Baby Girl

Baby Girl
BAB 59



"Selamat siang tuan, saya Alisya...ada yang bisa saya bantu" tanya Alisya sambil sedikit membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat kepada mereka yang lebih tua darinya.


"Duduklah, ada yang ingin kita bicarakan denganmu" titah Aldrik.


Alisya pun duduk mengikuti kemauan mereka. Alisya duduk dengan begitu elegan.


Alisya mengamati kedua wajah pria paruh baya yang ada di depannya.


"Apa benar kamu yang bernama Alisya" tanya David untuk memastikan.


"Iya, seperti yang sudah tadi saya katakan" jawab Alisya tegas dengan menatap kedua mata David.


Alisya tak mau menundukkan wajahnya sedikit pun. Bukan untuk menantang mereka namun Alisya tak mau ke dua orang itu mengintimidasi dirinya.


"Anda siapa dan ada keperluan apa mencari saya tuan" tanya Alisya to the point, ia tak suka terlalu banyak basa basi.


"Apa kau mengenal cucuku yang bernama Erik putra Dinata" tanya Aldrik.


"Iya, saya pernah satu kampus dengannya" jawab Alisya masih santai.


"Sebenarnya siapa perempuan ini, dia tak terlihat takut sedikitpun menghadapi kami" batin David penasaran.


"Apa benar anak kecil yang bersama mu tempo hari itu anak Erik" tanya Aldrik langsung.


Alisya terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Aldrik kepadanya, apa benar kedua pria di depannya ini sudah tahu kalau Reva adalah cucunya. Alisya bertanya tanya dalam hatinya.


"Bukan, dia anak ku" jawab Alisya langsung. Setelah menguasai keterkejutannya.


Aldrik langsung melempar amplop yang berisi hasil tes DNA itu tepat ke hadapan Alisya.


"Buka dan baca! kita sudah melakukan tes DNA. Jadi kau tak bisa mengelak lagi nona" sentak Aldrik.


Dengan tangan bergetar Alisya mengambil amplop yang di lemparkan Aldrik ke hadapannya tadi, secara perlahan Alisya membuka isi Amplop tersebut. Alisya mengambil lembar kertas yang ada di dalamnya.


Dengan serius Alisya membaca isi kertas tersebut yang isinya menyatakan kalau hasil tes DNA itu 99,9% benar kalau Erik adalah ayah biologis Reva.


matanya Alisya memerah menahan amarah. Ia tak menyangka kalau keluarga Dinata dengan lancang melakukan tes DNA tanpa sepengetahuannya.


Alisya merubah ekspresi wajahnya menjadi datar dan terlihat dingin.


"Iya memang benar putri saya adalah anak Erik, tapi bukan berarti dia anak Erik, karena saya lah yang mengurusnya seorang diri tanpa campur tangan Erik sejak masih ada di dalam kandungan saya" ucap Alisya jujur.


"Terus apa yang tuan inginkan dari saya" tanya Alisya kepada mereka dengan sorot mata yang tajam. Percuma saja Alisya mengelak karena bukti sudah ada di depan mata.


"Kita kesini untuk memperingati kamu, jangan pernah kamu datang meminta pertanggung jawaban kepada keluarga Dinata. Karena kita tak akan sudi mengakui putrimu sebagai keturunan keluarga Dinata," ucap Aldrik dengan begitu sombong.


Tanpa Alisya sadari Arsen memantau istrinya itu lewat cctv yang ada di restoran Alisya. Arsen penasaran kepada orang yang sudah berani mencari istrinya. Makanya dia meminta Dewi untuk memberikan akses cctv kepada dirinya.


"Anda ini lucu sekali tuan. Apa selama ini saya meminta pertanggung jawaban kepada keluarga Dinata ha, bahkan sampai aku mati kelaparan pun aku tak akan pernah sudi mengemis pengakuan kepada keluarga anda" ucap Alisya dengan penuh penekanan.


"Jangan sombong kamu, kamu hanya wanita penggoda yang rela naik ke atas ranjang cucuku karena kekayaan cucuku, tapi sayangnya cucuku tidak termakan dengan rayuanmu itu" bentak Aldrik mencemoh Alisya.


Arsen yang mendengar dari cctv kalau istrinya di hinapun ikut marah, tapi Arsen menahan dirinya untuk tidak ikut campur terlebih dahulu.


"Cukup!! Sudah cukup anda dan cucu anda menghina saya selama ini, sekarang apa mau kalian datang kesini ha" sentak Alisya yang tak terima dirinya di samakan dengan seorang jal*ng


David melempar sebuah cek dan kertas perjanjian kepada Alisya.


"Ambil dan tanda tangani ini, cek itu sebagai kompensasi dari kami untuk membiayai anak haram mu itu, dan surat perjanjian ini sebagai bentuk perjanjian kalau kamu nantinya tidak akan meminta pertanggung jawaban kepada putraku. Jika kau melanggar perjanjian ini kita akan membawanya ke jalur hukum" ucap David sembari mengancam Alisya.


Dada Alisya seperti tertimpa batu besar. Begitu sesak dan sakit atas hinaan ini, bagi Alisya putrinya itu tak ternilai....Alisya tidak akan menukar harga dirinya dengan uang yang mereka berikan.


"Cepat ambil dan tanda tangani, setelah itu kau harus pergi meninggalkan kota ini" tekan David.


Alisya mengetatkan rahangnya karena marah, sedangkan tangannya sudah mengepal hingga buku tangannya terlihat memutih.


Alisya mengambil surat perjanjian itu, tanpa berpikir panjang ia langsung menandatanginya. Alisya memang tidak ada niat untuk meminta pengakuan kepada mereka.


Aldrik dan David tersenyum melihat Alisya menandatangin surat perjanjian itu. Mereka berpikir kalau Alisya juga akan mengambil cek yang mereka kasih. Mereka menilai kalau Alisya hanya wanita mata duitan seperti pemikiran mereka.


Namun pemikiran mereka berdua salah, Alisya mengambil cek yang bernilai 1Milliar itu lalu merobeknya di depan mata mereka berdua.


"Jangan kalian pikir aku akan menukar putriku dengan sejumlah uang yang tak seberapa nilai nya ini tuan, tanpa uang dari anda pun saya masih mampu menghidupi putriku hingga dia dewasa nanti. Dan asal kalian tahu! Saya bisa membayar lebih banyak dari nilai yang anda kasih ke saya hanya untuk membungkam mulut sombong kalian berdua" tegas Alisya tak kalah angkuhnya. Alisya sudah menghilangkan rasa hormat kepada mereka berdua.


Bukan omong kosong belaka yang di ucapkan Alisya. Aset milik Alisya pribadi jauh lebih besar dari uang yang di tawarkan mereka kepadanya. Belum lagi blackcard dari suaminya yang bertengger di dompetnya.


Aldrik dan David mengepalkan kedua tangannya, mereka merasa terhina mendengar ucapan Alisya. Memang siapa wanita di depannya ini, kenapa dia berani merendahkan keluarga Dinata. Pikir mereka berdua.


"Kita pastikan kamu akan menyesal sudah merobek cek itu nona. Memang apa yang bisa di lakukan oleh pelayan sepertimu" cibir David. Mereka tak percaya dengan ucapan Dewi kalau Alisya merupakan pemilik restoran mewah itu.


"Bukan saya yang akan menyesal, tapi kalianlah yang akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan darah daging kalian sendiri. Jika waktu itu tiba aku tak akan pernah sudi memaafkan kalian, sampai kalian merangkak memohon di bawah kaki saya sekalipun....saya tidak akan memafkan kalian, camkan itu!!" tegas Alisya dengan sorot mata tajam mengintimidasi mereka berdua.


Setelah mengucapkan itu Alisya berdiri dari tempat duduknya. Ia pergi meninggalkan dua manusia tak berhati itu.


Dalam hati Alisya, tak apa mereka tak menerima dirinya toh dia sudah memiliki suami yang lebih dari Erik, tapi setidaknya akuilah Reva sebagai darah dagingnya, bagaimanapun juga darah keluarga Dinata mengalir di tubuh Reva. Arsen memang sangat menyayangi putrinya itu, tapi putrinya kelak tetap akan membutuhkan pengakuan dari ayah biologisnya.


**Bersambung


Happy reading guys🙏**