
Siang hari Belinda datang bersama Renata dan Reagan serta Reynand, setelah menjemput Reynand mereka langsung datang ke rumah sakit untuk menjenguk Alisya.
Ceklek...Belinda membuka pintu.
"Assalamualaikum" ucap Belinda
"Waalaikumsalam bunda" sahut Arsen mewakili.
Belinda dan yang lain pun masuk kedalam ruang rawat Alisya.
Reva mengalihkan pandangannya karena melihat kedatangan Reynand.
"Ley sini Ley, adikna Leva banak banget ini" panggil Reva girang.
"Mana? Rey mau lihat" sahut Reynand mendekati Reva yang ada di dekat box bayi.
Reynand sudah lancar berbicara, dia bahkan sudah bisa bilang huruf "R", berbeda dengan Reva yang masih cadel.
"Mereka lucu sekali, boleh ngga Rey bawa pulang satu" ucap Reynand kagum melihat wajah merah ketiga bayi itu.
"Boleh, Ley bawa satu yang cowok ya. Kan yang cowok ada dua jadi buat Ley satu buat Leva satu" jawab Reva dengan entengnya.
Arsen mendelik mendengarnya. Apa-apaan ini anaknya mau di bagi-bagi udah kek boneka saja, Reagan menahan tawa melihat wajah merah padam sepupunya.
"Tidak bisa ya Reva, itu anak papa bukan boneka yang bisa kamu berikan ke orang" sela Arsen tak terima.
"Papa nda boleh pelit sama sodala, liat muka meleka sama, bialin saja bial Ley satu bial kita nda pusing nanti." bujuk Reva.
"Kan Rey bisa main sama mereka d rumah kita, jadi tidak usah Rey bawa pulang" ujar Arsen.
"Bagaimana Ley? Nda di bolehin sama papa" tanya Reva dengan wajah sedih.
"Tidak apa, nanti Rey main ke rumah kamu aja biar bisa bermain sama mereka" sahut Rey tersenyum senang.
Renata tak tega melihat wajah sedih putranya, mumpung di rumah sakit dia ingin sekalian program hamil dan memeriksakan kandungannya, kebetulan dia sudah telat datang bulan selama seminggu.
"Dad, kita ke dokter kandungan sebentar yuk, biarin saja Reynand di sini" bisik Renata di telingan Reagan.
Reagan mengeryit tak mengerti. "Mau ngapain ke dokter kandungan mom?" tanya Reagan.
"Sudah, cepat antar mommy ke dokter kandungan" Renata memaksa suaminya, dia menarik tangan Reagan lalu membawanya keluar dari kamar rawat Alisya.
Belinda dan yang lainnya merasa heran melihat tingkah Renata yang menarik narik tangan Reagan beranjak dari ruangan Alisya. Namun mereka tak mau ambil pusing, mungkin ada sesuatu yang mendesak, pikir mereka.
"Baby, kamu makan siang dulu ya" ucap Arsen seraya menyodorkan makanan yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit. Alisya mengangguk patuh.
Arsen dengan telaten menyuapai istri cantiknya itu, meskipun Alisya tidak terlalu menyukai makanan rumah sakit, tapi dia tetap memakannya sampai habis.
Reynand dan Reva sibuk dengan ketiga bayi itu, mereka berdua seolah tak pernah bosan menatap ketiga bayi lucu itu.
"Pasukan kita sekalang banyak ya Ley, kita nda beldua lagi ngeljain papa nya" ucap Reva.
"Iya, nanti kita latih merek bertiga, supaya nurut sama kit" sahut Reynand.
"Kalian ini kenapa suka sekali berantem sama papa hmm" tanya Belinda ikut nimbrung bersamanya.
"Kalena papa sangat menyebalkan oma, papa suka lupa sama janjinya" jawab Reva yang mengingat jelas dengan kesalahan Arsen.
"Tapi kan papa suka beliin kalian mainan" balas Belinda.
"Itu karena om Arsen sedang menyogok kita supaya kita tidak marah oma" sahut Reynand asal.
......................
Karena tidak masuk ke kantor Arsen memindahkan pekerjaanya ke rumah sakit sambil menjaga Alisya.
Arsen menyuruh Nino mengantarkan berkas penting yang perlu di tanda tangani dirinya.
Ceklek..... Nino membuka pintu kamar rawat Alisya.
"Selamat sore siang tuan" sapa Nino.
"Masuk No" sahut Arsen.
Nino masuk ke dalam setelah di persilahkan oleh Arsen, dia memberikan selamat kepada Alisya terlebih dahulu.
"Selamat nyonya, atas kelahiran triplet" ucap Nino.
"Makasih No, cepat menikah No, biar cepat di kaosh keturunan seperti kami. Jangan bekerja mulu karena tidak akan ada habisnya" ujar Alisya membuat Nino mendengus kesal.
Bagaimana dia mau mencari wanita, Arsen selalu membuat dirinya lembur di kantor hingga malam, apa lagi sekarang dengan kehamilan nyonya nya, sudah di pastikan bosnya itu akan sering absen masuk kantor.
"Nyonya bisa bilang sama suami nyonya, biar saya di kasih libur untuk mencari jodoh nyonya" gerutu Nino. Alisya tertawa kecil dengan gerutuan Nino.
Alisya sudah sering bercanda seperti itu sama Nino, jadi tidak membuat Nino atau Alisya tersinggung.
"Om Nino pacalan saja sama Onty Dewi" seloroh Reva yang mendengar percakapan mereka.
Nino dan Alisya membola dengan ucapan Reva, bisa-bisanya anak kecil itu tahu tentang pacaran.
"Nanti saya pikirkan dulu nona kecil" sahut Nino menyahuti ucapan Reva.
"Jangan telalu banyak belpikil om, nanti Onty Dewi nya kebulu di ambil olang, nanti Om Nino lama lagi puna pacalnya" ucap Reva sok tahu.
Arsen mengangkat Reva sambil menciuminya gemas. "Anak kecil tidak boleh bicara pacar-pacar, temani adiknya dulu sama mama, papa mau bekerja dulu sama om Nino" peringatnya, lalu meminta putrinya untuk menjaga adiknya.
Arsen dan Nino menjauh dari ranjang Alisya, mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Bagaimana No, apa kau sudah menemukan sekertaris baru untuk membantumu" tanya Arsen.
Ia sedang mencari sekretaris baru untuk menggantikan sekretaris yang lama karena sudah nikah dan minta untuk di mutasi sesuai domisili.
"Belum tuan, namun sudah ada beberapa Cv yang masuk, namun saya belum melihatnya" jawan Nino.
"Besok kamu lihat, biar segera ada yang membantumu untuk mengerjakan pekerjaanmu, karena setelah ini aku akan jarang datang ke kantor. Kau bisa lihat anakku tiga, aku tak mau istriku kerepotan nantinya" saran Arsen.
Nino menghela nafas panjang, bos nya ini hanya mencari alasan saja, memangnya bosnya itu bisa apa. Paling ujung-ujungnya juga sewa babby siter.
"Terserah kau saja tuan, tak punya anak pun anda sudah terbiasa jarang datang ke kantor" cibir Nino.
"Makanya kamu nikah, biar tahu rasanya mempunyai istri dan anak" ketus Arsen.
"Bagaimana saya mau nikah, tuan saja tidak pernah memberiku cuti untuk berlibur" sindir Nino sambil menutup beberapa berkas yang sudah di tanda tangani oleh Arsen.
"Di kantor banyak karywan wanita yang masih jomblo, jadi ngapain kamu tak usah repot mencari keluar" usul Arsen seenaknya.
Nino berdecak tak menghiraukan ucapan Arsen, bos nya itu memang tak sadar diri. Sudah tahu di kantor banyak yang jomblo, dirinya malah mengejar Alisya yang sudah mempunyai anak.
Bersambung
Happy reading guys🙏