Baby Girl

Baby Girl
S2~29



Waktu menunjukkan pukul lima sore, Reynand memutuskan untuk pulang, ia akan menjemput Reva terlebih dahulu di perusahaan Dinata.


Mulai sekarang Reynand mempunyai tugas baru, yaitu antar jemput kekasihnya.


Reynand mematikan laptopnya terlebih dahulu, kemudian ia merapihkan berkas yang berserakan dia atas meja kerjanya.


Setelah semuanya terlihat sudah rapih, barulah Reynand mengambil jasnya yang berada di sandaran kursi, tak lupa dia juga membawa tas kerjanya.


Reyanand beranjak dari kurainya, ia berjalan dan melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangannya, ia berpapasan dengan daddy nya yang kebetulan juga baru keluar dari ruangannya.


"Kau juga mau pulang son" tanya Reagan.


"Iya dad" sahut Reynand sambil terus berjalan beriringan dengan daddy nya.


"Kalau begitu daddy ikut mobil kamu saja, biar mobil daddy tinggal di kantor saja" ucap Reagan yang malas menyetir mobilnya sendiri, kebetulan hari ini sopir pribadinya tidak masuk, jadi dengan terpaksa Reagan mengemudikan mobilnya sendiri.


"Daddy kalau malas nyetir mending daddy naik taksi saja, karena dari sini Rey langsung jemput Reva tak langsung pulang ke rumah" ucap Rey.


"Tak apa, daddy ikut sama kalian saja" maksa Reagan.


"Tidak, nanti daddy malah mengangguku waktuku sama Reva" tolak Reynand.


Menurut Reynand daddynya itu terlalu ngaco, bisa-bisanya daddy nya mau ikut ia pacaran.


"Kau itu pelit sekali, tak daddy restui baru nyaho" kesal Regan dengan penolakan yang ia terima dari putranya.


"Rey laki-laki dad, jadi Rey tidak butuh wali untuk menikahi Reva" kata Reynand sambil masuk kedalam mobilnya.


Reynand melambaikan tangannya mengejek daddynya.


"Anak itu makin hari bukannya makin baik malah makin kurang ajar." kesal Reagan sambil masuk kedalam mobilnya.


Ia terpaksa pulang menggunakan mobilnya, ia malas memakai taksi, sepertinya Reagan ini banyak malasnya ketimbang semangatnya.


*


*


"Sayang sudah selesai belum" tanya Reynand setelah sampai di ruangan Reva.


"Sedikit lagi selesai honey" sahut Reva tanpa mengalihkan sedikitpun dari laptopnya. Hingga membuat Reynand jengkel.


Reynand menghampiri kekasihnya, lalu mengangkat tubuh Reva, setelah itu ia duduk di kursi kerja Reva, kemudian meletakkan Reva di atas pangkuannya.


Reynand memeluk tubuh Reva dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Reva sambil memperhatikan pekerjaan Reva.


Reva membiarkan Reynand bertingkah sesukanya, pasalnya ia sedang nanggung.. pekerjaannya sedikit lagi selesai.


"Salah kamu sayang" ucap Reynand yang sejak tadi memperhatikan pekerjaan Reva.


"Hah salah gimana" tanya Reva bingung, pasalnya ia merasa kalau dirinya sudah benar.


Akhirnya Reynand memberi tahu letak kesalahannya , setelah ia menjelaskan dengan detail kepada kekasihnya itu.


Hanya sedikiy saja Reva melakukan kesalahan, tapi bisa berakibat fatas untuk perusahaannya.


"Oh begitu, untuk kamu memberitahuku honey, jika tidak pasti aku akan kena amukan papa, karena sudah membuat kerugian di perusahaanya" ucap Reva kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Dan aku tidak akan membiarkan kekasihku ini di amuk olehnya" Sahut Reynand sambil menduselkan wajahnya ke ceruk leher Reva, ia menghirup aroma shampo dari rambut Reva.


"Diam honey kau membuatku geli" tegur Reva ketika Reynand mengesek gesekan hidunganya di ceruk lehernya.


...****************...


#Kisah om Max, ( Suamiku mantan mafia)


Max keluar dari rumah Arsen dengan langkah terburu-buru menuju ke mobilnya.


Ia membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi kemudi, ia melihat ke samping ternyata Emma masih saja tertidur.


"Ck, bisa-bisanya dia tidur senyenyak ini, apa dia tidak takut kalau aku berbuat sesuatu kepadanya" ucap Max sambil menjalankan mesin mobilnya.


Mobil Max melaju dengan kecepatan sedang menuju ke apartemennya.


"Hai bangun, kita sudah sampai" ucap Max sambil mengguncang tubuh Emma.


Emma hanya mengeliat, lalu merubah posisinya menjadi membelakangi Max, membuat Max berdecak.


"Banngunnn.... " Teriak Max di telinga Emma.


Membuat Emma terlonjak kaget dan langsung membuka matanya.


"Kenapa tuan berteriak di telingaku, membuatku kaget saja" gerutu Emma sambil mengusap telingannya yang berdengung.


"Salah sendiri di bangunin baik-baik bukannya bangun. malah tetap tidur, cepat turun kita sudah sampai" dumel Max lalu mengajak Emma turun.


Dengan bibir yang mengerucut Emma keluar dari mobil, lalu dia berjalan mengikuti Max di belakangnya.


Mereka berdua naik lift untuk menuju ke kamar Max yang ada di lantai 25.


Ting


Pintu lift terbuka, mereka berdua keluar dan melangkahkan kaki meuju ke kamar Max.


Ceklek...


Pintu apartemen di buka oleh Max, lalu Max menyuruh Emma untuk masuk.


Emma pun mangangguk patuh, lalu masuk kedalam apartemen Max Max yang di dominasi warna abu.


"Apa kau mempunyai minum? aku haus" tanya Emma yang memang sejak tadi sepulangnya dari hutan ia belum minum sama sekali.


"Ambil saja di dapur" jawab Max singkat sambil melepas kaos yang ia kenakan di hadapan Emma tanpa merasa malu sedikitpun.


Emma langsung menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.


"Kenapa tuan melepas baju di hadapanku" protes Emma.


"Terserah aku, ini kan apartmenku jadi suka-suka aku mau melakukan apa" sahut Max sambil tersenyum tipis mellihat tingkah lucu Emma.


Emma merenggangkan jari-jarinya hingga ia bisa melihat tubuh Max dari sela jarinya.


"Oh my God, tubuhnya seksi sekali, ingin rasanya aku mengusap perutnya yang kotak-kotak itu" puji Emma dalam hati, ia terpesona melihat tubuh kekar Max.


Emma menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran liarnya dari otaknya.


Akhirnya Emma memilih lari ke dapur, untuk mengambil air minum.


"Ini terlalu berbahaya, kalau aku terlalu lama tinggal bersamnya, yang ada nanti aku khilaf" gumam Emma sambil menghabiskan sebotol air minum hingga tandas.


"Kau sedang apa?" tanya Max tiba-tiba membuat Emma berjingkrak kaget.


"Aku baru selesai minum" sahut Emma sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa kau bisa masak?" tanya Max.


"Bisa, sedikit tuan" jawab Emma gugup.


"Bagus, kalau gitu kau masaklah, karena perutku sudah mulai lapar" titah Max.


Emma mulai mencari bahan yang bisa di masak dari kulkas Max, meskipun Max seorang pria, namun isi kulkasnya lumaayan lengkap.


Sepertinya Max juga suka memasak untuk dirinya sendiri.


"Apa kau tak ingin mengganti bajumu? aku gerah melihatmu yang sejak tadi terus menerus memakai jaket itu" ucap Max.


Emma menoleh menghadap ke arah Max.


"Lalu saya harus ganti baju apa tuan, kan saya tidak membawa baju" sahut Emma.


"Aku lupa, tentu saja kau tak memiliki pakaian, kau kan gembel yang baru aku pungut dari hutan" ejek Max tersenyum smirk menatap Emma yang sudah mengepalkan tangannya.


"Saya bukan gembel, saya ini seorang CEO" sahut Emma tak terima dirinya di katai gembel oleh Max.


"Ck, ternyata kau orang kaya, kalau begitu aku akan meminta uang sewa selama kamu tinggal di sini" ucap Max.


"Tenang saja, nanti kalau saya sudah mendapatkan kartu-kartu saya, nanti saya akan membayar uang sewa sekaligus bunganya" ucap Emma.


"Buktikan saja, jangan cuma bilang nanti-nanti" ucap Max lalu pergi meninggalkan Emma yang terus menggerutu memaki Max.


"Tampan sih, tapi ternyata perihitungan, mana gayanya sok keren lagi, membuatku kesal saja, kalau bukan gara-gara mak lampir dan tua bangka itu, aku juga tidak mau numpang di apartemen ini" Emma memotong sayur sambil terus menggerutu.


Max tertawa cekikikan sambil mengintip Emma dari balik dinding.


"Dia lucu sekali kalau sedang kesal, ingin sekali aku membungkam bibirnya yang tak berhenti mengoceh itu" gumam Max.


Ia menggeleng gelengkan kepalanya sambil berjalan menunu ke ruang tv.


Max menonton film faviritnya, sambil menselonjorkan kakinya ke meja, menunggu Emma menyelesaikan masakannya.


Tak lama Emma datang menghampiri Max.


"Makanannya sudah siap tuan" kata Emma dengan sedikit menunduk, Emma benar-benar menjaga pandangannya, ia tak mau melihat bagian atas Max yang tanpa baju.


Max mengangguk, kemudian beranjak dari sofanya, ia mengikuti Emma yang membawanya ke meja makan.


Emma memasak ayam rica-rica dan oseng sayur.


Max duduk di kursi meja makan, Emma melayani Max, dia mengambilkan nasi serta lauk untuk Max.


"Ini tuan" kata Emma sambil meletakkan piring yang sudah terisi penuh oleh nasi dan lauk di hadapan Max.


"Hmmmm"


Emma benar-benar menempatkan diri selayaknya pembantu di apartemen Max.


Lalu Max mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya. dengan perlahan ia mengunyah makanan tersebut sambil mencoba menikmati rasanya.


Max manggut-manggut, kemudian ia kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya, Max makan dengan lahapnya.


Sedangkan Emma hanya melihat Max makan sambil menelan salivanya. ia juga merasa lapar tapi dia malu bilang sam Max.


Krukkkkk....krukkk


Max berhenti mengunyah ketika mendengar suara dari perut Emma.


Lalu ia menoleh kearah Emma yang sedang menunduk krena malu.


"Makanlah," titah Max kembali melanjutkan makannya.


Dengan malu-malu akhirnya Emma mengisi piringnya dengan nasi dengan lauk yang ia masak tadi.


Setelah sepuluh menit merkwa menyelesaikan makan malamnya.


Max pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Emma setelah membuka jaketnya, ia merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tv sambil membaca buki uang ada di mejanya dengan di temani anjing milik Max, badannya begitu lelah setelah seharian ini melewati banyak hal, sehingga membuat Emma akhirnya terlelap.


Emma ketiduran di sofa dengan menggunakan selimut sebatas perut. beruntung di sofa ada selimut sehingga Emma bisa menggunakannya untuk menutupi kaki jenjangnya, karena sejak tadi ia masih mengenakan baju seksi pemberian Darso., tapi Emma melupakan dadanya yang terekspos.


(Anggap aja Emma sedang tidur di sofa guys)


"Shitt... gadis ini benar-benar beracun" umpat Max dalam hati.


Max keluar dari kamarnya, dengan menggunakan celana boxer saja tanpa menggunakan atasan, keviasaan Max kalau tidur tidak pernah menggunakan baju.


Niat hati ingin memberikan baju ganti, malah di suguhkan pemandangan yang menyehatkan mata.


Emma mengira kalau Max tidak akan keluar lagi dari kamarnay, makanya dia berani membuka jaketnya.


*


Bugh


Bugh


Bugh


Darso memukuli semua anak buahnya yang ada di rumahnya. ia sangat marah ketika mendengar Emma kabur dari rumahnya.


"Apa yang kalian kerjakan hah, hanya menjaga satu wanita saja tidak becus. Percuma saja aku membayar mahal kalian semua, kalau menjaga seorang wanita saja kalian tidak bisa" maki Darso kepada semua anak buahnya.


"Di depan rumah banyak penjaga, tapi kenapa kalian masih bisa kecolongan hah?" imbuhnya.


"Perempuan itu kabur lewat balkon tuan, lalu keluar melalui pintu belakang rumah menuju ke hutan, dan ada sebuah mobil yang menolongnya" jelas sang pengawal.


"Dasar b*doh, bisa-bisanya kalian semua di kelabuhi oleh seorang wanita. Bahkan kalian mengejar seorang gadis saja tidak bisa. Sekarang cari dia dan bawa dia kembali kerumah ini, cari tahu orang yang menolongnya" perintah Darso tak mau di bantah.


"Tapi tuan.... "


"Tidak ada tapi-tapian, saya sudah membayar mahal gadis itu tapi kalian justru melepaskannya, kalau sampai kalian tidak bisa menemukannya,maka nyawa kalianlah yang akan menjadi gantinya" amuk Darso kepada anak buahnya.


"Baik tuan" sahut anak buah Darso yang sudah babak belur dihajarnya.


Darso tidak akan mentolerir kesalahan yang di buat oleh anak buahnya, baik sekecil apapun kesalahan yang di buatnya.


"Aku harus menghubungi Eva, siapa tahu anak itu kembali kerumah itu" gumam Darso.


Darso mengambil ponselnya di atas nakas, lalu menghubungi Eva.


"Dimana Emma" tanya Darso langsung ketika telponnya sudah terhubung.


"Apa maksud anda tuan? bukankah seharusnya Emma berada di rumahmu?" sahut Eva dari sebrang telpon.


"Dia tadi siang kabur dari rumahku, jangan coba-coba membohongiku Eva" gertak Darso.


"Sungguh tuan, dia tidak pulang kerumah" Sahut Eva dengan nada bergetar karena takut.


"Cari dia atau aku akan mengambil anakmu yang lain untuk menggantikannya" ancamnya, setelah itu Darso mematikan panggilannya.


Di rumah Eva membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya. Ia mengutuk Emma karena berani kabur dari rumah Darso, hingga membuat dirinya terancam.


"Akhhhh....Anak itu selalu saja membuat ulah" teriak Eva seraya menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja riasnya.


"Aku harus mencarinya, jangan sampai bandot tua itu mengambil Clarissa" gumam Eva.


Kemudian Eva beranjak dari kamarnya mencari keberadaan putrinya.


"Clarissa... " panggil Eva sambil mengetuk pintu kamar putrinya.


Klek...


Pintu kamar terbuka dari luar.


"Ada apa mam?" tanya Clarissa setelah membuka pintu kamarnya.


"Bantu mama mencari Emma, dia kabur dari rumah tuan Darso, kalau kita tidak bisa mengembalikan dia kepadanya, kamu yang akan menjadi gantinya" Kata Eva.


Clarissa membelalakan matanya, dirinya tidak tahu apa-apa kenapa menjadi tumbal juga.


"Kenapa jadi Clarissa sih ma, lagian kenapa bisa mama berurusan dengan tua bangka itu" sahut Clarissa tak terima.


"Mama kalah judi, makanya mama menjual Emma kepada tuan Darso" kata Eva jujur.


"Bisa tidak sih mama tidak membuat masalah, Clarissa sudah pernah bilang sama mama, jaangan lagi berjudi, tapi mama tidak pernah mendengarkan ucapan Clarissa. Giliran susah mama tumbalin Clarissa dalam masalah mama.


"Selama ini hidup kita sudah enak dan semuanya terpenuhi, tapi mama tetap saja membuat ulah, jangan sampai Emma membuang kita gara-gara kesalahan mama sendiri." Hardik Clarissa kepada mamanya.


Clarissa sudah muak dengan kebiasaan mamanya yang selalu berjudi, Clarissa memang tidak menyukai Emma tapi dia juga tidak membenarkan kelakuan mamanya.


"Mama lakuin ini semua karena mama kesepian, kamu selalu sibuk dengan teman-temanmu, dan tak pernah sekalipun kamu memperdulikan mama" ucap Eva beralasan.


"Jangan banyak drama ma, mama punya uang, mama bisa berfoya-foya atau berkumpul dengan teman-teman mama. Memangnya selama ini apa yang mama dapatkan selama mama berjudi? apa dengan berjudi membuat mama kaya? tidak ma, yang ada membuat kita sengsara" ucap Clarissa mengakhiri perdebatannya dengan Eva.


Brakkkk


Clarissa membanting pintu kamarnya dengan sangat keras membuat Eva berjingkat.


"Dasar wanita tua bodoh, sudah enak hidup begini malah membuat ulah," ucap Clarissa memaki ibunya.


Lalu Clarissa memasukkan beberapa bajunya kedalam koper, ia akan pergi sementara waktu dari rumahnya, ia tak ingin dirinya menjadi pengganti Emma.


...****************...


Sedangkan pagi hari setelah bangun tidur Emma memutuskan untuk memasak sarapan pagi.


Emma mencoba meraih piring yang ada di rak atas, tapi tak juga sampai padahal dirinya sudah berjinjit.


"Bilang kalau memang butuh bantuan" ucap Max dari belakang tubuhnya sambil meraih piring yang ada di rak atas.


"Eh" kaget Emma, Emma bisa merasakan tubuh Max yang menempel di punggungnya.


Nick menunduk kebawah, dan tak sengaja melihat dada Emma yang berukuran besar.


Tanpa di komando bagian bawah tubuh Max mulai bereaksi.


Max buru-buru memalingkan wajahnya dan segera berbalik menghindari Emma.


"Cepat selesaikan masaknya, dan lekas mandi, jangan sampai aku menerkammu karena kau terus memakai baju kurang bahan itu"ucap Max yang sama sekali tak melihat ke arah Emma.


Lantas Max pergi kekamarnya, dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat sehabis olah raga.


Sejak tadi pikiran Max terus memikirkan gundukan daging milik Emma, hingga membuat yang di bawah sana berdiri tegak.


"Si*lan baru lihat begitu saja sudah berdiri, terpaksa deh harus bersolo karir" umpat Max sambil merutuki nasibnya.


Sedangkan di dapur Emma panik langsung mencari jaketnya, ia lupa setelah bangun tidur tidak memakai jaketnya kembali.


"B*doh kau Emma, pantas saja dia berbicara seperti itu" ucap Emma merutuki kebodohannya sambil memukul kepalanya sendiri.


Setelah selesai menata semua masakannya di atas meja makan, Emma menuju ke kamar Max, untuk memanggil Max sekaligus untuk menumpang mandi, karena sebelumnya Max tidak memberitahukan kamar mandinya.


Tok


Tok


Tok


"Tuan, makanannya sudah siap" teriak Emma dari depan kamar Max.


"Berisik" ucap Max setelah membuka pintu kamarnya.


"Maaf tuan, saya takut tuan tidak mendengarnya" sahut Emma.


"Memangnya kamu pikir aku tuli" kata Max.


"Bukan begitu maksudku tuan, ah sudahlah... saya kesini sekalian mau numpang ke kamar mandi dan juga mau meminjam baju tuan" ucap Emma.


"Tunggu di sini," ucap Max, lalu kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengambil sesuatu.


Tak lama Max terlihat keluar dari kamar sambil membawa sebuah kaos beserta handuk di tangannya.


"Ini, kau bisa mandi di kamar mandi bawah dekat dapur" ucap Max sambil memberikan kaos miliknya dan juga handuk kepada Emma.


"Terima kasih tuan, kalau begitu saya permisi" ucap Emma dan pamit pergi dari hadapan Max.


Max tidak mengijinkan siapapun masuk kedalam kamar pribadinya, kecuali orang yang sudah dekat dengannya.


Bersambung


Happy reading guys 🙏


Maaf kalau banyak typo, othor ngetiknya ngebut soalnya guys, nanti besok othor chek lagi untuk merevisi yang salah.