Baby Girl

Baby Girl
BAB 67



"Honeyy.....awas kamu, aku akan membalasnya" teriak Alisya tak terima karena sudah di permainkan suami mesum nya itu.


Alisya lari mengejar suaminya ke dapur.


"Sayang...tolong papa" pekik Arsen memanggil Reva.


Reva yang sedang menata kue pun mengangkat wajahnya karena mendengar papanya memanggil namanya meminta tolong.


"Oma liat, papa cama mama Leva sepelti anak tecil yang cuka lali-lali" cibir Reva ketika melihat kedua orang tuanya saling mengejar.


Belinda hanya menggeleng kepala nya, menantu sama putranya itu memang tak tahu umur.


"Sayang....tangkap papa cepat" pekik Alisya tak kalah keras.


"Maap, Leva ladhi cibuk" sahut Reva malas.


Arsen berlari ke arah Reva lalu menjadikan tubuh Reva sebagai temeng, karena istrinya itu hampir saja menangkapnya. Arsen menggerakkan tubuh Reva ke kanan dan ke kiri, Arsen tak mau tertangkap oleh istrinya.


"Setopp....Leva na pucing ini, talian ini cudah tua tenapa sepelti anak tecil cih" pekik Reva sambil memegangi kepalanya.


Arsen dan Alisya meghentikan aksi kejar-kejarannya, Mereka menyengir menatap wajah jutek putrinya .


"Kamu sih pa yang mulai" Alisya tak mau di salahkan.


"Kan kamu mam, yang ngejar papa" balas Arsen tak mau kalah. Mereka terus berdebat saling menyalahkan, membuat Belinda jengah.


"Sampai kapan kalian akan saling menyalahkan, kalian tidak melihat wajah cucu bunda ha" ucap Belinda kesal.


Arsen dan Alisya menoleh menatap putrinya yang seperti tertekan sambil memegang kepalanya yang pusing.


"Kamu tidak apa sayang" tanya Alisya.


"Leva pucing dali tadi liat mama cama papa belantem telus" jawab Reva.


"Mama tidak berantem sayang, mama hanya sedang bermain saja sama papa" kilah Alisya sambil melototkan matanya ke arah Arsen, Arsen yang ngerti pun langsung mengiyakan ucapan istrinya.


"Iya girl, papa hanya sedang becanda sama mama" sahut Arsen.


"Ote talau bedhitu, cekalang papa halus gendong Leva ke luang tv, Leva mau nonton cambil matan tue" titah Reva.


"Siap tuan putri" ucap Arsen sambil memberi hormat ala prajurit.


Mereka akhirnya berkumpul di ruang tv sambil menikmati kue yang di buat Belinda tadi siang.


"Ar, kita liburan ke villa kita yang di balik yuk. Bunda sudah lama tak pergi liburan" pinta Belinda. Setelah tinggal di indonesia Belinda jarang sekali liburan, dia selalu sibuk mengurus bisnis nya. Belinda mempunyai butik dan juga toko kue.


"Boleh bund, nanti Arsen akan ajak Reagan supaya makin seru" balas Arsen, dia juga ingin merasakan liburan pertamanya dengan istri serta putrinya.


"Memangna di bali ada apa oma" tanya Reva ingin tahu.


"Ada pantai dan banyak wisata lain sayang lebih indah sayang, nanti kamu bisa buat istana pasir di sana" jawab Belinda.


"Wowww Leva mau oma" girang Reva.


"Nanti Leva atan buat istana pasil cama Ley" ceplos Reva membuat Arsen mendengus kesal. Putrinya itu sangat antusias jika sudah menyangkut tentang Reynand.


"Sekarang Reva harus bobo sayang, ini sudah malam tidak baik anak kecil tidur terlalu malam" titah Arsen.


"Baik pa" jawab Reva patuh.


Alisya menggendong putrinya lalu membawanya ke kamar.


"Baby aku tunggu kamu di ruang kerja" ucap Arsen. Alisya mengangguk.


Kini tinggal Arsen dan Belinda yang tersisa di ruangan tersebut.


"Bagaimana keluarga Dinata Son" tanya Belinda.


Arsen menghela nafas panjang. "Pria itu selalu menguntit Alisya bund, beruntung Arsen selalu menaruh anak buah Arsen di dekat mereka" jawab Arsen.


"Apa Alisya tahu? Kalau pria itu sedang menguntitnya" tanya Belinda.


"Alisya tidak tahu bund, Arsen belum memberi tahunya" balas Arsen.


"Kamu kasih tahu Alisya, supaya Alisya lebih waspada boy....Bunda tidak ingin kehilangan menantu bunda boy" sahut Belinda.


"Tenang saja bund, Arsen tidak akan membiarkan semua itu terjadi" ucap Arsen.


Belinda takut kalau nanti Alisya akan di pengaruhi Erik untuk meninggalkan putranya, bagaimana pun juga ada anak di antara mereka berdua. Tapi meski begitu Belinda sangat yakin kalau Alisya tak akan berpaling dari putranya.


Tok


Tok


Tok


Alisya mengetuk pintu ruang kerja Arsen.


"Masuk" terdengar teriakan dari dalam.


Alisya membuka pintu lalu masuk kedalam ruang kerja Arsen.


"Duduk baby, ada yang ingin aku berikan kepadamu...Sekalian aku ingin membicarakan sesuatu sama kamu" ucap Arsen.


Alisya pun duduk di sofa ruang kerja Arsen. Terlihat Arsen mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya. Arsen berjalan menghampiri istrinya sambil membawa map merah di tangannya.


"Ini untukmu baby, sebagai kado pernikahan kita" ucap Arsen seraya meletakkan map tersebut ke Alisya.


"Kado apa lagi honey? Bukankah kamu sudah cukup banyak memberikanku hadiah, dari mansion, mobil, kapal pesiar, dan masih banyak lagi." Alisya merasa suaminya terlalu berlebihan.


Arsen memang tak tanggung-tanggung dalam memberikan hadiah untuk istrinya.


"Buka dulu baby, baru kamu boleh komentar" pinta Arsen.


Dengan perlahan Alisya membuka isi map tersebut. Kali ini Alisya sangat kaget dengan hadiah yang di berikan Arsen untuknya, Alisya tak menyangka suaminya akan berbuat sampai sejauh ini.


"Saham perusahaan Dinata" lirih Alisya.


"Yes baby, 35% atas namamu. Aku berharap suatu saat nanti kamu bisa memanfaatkan saham tersebut" ucap Arsen.


"Tapi buat apa" tanya Alisya bingung.


Alisya memang bingung, buat apa suaminya membeli saham perusahaan Dinata atas nama dirinya. Selama ini Alisya sudah tidak mau berurusan dengan keluarga itu.


"Simpan saja dulu, pasti nanti akan berguna untukmu baby" saran Arsen.


"Dan satu lagi, sudah satu minggu ini Erik tengah menguntitmu ke restoran. Itulah alasanku kenapa menyuruhmu ngantor di kantorku, berhati hatilah selama aku tidak ada di sampingmu" peringatnya. Arsen tak mau istrinya lengah.


Alisya terkejut mendengar penuturan suaminya. Buat apa pria dakjal itu mengikutinya, bukankah dulu dia sangat jijik dengannya.


"Kenapa? Kenapa dia harus mengikutiku" tanya Alisya.


"Mungkin saja dia tertarik dengan kecantikan istriku ini" ledek Arsen yang mendapat cubitan dari Alisya.


Arsen merengkuh tubuh Alisya ke dalam pelukannya.


"Apapun yang terjadi nanti, aku harap kamu akan selalu percaya denganku baby" lirih Arsen. Alisya mengangguk kecil di dalam dekapan suaminya.


"Apakah kamu ingin meneruskan yang tadi baby" goda Arsen mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Jangan harap tuan" jawab Alisya ketus.


Alisya mencoba melepaskan diri dari pelukan suami mesumnya.


"Tidak boleh menolak ajakan suami baby, nanti kamu akan berdosa" itulah senjata Arsen tiap kali Alisya menolak ajakan suaminya.


Arsen tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajah pasrah istrinya itu. Arsen selalu memdapat cara untuk membuat istrinya itu takluk di ranjang.


Tangan Arsen mulai menggerayangi tubuh istrinya itu.


"Apa kita akan melakukannya di sini honey" tanya Alisya.


"Tentu saja, aku ingin mencoba di setiap sudut rumah ini baby" jawab Arsen asal.


Akhirnya terjadilah yang semestinya terjadi.


Jangan lupa like, koment, vote guys🙏


Happy reading semua🙏**