengan menggunakan eyeliner. Tak lupa bulu mata tambahan untuk membuat Alisya terlihat cantik dan di sempurnakan dengan warna lipstik merah di bibirnya yang membuat penampilan Alisya tampak sempurna.
"Apa kamu yakin Al dengan pernikahan ini, kalau memang kau tak yakin lebih baik jangan di lanjutkan. Jika tetap saja kau paksakan kau akan tersiksa sendiri nantinya" ucap Dewi menasihati Alisya.
"Alisya tidak apa-apa mbak, Alisya yakin Arsen orang baik yang bisa menjaga Alisya dan Reva." jawab Alisya dengan tersenyum lembut.
"Tapi bagaimana dengan perasaan kamu sendiri Al" tanya Dewi. Dewi tak mau Alisya salah dalam mengambil keputusan, dia tak mau melihat Alisya hancur lagi seperti dulu.
"Alisya sudah yakin dengan keputusan Alisya mbak, masalah perasaan Alisya akan belajar mencintai Arsen. Toh selama ini Arsen sudah baik kepada Alisya dan juga Reva, jadi tak akan sulit buat Alisya untuk menaruh hati kepadanya bukan" jawab Alisya. Dewi mengelus bahu Alisya.
Usai mengobrol dengan Alisya, Dewi keluar meninggalkan Alisya sendiri dikamar.
Tak lama putrinya masuk ke kamar Alisya denagn memakai gaun serta mahkota kecil di rambutnya.
"Uwaaaaa.....Maman Leva tantik tekali, tayak plincess" Puji Reva dengan mata yang membulat sempurna gadis kecil itu sangan kagum dengan kecantikan mamanya. Alisya tersenyum seraya duduk di pinggir ranjang yang ada di kamar itu.
"Sini sayang, anak mama juga sangat cantik" ucap Alisya menarik lengan Reva pelan.
"Apa Reva bahagia mempunyai papa Arsen sayang" tanya Alisya memastikan kalau putrinya itu benar-benar bisa menerima Arsen.
"Leva bahadia mama, Leva cenang papa Alsen bica mengantal Leva cekolah. Leva judha cudah nda pelnah di ejek teman Leva ladhi kalena Leva cekalang cudah puna papa cepelti meleka" jawab Reva dengan excited.
"Mama akan melakukan apa saja demi kebahagiaanmu sayang, meskipun mama masih belum tahu perasaan mama sendiri dengannya, tapi mama tidak ingin melihat putri mama sedih lagi" batin Alisya.
Bukan Alisya tak mencintai Arsen, namun selama ini Alisya belum pernah mencintai seseorang, apa lagi kepercayaan Alisya terhadap seorang laki-laki sempat hilang setelah kejadian itu.
Alisya menerima Arsen karena dia merasa nyaman dan juga karena Reva yang terlihat bahagia jika sedang bersamanya
"Apa mama bahadia puna papa Alsen" tanya Reva.
"Jika Reva bahagia mama pasti bahagia sayang" ucap Alisya lembut sambil membawa Reva ke dalam pelukannya.
Alisya terkadang bercerita tentang kehidupannya kepada putrinya, entah putrinya ngerti atau tidak tapi Alisya tetap menceritakannya. Jadi sedikit tidaknya Reva tahu keadaan mamanya.
"Hai, kenapa kalian saling berpelukan tidak mengajak oma" tegur Belinda yang tiba-tiba masuk kedalam kamar yang di tempati Alisya.
Belinda memutuskan mengadakan akad nikah putranya di mansionnya. Acara cuma di hadiri oleh keluarga inti saja dan benar-benar di tutup dari media supaya publik tidak tahu.
"Cini oma, liat mama na Leva cantik cekali tayak plincess Ana oma" ucap Reva menarik lengan Belinda.
"Iya sayang, cucu oma juga tak kalah cantik dengan mama" puji Belinda.
"Tentu taja, Leva tan anakna mama" sahut Reva dengan nada centilnya.
Beli da tersenyum seraya mengelus puncak kepala Reva.
"Kau sudah siap sayang" tanya Belinda.
"Hmmmm....Sudah bund" gugup Alisya. Belinda tersenyum melihat kegugupan Alisya.
"Jangan gugup sayang." ucap Belinda.
"Alisya deg-degan bund" jawab Alisya polos. Belinda menggenggam tangan Alisya menyalurkan ketenangan kepadanya.
*
*
*
Sedangkan di lantai bawah Arsen sudah duduk berhadapan dengan paman Alisya (sebagai wali nikah Alisya) dan juga pak penghulu. Para saksi juga sudah ada di situ semua, termasuk Reagan.
"Sudah pak" jawab Arsen.
Arsen menjabat tangan paman Alisya untuk memulai acara ijab qabul.
"Ananda Arsen Davidson bin Davidson saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Alisya Alghifari binti Fawwas Abidzar Alghifari dengan mas kawin _(skip) di bayar tunai" ucap Paman Alisya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Alisya Algifari binti Fawwas Abidzar Alghifari dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucap Arsen lantang dengan sekali tarikan nafas.
"Gimana para readers" tanya othor😂
"Sah" teriak semua para readers yang menjadi saksi pernikahan Arsen dan juga Alisya.
*
*
Dewi dan Renata menghampiri Alisya di kamarnya bersama dengan Belinda dan juga Reva.
"Al, sudah waktunya kamu turun karena acara ijab qabulnya sudah selesai" ucap Dewi di depan pintu kamar yang terbuka. Alisya mengangguk pelan.
"Ayo sayang, jangan takut bunda akan selalu menemanimu" ucap Belinda.
Alisya menuruni tangga dengan di apit oleh Belinda dan Dewi, sedangkan Renata dan Reva di belakang sambil memegangi kerudung Alisya yang menjuntai ke bawah.
Arsen terpana melihat Alisya yang berubah menjadi cantik bak bidadari. Belinda dan Dewi mendudukan Alisya di samping Arsen. Alisya belum sadar kalau orang yag menikahkan dirinya adalah pamanya yang dulu tengah mengusirnya.
"Silahkan di tanda tangani berkas pernikahannya" titah penghulu kepada mereka berdua
Arsen dan Alisya menandatangi berkas pernikahannya, setelah selesai Arsen memakaikan cincin pernikahan ke jari Alisya. Alisya mencium punggung tangan Arsen lalu Arsen mencium kening Alisya.
Kini mereka berdua meminta restu kepada Belinda, karena kedua orang tua Alisya sudah tidak ada.
(Jangan tanyakan Reva dimana, sudah tentu ia sedang ngbucin bersama Reynand.)
"Selamat sayang, kini tanggung jawabmu bertambah, kamu sudah menjadi seorang suami sekaligus ayah bagi Reva. Jangan pernah kamu sakiti perasaan mereka, meskipun mereka terlihat kuat sebenarnya hati seorang wanita itu sangat rapuh.
Jika suatu hari kau sudah tak mencintainya, kamu bisa bicarakan baik-baik kepadanya tanpa harus menyakiti hatinya" ucap Belinda seraya mengelus bahu Arsen.
"Iya bunda, Arsen akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Alisya dan juga Reva" balas Arsen.
Setelah itu Belinda memeluk tubuh bergetar Alisya. Belinda tahu pasti Alisya sedih karena kedua orang tuanya tidak bisa menyaksikan moment pernikahannya.
"Jangan sedih, jangan merasa sendiri. Bunda akan selalu menyayangimu dan juga Reva, karena bunda sudah menganggap kamu seperti putri bunda sendiri.
Alisya untuk kedepannya jangan pernah menyimpan masalahmu seorang diri, jika itu masalah Arsen kamu bisa cerita sama bunda, kita bisa mencari solusinya bersama-sama." ucap Belinda seraya memeluk Alisya.
"Terima kasih sudah mau menerima Alisya sebagai menantu bunda, Alisya juga terima kasih sama bunda yang sudah menyayangi Reva selayaknya cucu kandung bunda sendiri. Alisya akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk bunda" balas Alisya.
Reagan beserta istrinya juga memberi selamat kepada kedua pengantin itu. Tak ketinggalan dengan Nino dan juga Dewi.
Yang terakhir paman Alisya mengucapkan selamat kepada Alisya.
"Paman" lirih Alisya yang melihat pamannya mendekatinya.
Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Follow
Rate🙏💕