
Di alam bawah sadar Brian, dia seperti melihat kekasihnya sedang bercinta dengan ayahnya, dia seolah mendengar suara de sahan mereka berdua memenuhi ruangannya.
Ingin rasanya Brian segera membuka matanya dan melihat sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam ruangannya ini, tapi semakin Brian berusaha semakin susah ia membuka matanya.
Matanya seolah lengket seperti ada lem di kedua matanya, hingga membuat matanya sulit untuk di buka.
Reno dan Listy selesai melakukan adengan iya iya hingga membuat mereka terkulai lemas di atas sofa dengan nafas terengah engah.
"Ternyata kau liar juga Listy" ucap Reno sambil memakai kemejanya kembali, sebelum ada dokter yang masuk kedalam ruangan Brian.
"Tapi om suka bukan, bukannya semakin liar akan semakin membuat om ber ga i rah" sahut Listy sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda Reno.
"Kau nakal sekali hmm" ucap Reno sambil me re mas kedua da da Listy, hingga membuat Listy terpekik.
"Awww...sakit om" protes Listy sambil menyingkirkan kedua tangan Reno dari dadanya.
Reno terkekeh melihat wajah cemberut Listy.
🌹🌹🌹🌹
Keesokan harinya, siang hari Reva sedang berada di kantornya sambil mengerjakan banyaknya berkas yang menggunung di hadapannya.
Hingga tak terasa ternyata ponselnya berbunyi, Reva melihat layar kaca ponselnya dan ternyata panggilan dari Reynand. Lalu Reva mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo honey" sapa Reva setelah terhubung.
"Sebentar lagi aku akan ke kantormu, kamu ingin aku bawakan apa sayang" sahut Reynand dari sebrang telpon.
"Bawakan aku chesse cake dan coffe latte hoeny, kepala ku rasanya mau pecah mengerjakan semua berkas ini" sahut Reva manja.
"Baiklah, aku akan membawakan pesananmu itu, nanti aku akan membantumu setelah aku sampai di kantormu" ucap Reynand.
"Ya begitu lebih baik, kau hati-hati di jalan honey" kata Reva setelah itu mematikan panggilannya.
Kedatangan Reynand kekantor membuat Reva sedikit terbantu, pasalnya Narendra terkadang suka membantu mengerjakan pekerjaan sang kekasih.
*
Ceklek...
Reynand masuk kedalam ruangan Reva sambil membawa kantong kresek yang berisi pesanan Reva, terlihat wanitanya sedang fokus menatap layar laptop, hingga dia tak menyadari kedatangan Reynnad ke ruangannya.
"Khemm" dehem Reynand.
Reva mengangkat wajahnya karena mendengar suara lain di dalam ruangannya.
"Honey, kau sudah datang" ucap Reva.
"Dan kau melupakanku" sahut Reynand merajuk.
Reyanand terkekeh mendengar keluhan kekasihnya itu, Reva pintar tapi dari dulu paling malas kalau di suruh duduk diam di satu ruangan sambil membaca. hal tersebut akan membuat dirinya gampang bosan dan pusing.
Padahal dia sudah pernah menolak bekerja di kantor Dinata, bahkan ia sudah bilang ke papanya agar meyerahkan perusahaan ke adik-adiknya saja.
Tapi papanya bilang kalau perusahaan Dinata sudah menjadi hak nya, sedangkan untuk adik-adiknya Arsen sudah menyiapkan sendiri di perusahaan Global Group.
"Jangan cemberut, ini aku sudah membawakan pesananmu" ucap Reynan sambil mendekati Reva yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Reva langsung menyambar kresek tersebut dari tangan Reynand.
"Tolong bantu aku mengerjakan berkas itu honey" pinta Reva seraya bangun dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju ke sofa yang ada di ruangannya.
Reynand di buat melongo dengan kelakuan kekasihnya itu, dia menyuruh dirinya mengerjakan pekerjaannya, sedangkan kekasihnya malah dengan santainya duduk di sofa sambil menikmati chesse cake dan juga coffe late yang baru saja di bawakan Reynand untuknya.
"Anak itu dari dulu selalu saja menyusahkan ku" gumam Reynand sambil duduk di kursi Reva, dia mulai mengambil alih pekerjaan Reva.
Sementara mereka larut dengan kesibukannya masing-masing, Tiba-tiba Arsen membuka pintu ruangan Reva dan masuk kedalam.
Kebetulan Arsen sedang berada di kantor Dinata.
"Kau di sini juga Rey" sapa Arsen kepada sang ponakan.
"Iya om" sahut Reyanand tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Arsen menoleh ke sofa, ia melihat putrinya sedang rebahan sambil memainkan ponselnya.
"Enak sekali kamu Reva, sementara Rey sibuk mengerjakan pekerjaanmu, kamu malah enak-enakan rebahan begitu. Apa kamu tidak takut kalau nanti Rey berkhianat lalu membocorkan rahasian perusahaan kita hah" ucap Arsen menyindir kelakuan putrinya lalu mengomeli putrinya.
"Biarin saja, Reva kan sudah pernah bilang sama papa, kalau Reva malas bekerja di perusahaan Pa, Reva mending bekerja di restoran mama, banyak makanan di sana, " sahut Reva sambil melihat ke arah sang papa, setelah itu Reva mengalihkan tatapannya melihat Reynand.
"Apa kau berani menghianatiku honey" tanya Reva kepada sang kekasih.
"Tentu saja tidak, mana berani aku menyakitimu...bahkan punya niatan saja aku tak berani, bodyguardmu terlalu banyak honey, aku tak sanggup melawannya" sahut Reynand.
"Lihatlah, papa dengar sendiri kan, kalau Rey tidak akan berani menghianati Reva pa, jadi papa tenang aja. Rey tak akan berani menghancurkan perusahaan kita" ucap Reva.
Ingin rasanya Arsen menggetok kepala pitrinya itu, mana ada orang mau menghianati di tanya ngaku, ada-ada aja kelakuan putrinya.
"Lalu siapa nanti yang akan memegang perusahaan ini" tanya Arsen sambil berjalan, lalu duduk di sofa single di hadapan sang putri.
"Papa kasih Ethan saja, bukankah Reva sama dia saudara pa. Lagian Reva tidak membutuhkan perusahaan Dinata lagi, karena calon suami Reva sudah kaya" ucap Reva jiwa matrenya keluar.
Arsen menghela nafas sabar, percuma saja dulu dia mengakuisisi perusahaan Dinata kalau ujungnya kembali lagi ke Erik.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏