
Keesokan harinya pemuda tampan yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah sedang duduk di kursi kebesarannya sedang mengerjakan berkas berkasnya, ia terlihat begitu serius membuka berkasnya satu persatu.
Hingga akhirnya Nino memasuki ruangan Arsen sambil membawa sebuah undangan di tangannya.
Arsen pun bertanya kepada Nino "Kau membawa apa No" tanya Arsen.
"Undangan pernikahan tuan, dari perusahaan Dinata" jawab Nino seraya menyodorkan undangan tersebut kepada Arsen
Arsen menerimanya dengan senyum sinis di bibirnya "Ck, akhirnya menikah juga mereka" decak Arsen. Sambil membaca undangan tersebut.
"Aku yang akan menghadiri acara itu dengan istriku No" ucap Arsen
Arsen akan membawa Alisya ke acara itu sebelum akhirnya dia sendiri yang akan mengumumkannya ke publik di acara ulang tahun perusahaan nanti..
"No tolong belikan aku rujak, pempek, batagor, cilok,cimol, jus belimbing, terus sama kue cubit" pinta Arsen.
Nino melongo mendengar permintaan bos nya. "Serius tuan? Tuan akan makan makanan seperti itu" tanya Nino ragu.
"Jangan banyak tanya, beliin saja kenapa sih" kesal Arsen. Nino pun mengangguk patuh.
"Ck, sebenarnya anak yang di kandung nyonya Alisya itu tahu ngga sih kalau bapaknya sultan, kenapa ngidamnya malah makanan pinggir jalan" dumal Nino sambil berjalan keluar dari ruangan Arsen.
Sambil menunggu Nino, Arsen memutuskan melakukan panggilan video kepada istrinya sekalian ingin memberitahukan kalau nanti malam akan mengajaknya ke acara pernikahan Erik.
Panggilan pun tersambung, terlihat wajah Alisya memenuhi layar ponsel milik Arsen.
"Baby, kamu lagi ngapain" sapa Arsen lembut.
"Aku lagi baca novel honey" jawab Alisya sambil menunjukkan bukunya.
"Baby, nanti malam aku akan mengajakmu pergi ke acara pernikahan Erik dengan Viona" ucap Arsen
Alisya mengerutkan dahinya "Kenapa mengajakku? Bukankah kamu paling tidak suka kalau aku bertemu dengan keluarga Dinata" tanya Alisya.
"Sementara biarkan publik tahu kalau aku suamimu baby, meskipun mereka tidak tahu kalau aku pemilik Global Group yang selama ini bersembunyi" ujarnya.
Alisya menghela nafas, sebenarnya dia malas bertemu dengan keluarga itu, tapi yang di ucapkan suaminya itu ada benarnya juga..tidak mungkin dia akan merahasiakan pernikahannya.
"Tapi aku belum mempunyai gaun untuk acara nanti malam honey" keluh Alisya manja membuat Arsen gemas.
"Nanti aku akan menyuruh orang butik bunda untuk membawakanmu beberapa gaun ke rumah" ucap Arsen lembut.
Alisya tersenyum senang mendengarnya, suaminya itu selalu mengerti tentangnya.
Alisya juga selalu terpesona dengan suara lembut Arsen kepadanya, suaminya itu tidak pernah membentaknya atau memarahinya dengan nada kasar atau keras.
Alisya bersyukur mempunyai suami seperti Arsen yang bisa menerimanya dengan tulus dan tak pernah mengungkit masa lalunya.
Ceklek...pintu ruangan Arsen terbuka, terlihat Nino membawa beberapa kantong kresek yang berisi makanan yang Arsen inginkan.
Nino bisa melihat kalau bos nya itu sedang melakukan panggilan kepada istrinya
"Ini tuan pesanannya" ucap Nino sambil meletakkan semua keresek yang di bawanya ke atas meja kerja Arsen. Setelah itu Nino pergi begitu saja, membuat Arsen berdecak kesal.
"Honey, itu apa yang barusan Nino bawa" tanya Alisya penasaran.
Arsen tersenyum sambil mengeluarkan seluruh makanan nya dari kantong hitam tersebut. "Lihat Baby, makanan ku banyak bukan" ucap Arsen memamerkan nya kepada istrinya.
Alisya melongo melihatnya "Kamu yakin akan makan sebanyak itu honey" tanya Alisya menelan ludahnya.
"Iya baby, aku sangat lapar...jadi aku akan memakan semuanya" ucap Arsen nyengir kuda.
Alisya geleng-geleng kepala melihat nafsu makan suaminya "Haiss...Nanti perutmu akan bulat bukan kotak-kotak lagi honey" kesal Alisya.
"Tak masalah, aku bisa membentuknya lagi nanti" goda Arsen menaik turunkan alisnya.
*
*
*
Hari sudah mulai petang, Arsen tiba di rumah langsung mencari keberadaan istrinya.
"Baby" panggil Arsen seraya menaiki tangga.
"Papa belisik" tegur Reva yang kebetulan sedang lewat bermain dengan kucingnya.
Arsen cengengesan menghampiri putrinya "Mama dimana sayang" tanya Arsen sambil mengusap surai panjang Reva.
"Mama tadi ada di kamalna papa" jawab Reva yang masih menggendong molly.
"Lanjutkan mainnya sayang, papa mau nemuin mama dulu" ucap Arsen di balas anggukan oleh Reva.
Arsen bejalan menuju kamarnya. Arsen membuka pintu kamarnya, dia langsung terperangah melihat pemandangan di depannya.
Arsen melihat Alisya yang sudah berdandan cantik menggunakan dress panjang warna abu tanpa lengan. Arsen bisa melihat perubahan tubuh istrinya yang makin hari makin berisi.
"Baby.....kamu cantik sekali" puji Arsen menghampiri istrinya yang sedang berdiri di depan kaca.
Alisya menoleh lalu merentangkan kedua tangannya, Arsen yang paham pun langsung memeluknya. "Aku kangen honey, kamu meninggalkanku seharian ini" lirih Alisya tepat di telinga Arsen.
Arsen mengecupi bahu terbuka istrinya "aku hanya pergi bekerja baby" sahut Arsen melerai pelukannya.
Arsen mengamati penampilan istrinya dari unjung kaki hingga ujung kepala, sungguh dia tak rela membawa istrinya ke hadapan publik, karena malam ini istrinya terlihat cantik dan semakin seksi karena kehamilannya.
Arsen menghela nafas panjang."Baby ganti sepatumu, pakai yang flat saja ya..aku takut nanti kamu jatuh kalau kamu memakai sepatu yang terlalu tinggi" pinta Arsen lembut sambil mengelus pipi istrinya.
Alisya pun menurut, selagi itu untuk kebaikan dirinya dan juga kandungannya Alisya akan menurutinya.
Arsen mengajak Alisya keluar kamar sambil merangkul pinggang istrinya.
Dengan hati-hati Arsen menggandeng tangan istrinya sambil menuruni tangga.
"Bunda Alisya sama Arsen mau pergi dulu, Alisya nitip Reva ya bund" pamit Alisya ketika melihat mertuanya sedang menemani putrinya bermain.
"Iya sayang, jangan khawatir bunda akan menjaga Reva" ucap Belinda tulus. Di balas senyuman oleh Alisya.
"Sayang mama mau pergi dulu sama papa, Reva di rumah sama oma ya" pamit Alisya "ingat, Reva tak boleh menyusahkan oma"
"Pelgi beldua telus, Leva na nda di ajak" protes Reva.
Arsen tersenyum mendekati putrinya "Nanti kalau libur papa ajak beli mainan ya" ucap Arsen sambil mencium puncak kepala putrinya.
"Iya papa, tapi nda boleh bohong lagi, tayak kemalin katana mau ajak Leva naik pecawat tapi nda jadi" ujarnya.
"Iya papa janji sayang, naik pesawatnya nanti kalau sekarang mama masih belum bisa naik pesawat sayang" Arsen memberi pengertian kepada putrinya yang semakin hari semakin kritis. Reva mengangguk patuh.
Arsen dan Alisya pergi meninggalkan putrinya yang sedang bermain, mereka memang sengaja tak mengajak Reva, karena khawatir akan pulang larut.
Arsen membukakan pintu untuk istrinya, setelah itu dia berjalan memutari mobil, setelah itu dia masuk di jok belakang di belakang pengemudi.
**Bersambung
Happy reading guys🙏**