
Sementara di mansion keluarga Davidson sedang berkumpul dan berbahagia karena mendengar kabar pernikahan Nino yang sebentar lagi akan di adakan.
Berbeda di rumah keluarga Nessa, baru saja tadi siang mereka pindah ke rumah kontrakan yang terlihat kecil dan sempit.
Rumah mereka di sita oleh bank untuk menutupi utangnya. Perusahaan nya bangkrut membuat mereka kehilangan harta bendanya.
"Pa, kapan kita akan menemui Alisya?, mama tidak betah hidup di kontrakan kecil seperti ini" tanya mama Nessa yang tak lain bernama Hera.
"Besok kita akan menemui Alisya ma, bila perlu kita langsung datang ke rumah suaminya yang kaya raya itu, siapa tahu mereka akan merasa iba kepada kita, lalu akan menolong kita keluar dari penderitaan ini" jawab papa Nessa percaya diri.
"Pa, bagimana kalau kita ke rumah Alisya sekarang aja, kita bisa numpang tidur sementara di sana. Di sini banyak nyamuk membuat Nessa tak bisa tidur" usul Nessa sambil merengek.
"Mama setuju sama ide Nessa pa, mama juga tidak bisa tidur di tempat sempit seperti ini" sahut Hera.
"Besok saja ma, takutnya kita malah akan mengganggu waktu istirahat mereka dan takutnya nanti mereka akan mengusir kita, ongkos naik taxi kesana lumayan mahal ma, jadi jangan sampai mereka kesana sia-sia dan tak membuahkan hasil apa-apa" terang papa Nessa.
Tanpa mereka sadari ada beberapa orang berpakaian serba hitam dan bertubuh tegap sedang mengintai di depan rumahnya. Mereka sedang menunggu komando dari tuannya.
Mereka adalah anak buah Max yang ia tugaskan untuk menculik Nessa dan juga kedua orang tuanya.
"Bagaimana? apa kalian sudah mendapatkan lokasinya" tanya Max dari sebrang earbuds kecil yang terpasang di salah satu telinga anak buahnya.
"Sudah tuan, mereka mengontrak di rumah padat penduduk, yang ada di pinggiran kota" jawab anak buah Max.
"Lakukan serapih mungkin, jangan sampai ketahuan warga sekitar" perintah Max.
"Baik tuan" sahut anak buah Max.
Setelah waktu menunjukkan pukul 01:00 dini hari. dan suasana di sekitar rumah Nessa juga sudah begitu sepi, mungkin semua warga sudah pada istirahat.
Empat orang bertubuh tegap keluar dari mobil, mereka mendekati rumah yang di tempati Nessa dan keluarganya.
Sedangkan yang satu lagi standby di mobil sambil mengamati situasi.
Klek
Dengan sekali congkel pintu rumah terbuka, mereka berempat mengendap endap masuk ke rumah. Mereka takut penghuni rumah terbangun, dan akan menggagalkan rencana mereka.
Mereka membagi tugas, tiga orang ke kamar orang tua Nessa, dan satu lagi ke kamar Nessa.
Klek
Pintu kamar Nessa terbuka.
Terlihat Nessa sedang tertidur pulas di kasur tipisnya. Mungkin karena lelah habis pindahan jadi Nessa tertidur pulas.
orang suruhan Max berjalan mendekati Nessa.
Tanpa aba-aba orang suruhan Max langsung membekap mulut Nessa dengan sapu tangan yang sudah ia kasih bius.
Kaki Nessa menendang-nendang dan mencoba memberontak, apalah daya dia kalah tenaga. setelah beberapa detik akhirnya Nessa diam dan pingsan.
Orang suruhan Max langsung mengangkat tubuh Nessa seperti karung beras. lalu ia membawa Nessa keluar dari rumahnya, dan memasukkannya ke mobil.
Terlihat tiga rekannya juga sudah keluar dari rumah kontrakan Nessa dan membawa serta kedua orang tua Nessa.
Mereka memasukkan Nessa serta orang tuanya ke dalam mobil. Anak buah Max mengikat tangan serta kaki mereka bertiga, dan tak lupa mereka juga menutup matanya, supaya kalau mereka sadar nanti, mereka tak bisa melihat jalan.
Karena mereka akan melewati perjalanan yang lumayan panjang, untuk tiba di lokasi pengasingan untuk mereka bertiga.
Tapi mereka sengaja memberikan dosis lebih, kemungkinan besar Nesaa dan orang tuanya tak akan sadar sampai ke lokasi.
Anak buah Max langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah kontrakan Nessa.
Padahal Arsen menyuruh Max membuang mereka ke desa yang ada di pedalaman, bukan ke hutan.
Tapi Max tak melakukan perintah bos nya, dia membawa Nessas serta orang tuanya ke sebuah hutan lebat, yang masih terdapat binatang buas di dalamnya, dan di tengah hutan tersebut ada sebuah gubuk yang biasa di pakai oleh Max dan anak buahnya berburu.
Gubuk tersebut terbuat dari bahan seadanya yang ada di hutan, dan lantainya juga masih menggunakan tanah.
Ada tiga kasur tipis yang sengaja Max siapkan untuk mereka tidur.
Max sengaja melakukan itu, supaya mereka tidak bisa kabur, kalau mereka mencoba kabur bisa saja mereka akan di mangsa oleh binatang buas. hutan tersebut juga jauh dari pemukiman warga, jadi mustahil kalau ada yang bisa menolong mereka.
...****************...
Menjelang pagi, suara riuh binatang membuat tidur Nessa terusik.
Nesaa merasa asing dengan suasana yang ia rasakan kali ini.
Nessa mulai membuka matanya yang masih terasa berat sambil merengangkan otot tubuhnya yang merasa pegal.
Setelah mata Nessa terbuka, ia mulai mengedarkan sekeliling, dia bingung lalu mengucek matanya, Nesaa menyakinkan diri kalau dirinya pasti mimpi, bagaimana mungkin rumah kontrakannya berubah jadi gubuk reot seperti sekarang.
"Ini dimana, kok seperti di hutan, banyak sekali suara aneka hewan di sini" batin Nessa.
Nessa menoleh kesamping, ia bangun dan mendudukan tubuhnya, Nessa mencoba membangunkan mamanya.
"Ma, bangun ma" panggil Nessa sambil menggoyangkan tubuh mamanya
Mama Nessa yang merasa terusik pun akhirnya membuka matanya.
"Ada apa kamu bangunin mama Nes? " tanya Hera.
"Coba mama lihat, sepertinya ini bukan rumah kontrakan kita ma" sahut Nessa.
Mama Nessa pun mengikuti ucapan putrinya itu. dia melihat sekeliling ruangan yang ia tempati saat ini.
Betapa kagetnya ia, ternyata ucapan putrinya benar, kalau dia berpindah tempat, tidak di rumah kontakannya lagi.
"Hah, bagaimana bisa" Hera terlonjak kaget sambil bangkit dari kasurnya.
"Ada apa ma, kenapa teriak-teriak" tanya ayah Nessa yang bernama Bondan. dia bangun karena mendengar teriakan istrinya.
"Sepertinya ada yang menculik kita pa, lihatlah ini bukan rumah kita" ucap Hera panik.
Bondan kaget dengan penuturan istrinya, dia mendudukan tubuhnya.
"Bagaimana bisa" pekik Bondan ketika melihat suasana rumah yang berbeda.
"Kalian tunggu di sini, papa akan keluar untuk mengeceknya" ucap Bondan seraya ingin bangkit dari duduknya.
"Jangan pa, nanti kalau papa kenapa-napa bagiaman" cegah Nessa seraya memegang tangan papanya.
"Tapi kalau tidak papa lihat, kita tidak akan tahu kita dimana" ucap Bonda sambil melepas tangan putrinya yang memeganginya.
Dengan berat hati Nessa pun akhirnya melepaskan tangan papanya.
Bondan memberanikan diri keluar dari gubuk tersebut.
Bersambung.
Maaf baru up, baru nulis setengah bab othornya ketiduran.
Happy reading guys🙏