
Pagi hari televisi di rumah Arsen menayangkan berita tentang terjadinya kecelakaan yang terjadi tadi malam di tempat yang sama kemarin Reva kecelakaan, kecelakaan tersebut melibatkan sebuah mobil marcedes benz s class dengan sebuah truk kecelakaan terjadi sekitar pukul 8 malam.
Salah satu penumpang di mobil Marcedes benz di nyatakan tewas, sedangkan dua lainnya luka-luka, sedangkan sang sopir truk selamat tidak ada luka sama sekali.
"Itu kan tempat kejadian kemarin kak Reva kecelakaan pa" cetus Ravin.
"Kenapa bisa begitu ya, apa di tempat itu ada hantunya makanya sering terjadi kecelakaan," sahut Arsen konyol. "kamu harus hati-hati kalau lewat jalan situ boy" lanjutnya meperingati putranya.
"Papa ini kayak kak Reva saja, masih percaya tahayul" ucap Ravin yang tak percaya hantu.
"Tapi hantu itu memang ada boy. Nanti kalau di kasih lihat nangis.. " kekeuh Arsen sambil mengejek putranya.
Tanpa mereka sadari Reva tersenyum tipis melihat berita tersebut.
"Bentar pa, sepertinya mama pernah lihat mobil itu" sahut Alisya sambil mencoba mengingat ingat mobil tersebut. Dia merasa tak asing dengan mobil yang mengalami kecelakaan itu.
"Mobil siapa ma, jangan bilang itu selingkuhan mama, syukur deh kalau gitu" timpal Arsen ngaco.
Plakkkk....
Alisya bahu suaminya, dia kesal mendengar tuduhan suaminya yang tak berdasar.
"Kamu ini kenapa sih pa, tadi hantu sekarang bilang selingkuhan, aneh-aneh aja pikirannya" gerutu Alisya.
Arsen hanya mengendikkan bahunya acuh, sebenarnya ia tak begitu peduli dengan berita kecelakaan yang ada di televisi.
Sementara mereka berdebat, televisi kembali memberitakan bahwa perusahaan Blue Star mengalami kebangkrutan dalam semalam.
Kali ini Arsen di buat kaget dengan berita tersebut. Ia berpikir perusahaan mana yang mampu membuat perusahaan bangkrut dalam semalam.
"Bagaimana bisa" gumam Arsen bertanya pada dirinya sendiri.
"Ada apa pa" tanya Alisya.
"Itu perusahaan keluarga Brian mam, kenapa bisa tiba-tiba bangkrut, setahu papa kemarin perusahaan itu masih stabil" jawab Arsen heran.
Arsen yang teringat sesuatu akhirnya mengalihkan pandangannya ke sang putri yang masih setia duduk di sofa sambil memainkan game candy crush yang ada di ponselnya.
"Apa ini semua ulahmu kak" tanya Arsen sambil menatap putrinya penuh selidik.
Reva menghentikan permainan gamenya lalu mengangkat wajahnya dan membalas tatapan papanya.
"Kenapa jadi Reva, bukankah dari semalam Reva sama kalian, bahkan Reva tidak melakukan apapun, Reva hanya bermain game sama Gavin" sanggah Reva dengan sikap tenangnya agar tak menimbulkan kecurigaan.
Arsen diam tak langsung percaya begitu saja, tak mungkin hanya kebetulan saja, pasti ada yang merencanakannya. Apalagi semuanya terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Tapi Arsen juga tidak bisa menuduh putrinya, apalagi Arsen tidak punya bukti sama sekali tentang keterlibatan putrinya, nyatanya yang diucapkan Reva benar. Semalam putrinya memang bersamanya dan sibuk bermain game bersama adiknya.
"Apa kamu tahu mobil yang mengalami kecelakaan itu kak?" tanya Arsen, dia yang tadinya tidak peduli dengan kecelakaan itu kini mulai penasaran.
"Itu mobil Brian" jawab Reva santai tanpa beban.
Kini Arsen mengerti, kejadian beruntun yang menimpa Brian dan keluarganya memang sudah di rencanakan.
"Innalillahiwainnailahirojiun...." ucap Alisya, ia tak menyangka sepulangnya dari rumahnya mereka mengalami kecelakaan.
"Apa kamu tidak ingin melihatnya kak" tanya Alisya kepada putrinya, bagaimana pun juga putrinya pernah dekat dengan Brian.
"Tidak, Reva sudah putus dengannya, dia juga sudah punya kekasih kan, pasti sudah ada kekasihnya itu yang menjenguknya" jawab Reva.
"Kok kekasih? memangnya kalian sudah putus?" tanya Alisya kaget.
Alisya dan Arsen yang tadinya sempat simpati tentang musibah yang menimpa Brian dan keluarganya, kini mereka berubah menjadi tak peduli dengan apa yang menimpa mereka.
Arsen justru mengeluarkan sumpah serapahnya kepada mereka. Ia tak terima anaknya di perlakukan seperti itu.
"Brian juga menghina Reva anak haram di depan kekasihnya, makanya kemarin Reynand memukulinya, itu saksinya... bahkan dia juga menendang kekasih Brian yang sempat mau menendang kaki Reva" ucap Reva sambil menunjuk ke arah adiknya yang sedang sibuk memakan roti bakar.
Semua orang yang ada di situ menoleh ke arah Gavin, membuat Gavin berhenti mengunyah.
"Ada apa? kenapa kalian semua melihat Gavin sepelti itu" tanya Gavin dengan mulut yang masih penuh dengan roti bakar.
"Tidak, anak mama hebat, sudah bisa melindungi kak Reva, mama bangga sama Gavin" sahut Alisya sambil menciumi setiap inci wajah putranya.
"Oh itu, it's ok no ploblem" dengan suara yang tak jelas.
"Telen dulu makanannya, baru ngomong.. Dasar gentong" ucap Revin gemes dengan tingkah adiknya yang banyak makan.
"Gavin halus banyak makan, kalena mulai nanti siang Gavin akan diet, bial Gavin kulus dan membuat Dhea klepek-klepek sama Gavin" sahut Gavin kembali menghabiskan makanannya.
"Bagusan gemuk, biar tetap gemoy" saran Ravin.
"No, Gavin halus ikutin salan Kak Leva bial nda di tolak lagi sama Dhea" protes Gavin.
"Sudah-sudah, kalian ini selalu saja berantem" lerai Alisya.
Lalu Alisya beralih menatap arah sang putri.
"Maafkan mama sayang, maaf jika masa lalu mma membuat hidup kamu menderita" ucap Alisya dengan tatapan sendu menatap sang putri yang justru tersenyum melihatnya.
"Reva tak apa ma, jangan pernah menyalahkan diri mama sendiri, karena semau ini terjadi karena kehendak tuhan, dan jika semua ini tidak terjadi maka tidak akan ada Reva di dunia ini. Reva bangga punya orang tua seperti mama, mama sudah mau melahirkan Reva, hingga membuat Reva hadir didunia ini." ucap Reva bijak, sambil menghapus air mata mamanya.
"Tak perlu risau dengan masalah yang menimpa Reva ma, karena lambat laun pasti masalah ini akan hilang dengan sendirinya" imbuhnya sambil tersenyum tulus menatap mamanya.
Alisya memeluk sang putri, ia terharu melihat sikap dewasa putrinya.
"Anak mama sudah besar sekarang" lirih Alisya.
"Tentu, bukankah tujuan mama memberi makan Reva, salah satunya agar membuat Reva cepat besar" canda Reva mencairkan suasana.
Arsen dan Ravin ikut memeluk Alisya dan juga Reva, kebetulan Revan dan Rachel sedang pergi joging bedua, karena hari ini mereka libur sekolah.
"Kenapa kalian tidak ajak Gavin belpelukan, mentang-mentang Gavin kecil sendili di lupain" ucap Gavin hingga membuat mereka melerai pelukannya.
Mereka semua terkekeh melihat wajah cemberut Gavin.
"Jangan cemberut, sini kak Reva peluk" kata Reva merayu adiknya.
"Nda mau, Gavin sudah nda mood" tolak Gavin.
Reva melongo, bisa-bisanya adiknya menolak di peluk dirinya.
"Kalau begitu kak Reva ngga mau ajak Gavin, Kak Reva nanti mau pergi jalan-jalan sama kak Rey"
"Gavin mau kok peluk kak Leva, tadi Gavin hanya belcanda tidka benelan"
Reva menahan tawa melihat wajah panik adiknha itu.
Bersambung.
Happy reading guys 🙏