
"Terima kasih tuan, sudah mau menolong saya" ucap gadis asing.
"Sama-sama" balas Max datar.
Max mengambil jaketnya yang ia taruh di sandaran joknya, lalu memberikannya ke gadis asing itu.
Gadis itu pun menerimanya.
"Pakailah, pakaianmu terlalu berantakan" ucap Max.
"Terima kasih" ucap gadis itu seraya memakai jaket Max ke tubuhnya.
gadis itu juga risih dengan penampilannya yang seperti wanita ja*ang. dia hanya memakai dress pendek di atas lutut dan tanpa lengan, dia juga tidak memakai alas kaki.
"Nama onty siapa" tanya Reva penasaran, ia dari tadi memperhatikan wajah cantik gadis asing itu dari spionnya.
"Nama onty Emma sayang" jawab Emma yang baru menyadari kalau laki-laki yang menolongnya itu tak sendiri di dalam mobil. Dia baru tahu kalau Max membawa anak kecil yang ia kira itu anaknya.
"Nama onty bagus" puji Reva sambil menoleh kebelakang.
"Kalau nama aku Reva, dan itu om Max" ucap Reva memperkenalkan diri dan juga memperkenalkan Max kepada Emma.
Emma kaget. ternyata dugaannya salah, gadis kecil itu bukan putrinya.
"Kamu mau kami antarkan kemana" tanya Max
Emma menggigit bibir bawahnya bingung, tak mungkin ia kembali ke rumahnya, sama saja dia menyerahkan diri kepada ibu tirinya.
"Kenapa kamu tak menjawab" tanya Max mengerutkan dahinya.
"Emm... anu tuan, saya bingung mau kemana, saya tak mungkin kembali ke rumah, saya tajut ibu tiri saya kembali menjual saya" ucap Emma jujur.
"Apa kamu tak punya saudara" tanya Max.
"Tidak tuan, ibu kandung saya sudah meninggal" jawab Emma.
"Anu tuan, apa tuan punya lowongan pekerjaan? jadi pembantu pun tak apa tuan, saya tidak punya uang seperpun untuk biaya hidup saya" tanya Emma takut.
Sebenarnya Emma merasa tidak enak kepada Max, tapi bagaimana lagi.. dia butuh uang untuk menyambung hidupnya.
Max menghela nafas panjang, ternyata ibu tiri kejam dan jahat itu benar adanya.
"Ada onty, om Max tinggal sendiri di apartement, pasti om Max butuh pelayan untuk membantu mencuci piring, iya kan om" sela Reva. mode mak comblangnya mulai on.
"Tidak sayang, om Max sudah biasa cuci piring sendiri" tolak Max.
Dia merasa risih kalau tinggal satu atap dengan orang asing.
"Tapi onty nya kasihan om" rayu Reva.
Max diam saja tidak menyahuti nona kecilnya, ia menghentikan mobilnya tepat di hutan yang menjadi tujuan mereka.
"Ayo turun, kita sudah sampai" perintah Max mengalihkan pembicaraan.
Reva turun dari mobil sambil mengerucutkan bibirnya, ia kesal tidak mendapat jawaban dari bodyguard nya itu.
Emma pun ikut turun keluar dari mobil, ia mengedarkan pandangannya bingung.
"Kenapa onty" tanya Reva yang melihat kebingungan Emma.
"Kenapa kita kesini? apa kalian ingin membuangku kesini" tanya Emma ragu.
"Hahaha... onty ini ada-ada saja, tidak mungkin Reva mau buang onty, Reva sama om Max kesini mau lihat harimau" jawab Reva tertawa.
"Hah? harimau? " Emma kaget, apa tidak ada hewan lain selain harimau, bahkan monyet masih terlihat lucu ketimbang harimau.
Apa gadis kecil itu tidak takut dengan harimau. pikir Emma.
"Ayo kita masuk ke dalam hutan sayang" ajak Max lalu membawa tubuh Reva ke dalam gendongannya.,
"Ayo cepat jalan, jangan sampai aku meninggalkanmu di sini" ancam Max.
"Jangan tuan" pekik Emma langsung berlari kecil karena kuwalahan mengikuti langkah lebar Max.
Max tidak membawa Reva ke gubuk Nessa, melainkan membawanya ketempat lain.
"Om Max, mana harimaunya? kenapa dari tadi cuma ada pohon saja om Max bohong ya sama Reva" tanya Reva seraya menuduh Max berbohong, pasalnya sejak tadi gadis kecil itu hanya melihat pohon dan semak belukar saja.
Tak lama terlihat sebuah rumah mewah yang berada di dalam hutan, tak banyak yang tahu tentang identitas asli Max kecuali Arsen.
Max sengaja memakirkan mobilnya jauh dari markasnya, karena ia belum percaya sepenuhnya dengan Emma.
Ia harus tetap waspada, pikir Max, bisa saja Emma mata-mata yang di kirim oleh musuhnya.
"Wow... rumahnya besar sekali, ini rumah siapa om? kenapa kita kesini? memangnya di rumah itu ada harimaunya ya?. kok di hutan ada rumahnya om?" Reva membrondong Max dengan banyak pertanyaan.
Max tak sedikit pun menjawab pertanyaan dari Reva.
"Selamat datang bos" sapa anak buah Max.
"Hmmm" gumam Max dengan wajah datar.
"Itu siapa om, kenapa mukanya serem" bisik Reva di telinga Max.
"Teman om Max" jawab Max bohong.
"Teman om Max muka na serem sekali" ucap Reva.
Sedangkan Emma mulai takut, seperti masuk ke rumah mafia yang seperti ia lihat di film-film yang ia tonton selama ini.
"Sebenarnya siapa pria ini, kenapa dia bisa datang ke tempat seperti ini" tanya Emma dalam hati.
Max membawa Reva dan Emma pergi ke taman belakang.
Max menurunkan Reva dari gendongannya. lalu Max memanggil hewan peliharaannya.
"Lexi.. Snow.. " panggil Max.
"Om Max manggil siapa" tanya Reva penasaran, pasalnya di sana tidak ada siapapun.
Tak lama telihat dua sepasang anak harimau berjalan mendekati Max, kedua harimau itu langsung menjilati kaki Max.
Sedangkan Reva langsung bersembunyi di belakang tubuh Max, ternyata kenyataanya tak seberani ucapannya kemarin.
"Hai Dexter, Snow, kenalin ini Reva dan ini Emma" ucap Max sambil duduk di rumput mengelus kepala kedua harimau itu.
Reva mengintip dari celah ketiak Max.
"Hai nona muda, katanya mau ngelus bulu harimau, tapi kenapa sekarang malah ngumpet" ledek Max.
"Diam om, nanti mereka dengar, terus kalau nanti mereka gigit Reva bagaimana" bisik Reva yang masih mengintip dua anak harimau itu penasaran.
Max menahan tawa. Sedangkan Emma yang merasa di abaikan pun lebih memilih duduk di rumput sambil melihat tanaman bunga yang ada di taman sambil melamun.
"Kemarilah, mereka tidak akan mengigitmu" pinta Max, seraya menarik lengan Reva dan membawanya duduk di pangkuannya.
"Dexter, Snow sini" panggil Max.
Kedua anak harimau pun mendekati Max, mereka berdua menjilati kaki Reva.
"Suruh berhenti om, geli Reva na" pekik Reva tak berani menarik kakinya.
"Tak apa, coba elus saja kepalanya" ucap Max seraya menuntun tangan Reva mengelus kepala kedua harimau itu. lama kelamaan ketakutan gadis kecil itu pun berangsur menghilang.
Dua anak harimau pun merasa nyaman di elus sama Reva.
"Hihihihi... Om mereka lucu, Reva mau bawa pulang boleh nda" pinta Reva
Max menepuk jidatnya, tak mungkin dia membawa pulang dua harimau ke rumah tuannya.
Terlebih dia pergi ke hutan saja bohong.
Bersambung
Happy reading guys🙏
jangan lupa like, koment, vote
Kisah Max tidak othor ceritakan di sini ya guys, nanti ada judul novelnya sendiri