
Dokter keluar dari ruang ICU, David mencoba menguatkan diri untuk bisa keluar dari permasalahan, dengan langkah yang terllihat lesu David mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan ayah saya dok" tanya David .
Dokter menatap David dengan tatapan sendu, dokter menghela nafas panjang setelah itu dia menggeleng.
"Apa maksudnya dok" tanya David yang masih belum paham.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tuan, tapi ayah anda tidak bisa kami selamatkan, beliau sudah meninggal sejak dalam perjalanan ke rumah sakit" jawab dokter dengan berat hati.
Semua orang yang di situ terkejut, termasuk Rani dan juga Gilang.
"Jangan becanda dok" sentak Siska tak terima
"Saya tidak mungkin bercanda kalau sudah menyangkut nyawa seseorang nyonya" balas Dokter.
David langsung lari masuk kedalam ruangan ayahnya. David langsung memeluk mayat Aldrik yang sudah terbujur kaku di atas brankar yang di tutupi menggunakan selimut.
"Bangun Dad, Bangun, David mohon bangun," raung David sambil menggoyang tubuh kaku Aldrik
"Maafkan David......hiks....hiks...David minta maaf tidak bisa mempertahankan perusahan milik Daddy, maafkan David dad, hiks..hiks" lirih David sambil menangis memeluk jenazah ayahnya.
Rani menyusul ayahnya ke dalam ruangan opanya, di bisa melihat Daddy nya yang begitu terpukul dengan kematian orang tuanya, Rani mendekati ayahnya, lalu menepuk bahunya pelan. "Ikhlasin opa Dad, sekarang opa sudah tidak merasa sakit lagi, biarkan opa tenang di sana, Daddy harus kuat...karena Daddy masih mempunyai oma"nasihat Rani sambil meneteskan airmatanya.
Siska nangis sesegukan tapi tidak berani mendekati suaminya, dia takut David akan murka kepada dirinya, karena secara tidak langsung dia menjadi penyebab kematian mertuanya.
David melerai pelukannya."Selamat jalan Dad, Semoga Daddy tenang di sana, David akan gantikan Daddy untuk menjaga Mommy. Maaf sudah mengecewakan Daddy" lirih David lalu mencium kening Aldrik. Setelah itu dia mundur kebelakang memberikan ruang untuk putrinya berpamitan dengan opanya.
"Selamat jalan opa. Rani akan selalu menyayangi opa" ucap Rani lalu mencium kening Aldrik.
*
Gilang mengurus jenazah Aldrik untuk segera di makamkan, dia juga minta pihak kepolisian untuk menghadirkan Erik di acara pemakaman opanya.
Tak lupa juga Gilang memberi kabar kepada keluarga Hendrawan dan juga kerabat yang lain.
Di rumah Arsen.
Mereka baru saya menyelesaikan kegiatan ranjangnya, Arsen mendapat telpon dari Nino mengabarkan kalau Aldrik tengah meninggal.
"Honey, apakah kita akan melayat ke acara pemakaman tuan Aldrik" tanya Alisya yang sudah mendengar kabar kematian Aldrik.
"Apa kamu mau hadir baby? Bagaimana pun juga dia buyut nya Reva" tanya Arsen.
Arsen tidak ingin egois, meskipun Arsen menghancurkan keluarga Dinata tapi Arsen tidak akan menjauhkan Reva dari keluarga aslinya. Dengan syarat keluarga tersebut mau berubah dan menerima Reva sebagai bagian dari keluarga Dinata. Bagaimana pun juga darah lebih kental dari pada air.
Arsen sangat menyayangi Reva, namun Erik juga berhak bertemu dengan putri kandungnya.
Alisya menimang nimang, dia takut kalau kehadirannya nanti justru akan memperkeruh suasana. "Baiklah kita hadir dalam acara pemakaman itu, tapi kita dari jauh saja ya honey...aku takut mereka masih belum terima dengan kejadian itu, " usul Alisya.
Arsen tersenyum. Arsen bangga mempunyai wanita seperti Alisya yang mau sedikit mengesampingkan egonya untuk hadir ke acara pemakaman tersebut."sesuai keinginanmu baby" sahut Arsen.
*
*
Semua keluarga Dinata hadir di acara pemakaman Aldrik, termasuk Erik juga hadir dengan tangan terborgol dan juga di dampingi oleh seorang polisi di sampingnya.
Viona hadir dengan kedua orang tuanya, Viona menatap sendu ke arah Erik yang hanya tertunduk tanpa Ekspresi dengan manik yang terlihat memerah menahan tangisnya. Dia menyesal karena sudah mengecewakan keluarganya dan opa nya selama ini.
Jasmine (istri Aldrik) dan David mulai menaburkan bunga dia atas gundukan tanah makam suaminya.
Erik sedang menahan tangis namun air matanya meluncur begitu saja, kilatan kenangan bersama opanya melintas di memori otaknya.
Viona memberanikan diri mendekati Erik lalu memeluknya."Menangislah, mungkin itu akan membuatmu lebih baik" ucap Viona tulus.
Kemudian Erik menumpahkan semua kesedihannya di bahu Viona, istri yang selama ini dia abaikan namu dengan tulus mau meminjamkan bahinya untuk dirinya bersandar.
Erik butuh seseorang untuk menguatkan dirinya dalam menghadapi semua permasalahan yang menimpa dirinya. Dia juga menyesal selama ini sudah menyakitu banyak orang.
Viona melerai pelukannya, lalu mengusap bekas air mata Erik. "Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Erik untuk Viona.
"Aku sudah memaafkanmu" ucap Viona tersenyum tulus menatap kedua manik Erik.
"Berubahlah, dan minta maaflah kepada Alisya dan juga putrimu yang selama ini sudah kamu sakiti. Aku akan mencoba menemui Alisya agar mencabut tuntutannya" ujar Viona.
Erik tidak kaget kalau Viona mengetahui masa lalunya, dia tahu siapa Viona, istrinya itu bisa saja membayar orang untuk mencari informasi tentangnya.
Erik mengangguk sambil tersenyum membalas tatapan Viona, "Jangan, biarkan aku menjalani hukuman ini. Mungkin ini teguran dari tuhan untukku" tolak Erik. "Jaga dia untukku, dan sampaikan minta maafku kepada Alisya dan juga putriku. Maaf, mungkin aku tak akan bisa menemanimu melahirkan anak kita nanti" ucap Erik dengan penuh penyesalan.
Erik sengaja menolak Viona untuk membebaskan dirinya, dia akan menjalani semuanya dengan ikhlas.
Menurut Erik ini sudah menjadi resiko atas perbuatannya, dia juga selama ini sudah terlalu banyak menyakiti orang. Makanya Erik akan menerima hukumannya....dan kelak ketika dia bebas dia akan menjadi pribadi yang baru yang lebih baik lagi.
"Aku akan menjaganya untukmu" balas Viona. Erik mencium kening Viona lama.
Kini sudah waktunya dia kembali ke lapas setelah berpamitan dengan semua keluarganya.
Dari kejauhan terlihat Alisya dan Arsen yang juga hadir dengan berpakaian serba hitam dan tak lupa juga kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya.
Arsen dan juga Alisya juga melihat kedatangan Erik di prosesi pemakaman.
"Apa kita akan membiarkan dia di tahan, honey?" tanya Alisya.
"Biarkan saja dia di tahan baby, sepertinya dia juga sudah menerima keadaanya baby" sahut Arsen sambil melihat ke arah Erik yang sedang berpamitan dengan keluarganya.
"Kalau dia sudah berubah, baru aku akan melepaskan nya" imbuhnya.
"Terserah kau saja, honey, sepertinya sudah selesai.....lebih baik kita pulang sebelum Reva mencari kita." ucap Alisya.
Arsen dan Alisya mulai menjauh dari area pemakaman, dia berjalan menuju mobilnya.
Bersambung
Happy reading guys🙏