
Bip
Bip
Bip
Suara dari mobil Reynand yang ingin menjemput kekasihnya untuk pergi kekantor.
"Tunggu sebentar honey" Teriak Reva sambil berjalan tergesa-gesa.
Reynand yang melihat Reva sudah keluar dari rumahnya, ia pun keluar dari dalam mobilnya setelah itu membukakan pintu untuk kekasihnya.
"Terima kasih" ucap Reva lalu masuk kedalam mobil Reynand.
Setelah memastikan Reva masuk, Reynand juga masuk kedalam mobilnya.
"Selamat pagi sayang" sapa Reynand sambil mengusap kepala Reva.
"Pagi honey" sahut Reva sambil.
Reynand mengemudikan mobilnya menuju kekantor Dinata terlebih dahulu untuk mengantarkan Reva, setelah itu baru dia menuju ke perusahaanya sendiri.
Setelah memakan waktu selama tiga ouluh menit, akhirnya mereka sampai di perusahaan Dinata, jarak rumah Reva ke kantor Dinata memang lumayan dekat.
"Aku keluar dulu ya" pamit Reva lalu ingin keluar dari mobil Reynand, tapi sebelum itu Reynand mencegahnya.
"Kau melupakan sesuatu honey" ucap Reynand.
"Melupakan apa, perasaan aku hanya bawa tas ini" tanya Reva bingung.
Lalu Reynand menyodorkan pipiny ke wanitanya, meminta cium.
"Tidak ada cium-cium, kamu harus menikahi aku dulu, baru nanti aku akan menciummu. bahkan lebih" tolak Reva membuat Reynand mencebik.
Reva hanya mengusap pipi Reynand setelah itu ia keluar dari mobil kekasihnya.
"Ck, lihat saja nanti kalau aku sudah menikahimu, aku akan mengurungmu di dalam kamar selama tujuh hari tujuh malam" batin Reynand.
Begitulah Reva, dulu ketika masih berpacaran sama Brian pun ia tak pernah mau di sentuh Brian, makanya Brian lebih suka sama Listy ketimbang sama Reva yang terkesan jual mahal pikir Brian.
Berbeda dengan Listy, ia bebas melakukan apa saja ke Listy, dan dengan senang hati pun Listy melayani Brian.
Usai mengantarkan Reva, Reynand baru melajukan mobilnya menuju ke perusahaannya.
Tiba di perusahaannya Reynand langsung memarkirkan mobilnya, lalu ia masuk kedalam perusahaannya, langsung disambut oleh Abi sang asisten yang selama ini menemaninya.
"Selamat siang tuan" sapa Abi sambil membungkukan badannya tanda hormat
"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Reynand.
Reynand kalau sedang berada di lingkungan pekerjaannya dia akan bersikap datar dan tegas, berbeda kalau dia sedang berada di dekat keluarganya.
Abi mengikuti Reynand menuju ke ruangannya. Setelah tiba di ruangannya Reynand di kagetkan dengan keberadaan daddynya yang sudah lebih dulu duduk di sofa yang ada di ruanganya sambil menyilangkan kakinya.
Abi yang mengerti pun langsung keluar dari ruangan Reynand, ia memberikan waktu kedua anak dan ayah itu untuk berbicara.
"Ada apa daddy pagi-pagi sudah ada di ruangan Rey" tanya Reynand penuh selidik. pasti ada sesuatu yang ingin daddynya bicarakan, pasalnya daddynya tidak akan masuk kedalam ruangannya kalau tidak ada yang penting.
"Apa benar kamu berhubungan dengan Reva son" tanya Reagan dengan menatao tajam kedua mata putranya.
Reynand mendengus, ia tahu kalau daddy nya pasti tahu dari om nya itu, niat hati ingin langsung berbicara dengan daddy nya tapi om nya sudah lebih dulu membocorkannya.
"Iya dad" sahut Reynand jujur.
"Kamu serius dengannya atau hanya ingin main-main saja? , kalau kamu cuma mau main-main saja sama Reva maka lebih baik lepaskan Reva dan cari wanita lain yang bisa kamu ajak main-main, daddy tidak mau kamu manyakiti Reva, karena selama ini hidup Reva sudah cukup menderita, Daddy tidak mau kamu menambah penderitaanya" tegas Reagan.
Ia tak mau kalau nanti anaknya menyakiti Reva, karena jika itu terjadi maka akan membuat renggang hubungan keluarganya, maka dari itu ia harus memastikan dulu perasaan putranya.
"Rey serius dad, Rey sudah dari dulu menyimpan perasaan Rey, waktu itu Rey tahunya Reva anak om Arsen, makanya Rey lebih memilih mengubur perasaan Rey dalam-dalam,. Dan ini lah saat nya Rey memperjuangkan cinta Rey dad. Rey tidak mungkin mempermainkan orang yang Rey sayangi sejak dulu." jawab Rey tak kalah tegas dari daddynya.
Reagan lega mendegar jawaban putranya, sebelumnya ia tak tahu kalau selama ini putranya memendam rasa sama Reva.
Kalau sudah begitu Reagan cuma bisa mendukung hubungan mereka. Reagan tak pernah mempermasalahkan asal usul Reva, bagi Reagan semua itu masa lalu.
"Jika kamu memang serius, daddy sarankan jangan terlama berpacaran, karena kalau terlalu lama pasti akan banyak setan yang akan mengganggu hubungan kalian, " saran reagan.
"Apa Daddy menginginkan cucu secepat itu hmm" tanya Reynand heran, pasalnya dirinya baru jadian sehari masak iya harus langsung menikahinya.
Meskipun ia sudah mengenal Reva lama, taoi mereka butuh pacaran dulu sambil mengenal lagi sifat satu dengan yang lain, karena rasanya akan berbeda ketika setatus persahabatanmu berubah menjadi kekasihmu.
"Tentu saja, Daddy kangen tangisan bayi, Cia sudah besar mana mau di gendong-gendong lagi" sahut Reagan.
"Makanya punya anak tuh banyak kek om Arsen, jadi rumahnya ramai terus" kata Reynand.
Tuk
Regan memukul kepala putranya kesal.
"Enaknya kalau ngomong, itu kan aunty Alisya dulu sekali keluar langsung 3, sedangkan mommy mu cuma satu, kasihan mommy mu kalau hamil terus terusan" decak Reagan.
"Aelah Dad, Rey kan cuma bercanda, kenapa daddy serius sekali sih" protes Rey sambil mengusap kepalanya yang lumayan sakit karena di pukul daddy nya.
"Ngomong-ngomong kapan kamu mulai menyukai Reva, Rey, kenapa daddy tidak tahu"tanya Reagan kepo.
"Tidak usah banyak tanya Dad, lebih baik daddy kembali ke ruangan daddy" Ucap Rey mengalihkan pembicaraan,
Ia tidak mau menjawab pertanyaan daddy nya, pasti nanti akan menjadi bahan tertawaan daddy serta om nya itu.
"Jawab dulu Rey, setelah itu baru dady akan kembali ke ruangan Daddy" desak Reagan.
"Tidak, Rey tidak mau menjawabnya," kekeuh Rey menolak menjawab pertanyaan daddy nya.
Reagan yang tak kunjung mendapat jawaban akhirnya dia memilih beranjak dari ruangan pitranya, setelah itu ia masuk kedalam ruangannya sendiri.
Setelah Reagan keluar dari ruangannya, Abi masuk kedalam ruangan Reynand.
Abi membacakan jadwal Reynand hari ini.
"Kau sudah siapkan berkasnya belum bi? tanya Reynand, karena satu jam lagi mereka akan ada meeting dengan perusahaan dafi luar negeri.
"Belum tuan" sahut Abi.
"Kerjakan dulu bi, mumpung masih ada waktu, jangan sampai nanti ada berkas yang belum selesai kau kerjaakn bi" titah Reynand.
"Baik tuan" ucap Abi.
Setelah itu Abi pergi kembali ke ruangannya. sedangkan Reynand kembali berkutat dengan pekerjaanya.
Hingga satu jam kemudian, Reynand bersiap-siap untuk melakukan meeting, karena kliennya sudah menunggu di ruang meeting.
...****************...
#Gadis barbar dan pria kaku#
Kini anak-anak Raka dan kedua sahabatnya sudah mulai beranjak dewasa, mereka sudah mulai duduk di bangku kelas menengah atas. Narendra dan Nayla sudah duduk di bangku kelas 3, sedangkan Ara kelas dua satu tingkat di bawah si kembar, si bungsu Sky masih duduk di kelas satu SMA.
Sepuluh tahun lalu Andre dan Chika di karuniani anak lagi, Chika melahirkan anak laki-laki yang ia beri nama Arshaka Putra Bastian. Shaka masih duduk di kelas 5 SD.
Sedangkan Raka tidak ada niat menambah anak lagi hingga sekarang, padahal Alana menginginkan anak lagi, tapi dengan tegas Raka menolaknya, karena dia tidak bisa berpuasa lama untuk tidak menyentuh istrinya seperti saat itu melahirkan twins.
Alex juga memutuskan untuk tidak mempunyai Anak lagi dengan Sherli, karena dia trauma dengan Sky kecil yang selalu nempel dengan mamanya. Alhasil dirinya selalu tidur sendiri di kamarnya yang begitu luas.
...****************...
Suara merdu burung yang terus berkicau, berpadu dengan hembusan lembut angin pagi. Cahaya matahari yang menyelip di balik pepohonan yang ada di taman membuat Ara ingin memejamkan matanya, suara gesekan dedaunan seolah menjadi musik penghantar tidur yang begitu menenangkan dan membuatnya semakin nyenyak.
Di sebuah kamar yang terlihat begitu mewah dengan nuansa gelap seperti kamar pria. Terlihat seorang gadis masih setia terlelap dalam tidurnya. Bahkan dia tak terusik sama sekali dengan sinar mentari yang masuk di sela-sela jendela kamarnya.
Sebut saja namanya Arabella yang sering di panggil Ara oleh keluarga dan juga teman-temannya. Wajah yang cantik, rambut panjang, hidung mancung, dan bibir sedikit tebal membuat kaum adam terpesona tiap kali menatapnya.
Di balik kelebihannya tentu saja ada kekurangan yang di miliki Ara. Ara termasuk gadis pemalas dan barbar, dia selalu bikin masalah di sekolah beruntung dia termasuk siswa yang cerdas dan berprestasi.
Ceklek.....suara pintu kamar Ara terbuka.
Chika menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang masih bergelung di bawah selimut.
"Ara bangun, nanti kamu telat ke sekolah" panggil Chika sambil menarik selimutnya.
"Lima menit lagi mi, Ara masih ngantuk" lirih Ara dengan mata terpejam sambil menarik selimutnya yang tadi di tarik mamanya.
"Mau bangun atau mami siram kamu pakai air mau" ancam Chika.
Mendengar acaman maminya Ara langsung bangkit dari tidurnya sebelum air dingin itu menyiram tubuhnya.
Dengan langkah lunglai dan mata masih setengah terpejam Ara masuk ke dalam kamar mandi. Ara membersihkan tubuhnya dengan begitu cepat.
Lima belas menit berlalu Ara keluar dari kamar mandi, dia pergi ke ruang ganti lalu memakai seragamnya. Usai itu dia melihat ponselnya sambil duduk di tepi ranjang.
Ara yang masih merasa ngantuk akhirnya tertidur dengan posel masih di genggamannya.
Sedangkan di ruang makan Chika merasa heran, karena sudah hampir jam 7 pagi putrinya tak kunjung turun untuk sarapan.
"Ara kemana mi" tanya Andre.
"Tau pi, tadi mami sudah bangunin dan sudah masuk ke kamar mandi kok" jawab Chika.
"Sudah pasti itu pi, kak Ara kan kang tidur" timpal Shaka dengan mulut penuh makanan.
"Telan dulu makanannya baru ngomong, tegur Andre, Shaka hanya nyengir memperlihatkan deretan giginya.
Andre tahu kebiasaan putrinya kalau sudah tidur sangat sulit untuk di bangunkan.
Chika bangkit dari tempat duduknya, dia meninggalkan piringnya yang sudah terisi penuh. Dengan langkah kesal Chika menaiki tangga menuju ke kamar putrinya.
Dorrr...dorrr....dorrr.
"Ara buka pintunya" teriak Chika dari luar kamar.
Chika terus menggedor pintu kamar Ara, namun karena tidak ada respon dari dalam akhirnya Chika mencoba menekan handle kamarnya.
Ceklek...suara pintu kamar terbuka.
Mata Chika terbelalak melihat putrinya yang tertidur dengan menggunakan seragam sekolah lengkap beserta sepatunya.
"Araa......."Teriak Chika membangunkan Ara.
Ara hanya melenguh sambil mengeliat memeluk gulingnya.
Chika yang sudah sangat akhirnya menarik tangan putrinya dan memaksanya untuk bangun. Ara di paksa duduk di tepi ranjang dengan mata terpejam.
"Ara bangun, ini sudah jam 7 " teriak Chika di telinga Ara.
Ara lekas membuka matanya."Hah, kenapa mami tidak bilang dari tadi sih" pekik Ara sambil mondar madir ntah nyari apa, sepertinya nyawa Ara belum terkumpul.
"Kamu ini sebenarnya nyari apa sih, pusing mami dari tadi melihatmu modar mandir" tanya Chika.
"Ara nyari tas Ara mami" jawab Ara.
Chika menepuk keningnya. "Itu kan tasmu ada di atas meja, ya ampun Ara....mami bisa gila jika tingkahmu tiap hari seperti ini terus" ucap Chika frustasi menghadapi putrinya.
Ara menggaruk kepalanya sambil nyengir kuda. "Yasudah mam, Ara berangkat dulu" pamit Ara menyalami tangan maminya.
Setelah itu Ara langsung berjalan dengan tergesa-gesa menuju lantai bawah untuk pamitan dengan papinya.
"Papi Ara berangkat dulu" pamit Ara mencium punggung tangan Andre, setelah itu langsung berlari.
"Sayang , kamu tidak sarapan dulu" teriak Andre.
"Ara sudah telat, papi" teriak Ara tanpa menghentikan langkahnya.
Andre mengambil nafas lalu ia hembuskan sambil geleng-geleng.
Andre tidak jadi mengantarkan Shaka ke sekolah, Shaka sudah berangkat terlebih dahulu di antar sopir.
Chika turun dengan wajah di tekuk kesal.
"Kamu kenapa mam" tanya Andre.
"Pusing dengan kelakuan putrimu pi" sahut Chika di balas kekehan oleh Andre.
...****************...
Sedangkan di rumah Raka sedang sarapan bersama dengan keluarganya, Nayla turun dari tangga...terlihat kedua orang tuanya sama abangnya sudah duduk di meja makan.
"Pagi ma pa" sapa Nayla.
"Pagi sayang" sahut Alana.
"Pagi bang" sapa Nayla sambil duduk di kursi kosong sebelah Narendra abangnya.
"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Narendra.
Nayla memukul bahu abangnya karena kesal, "Bisa ngga sih ngomong, hammm hmmmmm doang" kesal Nay. Narendra hanya mengendikan bahunya acuh.
Raka menghela nafas sabar, putranya itu terlalu kaku dan irit berbicara. Terkadang dia aja kesal kalau ngajak ngobrol putranya itu.
Usai selesai makan, twins pamitan untuk pergi ke sekolah, Nay dan Narendra membawa mobil masing-masing, karena Narendra tak pernah mengijinkan adiknya yang crewet itu nebeng di mobilnya.
Narendra melajukan mobilnya sambil mendengarkan musik di sepanjang jalan.
Satu jam kemudian mobil Twins tiba di halaman sekolah, seperti biasa kedatangan mereka akan menjadi pusat perhatian di sekolahan itu.
Narendra membuka pintu mobil nya, lalu melangkahkan kaki keluar dari mobil, membuat Siswi di sekolah tersebut berteriak histeris melihat pahatan wajah tampan Narendra yang terlihat sempurna.
Narendra berjalan acuh menuju ke kelasnya. Nayla mencebik kesal melihat ekpresi datar abangnya tersebut.
Bip
Bip
Bip

(motor yang di naikin Ara)
Bunyi klakson motor Ara menganggetkan penjaga gerbang yang sedang berjaga.
"Pak tolong buka gerbangnya, saya mau masuk" teriak Ara dari luar gerbang yang masih berada di atas motornya.
Penjaga menghampiri Ara, "maaf non Ara, bapak tidak berani, karena non Ara sering telat...jadi bapak takut kena tegur kepala sekolah" sahut penjaga dari dalam pagar.
"Bapak ngga usah takut, bilang saja saya yang suruh" songong Ara.
"Maaf non, bapak takut di pecat...nanti anak istri bapak mau di kasih makan apa kalau bapak tidak kerja lagi" kekeuh penjaga.
Pasalnya penjaga tersebut sering sekali membuka pagar untuk Ara yang selalu datang telat, hingga akhirnya kepala sekolah tahu dan dia kena tegur.
Dengan terpaksa Ara memanjat pagar sekolah, beruntung dia selalu menggunakan celana, setelah tiba di sekolah baru dia akan menggantinya dengan rok sekolah.
"Khemm...." dehem guru Bk sambil berkacak pinggang.
Ara yang masih di atas pagar pun menoleh sambil nyengir kuda. "Eh bapak, ngapain di situ pak" tanya Ara sambil loncat kebawah.
"Sudah telat, berani manjat pagar pula...dan sekarang masih berani nanya ngapain saya di sini" tegas Guru.
"Lah kan saya tidak tahu pak, kali saja bapak lagi nunggu saya karena kangen sama saya" ngeyel Ara.
"Arabella..kamu ini bisa serius tidak sih," kesal guru Bk. "Sekarang juga kamu harus berdiri di tegah lapangan hingga istirahat tiba" perintah guru BK.
Karena terlalu sering di hukum tak membuat Ara protes, dia langsung saja berlari ke lapangan untuk menjalani hukumannya.
Meskipun sering di hukum namun tidak membuat dia kapok, bahkan Chika juga sering di panggil ke sekolah Ara sejak dari sekolah dasar.
Sejak kecil Ara akan selalu melawan siapapun yang berani jahat kepadanya. Terkadang kalau dia lagi gabut dia lah yang akan mencari gara-gara kepada temannya dengan alasan bosan.
Makanya Chika suka frustasi menghadapi putrinya itu.
Ara berdiri di bawah terik matahari yang menyengat kulit tubuhnya. Ara mendongak dengan posisi hormat kepada bendera merah putih.
Narendra yang kebetulan mau ke toilet melihat Ara yang kepanasan karena sedang di hukum di tengah lapangan.
Narendra pergi ke kantin sekolah lalu membeli sebotol air mineral dan sepotong roti. Setelah itu dia pergi ke tengah lapangan dan memberikannya kepada Ara.
"Ini" ucap Narendra memberikan air mineral dan sepotong roti kepada Ara, ketika jaraknya tak lagi jauh dari Ara.
Ara menerimanya. "Terima kasih abang, kau memang terbaik untuk Ara" ucap Ara lebay. Dia suka menggoda Narendra yang kaku.
"Hmmm...." gumam Narendra lalu berlalu meninggalkan Ara.
Ara cengok melihat tingkah Narendra yang menurutnya aneh. "Ck, tumben perhatian, dasar kanebo kering...tingkahnya tidak bisa di tebak" gerutu Ara sambil melihat punggung Narendra yang kian menjauh.
Ara yang haus dan lapar langsung saja memkan pemberian Narendra kepadanya, kebetulan tadi dia juga tidak sempat sarapan.
Waktu menunjukkan pukul 09 pagi, tanda jam istirahat pertama telah tiba dan hukuman Ara telah berakhir.
Ara pergi ke kantin menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu ke sana. Terkadang dia juga gabung bersama Nay dan temannya.
Ara menghampiri Nayla terlebih dahulu. Dia langsung duduk di sebelah Nayla tanpa malu di lihat teman-teman Nayla.
"Kamu di hukum lagi Ra" tanya Nayla.
"Iya kak, Ara ketiduran" jawab Ara tanpa beban.
"Kamu ini kebiasaan, memangnya kamu tidak bosan ya di marahi sama Aunty Chika" ucap Nayla. Ara hanya mengendikan bahu acuh.
"Kak Ara kesana dulu ya" pamit Ara sambil menunjuk ke arah meja temannya. Nayla mengangguk.
"Heran gue sama Ara, ngga ada takut-takutnya tuh bocah" ucap Jihan yeman sekelas Nayla.
"Tau tuh anak, gak pernah kapok... Padahal suka di hukum, tapi masih aja tidak berubah" sahut Nayla.
Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏