
"Mama Reva sudah pulang sayang, sekarang lagi istirahat di kamar" ucap Belinda sambil mengusap lembut rambut Reva.
"Kapan Alisya pulang bund" bukan Reva yang menjawab melainkan Arsen.
"Tenapa mama Leva cudah pulang" ceplos Reva seolah tak suka melihat mama nya yang pulang terlalu cepat.
Arsen dan Belinda tercengang dan saling menatap.
"Hai, putri mama kenapa tak suka melihat mamanya pulang" ucap Alisya yang tiba-tiba dari atas tangga. Reva menutup mulutnya karena keceplosan.
"Jawab mama sayang" kesal Alisya.
"Talau mama pulang, pacti mama atan najak Leva pulang, Leva nda mau pulang mama Leva mau di cini tidul cama papa" jawab Reva sambil menatap mamanya.
Reva masih ingin bermanja dengan Arsen yang ia anggap sebagai papa barunya, Reva masih ingin tidur bersama Arsen.
Alisya mengerutkan dahinya bingung, memangnya siapa papa yang di maksud putrinya itu.
"Papa siapa sayang" tanya Alisya lembut. Ia tahu putrinya terkadang kangen dengan sosok ayah yang selama ini tak pernah ia ketahui.
"Papa Alsen mama, cekalang Leva puna papa balu. Papa Leva taya ma puna lumah becal, mobilna banak, dan tantolnya badus" jawab Reva antusias. Alisya menepuk keningnya sedangkan Belinda dan Arsen terkekeh mendengar celotehan Reva.
"Kenapa putriku jadi matre begini sih" keluh Alisya
Belinda dan Alisya beralih menatap Arsen karena ucapan Reva, Belinda juga baru tahu kalau Reva memanggil Arsen dengan sebutan papa.
Arsen yang di tatap oleh Alisya dan Belinda pun menelan ludahnya kasar, Arsen mencoba menjelaskannya. Mereka menatap Arsen seperti seorang tersangka saja.
"Bukan aku yang menyuruh Reva memanggilku papa Al, dia sendiri yang memanggilku papa ketika bangun tidur" ucap Arsen menjelaskan semuanya, ia tak mau di tuduh sudah memaksa Reva.
"Apa benar begitu sayang" tanya Belinda kepada Reva. Reva mengangguk seolah mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Memangna Leva nda boleh panggil om Alsen papa?" tanya Reva yang takut mamanya marah.
"Boleh sayang, yang penting om Arsen nya tak keberatan" ucap Alisya sambil memeluk putrinya, sebenarnya hatinya merasa teriris dengan kepolosan putrinya yang sangat mendambakan sosok Ayah.
"Papa Arsen tak keberatan sayang, papa sangat menyayangi Reva putri papa" ucap Arsen lembut seraya mengusap kepala Reva.
"Tidurlah di sini nak, mungkin Reva masih kangen dengan papa nya, baru kemarin dia merasakan tidur di pelukan papanya" ucap Belinda mengelus bahu Alisya.
Alisya melerai pelukannya serasa mengusap pipi lembut Reva seraya mengangguk menjawab ucapan Belinda.
"Sekarang Reva ikut mama dulu ya, sudah sore Reva harus mandi" ajak Alisya.
"Tapi tita nda jadi pulang tan ma" ucap Reva yang memang tidak mau di ajak pulang.
"Iya sayang, kita akan menginap di rumah oma" sahut Alisya penuh sayang.
Alisya bersyukur putrinya di terima baik oleh keluarga Arsen, karena kebaikan Arsen lah akhirnya putrinya bisa merasakan mempunyai sosok ayah di sampingnya.
"Leva mau mandi cama oma caja ma" ucap Reva yang seolah mengerti memberikan ruang untuk Arsen dan juga Alisya.
"Kenapa ngga mau sama mama sayang" tanya Alisya dengan wajah cemberut.
"Mama capek balu pulang telja, iya tan pa" ucap Reva. Alisya terharu dengan kedewasaan putrinya.
"Iya sayang" ucap Arsen tersenyum.
"Ayo sekarang mandi sama oma" ajak Belinda.
"Let's go..." ucap Reva sambil menggandeng tangan Belinda.
Arsen dan Alisya menggeleng melihat tingkah putrinha yang super aktif.
"Terima kasih sudah mau menyayangi Reva, dan sudah mau memberi Reva kesempatan untuk merasakan mempunyai ayah" ucap Alisya kepada Arsen.
"Kau selalu saja berterima kasih baby, aku sudah menganggap Reva sebagai putriku sendiri, jadi jangan sungkan aku tak suka jika kau terus merasa tak enak seperti ini" ucap Arsen seraya membawa Alisya duduk di sofa.
"Maaf, kamu pasti lelah dua hari ini sudah mengasuh Reva yang super aktif itu" ucap Alisya yang terus mengusap kepala Arsen.
"Tak masalah, dia menyenangkan meskipun terkadang membuat ulah dengan Reynand" sahut Arsen terkekeh mengingat tingkah Reynand dan Reva yang selalu rusuh jika bertemu.
"Apa dia menyulitkanmu" tanya Alisya, terkadang putrinya itu suka meminta yang aneh-aneh.
"Tidak, dia anak yang manis tapi terkadang dia suka berdebat denganku" sahut Arsen sambil wajahnya mendongak menatap Alisya seraya tangannya memainkan rambut panjang Alisya. Alisya terkekeh, dirinya juga sering berdebat dengan putrinya.
"Baru aku tinggal dua hari dia sudah menjadi matre" kesal Alisya.
"Biarin saja, memangnya kita bekerja untuk siapa kalau bukan untuk anak-anak kita" sahut Arsen seraya menaik turunkan alisnya menggoda Alisya. Wajah Alisya langsung merona.
Alisya yang malu langsung menutup wajah Arsen dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Arsen tertawa terbahak-bahak yang tadi sempat melihat wajah Alisya yang memerah
"Baby, aku dapat kabar dari Nino katanya Erik lusa akan bertunangan dengan Viona" ucap Arsen yang ingin melihat reaksi Alisya yang sudah menjauhkan tangan nya dari wajah Arsen.
"Biarin saja, toh aku tak pernah mengharapkannya" jawab Alisya dengan santai. Arsen merasa lega karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
"Baby besok kita ngdate yuk, kita diner berdua biarin saja Reva sama bunda" ajak Arsen.
"Hmmm" gumam Alisya dengan wajah merona, dia belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya, jadi dia tak tahu perasaannya dengan Arsen bagaimana, Alsiya hanya merasakan nyaman jika di dekat Arsen.
Arsen yang bahagia pun langsung menduselkan wajahnya di perut Alisya. Arsen menggesek gesekan hidungnya di perut Alisya, membuat Alisya terpekik karena geli.
"Geli arsen, hentikan" pekik Alisya seraya memukuli bahu Arsen. Sedangkan dua tangan Arsen sudah memeluk pinggang Alisya.
"Arsen lepas!, hahaahha" teriak Alisya sambil tertawa lepas karena Arsen menggelitiki tubuhnya.
Reva yang baru datang pun langsung menyerang Arsen, ia tak terima melihat mamanya di gelitiki Arsen.
"Lasakan ini, papa cudah gelitikin mama" ucap Reva sambil memukuli punggung Arsen dengan tangan mungilnya.
Arsen membalikan tubuhnya lalu mengangkat tubuh Reva, ia menggelitiki Reva juga.
"Mama celang papa ma, bantuin Leva mama" pekik Reva tak jelas meminta bantuan pada mama untuk lepas dari rengkuhan Arsen.
Mereka bertiga tertawa lepas dan saling menyerang satu sama lain, Arsen memeluk tubuh Alisya dan Reva sekaligus seperti guling, posisi Alisya sudah rebahan di sofa karena ulah arsen, beruntung sofa di ruangan itu cukup lebar, jadi muat untuk mereka bertiga.
"Papa Leva na ke gencet ini" Teriak Reva yang berada di tengah-tengah antara Arsen dan Alisya.
Arsen melonggarkan pelukanya.
"Kalian curang, papa di keroyok" protes Arsen tak terima dirinya di keroyok oleh dua kesayangannya.
"Ayo putul papa ma, bial tahu lasa" ucap Reva yang terus memukuli Arsen menggunakan bantal.
Belinda tersenyum melihat mereka bertiga yang bercanda dengan tertawa lepas.
"Semoga kalian selalu bahagia nak, bunda sayang kalian" batin Belinda.
Setelah kematian suaminya beberapa tahun yang lalu, Arsen menjadi pribadi yang tertutup, ia begitu terpukul kehilangan papanya. Selama ini memang orang tua Arsen lah yang menutup identitas Arsen dari publik, karena papa Arsen tak mau putra semata wayangnya itu menjadi target kejahatan para rivalnya.
Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Follow🙏💕