Baby Girl

Baby Girl
BAB 50



"Alisya, malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, jadilah pendamping hidupku.


Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini aku butuh banyak waktu mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada tuhan untuk menentukan pilihanku yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku. Sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali kali pula jawabanku tetap sama yaitu kamu.


Alisya Alghifari maukah kamu menjadi ibu dari anak-anak ku, dan mau kah kamu menua bersamaku?. Alisya, will you marry me?." ucap Arsen sambil berlutut di depan Alisya selayaknya melamar seorang wanita.


Jantung Arsen berdebar menunggu jawaban dari Alisya, tapi Arsen sudah menyiapkan hatinya jika Alisya menolaknya.


Sedang mata Alisya sudah berkaca-kaca ia tak menyangka Arsen akan melamarnya secepat ini.


"Yes i will" jawab Alisya. Arsen sangat bahagia mendengar jawaban Alisya, ia langsung mengambil cincin dari saku jas nya lalu memasangkan nya ke jari Alisya begitu juga sebaliknya.


Arsen berdiri lalu memeluk Alisya dengan begitu erat.


"Aku mencintaimu baby, aku sangat-sangat mencintaimu" Arsen mengungkapkan isi hatinya. Arsen melerai pelukannya kemudian men*ium bi bir Alisya, Arsen mengalungkan kedua tangan Alisya ke lehernya.


Dari arah pintu terdengar beberapa langkah orang yang mendekat.


"Khemmmm" dehem Belinda sambil menutup mata Reva, mata Reynand sudah di tutup oleh Reagan.


Arsen langsung melepaskan tautan di bi bir Alisya. Dia menyengir kuda menatap bundanya, sedangkan Alisya jangan di tanya ingin rasanya Alisya terjun dari lantai tersebut tersebut hingga ke bawah.


"ini campai tapan mata Leva di tutup oma" protes Reva. Belinda langsung menyingkirkan tangannya dari mata Reva. Belinda mengampiri Arsen dan Alisya.


"Selamat nak, akhirnya usahamu tak sia-sia" ucap Belinda memeluk putra semata wayangnya.


Kemudian Belinda juga memeluk Alisya


"Terima kasih sayang, sudah mau menerima anak bunda" ucap Belinda.


Begitu juga Reagan dan juga istrinya memberi selamat kepada mereka berdua.


Alisya tak percaya jika dirinya akan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah seperti ini.


Tanpa mereka sadari Reva dan Reynand juga saling memeluk, entah apa yang di lakukan kedua bocah itu, ia hanya mengikuti semua orang yang memberikan selamat kepada Arsen dan juga mamanya.


Arsen yang melihat tingkah merekapun langsung menegurnya.


"Hai kalian kenapa berpelukan" tegur Arsen lalu menarik tubuh Reva supaya lepas dari pelukan Reynand, Arsen tak terima anak gadisnya di peluk-peluk.


"calah sendili ya Ley, meleka peluk-peluk tapi nda ajakin tita" jawab Reva yang dapat dukungan dari Reynand.


Mereka menepuk keningnya, karena baru teringat kalau mereka mengabaikan kedua bocah kecil itu.


"Tenapa talian peluk-peluk papa cama mama na Leva" tanya Reva, Renata sudah gemes ingin menguyel nguyel pipi Reva.


"Sudahlah, rusak sudah acara romantisnya" batin Arsen.


"Karena sebentar lagi papa akan menikah dengan mama sayang" jawab Arsen.


"Belalti Leva cebental ladhi mau puna dedek bayi " tanya Reva dengan mata berbinar.


"Reva harus banyak berdoa , supaya cepat mendapat dedek bayi" jawab Belinda sambil tersenyum mengusap pipi chuby Reva.


"Holeee... Leva mau puna adek Ley, cenang cekali pelacaan Leva, cudah puna papa taya cekalang mau puna dedek balu" sorak Reva seraya bergoyang goyang dengan Reynand.


"Kamu kenapa Mom" tanya Reagan yang melihat tangan istrinya sudah gregetan melihat tingkah Reva.


"Dad, bikin anak lagi yuk, aku ingin yang seperti Reva" ceplos Renata sambil melihat Reva dan Rey yang sedang asik berjoget.


Reagan membelalakan matanya, baru semalam istrinya itu protes ketika Reagan menginginkan anak lagi, katanya nunggu Reynand berumur lima tahun dulu, sekarang malah istrinya sendiri yang memintanya.


Arsen menepuk bahu Reagan seraya berkata "Sikat Re, sudah di kasih lampu hijau tuh" seloroh Arsen.


"Kamu saja dulu, kalau kamu berhasil baru aku akan membuatnya" sinis Reagan.


"Sialan, nikah saja belum sudah di suruh membuat anak" kesal Arsen, memang kakak sepupunya itu terkadang gak punya otak.


Arsen sengaja mengundang mereka ke acara makan malam nya, Arsen sekalian ingin menyuruh bundanya membahaa tentang pernikahannya dengan Alisya. Kini mereka makan malam bersama terlebih dahulu, setelah itu baru mereka akan menentukan tanggal pernikahan mereka.


"Ley, tamu mau minta hadiah dali Leva nda?" tanya Reva kepada sahabatnya. Sedangkan orang tua hanya mendengarkan obrolan mereka.


"Tenang caja Ley, Leva cekalang puna papa yang taya, jadi nanti Leva atan membelikan Ley hadian denan uang papa, hihihi" lirih Reva sambil cekikikan, Arsen menggelengkan kepalanya. Sedangkan Alisya sudah menduselkan wajahnya ke bahu Arsen karena malu dengan tingkah putrinya.


"Tapi tan Ley cedang nda ulang tahun. Tenapa di tacih hadiah" tanya Reynand.


"Ini acala Leva, talena puna papa balu" jawab Reva asal.


"Hei, kalian sedang membicarakan papa ya, kalau mau beli hadiah ya kerja jangan pakai uang papa" goda Arsen yang mendapat lemparan tisu dari bundanya.


"Jadi Leva nda bole minta uangna papa, talau beditu Leva atan nyuluh mama buat cali papa balu yang nda pelit sepelti papa" telak Reva yang membuat Arsen meradang mendengar ucapan Reva.


Sedangkan yang lain sudah tergelak melihat wajah sengsara Arsen.


"Ok, papa akan memberikan kamu uang nanti buat beli hadiah untuk Reynand" ucap Arsen sambil tersenyum masam. Lagi-lagi dirinya kalah dengan ancaman Reva.


Reva dan Reynand bertos ria, mereka tersenyum penuh kemenangan.


"Kau memiliki lawan yang sepadan Ar" ejek Regan. Arsen mendengus kesal.


"Sudah sekarang kita tentukan tanggal pernikahan kalian," ucap Belinda menghentikan mereka yang terus bercanda.


"Besok aja bund" jawab Arsen asal.


"Kamu ini yang serius kenapa sih Ar" kesal Belinda. Memang nya pernikahan itu tidak butuh persiapan, ini putranya dengan enteng nya jawab besok saja.


"Ya kan nikah KUA saja dulu, resepsinya nanti yang penting kan halal dulu kan baby" ucap Arsen meminta pendapat Alisya.


"Kau ini ada-ada saja, tak masalah sih Alisya mah bund. Resepsinya bisa menyusul, lagian Alisya tak mau perbikahan Alisya di ketahui publik terlebih dahulu" sahut Alisya.


"Iya bund, biar Arsen menyelesaikan masalah Alisya terlebih dahulu, Arsen juga belum mau identitas Arsen di ketahui publik" sahut Arsen mengeluarkan pendapatnya.


"Terserah kalian saja kalau begitu" serah Belinda. Ia tahu situasi yang sedang di hadapi mereka.


"Kalau begitu lusa saja kalian menikah" imbuhnya.


Semua sudah setuju dengan keputusan Belinda.


"Sayang boleh gak kalau Reva menginap di rumah kita saja" bisik Renata yang menginginkan Reva menginap.


"Hah, kau ini ada-ada saja mom, memangnya anaknya mau" sahut Reagan.


"Tenapa dan Onty bicik-bicik" tanya Reva yang dari tadi mengamati mereka.


"Reva mau gak ikut pulang bersama Rey" tawar Reagan.


"Tidak boleh!" sahut Arsen yang tak mengijinkan putrinya menginap di rumah Reynand.


"Satu malam saja Ar" pinta Renata dengan tatapan memohon.


"Tanya anaknya saja mbak, Alisya tak mau memaksa Reva untuk menginap di rumah mbak" Alisya menjawab terlebih dahulu sebelum Arsen menyahut.


"Reva mau gak tidur di rumah onty" tanya Renata kepada Reva. Reva menatap mamanya, Alisya yang seolah mengerti pun tersenyum seraya mengangguk tanda mengijinkan.


"Mau onty" jawab Reva antusias, dia langsung merangkul lengan Reynand.


"Baby, kenapa kamu mengijinkan Reva menginap di rumahnya" rengek Arsen.


"Biarin saja, kan cuma semalam" jawab Alisya. Menurut Alisya Reagan juga saudara Arsen jadi mereka tak mungkin mencelakai putrinya.


"Sayang Reva tak mau tidur sama papa saja hmm" rayu Arsen kepada Reva.


"No papa, malam ini Leva atan tidul cama Ley" tegas Reva. Membuat Arsen mendengus kesal


"Rey lagi Rey lagi, lama-lama aku buang Rey ke kutub utara" gerutu Arsen.


Bersambung


Happy reading guys🙏