Baby Girl

Baby Girl
BAB 136



Erik dan Viona mengantarkan Reva pulang ke rumah Arsen, Erik tidak membawanya menginap bersamanya.


Dengan keadaan istrinya yang sering mengalami morning sickness Erik khawatir kalau nanti putrinya tidak ada yang mengurusnya.


"Kenapa kamu pulang sama papi Erik? Memangnya om Nino kemana?" tanya Arsen ketika melihat putrinya masuk bersama Erik dan juga Viona.


"Om Nino sedang pacalan sama onty Dewi, upssss" jawab Reva keceplosan sambil menutup mulutnya.


Arsen memicingkan matanya. Putrinya itu keceplosan.


"Jangan aneh Ar, Reva baru saja menyelesaikan misi menjodohkan Nino sama sahabat Alisya." terang Erik yang melihat wajah bingung Arsen.


"Hah, bagaimana bisa" kaget Arsen


Erik hanyak mengendikkan bahunya tanda tak mengerti.


"Jadi ini alasan kamu pergi sama om Nino hmm, kamu ingin membuat Onty Dewi dan om Nino dekat, begitu" ucap Alisya yang baru saja datang setelah menidurkan triplet.


"Om Nino minta tolong sama Leva suluh ajak onty Dewi jalan-jalan ma. Kan kata mama kita halus saling tolong menolong, jadi Leva tolong om Nino bial dekat sama onty Dewi." jawab Reva ngeles.


Alisya menghela nafas sabar.


"Sudah sayang, biarin saja....toh tak ada salahnya bukan kalau Nino jalan sama Dewi, kasihan juga mereka kerja mulu" ucap Arsen menenangkan kekhawatiran istrinya itu. Alisya mengangguk kecil.


Karena hari sudah mulai gelap, Viona dan Erik pamit undur diri dari kediaman Arsen.


Seharian ini istrinya sudah terlalu lama berada di luar rumah, Erik takut istrinya kecapekan. Makanya dia memutuskan untuk pulang, supaya istrinya cepat istirahat.


Sedangkan di tempat lain, Karena sudah hampir malam, Nino mengantarkan Dewi pulang, berhubung Dewi tidak membawa mobil jadi Nino tak lagi mengantarkan Dewi ke restoran, tapi langsung pulang ke rumahnya.


Tadi setelah dari taman hiburan, Nino mengajak Dewi pergi ke mall untuk membeli mainan untuk Reva, dan sekalian mengajak Dewi makan.


Nino menawarkan Dewi untuk belanja, tapi wanita itu menolaknya, Nino semakin kagum dengan sosok Dewi.


Jarang wanita menolak saat di tawarkan untuk berbelanja, apa lagi belanja barang baranded.


Mobil Nino terparkir di depan rumah yang terlihat sederhana, rumah minimalis di lengkapi dengan taman di depanya membuat suasana terasa adem dan asri, sehingga membuat penghuninya pasti merasa betah, banyak bunga beragam jenis yang tertanam di pot yang berjajar rapi di taman tersebut.


"Terima kasih No" ucap Dewi.


"Sama-sama. Senang bisa dekat denganmu, aku berharap nanti kita bisa bertemu dan menghabiskan waktu berdua lagi" balas Nino.


Dewi mengangguk, dia juga nyaman berteman denagn Nino yang baik dan sopan.


"Kalau begitu aku keluar dulu, kamu berhati-hatilah" pamit Dewi.


Nino mengangguk sambil tersenyum manis menatap Dewi yang keluar dari mobilnya.


Nino tak ingin terburu-buru, biarkan Dewi merasa nyaman dulu dengan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1 tahun kemudian.


Waktu berjalan begitu cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan.


Reva sudah masuk kelas satu sekolah dasar.


Sedangkan triplet sudah berusia satu tahun, mereka sudah bisa merangkak dan berjalan meskipun belum begitu lancar.


Alisya tidak jadi mengambil baby sitter, dia lebih memilih pelayan yang ada di rumah sesekali untuk membantu mengurus triplet. Karena Alisya lebih mempercayakan lutra putrinya pada pelayan di rumah ketimbang orang baru yang baru ia kenal.


Sedangkan masalah Nessa, Arsen tak mau ambil pusing, selain di jarang ke kantor, ketika ke kantor pun Arsen membatasi interaksinya dengan Nessa, terlebih ada putrinya yang selalu mengawasinya.


Kenapa Arsen tidak memecat Nessa?, karena Nessa selalu bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik, jadi tidak ada alasan bagi Arsen untuk memecat Nessa, Arsen juga tak mau mencampur adukan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi.


Sedangkan Viona sudah melahirkan seorang putra yang mereka beri nama Ethan Putra Dinata yang kini sudah berusia 3 bulan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Reva yang sedang fokus mengerjakan PR tak memperhatikan adiknya.


Dia merasa curiga ketika merasa sepi, tidak ada suara adiknya yang berceloteh, Reva menoleh dia melihat ketiga adiknya sudah menjauh dari ruang tv.


"Hei, belhenti kalian semua" teriak Reva, namun tidak di hiraukan ketiga adiknya.


"Lavin, Levan, Lachel kalian mau kemana.... Ya ampun kepala Leva pusing kalau begini" pekik Reva sambil memegangi kepalanya.


Reva beranjak dari duduknya, dan mengejar adiknya.


Ravin sudah masuk ke bawah kolong meja, Revan ingin naik ke atas meja meraih mainanya, Sedangkan si cantik Rachel sudah merangkak menuju ke arah dapur.


"Lavin, kelual kamu dali kolong cepat" tegas Reva sambil meraih baju adiknya lau menariknya keluar dari kolong meja.


Dengan susah payah Reva membawa Ravin kembali ke ruang keluarga, Reva mendudukan Ravin di karpet lalu mengikat kaki Ravin dengan kain seadanya. Setelah itu dia menyalakan tv supaya adiknya itu diam.


Reva gemas dengan adiknya yang malah tertawa kesenengan.


Reva kembali mencari kedua adiknya.


"Mama....Levan nya mau naik katas meja ini," teriak Reva sambil menahan tubuh adiknya dengan cara memeluknya dari belakang. Tapi Alisya tidak mendengar teriakan putrinya.


Kebetulan Alisya sedang ada di kamarnya untuk mandi, makanya dia menitipkan ketiga anaknya itu kepada putri sulungnya, sedangkan Arsen masih sibuk di ruang kerjanya yang kedap suara, jadi dia tidak mendengar kekacauan putra putrinya.


"Bibi...tolong bantu Leva bi," teriak Reva memanggil pelayannya.


"Iya Nona," ucap bibi yang lari tergopoh gopoh dari arah dapur.


"Cepat bi bantu Leva bawa Levan ke luang tv," ucap Reva.


Pelayan menggendong badan gembul Revan dan membawanya ke ruang tv. Sampai di ruang tv si bibi di buat melongo melihat Ravin yang anteng menonton tv sambil memakan biskuit yang tadi di kasih Reva dengan kaki terikat.


"Dudukan Levan di sebelah Lavin bi" titah Reva.


Bibi pun menurut, menurunkan Revan dari gendonganya dan mendudukan Revan di sebelah Ravin.


Reva kembali mengikat kaki Revan, dan memberikan satu biskuit kepadanya.


"Sekalang bibi bantu Leva cali Lachel bi" pinta Reva sambil menyeka keringatnya yang memenuhi dahinya.


Sedangkan sang bibi hanya menurut dan memperhatikan nona mudanya.


Mereka berdua berjalan ke arah kulkas yang ada di dapur, terlihat makanan sudah di keluarkan dari kulkas dan sudah berserakan di lantai, bahkan adiknya itu berusaha masuk ke dalam kulkas.


"Bi lihat, kenapa adik Leva semua nya nakal bi, meleka tidak bisa di atul" keluh Reva.


Sang bibi menahan tawanya melihat wajah frustasi Reva karena tingkah adik-adiknya.


Reva mendekati Rachel, lalu menarik kerah baju adiknya.


"Belhenti Lachel, kamu bisa jadi es kalau masuk ke dalam kulkas tau tidak, kamu ini pelempuan kenapa nakal sekali sih" ucap Reva panjang lebar mengomeli adiknya itu. Rachel hanya nyengir sambil memperlihatkan dua giginya.


Reva tidak sadar kalau dirinya juga perempuan dan nakal juga.


Bersambung


Revanya masih mau di bikin cadel atau tidak nih guys?


Jawab di kolom koment ya🙏


Happy reading guys🙏


Hari ini akan crazy up