
"Setelah ini kamu mau kemana" tanya Brian kepada Nadin sambil menyesap kopinya.
"Mau ke danau, sudah lama aku tak pergi ke danau" jawab Nadin.
"Mau aku temani" tawar Brian.
"Boleh, jika kamu tak sibuk" ucap Nadin tersenyum manis kenapa Brian.
"Ini hari libur, tentu aku tidak sibuk nona" ucap Brian terkekeh.
Nadin tertawa kecil, dia lupa kalau hari ini Brian libur kerja.
Mereka menghabiskan makanan mereka, setelah menghabiskan makanannya, Brian dan Nadin keluar menuju ke mobil Brian yang ada di parkiran.
Brian membukakan pintu untuk Nadin.
"Terima kasih" ucap Nadin lantas masuk kedalam mobil Brian, setelah memastikan Nadin masuk dia menutup pintu mobilnya, Brian memutari mobilnya dan membuka pintu mobil samping kemudi.
Brian masuk dan duduk di bangku kemudi, dia menyalakan mesinnya dan mulai menginjak pedal gas nya, mobil Brian perlahan mulai melaju meninggalkan Cafe.
Selama di perjalana mereka terus mengobrol hingga tak terasa mobil yang ia tumpangi sampai di Danau yang mereka tuju.
Brian turun dari mobil di susul oleh Nadin di belakangnya.
Mereka berjalan beriringan menuju ke kursi yang ada di tepi danau, mereka duduk berdua sambil menatap kearah danau.
"Kapan kamu akan pulang" tanya Nadin.
"Entahlah, aku juga belum tahu" jawab Brian.
"Apa kamu masih belum memaafkan mereka? itu artinya kamu masih menyukai wanita itu" tanya Nadin lagi.
Brian pernah menceriatakan permasalahannya kepada Nadin.
"Tidak, bahkan wanita itu sudah berpisah dengan daddy ku" sahut Brian menghela nafas panjang.
Brian akhirnya menceritakan tentang Listy dan daddy nya kepada Nadin, ia hanya menceritakan yang di ceritakan oleh Listy saja.
"Pulanglah temui daddy mu, maafkan dia dan ajak dia berbicara. kasihan adikmu juga menjadi korban keegoisan mereka berdua" ucap Nadin menepuk bahu Brian.
"Terima kasih sudah mau menjadi tempat curahan hatiku, aku tidak tahu akan jadi seperti apa diriku jika tidak bertemu denganmu" ucap Brian tersenyum manis menatap Nadin.
"Itulah gunanya seeorang teman bukan" ucap Nadin memperlihatkan deretan giginya.
"Bagaimana kalau lebih dari sekedar teman" ucap Brian sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nadin.
Blushhh...
Wajah Nadin langsung merah merona. ia menundukkan wajahnya karena malu.
"Hai nona, kenapa menunduk hmm" ledek Brian sambil menusuk nusuk pipi Nadin menggunakan jarinya.
"Diamlah Brian aku malu" kesal Nadin sambil menepis tangan Brian.
Brian tertawa puas setelah berhasil menggoda Nadin.
Lantas Brian menarik tangan Nadin dan membawanya kedalam pelukannya.
Hati Nadin langsung jedag jedug tiba-tiba di peluk sama Brian.
"Lepas Bri" pinta Nadin.
Brian melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Nadin.
"Kenapa hmm" tanya Brian.
"Jantungku ngga aman pak, berasa ajep-ajep" jawab Nadin membuat Brian langsung tergelak.
Nadin hampir sama seperti Reva yang suka ceplas ceplos, membuat Brian terhibur jika dekat dengannya.
"Kamu ini lucu sekali" ucap Brian sambil menggesek gesekan hidungnya.
"Briannnn.... sudah, nanti kalau jantungnya lompat gimana" ucap Nadin meninggikan suaranya.
Brian akhirnya mengalah melepaskan Nadin dari rengkuhannya.
Nadin mengerucutkan bibirnya sambil menatap Brian tajam.
"Nikahin dulu pak baru bisa peluk-peluk" cebik Nadin.
"Ya ngga sekarang juga dong Brian, lagian ngajak nikah tidak ada romantis-romantisnya" kesal Nadin.
"Nanti ya, nunggu aku nemuin daddy" ucap Brian sambil mengusap puncak kepala Nadin.
🌹🌹🌹🌹
"Mamah.. lihat Cherry ngga" teriak Reva memanggil mamahnya.
"Ada apa sih sayang teriak-teriak, mamah lagi di kamarnya" sahut Arsen yang baru saja menuruni tangga.
"Papah Cherry hilang" ucap Reva panik.
"Mana ada hilang, ngarang kamu" sahut Arsen tak percaya.
"Tadi Reva taruh di kereta dorong tapi setelah Reva kembali dari dapur membuat susu Cherry sudah tidak ada" ucap Reva.
"Mana mungkin ada orang lain yang masuk kedalam rumah ini. kamu coba cari di tempat lain, siapa tahu di bawa adikmu" ucap Arsen.
Arsen yakin kalau cucunya itu tidak hilang, pasti salah satu dari anaknya ada yang membawanya, tidak mungkin ada penculik yang berani masuk kedalam rumah Arsen, secara penjagaan di rumah Arsen begitu ketat.
Reva mengikuti saran papahnya, dia minta tolong sama pelayannya di rumah untuk ikut membantu mencari putrinya.
Reva mencari kesetiap sudut rumah hingga ke ruang bermain Gavin namun masih tidak menemukan putrinya.
"Ini pasti kerjaan si gendut, dia juga tidak ada di ruang bermainnya" gumam Reva sambil berkacak pinggang.
ia memutuskan untuk mencari putrinya di halaman belakang, ia yakin kalau putrinya pasti ada di sana.
Reva melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang rumah, dan benar saja dari kejauhan dia melihat Gavin yang sedang menggoda putrinya yang ada di atas stroller.
"Gavin" panggil Reva sambil berkacak pinggang.
"Kamu ini kalau mau bawa Cherry bilang dulu sama kakak bisa ngga sih, jadi kan kakak tidak panik cariin Cherry" omel Reva.
"Maaf kak Reva, tadi Cherry nya yang minta di ajak jalan-jalan keluar, dia katanya bosan di dalam rumah terus" sahut Gavin alasan.
"Mana ada Cherry bilang seperti itu, Cherry aja belum bisa ngomong" cebik Reva.
"Bisa, iya kan Chel? " sahut Gavin minta dukungan sama keponakannya.
Seolah tahu bayi perempuan itu tersenyum.
Reva menganga melihat kelakuan putrinya yang sok tahu itu.
Gavin tersenyum penuh kemenangan karena mendapat dukungan dari keponakannya.
"Hai buah-buahan, sudah berani kamu bela om Gavin ya" omel Reva dan Cherry pun masih tetap tersenyum.
"Jelek ah, masih ompong sok-sokan senyum gitu" ucap Reva menggoda putrinya.
Dia mengangkat putrinya dari atas stroller, dan dia duduk di kursi sambil memangku putrinya, ia melihat kupu-kupu yang hinggap di tanaman bunga milik mamahnya.
"Sudah ketemu sayang" tanya Arsen yang baru saja datang menghampiri putrinya.
"Sudah pah, ternyata di bawa dia" jawab Reva sambil menunjuk Gavin dengan menggunakan dagunya.
Arsen terkekeh, tebakannya benar pasti salah satu anaknya yang membawa Cherry, dan ternyata si biang rusuh yang membawanya.
"Lain kali kalau mau ajak Cherry jalan-jalan bilang kak Reva dulu Gav" ucap Arsen menasihati Gavin.
"Sudah papah, kak Leva na aja yang ngga dengel" sahut Gavin menyalahkan kakaknya.
"Enak aja, kak Reva belum budeg ya Gav, mana ada kamu minta ijin sama kak Reva" sahut Reva tidak terima.
karena dia merasa adiknya tidak minta ijin dengannya, adiknya itu hanya mencari alasan saja.
"Belalti kak Levana yang tidak dengel, Gavin sudah bilang tapi suara Gavin pelan supaya Chelly ngga kaget" ucap Gavin membuat Reva dan Arsen menpuk keningnya.
pantas saja tidak ada yang dengar orang dia minta ijinnya lirih.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happu reading guys🙏