
Mobil mereka sudah terparkir di depan rumah Dewi, orang tua Dewi di buat melongo dengan deretan mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.
Keluarga Dewi tak menyangka, ternyata Nino menepati janjinya membawa keluarga Arsen akan datang untuk melamarnya.
padahal kalaupun yang datang cuma Nino, orang tua Dewi tetap akan merestui pernikahan Nino dan Dewi.
"Asaalamualaikum" sapa Belinda ketika mau memasuki rumah Dewi.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk nyonya" sahut ibu Dewi.
"Maaf, tempatnya sempit" imbuhnya.
"Tak apa bu"
"Langsung saja ya bu, tujuan kami kesini ingin melamar Dewi untuk menjadi istri Nino, Bagaimana pak, bu? apa bapak dan ibu menerima lamaran kami? "ucap Belinda mewakili.
"Untuk masalah tersebut, saya akan menyerahkan semua jawabannya kepada putri saya bu. Kalau saya sebagai orang tua sudah merestui hubungan nak Nino dengan putri saya. Namun alangkah baiknya kita dengarkan jawaban putri saya, karena dia lah nantinya yang akan menjalaninya" jawab Bapak Dewi.
"Bagaimana Nak" tanya ibu Dewi.
Dewi pun mengangguk.
"Apa arti anggukanmu itu nak, apa kamu menerima lamaran putra saya" tanya Belinda memastikan.
"Iya, saya menerima lamaran mas Nino nyonya" ucap Dewi dengan wajah yang merona karena malu.
Nino yang mendengar jawaban dari calon istrinya pun, nyaris dia ingin memeluknya, namun di tahan oleh Arsen.
"Eitss... halalin dulu anak orang, baru kau bisa peluk-peluk" ucap Arsne sambil menarik kerah belakang kemeja Nino.
Tingkah Nino membuat semua yanga da di situ tertawa.
"Sabar No, di sini juga ada anak kecil, jangan asal peluk aja kamu" goda Reagan.
"Maaf tuan, saya hanya reflek" balas Nino sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lalu kapan kamu akan membuat acara pernikahannya No" tanya Belinda.
"Minggu depan bunda, Nino akan menikahi Dewi" jawab Nino enteng.
"Hah? kenapa cepat sekali" tanya Dewi kaget.
"Aku rasa niat baik memang harus di segerakan, apa lagi kita sudah pacaran lama bukan" jawab Nino dengan tersenyum manis menatap calon istrinya.
"Baiklah, kalau begitu kami akan mengadakan pernikahannya minggu depan" ucap Belinda tanpa bantahan.
"Cieee...om Nino, tersenyum terus menatap onty Dewi" goda Reva.
"Cie.. yang mau menikah" timpal Reynand ikut menggoda asisten om nya itu.
Wajah Nino langsung tertunduk malu, karena tercyduk oleh kedua bocil itu.
"Haisss... kalian ini kenapa iseng sekali sih, tuh lihat om Nino nya malu" ucap Reagan sambil menarik tubuh putranya itu ke dalam pangkuannya. Alisya pun menarik putrinya.
Kalau di biarkan kedua bocah itu bisa merusuh di rumah orang.
Sedangkan tersangkanya justru tertawa kecil sambil menutupi mulutnya menggunakan telapak tangannya.
"Berhubung sudah semakin malam, kami pamit pulang dulu ya pak, bu" pamit Belinda kepada keluarga Dewi.
"Iya nyonya, maaf merepotkan" sahut Ibu Dewi.
"Kita sebentar lagi akan jadi besan, jadi jangan sungkan" ucap Belinda tulus.
Orang tua Dewi merasa bahagia, karena putrinya bisa mendapat mertua baik seperti Belinda.
Meskipun Nino bukan anak kandungnya, tapi tak sedikit pun terlihat Belinda membedakan perlakuannya antara Arsen dan Nino.
Karena memang Belinda sejak dulu Belinda sudah menganggap Nino sebagai anaknya senidir, hanya saja Nino nya yang masih memberikan jarak kepadanya, karena Nino merasa keluarga Davidson sudah terlalu banyak menolongnya. Takut Nanti di bilang serakah, pikir Nino.
...****************...
Setibanya di rumah Arsen. Reagan menyempatkan diri untung berkumpul terlebih dahulu sebelum membawa istri serta buah hatinya pulang ke rumah.
Sedangkan Nino langsung pulang ke apartemennya.
Sementara para orang tua mengobrol berbeda dengan para bayi. Ravin kembali membuat ulah.
Ravin menarik kaki Rachel yang sedang tengkurep. Hingga membuat bayi perempuan itu menangis.
"Huwaa..... " tangis Rachel Pecah karena dagunya kejedot keramik.
"Ravinnn.... kenapa kaki Rachel di tarik sih, nangis kan jadinya, kamu ini bisa tidak sih jangan berulah" geram Reva dengan tingkah nakal adiknya itu.
Reva mencoba menenangkan Rachel, supaya berhenti menangis.
"Sudah jangan nangis lagi, kak Ravin nya sudah kak Reva marahi" ucap Reva sambil mengelap bekas air mata di pipi Rachel.
"Vin atal" ucap Rachel.
"Iya, nanti kalau nakal lagi kak Reva karungin" balas Reva.
"Kamu main saja sama Cia, jangan sama Ravin, nanti di nakali lagi" saran Reva.
Sejak tadi Arsen dan yang lain hanya mengamati saja, ternyata putrinya bisa menghandlenya.
Sedangkan Alisya sedang di dapur membuatkan susu untuk anak-anaknya supaya cepat tidur.
Rachel pun mengangguk dan mencoba berjalan mendekati Cia yang sedang tengkurap sambil di jaga oleh Reynand dan Revan.
Plakk..
Ketika melewati Ravin, tangan Rachel dengan sengaja memukul kepala Ravin, ternyata bayi itu masih mempunyai dendam sama kembarannya itu.
Huwaa..... mamama
Giliran Ravin yang menangis, karena aksi balasan dari Rachel, sedangkan Rachel dengan acuhnya ikut bergabung dengan Cia, Revan dan juga Reynand bermain lego.
Arsen dan yang lain menepuk keningnya melihat aksi Rachel sambil terkekeh.
"Sepertinya putri bungsumu tak jauh beda dengan Reva, Ar.... lihatlah bahkan dia tak segan-segan membalas perlakuan Ravin" ucap Reagan tertawa terbahak, dia merasa lucu dengan tingkah putra putri sepupunya itu.
"Aku juga bingung, bahkan Revan lebih kalem dari putriku itu" sahut Arsen.
"Ambil Ravin Ar, dia tak mau berhenti menangis" pinta Belinda.
Arsen bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekati putranya.
"Kamu cowok tidak boleh nangis, masak di pukul gitu doang langsung cengeng, makanya nanti jangan isengin Rachel lagi, giliran di balas nangesss... " omel Reva.
"Ada apa kak? kenapa adiknya di marahi" tanya Arsen pura-pura tidak tahu seraya mendekati anaknya.
"Anaknya nakal makanya nangis" jawab Reva sekenanya. Arsen mengangguk mengerti.
Arsen mengangkat tubuh putranya dan menggendongnya.
"Jagoan papa tidak boleh menangis, lain kali tidak boleh nakal, biar tidak di pukul Rachel" ucap Arsen lembut menasihati putranya.
"Kenapa dia nangis Pa,?" tanya Alisya yang baru saja datang dari arah dapur.
"Biasa mam, habis gelut" jawab Arsen tertawa kecil.
"Siapa lagi memang musuhnya" tanya Alisya tersenyum geli melihat wajah lucu putranya.
"Rachel, dia narik kaki Rachel, lalu dia balas pukul kepala Ravin" jelas Arsen tertawa.
"Ck, gelut mulu tapi nangisan, makanya jangan nakal" ledek Alisya seraya mengambil putranya dari gendongan suaminya.
"Sekarang tidur ya" ucap Alisya seraya duduk di sofa dekat Belinda dan merebahkan tubuh Ravin di pangkuannya.
Ravin menatap ke arah Reagan.
"Hei, katanya mau jadi jagoan, masak baru di pukul gitu aja nangis" ledek Reagan.
Ravin melengoskan wajahnya, dan mendusel ke perut mamanya.
"Lihatlah, dia lucu sekali" ucap Belinda tertawa.
"Cucu ma" pinta Ravin yang masih.
Alisya pun memberikan sebotol susu kepada putranya, sambil menepuk nepuk bokong putranya supaya cepat terlelap.
Bersambung
jangan lupa like
koment
vote
Happy reading guys 🙏