
Malam hari pun tiba, semua keluarga sudah tiba di gedung pernikahan, gedung tersebut merupakan hotel mewah milik keluarga Reanand.
Karena Reagan kekeuh, dia ingin pernikahan Reva dan Reynand di langsungkan di hotel miliknya.
Oma Belinda datang ke kamar cucunya. Wanita tua itu menangkup wajah cantik cucunya dan mencium keningnya.
Reva merasa terharu dengan omanya yang begitu menyayanginya.
"Cucu oma sudah besar, oma selalu berdoa untuk Reva agar selalu bahagia, jadilah istri yang baik dan selalu berbakti kepada suami kamu sayang" ucap oma Belinda.
"Terima kasih oma" jawab Reva sambil tersenyum menatap sang oma.
"Sayang" panggil Alisya yang membuat keduanya menoleh ke arah Alisya.
Alisya berjalan mendekati putrinya, dia mencium pipi serta kening putrinya, inilah akhir tanggung jawabnya merawat sang putri kini dia menyerahkan tanggung jawabnya kepada Reynand yang sudah menjadi suami dari putrinya ini.
"Selamat sayang, mamah akan selalu menyayangimu, jaga diri kamu baik-baik dan menurutlah kepada suamimu, karena sekarang Reynand sudah menjadi suamimu, dewasa lah karena saat ini kamu sudah menjadi istri dan kelak kamu juga akan menjadi seorang ibu" ucap Alisya.
"Iya mamah" jawab Reva.
"Ayo kita harus ssgera keluar, kasihan Reynand sudah menunggu" ucap Oma Belinda.
Reva dan Alisya menoleh lalu menganggukkan kepalanya.
Alisya dan Oma Belinda membawa Reva keluar, dan ternyata Reynand sudah ada di depan menyambut kedatangan sang istri.
"Kamu cantik sekali sayang, kita tidak usah ke depan ya, di kamar aja" puji Reynand.
"Tidak bisa begitu, kalian berdua harus segera keluar, jangan buat tamu undangan terlalu lama menunggu kalian" timpal oma Belinda.
"Rey tidak rela semua orang menatap wajah cantik istri Rey oma" rengek Reynand.
Reynand tidak rela semua orang menatap kecantikan istrinya, terutama para lelaki hidung belang, makanya ia ingin mengurung istrinya dan menikmati kecantikan istrinya sendirian, dia tidak ingin berbagi dengan yang lain.
"Kalau begitu karungin saja istrimu itu, biar tidak bisa di lihat orang" ucap oma Belinda jengkel.
Akhirnya Reynand setuju membawa istrinya keluar ke Ballroom hotel.
"Ini Gavin suluh ngapain sama Aluna oma" tanya Gavin bingung.
"Nanti sambil jalan kalian berdua tabur-taburin bunganya" sahut oma Belinda.
"Hufff....nda ada keljaan lain apa, mengganggu waktu Gavin belduaan sama Aluna saja" gerutu Gavin sambil menerima keranjang bunga dari sang oma.
Akhirnya Gavin dan Aruna jalan di bagian paling depan, di bagian kedua ada sepasang pengantin, sedangkan di bagian belakang ada para orang tua dan sanak saudara.
Mereka semua berjalan memasuki area ballroom yang sudah di penuhi oleh tamu undangan, dan banyak wartawan yang datang ingin meliput pernikahan mereka berdua.
Untuk acara resepsi Arsen sengaja membukanya untuk publik, dia mengijinkan wartawan meliput acara pernikahan sang putri.
Semua berdecak kagum melihat kecantikan Reva dan ketampanan Reynand, bahkan banyak wartawan yang memotret wajah mereka berdua.
Arsen dan Reagan sengaja tidak menyembunyikan pernikahan anak-anaknya, agar semua orang tahu kalau Reva dan Reynand sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Reva kamu cantik sekali" puji orang tiba-tiba menghampiri Reva yang kini sudah berada di pelaminan.
"AQILA, akhirnya kamu pulang juga, kalau aku tidak menikah pasti kamu tidak akan pulang ketanah air, apa kamu sudah betah menjadi orang Belanda hah" pekik Reva dan mulutnya merepet mengomeli Aqila sahabat masa kecilnya dulu yang sering ia belikan air minum dari duit hasil ngutang dari Reynand.
Orang yang datang ternyata Aqila, sejak lulus sekolah dasar Aqila dan keluarganya pindah ke Belanda, tapi Aqila dan Reva masih sering berkomunikasi.
Setelah besar Reva dan Aqila hanya bertemu dua kali itu pun saat mereka berdua libur kuliah.
Dan siapa sangka, kini sahabatnya rela terbang ke tanah air untuk menghadiri acara pernikahannya dengan Reynand.
Kembali ke mereka berdua.
"Tentu saja aku akan datang, karena aku ingin melihat kalian berdua menikah".
"Bagaimana? Apakah Reynand sudah berhasil membobol gawang?" bisik Aqila di telinga Reva.
"Bobol gawang siapa? Kan Reynand tidak sedang bermain bola" ucap Reva bingung membuat Aqila menepuk keningnya.
"Kamu barbar tapi ternyata polos tentang hal-hal begituan" cetus Aqila.
Reynand yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua pun langsung meloyoti Aqila.
"Berhenti mencemari otak suci istriku Aqila" ucap Reynand membuat Aqila menoleh dan nyengir kuda.
"Aku turun dulu ya, takut lihat suamimu marah" bisik Aqila di telinga Reva.
Reva hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Honey, memang kamu mau cetak gol ke gawang siapa? Memang siapa yang jaga gawangnya" bisik Reva di telinga Reynand.
Reynand menghela nafas panjang, dia samping dia harus sabar, dia juga merasa senang ternyata istrinya masih polos.
"Nanti malam kamu juga akan tahu sayang" lirih Reynand di sambut anggukan oleh Reva.
Sedangkam di bawah panggung, keluarga Reva di buat riuh dengan kedatangan mantan bodyguardnya itu, Max datang bersama istri serta putra keduanya yang masih berusia 7th yang bernama Matthew.
Sedangkan anak pertama Max tidak ikut, dia lebih memilih berdiam diri di rumah, karena anak sulung Max tidak suka keramaian.
Bughh...
Melihat kedatangan Max, Arsen langsung meninju perut mantan bodyguard putrinya itu, ia kesal karena Max tidka hadir di acara ijab qabul putrinya.
"Uncle kenapa pukul perut daddy aku" tanya anak Max galak, dia tidak terima sang daddy di sakiti.
"Karena uncle kesal dengan daddymu itu" ketus Arsen.
"Tapi kan uncle tidak perlu pukul-pukul perut daddy, memangnya uncle mau kalau Matt pukul perut ucle" ucap Matthew.
Arsen menghembuskan nafas kasar menghadapi anak Max, berbeda dengan Max yang justru mengulum senyum karena mendapat pembelaan dari sang putra.
"Enak aja mau pukul-pukul papa Gavin, memangna kamu mau aku pukul Hah" ucap Gavin tiba-tiba tidak terima dengan ucapan Matthew yang mau memukup papanya.
"Pukul saja kalau kamu bisa, nanti yang ada aku akan membuatmu babak belur," tantang anak Max.
Semua anak Max di didik secara keras, tentu dia tidak takut dengan ucapan Gavin.
"Sudah sayang, salim dulu sama uncle Arsen" ucap Emma menghentikan putranya, bisa rusak acara kalau putranya mengamuk.
Matthew pun menurut, dia mencium punggung tangan Arsen.
Arsen mengajak Max dan keluarganya duduk bersama.
"Apa kamu plelak plelok, mau aku colok matana hah" ketus Gavin yang sejak tadi di tatap oleh Matthew.
"Ck, ternyata masih cadel" cibir Matthew.
Sedangkan di panggung pelaminan, ada seorang perempuan yang terlihat mencurigakan, wanita tersebut ikut mengantri untuk memberikan selamat kepada sang pengantin.
Kini antrian sudah semakin maju, dan perempuan tersebut juga semakin dekat dengan sang pengantin.
Tiba-tiba wanita itu menyerobot antrian dan lari ke arah Reva.
"AWAS AUNTY....." teriak Mattew sambil melemparkan gelas ketangan wanita tersebut.
PYARRR....
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏