Baby Girl

Baby Girl
BAB 124



Setelah pamit pergi ke dokter kandungan Renata dan Reagan kembali ke kamar Alisya dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya, mereka terlihat bahagia.


Belinda yang penasaran pun akhirnya menanyakannya. "Kenapa kalian senyum-senyum seperti itu?" tanya Belinda penasaran.


"Tentu saja aunty, karena ternyata usahaku tiap malam tidak sia-sia, kini sebentar lagi Rey akan memiliki adik" Jawab Reagan dengan wajah berbinar.


Belinda melongo tak percaya, tuhan begitu baik kepada dirinya, dia di beri banyak cucu di usianya yang sudah tak muda lagi. Ia sangat bersyukur bisa melihat cucu-cucu nya hadir ke dunia.


"Iya aunty, kini Renata sedang mengandung adiknya Reynand" sahut Renata ikut meyakinkan.


"Oh my...Selamat sayang" ucap Belinda sambil memeluk Renata.


Sedangkan kedua bocil sedang berbisik entah apa yang di obrolkan.


"Ley, kamu sebental lagi mau puna adik itu, nanti adikmu tukelan sama adik Leva aja gimana, bial adikna Leva wajahnya nda kembal" tawar Reva berbisik


"Kan tadi nda di bolehin sama papa kamu" sahut Reynand.


Arsen geleng-geleng kepala, ternyata putrinya masih berusaha, setelah tadi tidak di bolehkan untuk memberikan adiknya, kini menawarkan untuk di tukar, sungguh anaknya mempunyai otak yang ajaib bukan.


"Selamat kak, akhirnya kamu hamil juga..semoga lancar sampai lahiran" ucap Alisya kepada Renata.


"Makasih Al" sahut Renata tersenyum senang.


Setelah itu Reagan mengajak keluarganya pulang, dia harus menjaga istrinya supaya tidak capek, karena kehamilan di trisemester pertama masih sangat rawan untuk keguguran.


"Reva, Rey pulang dulu ya, nanti kalau adik bayinya sudah pulang kabarin Rey" pamit Reynand sambil memeluk Reva. Membuat Arsen mencebikkan bibirnya.


"Iya nanti Leva kabalin" jawab Reva. Sambil melerai pelukannya.


Reagan membawa keluarganya beranjak dari rumah sakit. Triplet semuanya menangis karena lapar.


Oekk...oek..oekkk


Oekkk..oekkk....oekkk


Oekkk...oekkk...oekkk.


"Bawa kesini satu honey, biar aku susuin dulu" pinta Alisya.


Arsen mengangkat putri bungsunya, lalu memberikan kepada Alisya, Revan dan Ravin terus menangis menunggu giliran untuk di susui.


Arsen mencoba menenangkan kedua putranya namun tak kunjung berhenti menangis, sedangkan Belinda sedang menyiapkan keperluan mandi Reva, karena sejak pagi gadis kecil itu tidak mau mandi.


"Ini kenapa lame amat ya, kan Leva sudah bilang kasih Ley satu bial nda pusing" gerutu Reva berjalan mendekati adik nya yang berada di box. Reva menyingkirkan Arsen dari sisi ranjang.


"Jangan belisik, kalian itu cowok jadi jangan cengeng. Sabal...nanti juga di kasih susu sama mama, sekalang bialkan adik kalian yang nyusu lebih dulu" omel Reva sambil menepuk nepuk bokong kedua adiknya pelan.


Seolah mengerti akhirnya kedua bayi itu berhenti menangis tapi masih sesegukan.


"Bagus, jangan menangis lagi, nanti kak Leva malahin kalian beldua kalau membuat mama susah." tegas Reva.


Arsen menggaruk kepalanya yang tak gatal, Arsen merasa wibawanya jatuh di hadapan sang putri, kedua putranya itu sepertinya lebih takut sama kakaknya ketimbang dirinya.


"Papa payah, menenangkan meleka saja nda bisa" cibir Reva sambil berjalan ke arah kamar mandi.


karena kesal Arsen lebih memilih mendekati istrinya.


"Baby, kenapa anakmu semuanya ngeselin" adunya sambil memainkan tangan putri kecilnya.


"Mereka juga anakmu honey, jika kau lupa" ketus Alisya.


"Princess papa, nanti harus nurut sama papa jangan seperti kakak kalian," tutur Arsen. Bayi cantik itu menatap wajah papanya sambil menyusu.


......................


Malam hari setelah pulang dari kantor Viona mengajak Erik untuk menjenguk Alisya di rumah sakit, Viona merasa tak enak hati jika tidak datang menjenguknya.


"Memangnya Alisya kenapa sayang" tanya Erik yang memang belum tahu kabar Alisya melahirkan.


"Alisya baru saja melahirkan hubby, tadi Arsen juga mengabari kalau kita di suruh bawa Reva dulu, karena Arsen takut jika Reva kelamaan di rumah sakit nanti akan membuatnya sakit" jelas Viona.


"Yasudah, kalau begitu kita berangkat sekarang," Ajak Erik antusias, dia sangat ingin tidur bareng dengan putrinya itu, terlebih Reva yang cerewet membuat rumahnya yang sepi akan menjadi ramai.


Erik menginjak pedal gasnya, perlahan mobil mulai melaju meninggalkan area perkantoran menuju ke rumah sakit tempat dimana Alisya di rawat.


Sampai di rumah sakit Erik langsung memarkirkan mobilnya. kemudian dia turun dari mobil di susul Viona istrinya.


Mereka berdua masuk kedalam rumah sakit sambil bergandengan tangan menuju ke kamar rawat Alisya.


Tiba di depan kamar rawat Alisya Erik langsung membuka pintu ruangan tersebut.


Ceklek...


Terdengar suara pintu terbuka membuat perhatian Alisya dan Arsen teralihkan.


"Malam Al, maaf baru sempat datang sekarang" sapa Viona.


"Masuk Vi, tak masalah...aku tahu kesibukanmu" sahut Alisya.


Alisya masih sedikit menjaga jarak dengan Erik untuk menghargai perasaan Arsen. Bagaimanapun juga di antara dan Erik ada Reva, dan untuk menghargai pasangan masing-masing juga makanya Alisya sedikit menjaga jarak. Kalau masalah Reva, Arsen sendiri yang akan berdiskusi langsung denagn Erik.


Viona masuk kedalam lalu memakai handsanitaizer untuk membersihkan tangannya dari kuman, setelah itu ia mendekati box bayi yang ada di sebelah Alisya.


"Wow, mereka cantik dan tampan Al" ucap Viona takjub.


Sedangkan Arsen dan Erik sedang duduk si sofa sambil mengobrol tentang bisnis, kalau Reva sedang sibuk nonton video di ipad.


"Sayang, malam ini kamu ikut papi Erik pulang ya" ucap Arsen kepada Reva.


Reva mengangkat wajahnya menatap papanya.


"Kenapa halus ikut papi Elik, papa sudah nda mau lawat Leva lagi ya" tanya Reva sambil mengerutkan keningnya.


Arsen menghela nafas sabar, putrinya emang selalu menguji kesabarannya.


"Untuk sementara kamu tidur dulu di rumah papi Erik sampai mama pulang ke rumah baru nanti papa jemput. Kamu anak kecil tidak boleh terlalu sering berada di rumah sakit, nanti kamu bisa sakit, kamu juga tidak boleh bolos sekolah lagi" terang Arsen.


"Bilang dong dali tadi papa" sahut Reva mematikan ipadnya.


Ingin rasanya Arsen menguyel nguyel pipi putrinya gemas.


"Ayo papi, kita pulang" ajak Reva sambil mengambil tas kecilnya.


"Hah, kamu mau pulang sekarang? Kan papi Erik baru sampai" kaget Arsen kenapa putrinya itu semangat sekali.


"Selba salah Leva" gumam nya lemas sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Erik terkekeh melihat tingkah putrinya.


Erik melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Ternyata waktu sudah mulai menunjukkan pukul 8 malam.


"Yasudah kita pulang, biar tak kemalaman" ajak Erik.


"Tapi kita nginep di lumah Onty Lani ya papi, Leva mau main sama adek Bala" pinta Reva.


"Iya sayang, kebetulan kakek juga sedang menginap di sana" ujar Erik.


Reva turun dari sofa, pamit sama papa dan mamanya serta omanya.


Bersambung


Happy reading guys🙏