
Brakkk...
Gara-gara fokus melihat kakaknya yang nyungsep membuat Gavin tak memperhatikan jalan dan nabrak tong sampah.
"Huwaaa...mama" pekik Gavin.
"Ya Tuhan anakmu Pah," Alisya menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya nyungsep, mungkin inikah yang di namakan karma di bayar kontan.
Hahahhahah
Hahahhahaha
Hahahahahh
Triplet tertawa ngakak melihat kakak dan adinya nyungsep, mereka sampai memegangi perutnya yang terasa kram.
"Tolongin Gavin mah, sakit ini badanna Gavin gala-gala tong sampah nda ada otakna dasal, siapa yang suluh dia beldili di sini sih, sudah tahu ada olang mau lewat malah beldili di tengah-tengah, nablak kan jadina" bukannya nangis dia justu ngomelin tong sampahnya.
"Ngga usah marahin tong sampahnya, dari dulu tong sampah juga sudah ada di situ, kamunya aja tidak bisa di kasih tahu, di suruh merenung malah asik bermain. Ini namanya karma di bayar kontan, makanya kalau di kasih tahu mamah jangan ngeyel begini kan jadinya" ceramah Alisya sambil menbantu putranya yang tertimbun sampah, untung cuma sampah kering jadi tidak terlalu bau.
"Hilang deh gantengna Gavin gala-gala teltimbun sampah" keluh Gavin.
"Ganteng doang tapi suka ngeyel mana ada yang mau" sahut Alisya sambil membersihkan baju putranya yang kotor.
"Mama ini kulang update ya, bial begini masih ada yang mau sama Gavin, Dhea saja sudah klepek-klepek sama Gavin, tiap pagi Gavin di bawain loti bakal buatan calon meltua" ucap Gavin.
Alisya mengeraskan pukulannya di bokong Gavin, hingga membuat Gavin berteriak.
"Awww...mama kenapa pukul-pukul Gavin, ini namana kekelasan telhadap anak-anak" ucap Gavin ngasal.
"Bersihin sendiri, mama males dari tadi kamu ngomong mulu" ucap Alisya meninggalkan Gavin dan menghampiri Reva.
Alisya takut Reva mengalami lecet, apalagi sebentar lagi mau menikah.
"Bagaimana pah, ada yang lecet tidak" tanya Alisya.
"Ada mah kaki sama tanganya lecet" sahut Arsen sedang membersihkan luka Reva.
"Kamu ini sebentar lagi mau menikah kak, kenapa kelakuan kamu sama kek Gavin sih, heran mamah" omel Alisya.
"Reva gabut mah, diam di teras doang mana seru" sahut Reva yang memang tak bisa diam.
Dia diam kalau sedang sakit aja.
"Tapi kamu sebentar lagi menikah bagaimana tadi kalau seluruh mukamu penuh luka, bisa-bisa Reynand tidak mau menikahimu lagi, karena melihat wajahmu burik"
Membuat Reva mendelik menatap mamanya, bisa-bisanya bilang burik, percuma punya dua ayah yang kaya kalau berobat ke dokter kulit saja tidak bisa.
"Mana ada burik, papa sama papi kan kaya, tinggal operasi plastik apa susahnya duit banyak ini jangan di bikin ribet mah" seloroh Reva sama ngeselinnya kek Gavin.
Ingin rasanya Alisya memukul kepala pitrinya tapi takut di marahi suaminya, suaminya paling tak suka kalau sampai Alisya main tangan sama anak-anaknya.
Alisya memilih masuk kedalam rumah daripada nolongin anaknya yang malah membuatnya darah tinggi.
"Lihatkan mamah mu marah, kamu sih bikin ulah terus, sudah besar bukannya kasih tahu adiknya malah di ajak main bareng".
"Iya iya papa maaf, sudah jangan di marahin terus Revanya" ucap Reva sambil mengerucutkan bibirnya.
Byurrrrr.....
Tiba-tiba suara orang masuk ke kolam.
"Kak Leva sini, ayo kita nangkap ikan nanti kita bakal" ucap Gavin dengan mengeraskan suaranya.
Reva tertarik dengan ajakan adiknya, bahkan Ravin juga sudah ikut nyebur kekolam
"Papa, Reva sudah sembuh mau susul Gavin" ucap Reva langsung berlari ikut masuk kedalam kolam ikan.
Arsen hanya bisa mengelus dadanya sabar, ia jadi tahu kenapa istrinya sering uring-uringan, lha wong anaknya sengklek semua.
...****************...
Keesokan hari Reynand di kantor sedang membuka tiap map yang ada di hadapannya, sambil memainkan kursinya untuk mengusir rasa bosannya.
Reynand seperti teringat sesuatu sampai akhirnya menghentikan pekerjaannya.
"Rob, keruanganku sekarang" perintah Reynand melalui panggilan telponnya.
"Baik tuan" sahut Robby dari sebrang telpon.
Reynand mematikan panggilannya dan memutar kursinya menatap kearah luar jendela.
Tak lama Robby masuk kedalam ruangan Reynand.
"Kau sudah datang Rob" ucap Reynand masih tetap di posisinya membelakangi Robby.
"Iya tuan, ada apa tuan menyuruh saya kesini" sahut Robby bertanya kepada tuannya.
Biasanya ada hal penting kalau dirinya di panggil langsung ke ruangannya.
"Batalkan semua kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan tuan Julian" tegas Reynand sambil membalikkan kursinya menghadap Robby.
"Tapi tuan, kalau di batalkan nanti kita harus bayar pinalti tuan" ucap Robby.
"Berapa yang harus kita bayar" tanya Reynand.
"Hampir 20 milliar tuan" sahut Robby.
"Bayar saja, uang segitu tidak akan membuatku bangkrut" ucap Reynand jumawa.
"Bukankah nanti kreadibilitas perusahaan kita akan di pertanyakan tuan, apalagi kita membatalkan kerjasama perusahaan kita tanpa sebab yang jelas" ucap Robby.
Reynand memikirkan ucapan Robby, ada benarnya juga dengan ucapan Robby.
Akan terlihat tidak profesional jika dia mencampuradukan pekerjaan dengan urusan pribadi.
"Kalau begitu kamu cari kesalahan perusahaan tuan Julian agar kita mempunyai alasan untuk membatalkan kersamanya dengan mereka.
"Karena saya tidak suka bekerjasama dengan anak tuan Julian yang sudah berani mempermalukan calon istri saya di tempat umum" lanjutnya.
Robby mengambil nafas lalu menghembuskannya, lagi-lagi tentang cinta.
"Baiklah tuan, nanti saya akan mencoba cari celah agar bisa membatalkan kerjasamaanya dengan tuan Julian" ucap Robby.
"Kabari aku secepatnya Rob, karena aku sudah tak mau berurusan lagi dengan mereka" tegas Reynand.
Robby pun mengangguk patuh.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏