Baby Girl

Baby Girl
BAB 134



"Om Nino, Leva mau es klim, tapi om Nino gendong leva ya...Leva sudah capek beljalan" pinta Reva dengan wajah imutnya.


Nino langsung menggendong anak bosnya itu, dan membawanya ke kedai es krim.


"Kamu mau tidak?" tawar Nino kepada Dewi.


"Hah? Iya aku mau" jawa Dewi gugup.


"Jangan kebanyakan melamun nona," ucap Nino dengan senyum mengejek.


Nino pergi memesan es krim untuk mereka, sedangkan Dewi dan Reva menunggu di bangku yang tengah di sediakan oleh kedai tersebut.


Nino menghampiri mereka sambil membawa dua cup es krim di tangannya.


"Ini sayang" ucap Nino memberikannya kepada Reva dan juga Dewi.


"Kenapa hanya dua? Punyamu mana?" tanya Dewi.


"Tidak, buat kalian saja, aku tidak terlalu suka es krim" jawab Nino sambil tersenyum manis menatap Dewi.


"Uang om Nino habis ya, makana om Nino cuma beli buat Leva sama onty Dewi saja" ceplos Reva.


"Bahkan om Nino bisa membeli kedai ini untukmu sayang" ucap Nino sombong.


"Jangan sombong, nanti di kutuk tuhan balu tahu lasa" sinis Reva dengan mulut belepotan karena es krim.


Nino mengusap bibir Reva yang belepotan menggunakan tissu.


Dia melihat ke arah Dewi dan melihat sudut bibir Dewi yang terkena es krim. Nino memajukan badannya.


Deg


Mata Nino bersiterobos dengan mata Dewi, sejenak mereka saling tatap.


Nino tersadar, Lalu mengelap sudut bibir Dewi yang terkena es krim dengan menggunakan ibu jarinya. Dewi bergeming dengan wajah yang merona, dia menunduk karena malu.


"Maaf, aku hanya membersihkan bibirmu yang terkena noda es krim" ucap Nino seraya memundurkan tubuhnya.


"Tak apa" ketus Dewi memalingkan wajahnya.


Sungguh jantung Dewi berdetak lebih kencang dari biasanya, dia merasa hatinya jedag jedug akibat ulah Nino.


Sebelumnya Dewi belum pernah berdekatan dengan pria sampai sedekat itu.


"kenapa wajah onty Dewi melah" tanya Reva polos yang sejak tadi memperhatikan wajah Dewi.


"Tidak, Onty hanya kepanasan saja" kilah Dewi seraya mengipasin wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Kan kita sudah makan es klim, jadi kita sudah nda kepanasan lagi onty" ucap Reva.


"Diam kamu Reva" kesal Dewi.


Pasalnya dia malu, kalau sampai Nino tahu wajahnya memerah karena ulah pria itu, pria yang baru beberapa kali bertemu tapi sudah membuat hatinya jedag jedug.


"Yeee...Leva kan cuma nanya, kenapa onty malah sama Leva" sungut Reva.


Terukir senyum di bibir Nino karena melihat wajah salting Dewi.


Dewi menghela nafas panjang, sungguh gadis kecil ini tidak tahu situasinya. Dia mati-matian menyembunyikan wajahnya dari Nino, sedangkan Reva justru membongkarnya.


"Om Nino, tolong telponin papi Elik ya, suluh jemput Leva di sini" bisik Reva di telinga Nino.


"Memangnya kenapa, Reva tidak mau pulang sama om Nino?" lirih Nino sambil mengerutkan dahinya.


"Tugas Leva sudah selesai om, sekalang gililan Om Nino yang deketin onty Dewi sendili, ini hali libul jadi Leva halus ke lumah papi Elik," ucap Reva sok sibuk


"Baiklah, om Nino akan mengirim pesan ke papi mu" balas Nino.


"Jangan lupa mainan untuk Leva om, Leva sudah belhasil ajak onty Dewi" ucap Reva mengingatkan Nino.


"Iya, nanti om Nino belikan" sahut Nino pasrah.


Nino menghela nafas sabar, ternyata gadis kecil iti tak melupakan janjinya yang ia ucapkan dulu.


Nino merogoh saku celanannya, lalu mengambil ponsel untuk mengirim pesan kepada Erik.


Dia memberi tahu Erik kalau putrinya minta di jemput di taman hiburan.


...----------------...


Suara klakson dari mobil Erik yang baru saja tiba di taman hiburan.


"Onty pulang sama om Nino saja ya, Leva mau pelgi sama papi Elik" ucap Reva seraya berpamitan sama Dewi.


"Dasar tidak bertanggung jawab, tadi ajak onty main, sekarang malah onty di tinggal" gerutu Dewi.


"Bukan begitu Onty, tapi ini kan hali libul, biasanya kalau hali libul Leva seling pelgi sama papi Elik" ucap Reva jujut.


Ya memang benar, tiap weekend Reva akan di bawa Erik dan Viona untuk jalan-jalan, atau sekedar menginap di rumahnya.


Dan semua itu di jadikan alasan oleh Reva, untuk memberikan waktu kepada Nino dan Dewi supaya lebih dekat lagi.


"Dahhh onty, om Nino" pamit Reva sambil melambaikan tangan dari kaca jendela mobil.


"Dah sayang, hati-hati" sahut Nino.


Mobil yang di kendarai Erik mulai menjauh, dan pergi meninggalkan Dewi dan juga Nino.


Reva duduk di kursi penumpang di pangku oleh Viona, sedangkan Erik duduk tepat di belakang kursi kemudi. Erik lagi malas nyetir jadi dia membawa sopir.


"Kamu tumben pergi sama on Nino sayang" tanya Erik sambil mengusap pipi Reva.


"Leva habis menjalankan misi papi" jawab Reva.


"Misi apa?" tanya Erik dan Viona penasaran.


"Misi peljodohan antala onty Dewi dengan om Nino, hihihihi" jawab Reva tertawa kecil.


Viona dan Erik di buat melongo oleh gadis kecil itu, bagaimana mungkin anak kecil tahu tentang perjodohan, bahkan dia seperti agen biro jodoh.


"Kamu ngerti perjodohan itu dari siapa hmm" tanya Erik.


"Memangnya peljodohan itu apa" tanya Reva polos.


Erik menepuk keningnya. Bukankah tadi dia sedang menjalankan misi dengan Nino, terus kenapa sekarang malah tanya perjodohan itu apa, sungguh membangongkan.


"Memangnya siapa yang bilang perjodohan? Kamu jangan ngadi-ngadi ya sayang," tanya Erik mulai pusing dengan perkembangan putrinya.


"Kan kemalin om Nino minta bantuan Leva, suluh Leva ajak onty Dewi jalan-jalan. Telus Leva bilang sama Ley, telus kata Ley itu namanya peljodohan" terang Reva.


*Flasback On*


"Ley, kamu besok mau ikut Leva jalan-jalan sama om Nino nda?" tanya Reva ketika sedang bermain bersama Reynand.


"Ngapain pergi sama om Nino" tanya Reynand memicingkan matanya.


"Om Nino minta tolong Leva suluh ajak onty Dewi jalan-jalan, katanya bial bisa deketin onty Dewi" jelas Reva.


"Kamu mau jodohin Om Nino sama Onty Dewi" tanya Reynand lagi.


"Leva nda ngelti" sahut Reva.


Reynand menghela nafas jengah, saudara sekaligus teman sekolahnya itu masih terlalu polos untuk hal seperti itu.


Berbeda dengan Reynand yang suka ikut nimbrung dengan para pekerjanya di rumah yang umurnya jauh di atasnya, jadi dia tahu istilah-istilah orang dewasa, yang jarang anak kecil tahu.


Terlebih Reynand termasuk anak yang kritis, jadi dia tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawabannya.


*Flasback Off*


"Lama-lama papi bukain kantor biro jodoh buat kamu" kesal Erik.


"Nanti Leva dapat uang ya kalau di buat kantol" tanya Reva.


Sinyal dia cepat kalau urusan uang.


hahahhahaha


Viona tertawa melihat wajah frustasi suaminya.


Bersambung.


Jangan lupa, like, koment, vote🙏