
Menjelang malam Siska baru saja tiba di rumahnya dengan wajah yang di tekuk. Dia masih kesal dengan kejadian tadi pagi.
kedatangan Siska langsung di sambut David dan juga yang lain, kecuali Viona...setelah mengikuti Siska dia memilih pulang ke rumah orang tuanya.
David memicingkan matanya melihat wajah masam istrinya."kamu dari mana saja mom? Kenapa kamu pulang dengan wajah yang di tekuk seperti itu" tanya David.
Siska menjatuhkan tubuhnya di sebelah suaminya . "Mommy tadi habis dari sekolah Reva bersama Erik dad" jawab Siska dengan senyum masam.
"Apa yang kalian lakukan pada Reva mom, jangan sampai perbuatanmu malah akan menjadi bumerang untuk keluarga kita" cecar David.
David khawatir dengan kelakuan istrinya. pasalnya istrinya itu suka bertindak seenaknya tanpa di pikirkan terlebih dahulu.
Siska menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa "Mommy hanya menghasutnya Dad, supaya dia menjauhi Arsen dan bisa menerima Erik sebagai Daddy nya" jawab Siska santai.
Siska tidak merasa kalau tindakannya itu justru membuat keluarganya di ujung tanduk.
Aldrik membelalakan matanya mendengar ucapan Siska, dia tak habis pikir dengan kelakuan menantunya. "Apa yang kamu lakukan Siska, tindakanmu itu sangat ceroboh bisa jadi akan memancing amarah Arsen kepada keluarga kita."
"Seharusnya kamu tidak memaksakan kehendakmu, kamu seorang ibu tentu tau bagaimana kondisi Reva, dia dari kecil tidak pernah di asuh oleh Erik, semestinya kamu mendekatinya secara perlahan jangan langsung memaksanya." hardik Aldrik.
Bagaimana Siska tahu, dari dulu Siska tidak pernah mengasuh putra putrinya, dia selalu mengandalkan babby sitter untuk menangani kedua buah hatinya.
Dia lebih memilih berkumpul dengan teman sosialitanya. Makanya Erik tumbuh menjadi pria yang bebas dan arogan.
"Jangan bertindak tanpa sepengetahuanku mom, aku tak mau kamu menghancurkan rencana kita yang sudah aku susun selama ini" tegas David.
"Hmmmm" gumam Siska lalu pergi meninggalakn mereka yang sedang berada di ruang tamu, sedangkan ibu mertua Siska sudah pulang kenegaranya tanpa Aldrik suaminya.
"Kamu harus mengawasi betul istrimu itu Vid, dia suka bertindak di luar rencana kita" ucap Aldrik.
David memijat pelipisnya yang terasa pusing. "Ini salah David Dad, selama ini David membiarkan Siska bertindak semaunya." sahut David sesal.
Selama menikah dengan Siska David tak pernah melarang Siska melakukan apapun, bahkan David selalu memenuhi semua fasilitas yang Siska inginkan. David berpikir dengan cara itu dia bisa membuat istrinya itu bahagia, karena selama ini dia hanya sibuk bekerja untuk memajukan perusahaan Dinata. Jadi dia hanya mempunyai sedikit waktu untuk istrinya.
Pukul 21.00 malam Erik pulang kerja bukannya langsung pulang ke rumah malah kumpul bersama sahabatnya di klub malam.
"Kau tidak pulang Rik? Memangnya Viona tidak mencarimu" tanya Andra.
Erik menyesap wine yang ada di hadapannya. "Aku tidak peduli dengan nya, terserah di mau bagaimana juga" jawab Erik.
Irfan tersenyum masam mendengarnya. "Jangan bodoh untuk kedua kalinya Rik, dulu kau juga bilang tidak peduli dengan Alisya, tapi sekarang justru kau sendiri yang mengejar ngejar dia" ejek Irfan.
Erik hanya mengendikkan bahunya acuh, di memilih minum sambil menyalakan rokoknya.
"Mending kau perbaiki hubunganmu dengan Viona Rik, jangan sampai kamu malah tak mendapatkan keduanya." saran andra
"Toh selama ini Viona baik sama kamu dan juga keluargamu. Alasan apa lagi yang membuatmu tak menyukai Viona, bukankah dulu kamu sering mengatakan mencari wanita yang sepadan, apa menurutmu keluarga Viona kurang sepada dengan keluargamu, bahkan untuk sekarang keluarga Viona jauh lebih kaya dari pada Dinata" Irfan ikut menimpali ucapan Andra.
Irfan dan Andra kesal dengan sifat Erik yang plinplan dan cenderung tidak punya pendirian. Mereka sudah sering menasihatinya namun tidak mempan.
Andra tersenyum jenaka menatap wajah Erik. "Pemikiranmu itu dangkal sekali Rik, apa kamu pikir mudah merebut Alisya dari tanagn tuan Arsen yang merupakan pemilik Global Group? Bahkan aku berani bertaruh jika putrimu itu lebih menyayangi Arsen dari pada kau ayah kandungnya sendiri. Cibir Andra.
Erik menghembuskan nafas panjang lalu menyandarkam tubuhnya ke sandaran sofa, lalu menatap langit-langit yang ada di ruangan itu. "Aku yakin kalau nanti putriku akan jauh lebih menyayangiku dari pada Arsen, dia seperti ini karena dia belum mengenalku saja" Sahut Erik yang terkesan menghibur dirinya sendiri.
Irfan tertawa kecil mendengarnya. "Mulai lah berdamai dengan takdirmu Rik, kamu sendiri yang membuat keadaan nya seperti ini. Hiduplah damai dengan Viona, dan minta maaflah yang tulus dengan Alisya...dengan begitu aku yakin kalau Alisya kelak akan mengijinkamu menemui putrimu itu, kalau seperti ini kamu malah akan membuat Alisya semakin membencimu" saran Irfan di sertai anggukan oleh Andra.
"Tapi aku lebih mencintai Alisya, aku tidak mencintai Viona aku hanya terpaksa menikahinya" sahut Erik.
"Cih, Kau dulu juga bilang tidak akan pernah mencintai Alisya, tapi buktinya setelah bertemu kembali dengan Alisya kamu bilang mencintainya. jangan jadi manusia munafik, jadilah pria yang tegas dan punya pendirian. Seiring berjalan nya waktu aku yakin kamu bisa mencintai Viona" cibir Andra.
Mereka terus saja mengobrol dan minum hingga pukul 01.00 dini hari mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tiba di kamarnua Erik tak melihat keberadaan Viona, biasanya jam segini Viona sudah terlelap di atas ranjang empuk miliknya. Namun malam ini Erik tak melihat keberadaan istrinya di rumahnya.
Erik langsung menepis pemikirannya, dia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Erik mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower.
*
*
Dua hari berlalu, pagi hari di kediaman Dinata sedang melakukan sarapan sama di ruang makan.
Drrrtttt drrttt
David mengambil ponselnya, ia lihat di layar tertera nama Riko asistennya yang menghubunginya. David mengangkat panggilan dari asistennya.
"Hallo tuan, perusahaan kita dalam masalah besar, pagi ini harga saham kita turun drastis" ucap Riko dari sebrang telpon.
Sebelum David menanyakan sesuatu, asistennya malah lebih dulu mengatakan berita yang mengejutkan.
David mengeryit, mencoba mencerna ucapan asistennya itu. "Jangan becanda kamu Riko" kesal David.
"Saya sedang tidak bercanda tuan, anda bisa mengecek sendiri info harga saham perusahaan kita pagi ini. Perusahaan kita bisa di nyatakan bangkrut tuan" ucap Riko serius.
"Bagaimana ini bisa terjadi hah, kamu cari tahu penyebabnya sekarang juga" perintah David.
"Saya sudah mencari tahu penyebabnya tuan, tapi saya tak menemukan sesuatu yang menguntungkan untuk kita" jawab Riko.
"Aku akan segera ke kantor sekarang juga" ucap David lalu memutuskan panggilanya.
David mengambil jas nya lalu langsung berlari menuju ke mobilnya.
Bersambung
Happy reading guys🙏