Baby Girl

Baby Girl
BAB 101



"Ada apa kalian datang malam-malam begini" tanya Arsen mulai memecah kecanggungan yang ada di ruangan itu.


Brugh


Tiba-tiba David berlutut di hadapan Alisya dan juga Arsen sambil menangkupkan kedua tanganya di depan dada.


"Tujuan kami datang kemari ingin meminta maaf kepada nak Alisya dan juga keluarga tuan Arsen, maafkan semua kesalahan orang tua ini nak, selama ini keluarga saya sudah terlalu banyak menyakiti hati kalian. Dan kini saya baru sadar kalau tak selamanya harta lebih penting dari sebuah keluarga. Kini tuhan sudah menegur saya....ayah saya meninggal, istri saya gila, putra saya juga masuk penjara, bahkan calon cucu saya pun ikut menyusul buyutnya." pinta David menyesal sambil menunduk. air mata sudah mengembang di pelupuk matanya, sekuat tenaga dia mencoba menahannya akhirnya menetes juga.


Alisya bisa melihat bahu David yang bergetar menandakan kalau orang tua itu sedang menangis.


Alisya mendekati David kemudian memegang bahunya menyuruh David berdiri. "Jangan seperti ini tuan, bangunlah...saya bukan tuhan, saya hanya orang biasa yang juga mempunyai banyak salah, jika anda menyesali semuanya minta ampun lah pada tuhan. Kalau saya Insya Allah sudah memaafkan keluarga kalian" tutur Alisya lembut sambil menuntun David kembali duduk di sofa.


"Terima kasih nak terima kasih," ucap David sambil menangis tersedu-sedu.


Alisya mentapa kedua mata David seolah sedang mencari kebohongan namun dia tak menemukannya. Yang ada tatapan mata yang penuh penyesalan.


David yang dulu angkuh dan sombong, kini datang ke rumahnya dengan merendahkan diri meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Alisya cukup mengapresiasi tindakan David, karena tidak banyak orang yang sadar dengan kesalahannya meskipun dirinya sudah hancur. Tapi kini David dengan berani bersujud di bawah kakinya untuk meminta maaf.


Alisya sudah memaafkan keluarga mereka, namun Alisya butuh waktu untuk melupakan semua perlakuan keluarga Dinata kepada dirinya.


Kalau masalah Erik Alisya sudah tak mau mengingat lagi, dia sudah punya Arsen suaminya yang begitu tulus menerima dirinya dan juga putrinya, rasanya tidak etis jika dia sudah bersuami tapi masih mengingat kejadian itu. Mungkin dengan cara seperti itulah akhirnya tuhan mempertemukan dirinya dengan Arsen. Bukan berarti Alisya membenarkan kelakuan Erik namun balik lagi kalau semua ini takdir.


"Bolehkah saya memeluk Reva untuk pertama dan terakhir kalinya nak? Karena setelah ini saya akan tinggal di kampung, maaf jika saya banyak meminta" pinta David yang merasa tak enak hati.


Alisya mengambil nafas dalam, "Silahkan tuan, tapi jangan paksa anak saya jika dia tidak mau di peluk" ujar Alisya.


Arsen mengelus lengan Alisya memberikan kekuatan pada istrinya itu.


"Sayang, salim sama kakek nak" pinta Alisya kepada putrinya yang sedang asik mengelus elus perut Rani.


Reva menoleh ke arah mamanya sambil memicingkan matanya. "Kakek siapa mama, katana kakek Leva sudah meninggal" tanya Reva yang belum mengerti.


"Yang meninggal kakek Reva ayahnya mama , kalau yang ini ayahnya tante Rani sayang" ucap Alisya, dia sengaja tidak mau menyebut Erik karena pasti akan membuat putrinya bingung. Alisya akan memberi tahu tentang Erik kepada Reva tapi nanti, setelah umur putrinya cukup untuk bisa memahami permasalahan orang dewasa.


Reva mengangguk angguk seolah mengerti. "Oh...ayahnya onty Lani ya, baiklah" ucap Reva. Rani tersenyum sambil mengusap kepala Reva.


Dengan perlahan Reva turun dari sofa, lalu dia melangkahkan kaki kecilnya mendekati David yang tersenyum kepadanya.


Reva baru dua kali ini bertatap muka sama David, namun David tidak meninggalkan kesan buruk di mata Reva, makanya di tidak takut sama David.


Berbeda kalau Siska yang memintanya, pasti Reva akan takut.


"Sini kakek, katana mau di peluk Leva" ujar Reva sambil merentangkan kedua tangannya di hadapan David.


Semua nampak terharu dengan pertemuan antara kakek dan cucunya, meskipun Reva belum tahu namun cukup membuat David senang akhirnya bisa memeluk cucu kandungnya.


David menangis di bahu kecil Reva, Reva menepuk nepuk bahu kakenya sambil berkata. "Jangan nangis, kan Leva sudah peluk kakek banyak-banyak" ucap Reva seperti orang dewasa.


Arsen memutar jengah bola matanya melihat kelakuan putrinya yang sok menenangkan orang. Bahkan dia lupa tadi merengek karena kakinya sakit.


"Makasih sayang, sudah mau memeluk kakek, maafkan kakek baru bisa menemuimu" ucap David lalu melerai pelukannya.


Reva mengusap mata David yang masih mengeluarkan air mata. David terharu dengan sikap dewasa cucunya. Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya dulu.


"Jangan nangis, kalau kakek kangen Leva nanti kakek bisa datang kemali ke lumah na Leva" saran Reva.


David merasa terenyuh dengan kasih sayang di berikan cucunya kepadanya.


Semua yang di situ ikut meneteskan air matanya kecuali Arsen dan Gilang. Alisya bangga dengan putrinya.


"Sini peluk uyut nak" pinta Jasmine kepada Reva.


Reva mengalihkan pandangannya ke Jasmine dengan mata bulatnya seolah bertanya.


"Uyut ibunya kakek sayang" ucap Jasmine yang seolah tahu dengan tatapan Reva kepadanya.


Reva menoleh ke arah mamanya. "Kenapa sayang" tanya Alisya yang merasa di tatap putrinya.


"Leva pusing mama, ada kakek, oma, sekalang uyut....banyak sekali kelualgana Leva sekalang" keluh Reva membuat semua tergelak mendengarnya.


"Tidak usah pusing, itu uyutnya minta di peluk" sahut Arsen.


"Sebental papa, Leva kan sedang mikil" balas Reva.


"Mikir apaan? Otak secuil saja sok-sok an mikir" ledek Arsen.


Alisya merotasi malas bola matanya melihat perdebatan mereka, anak bapak jarang akur, akurnya kalau ada maunya saja.


"Tante Lani puna ayah, telus ayahna tante Lani kakek nya Leva?" tanya Reva, semua mengangguk. "Telus kakek puna mama, dan mamanya kakek itu uyut Leva begitu? " sambungya lagi.


Arsen dan Alisya menepuk dahinya, kenapa putrinya jadi lemot, dari tadi kemana saja, sedangkan yang lain terkekeh melihatnya.


"Terserah kamu lah nak, itu uyutnya nungguin minta di peluk" ujar arsen acuh.


"Maap, Levana lupa....Leva kulang minum ail putih ini, maka na lupa....hihihi" ucap Reva cekikikan.


Arsen mendengus kesal, ingin rasanya menggetok kepalanya. pasalnya dari tadi Arsen sudah mengingatkan.


"Oh uyut juga minta peluk Leva ya?, memang Leva itu cantik makanya banyak yang minta di peluk Leva" tanya Reva malah narsis memuji dirinya sendiri.


Rani menduselkan wajahnya ke dada Gilang untuk menahan meredam suara tawanya, sedangkan Arsen sudah melengoskan wajahnya.


Jasmine memeluk tubuh kecil Reva, dia merasakan desiran aneh yang mengalir di sel-sel darahnya.


"Terima kasih sayang, jadilah anak pintar dan nurut sama mama papa ya" ucap Jasmine memberika nasihat kepada Reva. Sambil melerai pelukannya.


Bersambung


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Gift🙏


Happy reading guys🙏❤