
Sampainya di rumah Arsen langsung mengajak istrinya ke kamar.
"Sayang aku mandi dulu" kata Alisya yang merasa lengket di badannya.
"Aku ikut, sudah lama kita tak mandi bersama baby" sahut Arsen.
"Males, mandi sama kamu mah lama," tolak Alisya.
Ia sudah tahu akal bulus suaminya itu, tak mungkin cuma mandi saja, pasti suaminya minta lebih.
Tanpa aba-aba Arsen langsung menggendong tubuh istrinya seperti karung beras, lalu membawanya masuk ke kamar mandi.
"Honey turunkan aku, aku tak mau mandi denganmu, aku lelah" seru Alisya sambil memukuli punggung kekar suaminya.
"Sebentar saja baby, aku ingin" kata Arsen sambil menepuk bokong istrinya yang tak mau diam.
Arsen menurunkan tubuh Alisya di bawah shower, Arsen langsung memagut bibir Alisya.
(Silahkan traveling sendiri.... orthor masih polos).
Arsen menuntaskan has*atnya di dalam kamar mandi bersama sang istri.
Acara mandi bersama memakan waktu hampir satu jam lebih.
Alisya keluar kamar dengan wajah cemberut karena kesal dengan ulah suaminya.
Arsen terkekeh sambil mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil.
"Tidak usah cemberut nyonya, tadi kamu juga menikmatinya bukan" kata Arsen menggoda istrinya.
"Sudah tahu kalau akunya capek, malah di suruh banyak gaya" gerutu Alisya sambil memakai bajunya.
"Semakin kau marah semakin membuatku gemas" ucap Arsen sambil menguyel nguyel wajah istrinya.
"Lepas ih" kesal Alisya sembari menepis tangan suaminya dari wajahnya.
Arsen tergelak keras, meskipun sudah mempunyai banyak anak dan juga umurnya yang sudah tak muda lagi, sikap Arsen masih sama seperti dulu, cinta Arsen ke Alisya tak pernah berkurang, Malah selalu bertambah setiap harinya.
Usai berpakaian, Alisya naik ke atas ranjang begitu pula Arsen, ia ikut naik ke atas ranjang menyusul istrinya.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu sayang" kata Arsen.
"Apa? apakah ini tentang Reva sama Brian?" tanya Alisya.
"Bukan, tapi ini tentang Brian sama Rachel.
"Rachel kemarin lusa sempat memukuli Brian di restoran milik kamu, dan sekarang Brian sedang meminta rekaman ke pihak restoran, tapi tadi siang aku sudah menyuruh Nino untuk menghapusnya." jelas Arsen.
"Lalu, apa masalahnya?, kan kamu sudah menghapus rekamannya" tanya Alisya polos, pikir Alisya semuanya sudah beres,
Arsen mencubit pipi istrinya gemas.
"Apa kamu tidak tahu tujuan Brian meminta bukti rekaman itu hmm?"
"Tentu saja aku tahu, pasti Brian ingin melaporkan Rachel ke kantor polisi, dan bukti rekaman itu sebagai barang bukti" tebakan Alisya tepat.
"Terus?" tanya Arsen.
Entah lah Arsen dibuat gemes dengan otak istrinya yang lemot.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkan putriku di penjara, memangnya dia siapa?" ketus Alisya.
"Itu kamu pintar, jadi kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan. Besok Dewi menyuruh Brian untuk datang ke restoran. Aku sarankan kamu besok juga harus datang ke restoran itu untuk menemui Brian" ujar Arsen.
"Oh...begitu" sahut Alisya manggut-manggut mengerti.
"Kamu kenapa jadi lemot begini sih baby" ucap Arsen menekan kedua pipi istrinya hingga membuat bibir Alisya mengerucut.
"Gimana tidak lemot, sudah tahu istrinya lelah, malah makin di buat lelah" ucap Alisya dengan bibir mengerucut.
"Dan aku akan kembali membuatmu lelah nyonya" ucap Arsen langsung meraup bi bir istrinya rakus, ia harus bisa memanfaatkan waktu yang ada.
Arsen kembali mengujam mi lik istrinya.
*
*
Sedangkan pagi hari dirumah sakit, Reva mulai membuka matanya, Reva mengedarkan pandangannya ke arah sofa.
Terlihat Reynand yang masih terlelap sambil memeluk tubuh Gavin.
Tak lama dokter masuk untuk mengecek keadaan Reva.
"Pagi nona Reva, kita cek dulu ya" sapa sang dokter.
Reva memberi isyarat kepada sang dokter supaya mengecilkan suaranya, agar tak menganggu Reynand yang sedang tertidur.
Dokter pun mengangguk mengerti, setelah itu dokter mulai memeriksa keadaan Reva.
"Semuanya bagus, kemungkinan lusa nona Reva sudah bisa pulang" kata dokter setelah selesai memeriksa Reva.
"Kenapa tidak besok saja dok pulangnya" protes Reva yang sudah mulai bosen dengan suasana di rumah sakit.
"Kita lihat nanti nona" sahut dokter sambil tersenyum, lalu keluar dari ruang kamar Reva.
kini giliran sang suster membantu mmebersihkan tubuh Reva dengan menggunakan wash lap.
Ketika sudah selesai perawatpun beranjak dari ruangan Reva.
"Reynand, Gavin bangun sudah siang ini" panggil Reva membangunkan keduanya.
Reynand yang terusik pun akhirnya membuka matanya.
"Cepat mandi, setelah itu ajak aku jalan-jalan ke taman yang ada di rumah sakit ini" titah Reva.
"Baiklah" sahut Reynand patuh.
Lalu Reynand membangunkan Gavin dan mengajaknya mandi.
*
Kini mereka bertiga sudah berada di taman rumah sakit.
"Rey, kau selalu menemaniku begini memangnya kekasihmu tidak marah ya" tanya Reva tiba-tiba.
"Aku tidak punya kekasih" jawab Reynand singkat.
"Kenapa? apa kau tidak laku, makanya sampai sekarang kamu masih jomblo" ledek Reva.
"Apa kamu pikir tidak ada wanita yang menyukaiku hmm" sahut Reynand sambil menyentil dahi Reva..
Reva mengusap keningnya yang habis di sentil Reynand.
"Kamu ini, sakit tahu... Aku kan tidak tahu. kali aja kamu memang beneran tidak laku" rajuk Reva.
Reynand mengusap kening Reva dan meniupnya.
Mulut Reva menganga sambil menatap wajah tampan Reynand yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Banyak yang menyukaiku, tapi bukan mereka yang aku mau" kata Reynand lalu menurunkan tangannya dari kening Reva.
"Lalu siapa prempuan itu? apa aku mengenalnya?" tanya Reva penasaran.
Reynand mengendikkan bahunya. ada rasa getir di hatinya.
"Tentu saja kamu mengenalnya, karena perempuan itu kamu" jawab Reynand dalam hati.
Mereka melanjutkan obrolannya, hingga tiba-tiba pekikan Reva mengagetkan Reynand dan Gavin.
"Berian berhenti... " pekik Reva ketika melihat brian yang baru saja keluar dari runah sakit bersama Listy.
Brian baru saja kontrol jahitan yang ada di kepalanya.
Brian yang merasa namanya di panggil seseorang pun akhirnya ia menoleh.
"Reva. "gumam Brian ketika melihta Reva yang duduk di kursi roda dengan keadaan kepala serta kaki yang di perban.
Reva menyuruh Reynand mendorong kursi rodanya mendekati Brian.
"Jadi begini kelakuan mu di belakang ku Bri" tanya Reva dengan nada sinis.
"Apa maksudmu" tanya Brian berlagak tidak tahu apa-apa.
"Apa ini wanita selingkuhanmu itu hmm" sindir Reva sambil mengamati Listy dari atas hingga bawah.
"Siapa yang kau sebut selingkuhan hah" sentak Listy tak terima.
"Siapa lagi kalau bukan kamu" sahut Reva santai.
Tangan Listy mengepal lalau mengalihkan pandnagannya ke arah Brian, seolah meminta penjelasan.
"Dia mantan ku" jawab Brian yang seolah tahu maksud tatapan Listy.
"Dasar Bedebah si*lan." umpat Reva.
"Kau benar, mulai sekarang aku memang bukan kekasihmu lagi, karena detik ini juga aku memutuskanmu" tegas Reva dengan sorot mata tak biasa.
"Baguslah, jadi aku tak susah-susah membuang anak haram sepertimu, bersamamu juga tidak ada untungnya "ucap Brian menghina Reva denagn tatapan merendahkan.
Reva mengepalkan tanganya kuat, andai dia tidak sakit sudah pasti laki-laki di hadapannya ini akan habis di hajarnya.
"Kau terlalu banyak omong bung" timpal Reynand langsung maju memukul wajah Brian.
Bugh
Bugh
Bugh
"Ayo teruskan Rey," sorak Reva sambil bertepuk tangan.
"Bagus Rey, teruskan Rey"
"Kenapa kau malah menyorakinya hah, seharusnya kamu menghentikannya. bukan malah menyorakinya" Bentak Listy. dia begitu geram dengan tingkah Reva yang justru bahagian melihat kekasihnya di pukuli.
"Cih, bahkan jika aku tidak sakit, aku sendiri yang akan menghajarnya" decih Reva.
"Kamu... " ucap Listy sambil mengayunkan kaki nya ingin menendang kaki Reva yang sedang di perban.
Dughh....
Sebelum sampai menyentuh kaki Reva, Kaki Listy sudah lebih dulu di tendang oleh Gavin.
"Akhhhh..... " pekik Listy kesakitan.
Meskipun masih kecil tapi tendangan Gavin tak main-main, ia sudah sering ikut berlatih bela diri bersama kakaknya.
"Jangan macam-macam sama kakak na Gavin ya" ucap Gavin dengan wajah galak.
Bersambung.
Happy reading guys 🙏
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏