
"Kenapa Gavin jadi om kecil?" tanya Gavin yang tak paham dengan ucapan kakaknya.
"Karena saat ini di perut kak Reva ada dedek bayinya, jadi sebentar lagi Gavin bakal di panggil om kecil oleh dedek bayinya" jelas Reva, entah bocah kecil itu paham atau tidak.
"Kenapa nda panggil kakak aja, kenapa halus panggil om? Gavin masih kecil nda mau di panggil om, ntal olang-olang mengila kalau Gavin sudah tua" protes Gavin.
"Tidak bisa Gav, memang sudah seharusnya seperti itu, jadi kamu ngga usah banyak protes" ucap Reva tak ingin di bantah.
Gavin mencebikkan bibirnjya kesal, dia membuang wajahnya kesamping karena tak ingin melihat wajah kakaknya yang menjengkelkan.
"Telselah kak Leva aja, ntal kalau dedek bayina panggil Gavin om, Gavin ngga mau nengok" ucap Gavin sambil memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu nanti kamu di katai budeg sama orang" sahut Reva.
"Bialin aja, olang lain ini yang bilang, kalau teman na Gavin kan udah tahu kalau Gavin bisa dengal" seru Gavin.
Sekarang giliran Reva yang kesal dengan adiknya yang terus menjawab ucapannya.
"Sudah sayang, cuma panggilan saja kamu permasalahin, lagian bayinnya juga belum lahir kan" tegur Reynand yang sudah jengah mendengar perdebatan mereka berdua.
"Itu dengal kata suamina, dedek bayina belum lahil aja udah libet" timpal Gavin dengan tampang mengejek.
Reva diam dengan mengetatkan rahangnya karena kesal dengan adiknya, coba saja kalau tidak ada suaminya, pasti dia akan membalas adiknya.
"Jangan malah-malah, nanti cepat tua" ejek Gavin langsung lari menghindari amukan kakaknya.
"GAVIN" teriak Reva yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
Semua orang tua yang ada di situ menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik kakak itu, sebentar kompak sebentar musuhan.
"Tarik nafas sayang, lalu hembuskan sayang" ucap Reynand membantu istrinya menetralkan emosinya.
Reva pun dengan patuh mengikuti instruksi suaminya, dia menarik nafas dalam-dalam setelah itu dia hembuskan lewat mulut.
"Sudah" tanya Reynand sambil mengusap usap bahu istrinya.
"Sudah honey" sahut Reva yang merasa emosinya sudah lumayan berkurang.
"Anak itu selalu saja membuatku emosi" gerutu Reva.
"Namanya juga anak kecil, kamu yang besar harusnya ngalah" ucap Reynand lembut.
"Iya-iya" cebik Reva.
Para orang tua hanya memperhatikan Reynand yang sedang menenangkan istrinya.
"Reva kamu tinggal di rumah ini aja ya, biar nanti kamu ada yang ngurusin kamu saat hamil" pinta Arsen.
"Maksud kamu apa? memangnya kalau di rumahku tidak ada yang mengurusnya, bahkan istriku saja selalu di rumah menemani Reva" sahut Reagan tersinggung dengan ucapan Arsen.
Sepupunya itu kalau ngomong suka asal, bahkan bila perlu dia akan menyewa 10 perawat sekaligus untuk mengurus menantunya itu.
"Tapi akan lebih nyaman kalau dengan orang tua sendiri" ucap Arsen beralasan.
"Reva, memangnya selama ini kamu merasa tidak nyaman tinggal di rumah Daddy" tanya Reagan langsung kepada menantunya.
"Hah? Reva nyaman-nyaman aja tinggal di rumah Daddy, kan di rumah daddy ada suami Reva, jadi sudah sewajarnya Reva tinggal bersama suami Reva, dad" jawab Reva.
Jawaban Reva membuat Arsen kesal, putrinya itu tidak tahu apa kalau dirinya bicara seperti itu karena ingin sang putri tinggal kembali di rumahnya seperti dulu, tak masalah kalai Reynand ikut tinggal di rumahnya, yanh penting bagi Arsen putrinya itu tetap tinggal di rumahnya.
"Tuh dengerin, tidak ada yang tidak nyaman di sini, bilang saja kamu ingin Reva tinggal di rumahmu" ucap Reagan.
"Dia putriku, sudah pasti aku menginginkannya tinggal di sini" ketus Arsen sebal.
Di sekolah Triplet, saat Revan ingin pergi ke perpustakaan tak sengaja dia menabrak seseorng.
Brughh...
Karena tak melihat, Revan secara tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berjalan dari arah berlawanan, sehingga menyebabkan buku yang wanita pegang itu jatuh berserakan di lantai.
"Akhhh.... " pekik wanita itu kaget.
Wanita itu berjongkok sambil memunguti bukunya yang berserakan di lantai.
"Maaf, aku tak sengaja" ucap Revan seraya berjongkok sambil membantu wanita tersebut memunguti bukunya.
Wanita itu menegakkan wajahnya, hingga dia kaget karena melihat wajah orang yang menabraknya.
"Kamu.." ucap Bunga terkejut, orang yang di tabrak oleh Revan ternyata Bunga, wanita yang beberapa hari yang lalu sering ia temui di rumah sakit karena menolong seorang nenek korban tabrak lari.
"Kamu sekolah di sini juga" tanya Revan yang baru tahu kalau ternyata mereka berdua berasal dari sekolah yang sama.
Sebelumny Revan tak begitu memperhatikan seragam sekolah yang di pakai Bunga waktu itu.
Revan memang dasarnya cuek, jadi dia tidak begitu peduli di sekitarnya, dia hanya peduli pada dirinya sendiri.
"Iya, saya anak IPS" jawab Bunga.
"Pantas saja aku tak pernah melihatmu, ternyata kita beda kelas. Aku anak IPA" ucap Revan dengan wajah datarnya.
"Sekali lagi aku minta maaf karena sudah menabrakmu" imbuhnya.
"Iya, kalau begitu aku ke kelas dulu" sahut Bunga dan pamit kepada Revan.
Kemudian mereka berdua berpisah menuju ke arah yang berbeda.
"Aku tak menyangka ternyata satu sekolahan dengannya, tapi sayang wajahnya selalu datar dan jarang tersenyum," gumam Bunga sambil berjalan menuju ke kelasnya.
Dari pertama kali Bunga bertemu dengan Revan dia jarang sekali melihat Revan tersenyum apalagi tertawa.
"Tapi sayang sekali padahal dia tampan, coba saja kalau dia sering tersenyum pasti kadar ketampanannya akan bertambah" lanjutnya lagi.
"Haisss.... kenapa otakku terus berpikir tentangnya, memang apa peduliku? mau dia tersenyum atau tidak itu bukan urusanku" ucap Bungan sambil memukul mukul kepalanya supaya berhenti memikirkan Revan.
"Lo kenapa mukuli kepala lo sendiri dah" ucap teman Bunga bingung melihat tingkah Bungan yang menurutnya aneh.
"Tadi gue melihat cowok ganteng, dan kepalaku tak mau berhenti memikirkannya" jujur Bunga sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apa Bungaku ini mulai naksir dengan pria hmm" goda teman Bunga.
"Jangan terus meledekku, aku hanya mengagumi wajah tampannya saja tidak lebih" sahut Bunga kesal karena di ledek temannya.
Selama ini Bunga tidak pernah membicarakan tentang pria manapun kepada teman-temannya, jadi saat Bunga berbicara tentang pria temannya langsung menggodanya.
Banyak yang menyukai Bunga, namun gadis itu selalu mengabaikan lelaki yang mendekatinya, karena orang tuanya melarang dia berpacaran sebelum menyelesaikan pendidikannya.
Alasan Bunga selalu menolak banyak pria karena dia ingin fokus sekolah bukan pacaran, dia selalu berkata seperti itu kepada semua pria yang mendekatinya.
Meskipun sudah membuatnya kecewa, namun para pria itu tidak ada yang marah atau benci sama Bunga.
Bersambung.
Banyakin vote, like, dan koment guys 🙏
Kalau banyak besok othor bakal crazy up 🙏💕